Siapa yang tidak khawatir kalau salah satu anggota keluarganya menghilang? Ririn sangat khawatir. Ketika ia khawatir kukunyalah yang menjadi sasaran. Kuku jemarinya nyaris habis ia gigiti. Yuyun sangat kasihan melihat kondisi Ririn yang sangat khawatir tentang keberadaan Galuh. Namun, berkali-kali Yuyun memberitahukan bahwa Agi pasti bisa menjaga Galuh tetap saja tak membuat hati Ririn tenang. Hal itu bisa terekam dari kusutnya rambut gadis itu yang mana setiap beberapa menit mengacak-acak rambutnya sendiri menunggu kabar keberadaan sepupunya.
“Suwer, aku khawatir banget. Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Mbak Galuh? Diakan cewek. Apa dia sudah makan? Kalau dia diculik gimana? Mana tak ada kabar lagi. Apa kita laporin ke pihak yang berwajib yah?”
Yuyun tahu semua pertanyaan itu sudah dia jawab beberapa waktu yang lalu, tetapi tetap saja ia harus menjawab dengan jawaban yang menenangkan. Kondisi Ririn sekarang ini sedang benar-benar khawatir. Terlebih kemarin orang tua Galuh menelponnya, menanyakan kabar Galuh karena ponselnya tak bisa dihubungi. Semua orang mencoba untuk menghubungi Agi dan Galuh, tetapi tak satupun bisa menghubungi keduanya.
“Kamu tak khawatir?” tanya Ririn. “Kakakmu itu, apa dia memang orang yang baik? Aku tak akan memaafkan dia kalau sampai terjadi sesuatu kepada Mbak Galuh.”
“Mbak Ririn tenang saja, aku percaya kepada Mas Agi. Dia lebih bisa diandalkan untuk sekarang ini, meskipun kita tetap harus cari tahu keberadaan mereka. Aku juga khawatir, sama seperti mbak. Tetapi kita harus tetap tenang,” jawab Yuyun. “Hari ini katanya Indra akan membantu kita untuk melacak keberadaan mereka bukan? Ia pasti akan membawa kabar baik, sebab ia adalah sahabatnya Mas Agi.”
Ririn menaikkan kakinya ke atas sofa lalu memeluk kedua lututnya. “Yah, semoga saja. Tetapi aku benar-benar tidak sabar.”
Yuyun menepuk punggung Ririn untuk memberikan ketenangan, meskipun mungkin tidak sepenuhnya memangnkan, setidaknya akan membuat Ririn merasa nyaman. Dia hanya ingin tahu kalau sekarang ini perasaannya sama-sama khawatirnya. Dalam kondisi seperti ini siapapun pasti khawatir.
Di saat kedua perempuan ini sedang saling menguatkan tiba-tiba ponsel Yuyun berbunyi mengejutkan mereka. Ada satu nama yang tertera di layarnya. Indra. Segera saja Yuyun mengangkatnya.
“Moshi-moshi?” sapa Yuyun. “Eh, maksudku halo?”
“Yuyun? Ini Indra,” ucap Indra. “Ada kabar baik, sepertinya kita tahu dimana keberadaan Agi dan Galuh.”
“Serius?”
“Tapi, ini akan menjadi hal tersulit yang pernah kalian hadapi. Kita sedang dalam masalah besar,” jelas Indra.
“Masalah? Masalah apa?” tanya Yuyun.
Ririn yang tadi menunduk sekarang mengangkat kepalanya. Ia juga penasaran dengan berita yang akan disampaikan oleh Indra. Pasti ini sesuatu yang tidak pernah mereka sangka-sangka sebelumnya.
“Aku ingin bertemu dengan kalian. Alamatnya akan aku SMS,” kata Indra. “Ini serius.”
* * *
Tanpa pikir panjang keduanya memang segera menuju ke tempat yang dikirimkan oleh Indra. Mereka segera memanggil taksi untuk menuju ke tempat tersebut. Entah kenapa perasaan keduanya campur aduk ketika Indra tidak menjelaskan semuanya. Ada hal yang mungkin tidak elok untuk dibicarakan melalui telepon, pastinya hal itu sangat penting.
Tempat bertemunya ketiga orang itu merupakan sebuah bengkel. Lokasinya berada di tempat yang tidak padat pemukiman. Bahkan di sekitar tempat tersebut masih banyak lahan kosong dan berpetak-petak sawah. Bengkel itu menjadi satu-satunya tempat yang akan tidak dihiraukan oleh siapapun, selain karena bangunannya penuh dengan aksi vandalisme, adanya besi-besi dari kendaraan yang sudah tidak terpakai bertumpuk begitu saja di sekitar bangunan tersebut. Ban-ban bekas membentuk benteng-benteng karet berbau penguk. Debu berterbangan saat roda taksi menggilas jalanan tak beraspal yang berada di depan bengkel tersebut. Indra sudah ada ada di depan bengkel menanti dengan raut muka kecemasan.
Boleh dibilang cinta itu memberikan efek tersendiri kepada para pecandunya. Terbukti meskipun beberapa detik yang lalu Indra terlihat cemas, raut mukanya berubah saat mengetahui bidadari pujaannya turun dari taksi. Yah, setidaknya biarpun tidak turun dari kayangan, dari taksi pun ia akan terima. Yuyun keluar bersama Ririn. Keduanya segera menemui Indra setelah membayar ongkos taksi.
“Tempat apa ini?” tanya Ririn.
“Ehm, ini boleh dibilang bengkel,” jawab Indra.
“Tahu ini bengkel. Emangnya aku buta apa? Kenapa kita malah ke bengkel? Mana di tempat sepi seperti ini pula,” gerutu Ririn kesal.
“Maaf, tapi ini bukan bengkel biasa. Ini tempatku dan teman-temanku nongkrong. Boleh dibilang segala aktivitas yang tidak lazim ada di sini,” ucap Indra.
“Tak lazim? Jangan bercanda. Kami ini cewek baik-baik,” ucap Ririn sambil bersembunyi di balik Yuyun. Yuyun sudah mengambil ancang-ancang untuk mempertahankan diri.
Indra tertawa. “Kalian mengada-ada. Bukan tak lazim seperti itu. Tenanglah, ini bukan tempat maksiat. Masuk saja, aku jamin keselamatan kalian.”
Masih dalam posisi waspada, Yuyun dan Ririn mengikuti Indra. Keduanya masuk ke dalam bengkel. Ternyata di suasana dalam bengkel cukup luas. Meskipun ada beberapa mobil teronggok dengan kap mesin terbuka. Indra terus berjalan menuju ke dalam. Di sana ada beberapa orang. Ada dua perempuan dan tiga orang laki-laki. Kesemuanya tampak sedang sibuk dengan laptop mereka.
Saat Yuyun dan Ririn masuk, mereka langsung menoleh. Tentu saja ekspresi yang tergambar di wajah para cowok adalah terbelalak melihat dua perempuan cantik ini. Melihat gelagat yang tidak baik, Indra segera memecahkan keheningan dengan tepukan tangannya.
“So, gaes. Ini teman-temanku yang kehilangan saudaranya. Karena, kalau bukan kalian yang bisa menemukan mereka siapa lagi?” ujar Indra. Dia tampak sangat mengenali mereka.
“Siapa mereka?” tanya Ririn.
“Mereka teman-temanku, juga teman-temannya Agi. Mereka kelompok hacker, bengkel ini salah satu usaha yang dikelola mereka,” jawab Indra.
“Hai, kenalkan. Aku Putri, dia Ela, tiga orang itu Dodi, Herman dan Eko,” ucap seorang cewek berkaos oblong dengan rambut dikuncir.
Yuyun dan Ririn mengamati semua orang nerd tersebut. Mereka berdandan seperti orang kebanyakan. Tidak seperti yang digambarkan di film-film dimana para nerd pasti memakai kacamata, bertampang culun dengan membawa laptop kemana-mana. Apa yang ada di hadapan mereka adalah sekelompok anak muda, kemungkinan masih kuliah dengan baju normal, celana jins, kaos oblong, tanpa kacamata. Bahkan penampilan mereka lebih mirip penjaga warnet, atau memang mereka adalah tukang bengkel.
Cewek yang bernama Putri ini terlihat lebih tinggi daripada yang disebut Ela. Meskipun postur tubuh Ela lebih kurus. Dia segera menyalami Yuyun dan Ririn, lalu semuanya akhirnya saling berebutan salaman, terutama para cowok. Indra segera menampik tangan teman-teman cowoknya yang terlalu lama memegangi tangan Yuyun.
“Maklumin saja, mereka memang jones akut. Susah kalau lihat cewek cakep,” ucap Indra. Yuyun nyengir saja melihat kelakuan Indra.
“Jadi apa yang ingin kau sampaikan? Mereka tahu dimana Agi dan Galuh?” tanya Ririn to the point.
Indra mempersilakan kedua cewek itu untuk duduk terlebih dahulu. Dia kemudian menyuruh Putri untuk memperlihatkan sesuatu. Ada beberapa file di dalam folder terpampang di layar laptopnya. Cewek itu kemudian memilih semua untuk dimainkan.
“File ini kudapatkan dengan penuh perjuangan. Entah bagaimana, tidak ada satupun rekaman CCTV yang ada pada kejadian tersebut. Padahal, hellooo ini Gramedia. Pastinya punya rekaman CCTV, tetapi rekamannya dihapus. Tidak mudah untuk mendapatkan file ini, aku perlu berbicara dengan beberapa orang,” jelas Putri.
Layar laptop menampilkan sesuatu. Tampak di video tersebut Agi dan Galuh berada di salah satu sudut kamera. Tak berapa lama kemudian beberapa orang berpakaian militer dengan persenjataan lengkap masuk lalu mengepung keduanya. Yuyun dan Ririn menutup mulut mereka. Tentu saja, hal itu sangat mengejutkan.
“Sepertinya Agi dan Galuh sedang dalam masalah serius. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi setahuku Agi tak pernah berurusan yang aneh-aneh,” ucap Indra.
“Ya, aku juga berpikir seperti itu,” kata Yuyun sambil terus mengamati video.
“Tetapi kata Galuh, ia sedang dalam project. Entah kenapa, aku tidak yakin project apa yang dia maksud,” ujar Ririn. “Katanya Agi terlibat, tetapi kalau memang terlibat kenapa tak ada kabar?”
“Kami berusaha mencari tahu, lalu kami mendapati kemana mereka pergi. Ini rekaman kamera CCTV lalu lintas,” ucap Putri sambil menunjukkan video berikutnya. “Mereka mengarah ke gunung. Sepertinya ada sesuatu di luar kota. Mereka sepertinya dibawa ke sana.”
Yuyun dan Ririn menelan ludah. Di layar laptop tampak iring-iringan mobil panser, serta voojrider pengamanan ekstra ketat pihak militer membelah jalanan. Mereka tak habis pikir, masalah apa yang sedang dihadapi oleh Agi dan Galuh.
“Jadi dengan ini jelas. Ini bukan persoalan cowok melarikan anak gadis orang. Ada sesuatu yang lebih serius daripada itu,” ucap Indra.
“Kamu tahu kemana mereka pergi?” tanya Ririn.
“Kami melacak kemana mereka pergi. Sayangnya setelah beberapa saat sebelum masuk ke kawasan perbukitan kami kehilangan jejak. Agaknya ada fasilitas rahasia militer di sana. Dari citra satelit tidak tampak, tetapi kami sengaja memakai drone untuk melihat-lihat. Hasilnya, drone kami ditembak jatuh,” jelas Dodi. Dia memperlihatkan layar laptopnya.
Di layar laptopnya ada video yang menggambarkan dronenya sedang merekam dari ketinggian. Awalnnya drone itu menampakan pemandangan hijau nan eksotis, kemudian bergerak menyusuri jalan raya, lalu mengarah ke jalanan yang tidak beraspal. Jalanan itu kemudian menghilang tertutupi oleh pepohonan di pekarangan luas. Pekarangan tersebut ada pagar kawat yang mengalangi orang untuk masuk. Belum sempat drone tersebut bergerak tiba-tiba videonya mati.
“Videonya berakhir di sini. Apa tidak ada kemungkinan kalau terjadi malfungsi?” tanya Ririn. “Bisa jadi juga mungkin bateraynya habis.”
“Pemikiran yang bagus. Aku sempat berpikir seperti itu. Tetapi tidak,” ucap Dodi.
Indra menunjuk ke atas meja yang tak jauh darinya. Di atasnya tergeletak drone yang hancur. Di tengah drone tersebut tampak satu lubang menganga lebar.
“Drone ini dikirimkan kepada seseorang tanpa nama melalui pos. Ada serpihan peluru di dalamnya. Lucunya kami cuma diberi peringatan agar tidak main-main di daerah tersebut,” jelas Dodi. “Intinya ada kekuatan, atau pihak yang berwenang yang telah menghalang-halangi kita untuk masuk ke tempat tersebut. Mungkin di sana ada pangkalan rahasia militer. Dan yah, mungkin kedua orang yang kita cari ada hubungannya dengan ini.”
“Sebentar, aku ingin tahu tentang Galuh ini. Dia kan dosen baru, kenapa militer sangat tertarik kepadanya? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Indra penasaran.
“Apa pekerjaan Mbak Galuh ada pengaruhnya?” tanya Ririn.
“Apa pekerjaannya?”
“Mbak Galuh dulu pernah bekerja di LIPI, kemudian juga bekerja di LAPAN setelah seniornya mengajaknya untuk bekerja di sana,” jelas Ririn. “Dia salah satu ilmuwan Indonesia di bidang Geo Fisika. Kalian bisa cari jurnalnya di internet. Penelitiannya tentang suara, gema yang di hasilkan planet cukup menarik.”
“Kau pernah membacanya?” tanya Indra.
Ririn menggeleng. “Aku tak bakal mau membaca hal-hal yang berbau ilmiah. Aku cuma diceritain olehnya. Ia sangat bangga sekali dengan hasil penelitiannya itu sampai-sampai ia selalu bercerita tentang apa yang sedang ditelitinya.”
Semua orang sekarang berpikir keras. Memang susah untuk menemukan titik terang dari kasus ini, tetapi Yuyun yang berpikiran sederhana menarik benang merah secara kasar.
“Mungkin, pihak militer menginginkan Mbak Galuh untuk meneliti sesuatu, tetapi Mas Agi melindunginya. Akhirnya keduanya ditangkap bersama. Wah, seperti drama saja,” jelasnya.
Ririn memutar bola matanya. “Yang benar saja, kau terlalu banyak menonton tv.”
“Masuk akal sih, tetapi lebih masuk akal kalau Agi membantu Galuh. Mungkin pihak militer membutuhkan mereka. Sebab, Agi termasuk mahasiswa yang cerdas. Dia punya keunikan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dia mahasiswa berprestasi yang mana setiap tahun dapat beasiswa,” jelas Indra.
“Kita terlalu berspekulasi. Semuanya hanya kemungkinan,” ucap Putri.
“Bagaimana kalau pihak militer membutuhkan Galuh untuk meneliti tentang alien?” celetuk Ela.
Indra mengernyit. “Maksudnya?”
“Kalian tahu bukan alien yang ada di atas kota Malang tempo hari? Ayolah, mungkin saja benang merahnya adalah ini. Pihak militer ingin Galuh membantu mereka meneliti tentang alien, kemudian entah bagaimana Agi terlibat. Atau mungkin, Agi ingin melindungi Galuh. Bisa jadi juga Galuh tak mau bekerja sama dengan pihak militer sehingga mereka menahan Agi untuk memaksa Galuh bekerja sama dengan mereka,” ujar Ela melempar asumsinya.
“Kalau asumsinya seperti itu, lalu status mereka apa? Diculik? Ataukah dengan suka rela ikut para penculiknya?” tanya Indra.
“Untuk memastikannya, bagaimana kalau kita ke sana?” tanya Ririn.
“Wow! Wow! Tunggu! Kau ingin kita ke sana?” tanya Indra. “Mbak Ririn, ini bunuh diri namanya.”
“Aku tak peduli, sebelum aku bertemu dengan Galuh, hatiku tak tenang,” jawab Ririn. “Aku akan pergi.” Dia hendak beranjak dari tempatnya duduk dengan meraih tangan Yuyun.
“Sebentar! Sebentar!” Indra mencegah Ririn untuk pergi. “Kalian tahu nggak sih? Kita itu berhadapan dengan militer. Bodoh kalau kita sampai harus mati konyol gara-gara hal ini. Drone saja mereka tembak apalagi kita?”
“Lalu kau punya jawaban kalau seandainya kedua orangtua Mbak Galuh datang ke kota ini menanyakan keberadaannya? Apa aku harus jawab diculik oleh tentara gitu?”
Yuyun menggenggam tangan Ririn yang dingin. “Mbak, jangan begitu. Kita harus memikirkan ini dengan kepala dingin. Aku tahu mbak khawatir, aku juga. Agi juga kakakku.”
Kemudian semuanya hening. Mereka berpikir keras. Jelas ini persoalan pelik. Untuk bisa masuk ke fasilitas militer itu tidaklah mudah. Lagipula kalau sampai mereka tertangkap bisa-bisa mereka mampus seperti drone yang hancur tersebut.
“Sepertinya tak ada cara lain. Kita harus menyusun rencana untuk mengetahui apa saja yang ada di fasilitas militer itu,” ucap Indra.
“Indra, ini konyol. Kalau sampai mereka tahu kita yang meng-hack bisa bahaya!” ucap Putri. “Kau tahu sendiri teknologi militer seperti apa. Kita kalah canggih!”
“Memangnya harus pakai teknologi kita? Ayolah, kalian ini kelompok hacker underground! Apa tak terlintas suatu cara, dengan social enginering misalnya?”
Pipi Putri kembang kempis menghembuskan napas. Kelima anggota geng hacker itu saling berpandangan. Mereka mengangkat bahu, Dodi menggeleng, Eko mengangguk, Ela terdiam.
“Kita bisa pikirkan caranya, tetapi mungkin kalau ini gagal maka kita bisa jadi buronan pemerintah seumur hidup,” ujar Putri.
“Demi Agi,” ucap Indra.
“Baiklah, demi Agi,” sambung Dodi.
“Demi Agi,” kata Putri dan yang lainnya.
“Kita akan bantu, tetapi ini akan butuh pengorbanan. Kalian siap?” tanya Indra.
Yuyun dan Ririn mengangguk. Mereka tahu risiko dari ini semua. Hanya saja mereka tak tahu bahaya yang akan menanti ke depannya seperti apa. Berurusan dengan militer itu bukan urusan yang baik. Tetapi, harus mereka lakukan demi mencari keberadaan Agi dan Galuh.
* * *