Prolog

838 Words
Gadis cantik yang memiliki sikap ceria, humoris, dan memiliki hati yang lembut mampu meluluhkan hati seseorang yang melihat senyum manis yang selalu diterbitkan di bibirnya. Dia adalah Ochalina Azahra atau yang biasa dipanggil Ocha yang masih setia menenggelamkan kepalanya di atas meja tak memperdulikan guru yang sedari tadi menerangkan didepannya. "OCHALINA ?!" Guru itu mulai bersuara. Ocha sama sekali tak terusik dengan suara teriak itu, ia hanya menggeliat lalu tertidur lagi. Teman sebangku gadis itu sudah mulai gelisah ketika guru tadi mulai berjalan ke arah meja mereka. "Cha, bangun woy!" bisik seorang gadis yang ada di samping Ocha. "Ochalina!" ucap sang guru yang sekarang sudah ada di samping meja Ocha. "Gue ngantuk banget sumpah, jangan ganggu deh, Ki. Semalem gue gak tidur gara-gara ngerjain tugas dari Miss Gentong," jawab Ocha dengan mata terpejam. "Heh! Kamu manggil saya gentong ?!" Sang guru kembali bersuara karena merasa tak terima. Reflek Ocha langsung mmbuka mata karena kaget. "Aski, ber - eh ada Ibu," ucap Ocha seraya tersenyum manis. Guru itu menatap Ocha garang. "Keluar dari kelas dan hormat di lapangan sampai jam pelajaran kedua!" "lho kok gitu sih, Bu," ucap Ocha tak terima. "Cepat!" Ocha melirik teman sebangkunya yang sedang memandangnya iba. Dengan langkah lesu Ocha berjalan keluar dari kelas menuju lapangan. ************ "Mama gak mau tau pokoknya kamu harus ikut Mama ke Jakarta, A! Titik gak pake tanda tanya!" ucap seorang paruh baya kepada sososk pria yang ada di hadapannya. Baru saja pria itu akan berbicara, namun ucapannya sudah dipotong oleh sosok yang paruh baya tadi. "Gak ada bantahan untuk kali ini, kalo kamu lebih mentingin perusahaan kamu itu, Mama gak segan-segan buat bakar perusahaan kamu!" wanita itu pergi, namun kembali terhenti ketika mendengarkan suara dari putranya - pria yang ada di hadapannya. "Oke, aku ikut Mama ke Jakarta." Senyum sang Mama terukir menatap putra sulungnya. "Gitu dong, A. Ya udah, kalo gitu, Mama mau beres-beres dulu." Wanita itu  mengusap bahu anaknya terlebih dahulu sebelum akhirnya benar-benar pergi. Setelah Mamanya pergi, pria tadi hanya bisa mengerang frustasi. "Akh!" Dia adalah Raffa Darveno. Pria yang memiliki daya tarik luar biasa di umurnya yang sudah matang. Atensi Raffa beralih saat mendengarkan ponselnya berbunyi. Ia terlebih dahulu melihat siapa yang menelponnya kemudian barulah mengangkatnya. "Hmmm?" Raffa mulai bersuara. "Di mana?" Raffa sedikit malas membalasnya. Raffa menghela napas pasrah. "Gue kesana sekarang." Setelah memutuskan sambungan telponnya, Raffa segera menuju pintu kayu bercat putih yang tidak lain adalah pintu kamar Mamanya. "Ma, aku mau keluar dulu," ucapnya. Wanita yang sedang memasukan baju ke dalam koper itu langsung menoleh ketika mendengarkan suara putranya. "Iya, tapi ingat! Nanti sakit kita berangkat ke Jakarta, A!" Raffa hanya bisa mengangguk pasrah mendengarkan ucapan Mamanya. ********  Sementara ditengah lapangan, seorang gadis masih berdiri di depan tiang bendera dengan keringat yang sudah mengucur di muka. Ocha menatap sekeliling lapangan yang sepi karena masih ada jam pelajaran, hanya ada dia dan beberapa anak laki-laki yang sedang bermain basket. Senyum manis Ocha merekah kala ekor matanya melihat seseorang yang sedang membaca buku di bawah pohon tepat di sebelah lapangan. Ekor mata milik Ocha tak henti-hentinya melirik cowok itu hingga beberapa detik kemudian mata mereka beradu. Cowok itu menatap Ocha sesaat kemudian tersenyum kecil yang mana itu membuat jantung Ocha berdebar. Rasanya tubuh Ocha semakin melemas saja, ketika cowok itu tengah berjalan ke arahnya. "Hei?" sapa si cowok. "Hah? Eh hai!" balas Ocha setengah gugup. "Kenapa gak masuk kelas? Dihukum?" "Aku-iya." Cowok itu mengangguk kemudian menundukkan setengah awal. "Ochalina Azahra XII IPS2." ucapnya saat membaca nametag di baju Ocha. "Nama lo cantik, kaya orangnya," puji cowok itu, hal itu membuat pipi Ocha memerah karena malu. "Gue Erlangga, panggil aja Elang." Si cowok mengulurkan tangan yang kemudian di balas dengan senang hati oleh Ocha. "Iya tau, kok." "Siapa, sih, yang gak tau sama cowok yang paling dicari sekolah ini?" lanjut Ocha dengan sedikit terkekeh. "Lo tau gue, tapi kenapa gue gak tau cewek secantik lo, ya?" "Itu karena gue gak pernah berbaur sama yang lain," balas Ocha. "Ber -" "OCHALINA! ERLANGGA!" Ucapan Elang terpotong oleh teriakan seorang guru. keduanya sama-sama menoleh ke Arah suara teriakan tersebut. "Kamu, Ibu hukum, bukan malah ngobrol sama dia!" murka sang guru untuk Ocha. "Kamu juga ngapain kamu disini? Sekarang masih jam pelajaran, kenapa gak masuk?" lanjutnya ke Elang. "Anu, Bu, itu ...." "Anu-anu apa kamu, hah ?! Sekarang kamu berdiri di sini sampai jam istirahat!" Setelahnya, guru tdi langsung berbalik dan meninggalkan mereka berdua. "Maaf, ya, gara-gara gue lo jadi ikut-ikutan dihukum juga," ucap Ocha tidak enak untuk Elang. Elang terkekeh melihat wajah  Ocha yang memelas. "Gak apa-apa, santai aja. Lagian, salah gue juga." Demi apapun, kadar ketampanan cowok akan bertambah berkali lipat ketika dia sedang tertawa. Ocha terhipnotis oleh itu. "Hei? Kok, bengong, sih?" Elang mengibaskan tangannya didepan wajah Ocha. "Eh maaf, tadi lo ngomong apa?" Ocha gelagapan. "Lo cantik sekali lagi bengong." Jantung Ocha semakin berdebar. Ia tidak kuat untuk tidak menampilkan senyumnya. Pipinya pun ikut memerah. Demi apapun, Ocha berharap jika cowok tampan yang tengah berdiri di sampingnya ini adalah cowok yang akan menjadi jodohnya kelak. Benar-benar gila! Padahal dia belum tahu sepenuhnya tentang cowok itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD