Semua yang Rey ceritakan membuat semua orang terdiam. Dia sangat menderita. Hanya karena warisan, hidupnya sangat tidak tenang.
Aku akan membantumu. Jangan mengatakan aku harus pergi. Kau sudah menyelamatkanku. Kita akan melalui ini bersama, Rey.
"Tapi, Midas. Kau bisa gagal menjadi seorang dokter. Ku bisa kehilangan nyawamu. Kau tahu sendiri mereka seperti apa. Midas, mengertilah."
Ini tidak masuk akal, Rey. Kau yang seharusnya mengerti. Bagaimana bisa aku meninggalkan Putri. Aku adalah Om Putri. Jangan memaksaku, Rey.
"Sudahlah. Jangan berbelit. Kalian diam, dan kita memikirkan cara." Roy menengahi kami. Rey diam menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang. Aku tahu dia sebenarnya menanggung beban berat dalam hidupnya. Jika seperti ini, akan tidak baik buat masa depan Putri. Ini harus benar-benar dihentikan.
Rey, aku masih bisa sekolah. Aku ingat memiliki vila di desa cukup jauh dari kota. Roy, apakah ada yang nempati?
Roy menatapku. Kedua alisnya mengkerut dalam. Dia berusaha mengingatnya.
Aku harap tidak ada yang menempatinya. Roy, kau tidak mengingatnya?
Pertanyaanku sekali lagi. Roy akhirnya mengangkat kedua alis itu yang semula masih mengkerut.
"Aku tahu. Besok kita berangkat. Sekarang lebih baik kalian di sini. Aku jamin aman."
Aku akan pergi ke asrama. Aku akan menyusul kalian.
Rey terkejut dengan perkataanku. "Midas. Apa kau mau mati? Jangan kembali. Kau kembali jika ada kelas, dan tetaplah di dalam kelas sampai kuliah selesai."
Aku sebenarnya tidak takut dengan mereka. Jika tidak ada Rey dan Putri, aku akan tenang. Biarkan saja mereka membuli atau memukulku.
Jangan khawatir dengan diriku aku bisa mengatasi semua ini. Sekarang yang harus kau kerjakan adalah keselamatan Putri. Itu yang terpenting.
"Midas, atau sendiri mereka kejam seperti apa. Bahkan mereka bisa membunuhmu dalam seketika. Dia itu mafia. Kau tahu dengan mereka sangat membahayakan dirimu karena aku tidak mau kau kehilangan nyawa."
Aku akan baik-baik saja sekarang. Kau Lebih baik istirahat di sini. Aku akan kembali besok, dan kita bertemu di tempat yang sudah kita tentukan. Roy akan membantumu.
"Aku tidak tahu harus berkata apa padamu Roy dan kau ... Midas. Kalian sudah membantuku sampai sejauh ini dan rela terlibat dalam masalah yang sangat berat. Bahkan kalian tidak peduli dengan nyawa kalian."
Tidak perlu kau pikirkan hal itu . Yang terpenting kau bisa terhindar dari mereka. Itu harus kau lakukan untuk saat ini. Demi masa depan Putri.
"Baiklah aku akan pergi. Aku akan pastikan Midas aman keluar dari sini," sela Rahman. Kami semua menatapnya.
Aku mendekati Rey dan kami sempat berpelukan. Sesaat kemudian berlanjut kepada Roy. Lalu aku berjalan menuju ranjang dan mengelus-elus rambut Putri. Dia masih terlelap sangat cantik. Aku menarik napas panjang dan sangat berharap jika Putri akan tenang pada akhirnya.
Aku pergi. Hati-hati kalian.
Aku bersama Rahman menuju ke mobilnya. Kami melesat kembali menuju kampus pada malam hari. Aku sangat bersyukur suasana malam membuatku dengan mudah masuk ke dalam kampus dan menuju ke kamarku. Ku tutup pintunya sangat rapat.
Aku sempat berpamitan kepada Rahman dan dia mengatakan jika aku harus menyelesaikan kuliah ini dengan sangat cepat. Hah, dia memang benar. Aku sebaiknya beristirahat dan akan memulainya esok pagi dengan hati yang tenang, agar aku bisa menerima semua ilmu itu dengan sangat baik.
Sepanjang malam aku tidak bisa terlelap dengan tenang. Aku terus memikirkan keadaan Ret dan Putri. Namun aku harus berusaha. Aku tidak bisa lemah karena besok adalah ujian yang sangat berat bagiku.
Hingga matahari sudah mulai memperlihatkan sinar terangnya, aku segera bergegas untuk bersiap diri. Lebih baik aku kesana sebelum semua mahasiswa datang. Itu yang bisa membuatku akan sangat aman berjalan ke sana.
Seperti dugaanku sebelumnya. Aku bisa sampai di dalam kelas dengan selamat. Syukurlah ini sangat membuatku lega, hingga aku terperanjat mendengar seseorang yang memanggilku.
"Midas. Kau pagi sekali datang ke sini. Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak menghubungiku? Kau lupa denganku? Aku menunggumu sepanjang malam dan aku tidak bisa tidur. Aku ke sini untuk menunggumu sebelum kau datang dan ternyata kau sudah datang ke sini. Kau sangat menyebalkan, Midas. Aku tidak suka dengan ini. Perasaanku sangat kacau. Bahkan aku tidak bisa bekerja dengan baik. Kenapa kau melakukan seperti ini? Apakah kau tidak menyukaiku? Jika ia, katakan sekarang. Aku akan pergi selamanya."
Ana datang sangat mengejutkan dan dia terlihat sangat cantik. Wajahnya secerah awan, rambutnya yang sangat hitam terurai itu, terlihat sangat sempurna. Dia seperti bidadari saat pagi hari datang menerangi hatiku. Ini memang benar sangat luar biasa.
"Midas. Kenapa kau malah diam saja melongo seperti itu ke arahku? Apakah ada yang salah dengan diriku? Hmm ... oh apa kau ternyata sudah--"
Aku menarik tubuh Ana dan memeluknya, kemudian aku membelai rambutnya di bagian belakang. Aku spontan melakukannya, membuat dia terdiam seketika. Aku tidak tahan melihat bidadari sangat cantik di depanku. Ingin sekali aku menyentuh dan memeluknya. Rasanya mendamaikan jiwaku yang sangat kacau ini.
"Midas. Jangan lakukan ini kepadaku. Kau tahu aku tidak bisa berpisah denganmu. Hatiku hanya untukmu Midas. Aku mengkawatirkanmu."
Ana menerima pelukanku dan menenggelamkan wajahnya di dadaku. Kemudian aku merasakan kaosku sangat basah. Kemungkinan dia menangis. Aku tidak bisa melihat hal itu. Jika dia mengeluarkan air mata, hatiku sangat sakit. Apalagi karena diriku. Ini tidak bisa aku biarkan.
Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. Jemariku mengusap semua air mata yang menghiasi wajahnya yang sangat cantik itu. Aku mengamati semua orang dan memastikan tidak ada orang sama sekali di dalam. Lalu aku mungkin akan melakukan suatu hal yang sangat bodoh. Tapi ini bisa membuat dia tenang, begitu juga denganku. Sebenarnya aku sudah tidak tahan. Entah apa yang merasuki dalam tubuhku. Jika kedua mataku ini melihat Ana, aku hanya ingin menyentuh dan membelainya.
Aku memegang kedua pipinya, lalu mendaratkan bibirku secara perlahan. Ana memejamkan kedua mata dan menerim ciumanku itu. Dia sepertinya menikmatinya. Begitu juga denganku. Kami masi memainkan bibir dengan hangat. Ini sangat membuatku bahagia. Ana juga terlihat merasakan hal yang sama. Ini memang sangat luar biasa.
Kami saling menerima satu sama lain. Aku tidak bisa melepaskan bibir itu. Apa yang harus aku lakukan. Aku ingin sekali membawanya ke dalam kamarku agar kita bisa melakukannya dengan bebas. Hanya sebatas ciuman tidak lebih.
Aku melepaskan bibir itu dan memandangnya.
Apa kau mau berdua denganku. Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin merasa aman denganmu berdua saja.
Ana mengembangkan senyumannya. Dia menarik wajahku dan berbisik, "Apa kau tidak akan mengikuti pelajaran?"
Aku terkekeh mendengarnya. Tapi kepalaku mengangguk. Haha, aku ingin tertawa. Keinginanku menjadi seorang dokter bisa terganggu dengan ini.
"Aku memiliki kunci kamarmu. Aku akan ke sana saat kau selesai dengan kelasmu. Tunggu aku, Midas."
Ana kali ini yang mengedarkan pandangan. Suasana kelas masih sepi. Dia kembali menarik wajahku dan menciumku kembali. Aku terkejut. Ana melakukannya dengan ...
Ah ... Ana?
Aku membatin. Ciumannya sangat liar. Apalagi tangannya masuk ke dalam kaosku?
Ana, kau membuatku merasakan sesuatu.
"Weh, weleh-weleh. Kedua mataku ternoda."
Harto?