Penyerangan Pelayan Hotel

1408 Words
Sebuah permintaan yang tentunya sulit aku capai. Tapi, aku akan mencobanya. Tentu saja aku akan menerimanya. "Baiklah, dia sudah menerima. Sebagai mahasiswa, kau harus melakukan dengan baik, sesuai aturan yang berlaku. Jika melanggar, kau juga harus keluar." Dokter itu mengingatkanku hal yang sebenarnya membuatku takut. Bagaimana tidak. Tunangan Ana pasti akan mencoba aku keluar dari sini. Menghindar darinya setiap hari adalah hal yang sangat membuatku resah. "Baiklah Midas, sekarang kau boleh keluar dan berikan kami kabar yang baik." Apa yang Dokter Albert katakan membuat aku sedikit lega. Aku sedih sekaligus takut sebuah janji berat yang aku pegang. Karena dia sangat mempercayakannya kepadaku. Aku menganggukan kepala, kemudian tersenyum dan keluar dari rapat. Ana mengikutiku dengan segera. Dia menggenggam erat tanganku dan berusaha memberikan senyumannya yang hangat. "Midas. Sudahlah jangan kau pikirkan. Yang terpenting sekarang kau sudah mendapatkan sebuah kepercayaan yang sangat baik di kampus ini. Itu sangat luar biasa. Tidak ada siapapun yang mendapatkan kesempatan seperti ini. Kau harus membanggakan dirimu sendiri." Ana. Lihatlah semua orang mengawasiku seperti itu. Mereka berbisik dan membicarakanku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Aku tidak mengerti kenapa mereka melihatku dengan cara yang sangat aneh. "Itu karena berita tentangmu sudah beredar di semua kampus ini dan tentu saja mereka membicarakanmu. Hmm, karena kamu mahasiswa jenius seperti dokter-dokter hebat lainnya." Entahlah ini kabar buruk atau kabar baik. Aku sama sekali tidak menyukainya. Apalagi jika aku lewat semua selalu memandangiku seperti ini. Sebaiknya, aku menyendiri saja dan tidak terlihat oleh semua orang. Itu yang terbaik bisa kulakukan. Ana aku harus pergi. Aku ingin sekali menemui Rey dan Putri. Kau sebaiknya di sini dan jangan mengikutiku. Karena akan sangat membahayakanmu. "Bawalah mobilku." Tidak Ana. Kenapa aku harus membawa mobilmu. Aku akan menaiki taksi saja. "Aku memiliki sebuah truk kecil di belakang kampus. Biasanya aku gunakan untuk membeli beberapa barang keperluanku, termasuk obat-obatan dan alat kedokteran yang aku letakkan di gudang itu. Kau bisa menggunakan dan pasti semua orang tidak akan mencurigainya." Aku menganggukkan kepala, lalu mengikuti Ana yang sudah menarikku ke belakang. Untunglah tidak ada banyak orang yang melihat. Karena, aku bisa celaka. Sebuah terpal aku singkirkan. Truk kecil ada di sini. Ana memang sangat kaya. Biasanya truk ini digunakan pihak rumah sakit. Sekarang Ana malah memilikinya. Baiklah. Ana, aku pinjam dulu. Tapi, apakah tidak masalah? "Ini kuncinya. Pergi dan kembalilah dengan selamat. Kau tahu jika aku menunggumu. Kau tahu aku selalu menunggumu." Kami saling berpandangan. Perkataan Ana menggetarkan hatiku. Dia ... benar-benar mencintaiku, dan itu luar biasa. Aku mendekatinya. Dia mendongakkan kepalanya, menatapku dengan tajam. Apakah aku harus melakukannya? Ana, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa bahagia sebelum aku berangkat? Aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Hmm, aku hanya ingin kau bahagia. Ana semakin mendekatkan wajahnya. Aku sangat tahu sebuah ciuman singkat bis membuat wanita bahagia. Itu yang sering ayahku lakukan jika dia akan pergi ke rumah sakit. Di pojokan, Ayah selalu saja mencium Ibu dengan mesra. Sebaiknya aku melakukannya. Ana, kau sangat cantik. Aku mulai mendaratkan bibirku. Kami melakukannya dengan perlahan. Kami saling menikmatinya. Perlahan aku melepaskan bibirku. Kami saling melempar senyuman. Sesaat kami bernapas, lalu melanjutkannya lagi. Aku mengeratkan pelukanku dan mendorongnya di tembok. Tengkuk lehernya semakin ku tekan. Aku tidak bisa melepaskannya. Ciuman itu candu bagiku. Kami masih saling membalas. Hingga beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk melepaskannya. Napas kami terdengar saling menderu. Aku akan menikahimu. Berikan aku waktu. Kau tahu pasti kedua orang tuamu akan menolakku jika tahu aku bisu. Satu-satunya cara agar aku bisa melamarmu, aku harus menjadi orang hebat. Tunggu aku, sayang. Panggilan sayang pertama kalinya yang aku lontarkan kepada Ana. Dia terlihat bersemu. Begitu juga dengan aku. Pasti wajahku juga seperti itu. Sekali lagi aku memberi kecupan di permukaan bibirnya, lalu aku mulai masuk ke dalam truk. Aku melambaikan tangan, dan pergi melesat. Waktuku hanya dua jam sebelum pelajaran praktek bedah mayat akan dimulai. Selang beberapa menit, aku sampai di hotel. Aku segera keluar setelah mobil aku parkir dengan baik. Kakiku melangkah dengan cepat. Aku segera mengetuk pintu. Dalam sekejap Rey membukanya, menarikku masuk. Rey, kenapa? Kau sepertinya sangat resah. Kenapa? "Uangku, Midas. Amelia sudah membawanya pergi. Itu adalah uang yang aku tabung selama ini." Bukankah uangmu sangat banyak. Tabunganmi hanya berisi uang yang tidak seberapa untukmu. Bukankah kau memiliki milyaran? "Itu uang Putri, dan bisa dia ambil jika berumir 17 tahun. Itulah peraturannya. Sedangkan uangku itu adalah tabungan yang berisi uang untuk kebutuhan Putri sampai dia berumur 17 tahun. Ini benar-benar gawat. Bagaimana jika uang itu ga ada? Aku harus membiayai dia dengan apa?" "Ini sangat buruk. Aku tidak menyangka. Ternyata Amelia bisa dan sanggup melakukan hal yang sekejam itu. Padahal Putri adalah anak kandungnya. Kenapa dia melakukan hal yang sangat keji dengan darah dagingnya sendiri?" Tenanglah. Aku memiliki sedikit uang dan itu akan bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhan Putri. Rey, jangan seperti itu karena aku sangat ketakutan jika melihatmu kebingungan seperti ini. Bagaimana jika kau sakit dan tidak menjaga Putri? Siapa yang akan melakukannya? Apakah aku harus membawanya? "Hah, Midas. Bagaimana mungkin aku bisa meminta bantuan darimu? Kau sudah sangat banyak membantuku. Ini tidak bisa aku biarkan. Apa yang harus aku lakukan?" Lakukan apa yang aku katakan tadi. Sekarang, tenanglah. Aku juga memiliki Roy yang bisa membantu kita. Uangnya sangat banyak. Rey menarik napas panjang, lalu duduk di kursi sofa dan menyandarkan punggungnya. Dia meletakkan kepalanya, lalu memejamkan kedua matanya. "Jangan pernah meminta bantuan kepada siapapun. Aku akan berpikir dulu apa yang harus aku lakukan." Aku mengambil air minum di lemari es. Putri hanya terduduk dan melihat pembicaraan kami. Lalu, dia menundukkan kepala. Aku sangat khawatir dengan kondisi psikologisnya. Walaupun Rey adalah seorang dokter psikiater, namun dia sepertinya juga membutuhkan dokter itu untuk mengatasi dirinya yang sangat kacau balau. Saat kami masih berpikir di dalam, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar dan itu tentu saja mengejutkan kami. Aku mengarahkan telapak tanganku agar Rey membawa Putri dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku juga masuk ke dalam kamar mandi dan mengamati semua arah. Lalu aku menunjuk ke atas. Sebuah atap yang bisa didorong dan membuat kita bisa masuk ke dalamnya. Jika ada sesuatu, Rey harus masuk ke sana bersama Putri dan keluar dari kamar ini menuju kamar selanjutnya. Mereka harus melarikan diri dan selamat Lihatlah itu, Rey. Jika aku mengetuk pintu ini selama tiga kali, kau harus masuk ke sana dan membawa Putri. Apa kau mengerti Rey? Tenangkanlah dirimu. Kau sebaiknya jangan panik. Jika kau seperti itu, kita tidak akan pernah bisa selamat. Aku akan memeriksa siapa yang sudah berada di depan pintu. Semoga saja bukan seseorang yang sangat berbahaya. "Berhati-hatilah Midas dan lakukan dengan cepat. Sebaiknya kau mengintip dulu siapa yang berada di depan pintu itu." Aku mengerti Rey. Aku membuka pintu itu, dan aku melihat pelayan. Aku sedikit bernapas lega. Apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Tapi, sebaiknya aku tidak menyuruh Rey keluar dulu sebelum tahu apa yang pelayan itu inginkan. Perlahan aku membukanya. Seorang wanita tersenyum menatapku dengan membawa semua peralatan untuk membersihkan kamar. "Kamar Anda harus dibersihkan, Tuan," katanya dengan sangat ramah. Namun, aku menggelengkan kepala dan menolaknya. Telapak tanganku aku lambaikan keluar agar dia tidak masuk ke dalam karena kami tidak perlu ada pelayan untuk membersihkan kamar. Kami hanya ingin tenang di dalam. "Tuan, tapi saya bertugas untuk membersihkan kamar Anda. Kenapa Anda tidak mau? Bukankah memilih kamar yang bersih akan bisa membuat semua tamu merasa nyaman menginap di sana. Ini adalah tugasku Tuan. Anda jangan menghalangi." Aku tidak mengerti dengan perkataannya. Dia sangat memaksa. Bahkan wajahnya yang semula ramah, kini terlihat menyeramkan. Aku terus menggelengkan kepala dan menolak. Apa yang ingin dilakukan? Hingga aku mengamatinya dari atas ke bawah. Aku melihat sepatu hitam boot yang sama sekali tidak masuk akal digunakan seorang pelayan dan perasaanku sangat tidak enak. Aku perlahan menyentuh ujung gagang pintu, lalu dengan cepat akan menutup pintunya. Brak! Namun, dia menahannya dengan tongkat yang cukup panjang hingga aku tidak bisa menutupnya. Tanganku aku ulurkan ke pintu kamar mandi yang berada di sebelah pintu itu dan mengetuknya selama 3 kali. Semoga saja paham Rey dengan apa yang aku perintahkan. "Buka pintu itu, atau aku akan memaksanya!" teriak pelayan itu. Sekuat tenaga aku menahannya hingga beberapa menit. Aku mengira-ngira, Rey membutuhkan waktu lima menit untuk masuk ke atap. Brak! Mereka terus menendangnya. Aku merasakan ada lebih dari dua orang yang berada di balik pintu itu. Aku harus menahannya dengan kuat. Argh! Tubuhku terkena tendangan mereka di sela pintu. Pingganggku sangat sakit. Aku terus mengamati jam dinding itu hingga detik terakhir di waktu yang aku tentukan. Baiklah, aku akan menghajar mereka. Prak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD