Ikhfa dan IzharSendi berlari sambil menangis menjauhi tempat makan itu. Saat sebuah bis berhenti di sampingnya, dia menaiki bis itu dan langsung melesat pergi. Tak ingin melihat apa Imam akan mengejarnya atau tidak. Karena Sendi tidak sedang berperan dalam film yang pernah menjadi hits abad 2000. Dalam film itu dikisahkan, saat seorang gadis marah lalu pergi menjauh dari kekasihnya kemudian dia menoleh ke belakang ke arah kekasihnya itu, maka si gadis ingin dikejar oleh kekasihnya. Namun di sini dirinya dan Imam bukanlah sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
Rasanya Sendi ingin mengutuk dirinya sendiri, mengapa dia harus terlibat perasaan terlarang ini. Perasaan yang tak seharusnya dia rasakan. Dengan cepat Sendi menghapus air matanya, tidak seharusnya dia menangisi pria yang bukan halalnya.
Saat bis yang Sendi tumpangi sampai pada tujuan dia untuk turun, dia bergegas melangkahkan kakinya. Jalan kecil menuntunnya menuju kos yang sudah hampir dua tahun ini dia tempati. Letaknya sangat strategis, tak begitu jauh dari kampus. Ia memilih untuk kos karena rumah orang tuanya sangat jauh dari kampus.
"Assalamu'alaikum," ucap Sendi.
"Wa'alaikumsalam, Kak," sahutnya. Kamudian gadis itu melihat wajah Sendi yang dirundung kesedihan. "Kak Sendi kenapa?" tanya Bila khawatir.
"Aku nggak papa, Bil, cuma kecapekan," ujarnya bohong. Dalam hatinya, dia mengucapkan istigfar berkali-kali. Dia bingung mengapa dia harus berbohong. Jika memang dia tidak ada rasa lagi dengan Imam harusnya dia bersikap biasa saja. Bukan seperti ini.
Setelah selesai membersihkan diri, Sendi menggelar sajadahnya untuk sholat isya. Dengan khusyuk dia melantunkan ayat-ayat panjangnya. Dan sebagai penutup sholatnya, Sendi kembali menangis. Dia mulai memohon pada Allah.
"Ya, Allah. Ya, Rabb ... Bila putih sudah menjadi hitam, biarkan doa yang membuatnya putih kembali. Bila doa tak cukup untuk membuat putih, jauhkanlah putih agar tidak ternodai oleh hitam. Karena cinta tidak mengenal hitam dan putih.
Bahkan ketaqwaan tidak bisa menjamin."
"Ya, Allah ... Jika aku bukan tulang rusuknya, jangan biarkan aku merindukan kehadirannya. Jangan biarkan aku melabuhkan hati padanya. Kikis semua pesonanya dari pelupuk mataku. Jauhkan dia dari relung hatiku. Gantilah semua rasa cinta ini dengan kasih yang tulus. Kasih sebagai seorang kakak dan adik."
Ketika Sendi selesai dengan doanya, Bila tampak tersenyum ke arah Sendi. "Kak, ada yang cariin tuh di luar," goda Bila.
"Siapa?" Dahi Sendi berkerut, dia merasa tak pernah mengundang tamu ke kostnya. Kecuali Sabrin yang sering main kesini.
"Ganteng, kayak orang luar," seru Bila.
"Luar planet maksudmu?" tanya Sendi sambil melipat mukenanya. Lalu dia memakai hijab panjangnya hingga menutupi sebagian perutnya.
Dengan rasa penasaran tinggi Sendi keluar kamar menuju teras depan rumah kos yang dia tempati.
"Mas Imam." Sendi kaget melihat sosok Imam tengah menatap ke arahnya.
"Sen," panggilnya lirih.
"Mas ngapain ke sini?" tanya Sendi tak mengerti.
"Mas mau minta maaf," desahnya. Tangannya sudah mengacak-acak rambutnya tanda dia sedang frustasi.
"Minta maaf untuk apalagi? Mas, lebih baik Mas pulang. Nggak enak dilihat orang!" nada suara Sendi terdengar seperti memerintah.
"Ayolah, Sen, kita butuh bicara."
"Mas Imam. Sudahlah, aku lelah—"
"Lelah karena apa? Kamu tahu kan, Sen, bahkan Allah tidak pernah lelah mengingatkan kita hayya 'alal falah ... kamu masih bisa berkata lelah?" Imam sudah tidak mampu menenangkan hatinya sendiri. Biar semua orang berkata egois pada dirinya. Karena memang beginilah dia. Imam ingat betul saat dia memaksa ingin menikahi Ell, dan sekarang apa dia juga harus memaksa Sendi untuk mau menikah dengan dia. Bukannya dalam Islam pria diperbolehkan untuk poligami? Lantas apa masalahnya?
"Sen, biarlah perputaran waktu yang akan menguji sebuah ketulusan, sebuah kesungguhan, sebuah kejujuran, dan tetaplah berprasangka baik karena itu wujud sebuah kepercayaan." Imam mendekat ke arah Sendi, namun dengan cepat Sendi melangkah mundur. "Percayalah padaku, Sen, aku tahu semua belum berubah. Saat mata itu mengatakan perasaan yang sama. Perasaan yang seharusnya aku sadari dari dulu. Saat kebersamaan kita. Saat—"
"Cukup, Mas!" teriak Sendi. "Apa Mas tahu, walau sejak dulu perhatianku padamu seperti ikhfa yang tersamarkan, tetapi sebenarnya rasa cintaku padamu adalah izhar. Tidak, tidak, Mas tidak akan pernah tahu isi hatiku yang sebenarnya. Karena yang Sendi tahu, Mas terlalu egois dan percaya bila Mas yang akan selalu benar. Perasaan Mas yang benar, ego Mas yang benar. Tapi Mas tidak sedikit pun memberikan ruang kepada yang lain untuk berbicara akan isi hatinya," sesaknya. Sendi sudah meluruhkan semua ilmu agamanya. Bahkan dia tidak malu mengungkapkan apa yang dia rasakan sejak dulu. Imam tersenyum kecil mendengar kata-kata Sendi.
"Dan satu hal lagi yang perlu Mas sadari, jika sejak dulu Mas nggak bisa tepati janji Mas. Harusnya Mas nggak perlu berjanji. Jangan pernah membuat orang lain berharap bila harapan itu hanya sebuah jarum kecil yang akan membuat rasa sakit di hati ini," cicitnya.
Imam mengusap wajahnya, dia semakin frustasi dengan pengakuan Sendi. Tangan Imam dengan refleks menarik tubuh Sendi dalam pelukannya. "Aku akan membuatmu halal bagiku secepatnya. Tolonglah bersabar dan berikan Mas satu kesempatan lagi. Mas akan buktikan kepada dirimu bila Mas bukan seorang laki-laki yang ingkar janji," saat itulah tangisan Sendi pecah. Dia malu pada dirinya sendiri. Dia jijik dengan dirinya, banyak orang yang mengakui agamanya bagus namun dia kalah dengan sebuah kata cinta. Cinta yang terus menusuknya dan menjeratnya hingga sampai saat ini pun dia tidak bisa melepaskan. Rasa sesak, rasa sakit untuk kesekian kali, ingin menjeritkan apa yang tengah ia rasakan hanya mampu ia pendam.
"Mas, tolong jika hanya ingin berteduh, jangan di sini. Jangan di hatiku, karena hatiku bukan sebuah warung kopi. Ucapanmu masih saja sama seperti dulu, penuh dengan janji palsu," cicitnya di sela tangisannya. Tubuhnya masih dalam pelukan hangat Imam. Bahkan sepertinya Imam tidak ingin melepas pelukannya.
"Maafkan, Mas. Please, maafkan, Mas."
Sendi mendorong tubuh Imam, dia sadar jika sepeti ini bukan hanya agamanya saja yang diinjak-injak namun ada seseorang yang sudah berada di sisi Imam akan sedih. Dia tidak mau menyakiti hati orang lain. Cukup perasaannya saja yang sudah terluka seperti tersayat-sayat.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Pulanglah," lirih Sendi.
"Mas akan meminta orang tua Mas untuk melamarmu," ucap Imam. “Secepatnya.”
"Mas, pernikahan tidak semudah itu. Bukan hanya sekadar masalah lebih tua atau muda. Karena pernikahan itu adalah tentang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan. Pasangan hidup yang baik adalah yang bisa memberikan kedamaian hati, kenyamanan di sisi, dan kasih sayang tiada tara. Tentang tertawa bersama dan saling mensupport satu sama lain," keluh Sendi.
"Mas, tahukah dirimu, saat dunia begitu kejam padaku, kamu tetap menjadikanku untuk tempat berpulang. Pernahkah kamu terpikirkan betapa sakitnya aku? Aku berusaha kuat untuk bisa membuatmu sangat bersabar dan mengerti semuanya. Dengan semua kesederhanaanku, aku berusaha menerimamu apa adanya. Kamu tahu wajahku tak secantik seorang bidadari surga, tapi kebersamaan denganmulah yang harus terus aku yakini dan aku perjuangkan. Bukan untukmu atau untukku, tapi untuk kita. Namun semua itu hanya pemikiran awalku, karena sekarang semua sudah berbeda," lirih Sendi. Dia sudah tidak kuat lagi untuk mengungkapkan rasa sakitnya.
"Masa lalu yang pernah kita lewati tidak pernah kupersoalkan, karena dari sanalah kita terbentuk. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana menyikapi sebuah kesalahan ini. Kesalahan yang tak sepantasnya kita lakukan, Mas." Sendi kembali menangis di akhir kalimatnya. Rasanya sangat tidak rela menyebut cintanya adalah sebuah kesalahan. Bukannya cinta adalah sebuah fitrah, karena semua orang pasti pernah merasakannya.
"Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya." Dengan langkah besar, dia meninggalkan Sendi yang masih diam membisu.
ꭃ
"Mas Imam," panggil Ell dari dapur apartemen mereka. Hari ini Ell sudah masak banyak makanan kesukaaan Imam. Ell ingin terus memberikan yang terbaik untuk Imam saat ini hingga nanti.
"Ya, Ell, Mas mandi dulu," sahut Imam datar.
Setengah jam kemudian, Imam sudah menghampiri Ell dan duduk di kursi makan. "Kenapa makannya harus menunggu Mas balik?"
"Mas tahu kan, aku nggak suka makan sendiri. Dan tadi aku ke rumah Mami. Banyak dapat resep baru, jadinya aku praktikkan," ceritanya.
"Oh." Imam mulai memakan semua yang Ell siapkan, sangat enak seperti masakan maminya. Imam bangga pada Ell yang selalu berusaha menjadi istri yang baik.
Saat kedua mata mereka bertemu, Ell menangkap ada sesuatu yang tidak beres dalam diri Imam. "Ada apa, Mas?" tanya Ell.
"Ah, nggak ada apa-apa," ucapnya.
Ell tersenyum. "Mas, aku selalu meminta pada Tuhan agar hubungan kita selalu bahagia. Tidak akan terpisah hanya karena orang ketiga, atau karena kita berbeda. Tapi bila waktu yang tidak mengizinkan aku bernapas dan berdiri di sampingmu, aku bisa apa," ucap Ell, dia menggenggam tangan Imam yang berada di atas meja. Sudut bibirnya tertarik sempurna menandakan dia sangat bahagia. "Mas kok diam saja?"
Bibir bawah Imam bergetar, dia susah payah menahan tangisnya. Sakit rasanya mendengar semua ucapan Ell. Dia bagaikan seorang pembunuh jika harus merebut kebahagiaan dari Ell. Bahkan karena dia juga Ell ikut terperangkap dengan dia dalam sebuah ikatan pernikahaan.
"Mas, aku suka deh sama kata-kata Mami tadi saat dia mencicipi masakan aku. Katanya otak akan bekerja lebih baik saat bahagia. Itulah mengapa semua masakanku enak, karena aku sangat bahagia sekarang," jelasnya.
"Aku senang kamu bahagia, Ell." Senyum palsu Imam tampak jelas di wajah lelahnya. Bukannya Ell tidak tahu Imam sedang menutupi sesuatu, tapi Ell yakin suatu saat nanti Imam akan menceritakan apa yang dia rasakan.
ꭃ
Pagi-pagi sekali Imam sudah rapi dengan pakaian kerjanya, dia berniat menemui papinya yang dikabarkan pagi ini akan mengikuti rapat dengannya.
"Kamu tumben sepagi ini, Mas?"
"Iya, Ell, Mas ada rapat sama Papi," ucap Imam.
"Ya, sudah, hati-hati ya, Mas." Ell mengusap d**a Imam, lalu Imam mencium kening Ell. Hanya seperti ini kegiatan mereka setiap paginya. Rutinitas itu mereka jalankan karena memang harus dilakukan bukan karena hal lain yang sering disebut orang dengan nama cinta.
Di kantornya Imam nampak tegang, bukan karena rapat yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi. Namun setelah rapat selesai dia akan mengajukan niatnya untuk meminta papinya melamarkan Sendi untuknya.
"Pi," panggil Imam ketika mereka selesai rapat.
"Ada apa, Mas? Apa salah satu perusahaan tadi ada yang tidak berkenan di hatimu?" Rapat yang tadi dilakukan memang membahas perusahaan yang akan bergabung dengan mereka.
"Nggak, Pi, tapi ada hal lain yang ingin Imam katakana."
Papi memfokuskan pandangannya pada Imam. Terakhir Imam seperti ini saat dia meminta izin untuk menikahi Ell, tapi kali ini papi tidak tahu apa yang Imam akan lakukan.
"Masuk ke ruangan Papi," ucapnya.
Saat ini mereka sedang duduk berhadapan, kedua tangan papi dilipat di atas meja. Dia menunggu apa yang ingin Imam katakan.
Sedangkan Imam menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dia melipat tangannya di d**a, sambil memejamkan mata.
"Mas," tegur papi.
"Imam ingin menikah lagi, Pi," ucap Imam to the point.
Papi menatap wajah Imam tak percaya. Baru dua bulan ini Imam menikah, akan tetapi saat ini dia sudah ingin menikahi gadis lain lagi.
"Kenapa tiba-tiba ingin menikah lagi? Apa Ell tidak cukup untuk mu? Apa kau menyesal telah memilih Ell dulu? Jika memang seperti itu, papi hanya bisa menertawakamu. Dulu kau yang memilihnya. Sekarang kau juga yang ingin meninggalkannya," cecar papi.
"Bukan untuk meninggalkannya, Pi, tapi yang Imam maksud, Imam ingin poligami."
"Mas, kamu tahu kan poligami itu apa? Kamu tahu juga kan syarat-syaratnya seperti apa. Mas, Papi tahu kamu tidak bisa mengendalikan hawa nafsumu. Tapi ingat, Mas, poligami itu tidak mudah. Mungkin kamu bisa memberikan nafkah lahir padanya. Tapi nafkah batin? Apa kamu mampu membagi cintamu sama rata?" nasihat papi.
"Tapi, Pi ...."
"Mas, kamu mau kan hidupmu berubah jadi lebih baik? Jangan lakukan hal yang membuat dirimu semakin buruk. Ingat, Mas, jika hidupmu ingin berubah lebih baik, perbanyak usahanya bukan gayanya. Apa kamu mau mengikuti trend poligami?" ketus papi.
"Papi. Dengarkan Mas dulu jangan main hakim sendiri, bukankah poligami dalam Islam merupakan praktik yang diperbolehkan (mubah, tidak dilarang namun tidak dianjurkan). Islam memperbolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya terdapat di surat an-Nisa ayat 3.
"... dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau b***k-b***k yang kamu miliki."
Jadi apa yang harus diragukan lagi. Insya Allah Imam sanggup, Pi."
"Memang bukanlah dosa, bukan juga sebuah kecelaan pula saat seorang laki-laki ingin menikah lagi. Hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi menurut Papi, tetap selama-lamanya Papi mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsara yang harus diderita seorang perempuan, bila suaminya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan suaminya yang sah, harus diterimanya menjadi saingannya? Boleh disiksanya, disakitinya perempuan itu selama hidupnya sepuas hatinya, tetapi bila ia tiada hendak membebaskan perempuan itu kembali, bolehlah perempuan itu menangis setinggi langit meminta haknya," jelas papi.
"Kenapa Papi menentang, jelas-jelas di Islam sudah disahkan," erang Imam frustasi.
"Papi ceritakan sedikit kisah. Pertama, Papi tanya padamu, siapa istri yang Rasulullah paling cintai? Adakah?" tanya papi sambil menatap manik mata Imam.
"Ada, Khadijah," jawab Imam malas. Dia kembali merasa seperti anak kecil yang dijelaskan dengan sebuah cerita.
“Benar, seorang rasul, manusia yang paling sempurna saja memiliki kecenderungan lebih cinta pada salah satu istrinya. Padahal istri-istri yang lain juga wanita shalehah. Terus, apalagi jika poligami terjadi pada seorang muslim (yang sudah pasti tidak sempurna seperti rasul, dan begitu juga istri-istri sang muslim ini)? Sudah jelas sang muslim ini pasti punya istri kesayangan dan mengingat ketidaksempurnaannya sebagai manusia amatlah wajar dan dapat diprediksi bahwa akan terjadi ketidakadilan di sini," jelas papi. Imam tak merespon sedikit pun, dia diam membisu. Imam berusaha menarik benang merah apa maksud papinya.
"Yang kedua, Mas, adakah istri-istri rasulullah yang saling mencemburui satu sama lain?" tanya papi lagi.
"Ada. Aisyah," jawab Imam.
"Benar, seorang Aisyah yang sudah jelas adalah wanita shalehah yang diutamakan ternyata masih juga memiliki rasa cemburu pada istri rasul yang lain. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kecemburuan, dan mengingat ketidaksempurnaan muslimah masa kini jika dibandingkan Aisyah, juga rasa sakit hati tidak menghinggapi para muslimah yang suaminya berpoligami?"
"Inti dari penjelasan Papi apa?" tanya Imam tegas.
"Papi berpikir dalam hal ini kecenderungan cinta dan kecemburuan terjadi pada kisah hidup Rasulullah, manusia paling sempurna, sementara juga Allah berfirman demikian boleh beristri sampai empat dalam Al-Qur'an. Bukan paradoks yang terjadi. Tetapi suatu kebijakan Allah yang bijaksana. Boleh saja mengingat wahai kalian manusia laki-laki memiliki insting alami nan natural untuk senang berpoligami, namun coba renungkan sesuatu yang terjadi dalam kisah hidup seorang manusia yang paling sempurna yang telah berpoligami sebelum kalian. Sementara ia dan istri-istrinya lebih saleh dan salehah dari kalian semua."
"Lalu apa tujuannya Rasulullah menyontohkan demikian jika aku ingin berpoligami dilarang-larang. Papi mau aku melakukan zina?" ancam Imam. Lantas membuat papi semakin tersenyum.
"Begini loh, Mas, pertama itu laki-laki muslim sepertimu yang mengaku bisa-adil-dan-kehidupan-keluarganya-yang-berpoligami-dibilang-tenteram-sejahtera adalah muslim yang sombong yang merasa lebih bisa dibanding Rasulullah SAW sang manusia sempurna. Dan yang kedua, perempuan muslimah yang mengaku merasa-tidak-cemburu-dan-tidak-sakit-hati-dan-amat-ikhlas-serta-lapang-dadanya-dipoligami suaminya adalah muslimah yang sombong yang merasa bisa lebih ‘sabar', 'ikhlas' dibandingkan Aisyah dan istri-istri Rasulullah yang lain, sementara Aisyah dan istri-istri rasul yang lain adalah muslimah salehah yang utama. Ingatlah, Mas, lelaki yang baik untuk perempuan yang baik. Jadi bagaimana mungkin Rasulullah manusia paling saleh dapat memiliki istri yang tidak elok ketakwaannya," jawab papi.
"Sekarang Mas dengar, poligami bukan madu, tapi juga belum tentu menjadi racun. Di tangan laki-laki yang salah poligami akan menjadi bencana besar bagi keluarganya sendiri. Tentu juga untuk dirinya sendiri mengingat ia akan dimintai tanggung jawab mengenai keluarganya di akhirat nanti," tegas papi.
Semakin lama Imam membisu dengan semua penjelasan papi. Logika dan agamanya berperang. Sekarang apa yang harus dia lakukan, janji sudah terucap. Tak mungkin ditarik kembali. Namun, akankah dia tidak salah pilih lagi? Salah? Apa berarti Ell merupakan kesalahan untuknya?
“Tanpa restu dari papi, Imam akan menikahi Sendi. Seperti janji Imam dulu padanya. Dan Imam rasa tidak akan ada yang bisa untuk menentang, karena Imam akan membawa jalur agama untuk mengingatkan semua orang bila poligami jauh lebih halal dari pada berzina!”
“Imam!” bentak papi.
“Cukup, Pi, jangan sampai membuat Imam menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya,” ucapnya sembari berlalu meninggalkan papi.
Tekadnya sudah bulat, dan dia akan terus berjalan di jalan Allah untuk memperjuangkan apa yang dia pikir benar.
-----
continue