Bab 4

3168 Words
Kenali Sebelum DicintaiSekitar pukul tiga pagi waktu Jerman, Imam berniat menunaikan sholat subuhnya setelah acara santap sahur tadi yang Imam dan kedua orang tuanya lakukan. Jangan heran mengapa sholat subuh jam tiga pagi. Karena waktu di negara Eropa sangat berbeda dengan Indonesia. Di Jerman khususnya waktu siang sangat lama, yakni pukul 08.00-22.00 sehingga waktu malamnya sangat singkat. Akan tetapi karena Imam sudah terbiasa tinggal di Jerman, dia sudah tidak kaku lagi dalam perbedaan waktu ini. Setelah mengambil wudhu Imam keluar dari kamarnya lalu menuju ke ruang tengah apartemen untuk melakukan sholat subuh berjamaah bersama dengan kedua orang tuanya. Mengapa Imam dan papinya tidak sholat di masjid? Jangan samakan di negara Eropa dengan Indonesia. Walau negara Jerman memiliki banyak umat muslim, namun keberadaan masjid masih sangat jarang ditemui. Jadi menurut Imam daripada tidak sholat, maka lebih baik sholat di apartemennya saja. Ell terbangun karena merasa Imam tidak ada di sebelahnya. Dia berjalan keluar untuk mencari keberadaan Imam. Namun dia tertegun melihat kekompakan keluarga Imam dalam beribadah. Ada perasaan aneh yang timbul dalam dirinya melihat kejadian itu. Karena dia tidak ingin mengganggu jalannya proses beribadah, maka ia putuskan untuk kembali ke kamar dan menunggu Imam datang. Namun setelah hampir dua jam menunggu, dia tidak merasakan kehadiran Imam kembali. Untuk menutupi rasa penasarannya, dia melangkahkan kaki keluar, dan dia kembali tertegun melihat Imam dan kedua orang tuanya masih setia beribadah. Sebuah kitab kecil masih berada di tangan Imam dan hal yang sama dapat Ell lihat pada kedua orang tua Imam. Ell tahu kitab itu merupakan kitab pedoman umat muslim. Sama sepertinya yang selalu membaca alkitab yang terdiri dari 66 bagian itu. Jujur Ell merasa senang suaminya tak pernah lupa berdoa pada Tuhannya. Karena dia juga melakukan hal yang sama walau dengan cara yang berbeda. Ell kembali ke kamar, di dalam dia berlutut tepat di samping tempat tidurnya dan menangkupkan kedua tangannya. Dia berdoa pada Tuhannya dengan setulus jiwa raganya. Dia juga bahagia telah diberikan seorang suami yang begitu baik dan suami yang selalu taat pada Tuhannya. Terdengar suara pintu terbuka, dan masuklah sosok Imam ke dalam kamarnya. Imam bingung saat melihat istrinya tengah berdoa dengan caranya sendiri. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hal ini. Imam sadar sebenarnya dia tidak ingin ada perbedaan dalam pernikahannya. Tetapi dia yakin di balik perbedaan ini pasti ada hikmah untuk pembelajarannya kelak. "Sudah selesai berdoanya?" tegur Imam saat dia melihat Ell mencium benda berbentuk tanda tambah itu. "Sudah, Mas. Mas juga sudah beribadahnya?" Ell mendekati Imam dengan senyum di bibirnya. Namun pandangan Imam masih pada kalung yang dikenakan Ell di tubuhnya. "Ell, apa kamu pernah membaca sejarah tentang benda yang menggantung di tubuhmu itu?" tanya Imam. Ell mengikuti pandangan Imam pada kalung salib yang melingkar di lehernya. "Tidak, Mas, memangnya Mas tahu?" Imam mengambil sebuah buku dari rak buku yang berada di dalam kamarnya itu. Memang sudah lama sekali buku itu menghiasi kamarnya, lebih tepatnya semenjak Imam mengenal Ell. "Bacalah, aku harap kau dapat mengambil suatu kesimpulan yang benar. Aku tidak ingin mengguruimu. Aku juga tidak berhak menjelaskan semua itu. Biarlah buku yang menjelaskannya padamu," tutur Imam panjang lebar. Lalu dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ell membaca sekilas cover buku itu, di sana dijelaskan sejarah awalnya benda yang sering disebut salib oleh kaumnya. Dengan rasa penasaran, Ell membaca lembar demi lembar buku itu. Awalnya dia biasa saja. Namun lama kelamaan dia menjadi semakin penasaran. "Ell, mandilah. Kita harus pulang pagi ini," ujar Imam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih terbalut dengan handuk. Tetapi Ell tidak memedulikan Imam. Dia sedang berkonsentrasi membaca buku yang menurutnya memberikan pengetahuan lebih. "Ayolah, Ell. Nanti saja di pesawat kau membacanya lagi!" perintah Imam. "Mas, apa semua ini benar? Apa yang ditulis di sini benar?" tanya Ell penasaran. "Menurutmu? Itu agamamu, Ell. Seharusnya kamu lebih tahu daripada aku," jelas Imam. "Tetapi ada beberapa buku lain yang sempat aku baca, ternyata sama menjelaskan seperti itu," sambung Imam. "Jadi awalnya salib itu digunakan penyembahan orang-orang kafir, Mas?" "Seperti itu yang tertulis di sana. Aku juga tidak bisa menjelaskan detailnya. Dan ada salah satu kamus menuliskan Kamus Drury (Dictionary of Mysticism and the Occult) mendefinisikan salib sebagai: Suatu simbol pra-Kristen kuno yang ditafsirkan oleh beberapa pakar ilmu ghaib sebagai menyatukan zakar lelaki (palang menenggak) dengan v****a perempuan (palang melintang). Ianya juga suatu simbol bagi empat arah angin dan suatu senjata kuat untuk menentang kejahatan. Jadi aku harap kamu bisa mengambil kesimpulan dari membaca itu," tutur Imam. Ell menutup mulutnya dengan kedua tangan, jujur dia tidak percaya. Tapi rasa penasarannya membuatnya semakin ingin tahu yang sebenarnya. "Kenapa Mas baca buku seperti ini?" Imam diam sesaat, mencoba menjawab dengan kalimat yang logis. "Aku mencoba mengenali sebelum mencintai. Sebelum aku yakin aku mencintaimu, yang pertama kulakukan mengenalimu. Apa saja yang menjadi keseharianmu, agamamu, apa pun tentangmu. Agar aku tidak salah dalam melangkah dan mengambil keputusan," ujar Imam. Ell merasa tersentuh,  jadi Imam juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan selama lima tahun ini. Dia juga berusaha mengenal tentang seorang Imam. "Makasih ya, Mas." Dia begitu terharu saat ini. "Mandilah. Nanti kita terlambat." Ell mengangguk mematuhi apa yang Imam minta. Saat Ell sedang mandi, Imam mendapat panggilan dari nomor Fatah, adik iparnya di Indonesia. Entah mendadak perasaan Imam menjadi tidak enak saat ini. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Fatah mau memberitahu berita buruk, Mas," jelas Fatah Napas Imam seperti berhenti saat Fatah berkata ingin memberitahu berita buruk. Pikirannya langsung tertuju pada adiknya Sabrin. "Ada apa?" "Sabrin masuk rumah sakit, Mas, sedangkan Fatah sedang ada di Surabaya." "Innalillahi ... lalu bagaimana keadaannya? Siapa yang menjaganya di sana? Mengapa kamu tega meninggalkan istrimu yang sedang hamil besar? Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu?" Marah Imam. Dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Menurut Imam, Fatah sudah sangat keterlaluan. Sudah jelas papi dan maminya mengamanatkan dia untuk melindungi Sabrin. Tapi apa yang dia lakukan saat ini? "Maaf, Mas, Fatah belum bisa menjaga Sabrin dengan baik. Fatah sedang ada di bandara menuju Jakarta sekarang juga. Di sana ada Sendi yang menjaganya. Mama dan papaku tidak bisa dihubungi sejak tadi. Sekali lagi maafkan aku, Mas." Tubuh Imam merosot lemas, pikirannya melayang pada Sabrin, adik kesayangannya. Bahkan adiknya hanya dijaga oleh Sendi. Sendi? Sahabat Sabrin itu .... "Cepat kau pulang ke Jakarta ! Jaga adikku sampai aku kembali. Hari ini aku kembali ke Jakarta," perintah Imam. Setelah ucapan salam Fatah, Imam langsung menutup sambungannya. Tangannya langsung mencari deretan nomor telepon Sendi, sahabat Sabrin. Tak berapa lama ada sahutan dari panggilan teleponnya. "Assalamu'alaikum." mendengar suara lembut Sendi, entah ke mana perasaan marah Imam tadi. Suaranya begitu menyejukkan hati Imam. "Wa'alaikumsalam, Sen. Ini Mas Imam, apa benar Sabrin di rumah sakit denganmu?" "Iya, Mas, maaf Sendi belum menghubungi Papi sama Mami. Yang pertama Sendi hubungi Mas Fatah. Tapi ternyata Mas Fatah di Surabaya," lirih Sendi. "Terima kasih, Sen, Mas minta tolong jaga dia. Hari ini Mas kembali ke Jakarta. Sekitar delapan jam lagi Mas sampai sana. Jadi tolong temani dia. Mas juga sudah meminta Fatah untuk segera pulang." Sendi tak menjawab, menurut Imam mungkin Sendi mengangguk tanda mengiyakan di sana. Ell yang baru selesai mandi, melihat tampang kusut Imam langsung mendekatinya. "Ada apa, Mas?" "Sen, nanti Mas hubungi lagi. Ingat pesan Mas. Kalau terjadi sesuatu hubungi Mas!" perintah Imam. Dia mengakhiri panggilan teleponnya dengan ucapan salam. "Adikku masuk rumah sakit, Ell. Kita pulang sekarang juga," perintah Imam. Dengan berat hati Imam memberitahu mami dan papinya tentang keadaan Sabrin. Mami langsung histeris mendengar kondisi Sabrin. Dan papilah yang berusaha menenangkan mami dalam hal ini. Mami dan papi menyesal karena meninggalkan Sabrin yang sedang hamil besar sendiri. Walaupun ada mertuanya di sana, tapi tetap saja Sabrin pasti butuh seorang ibu di sisinya. Apalagi mami tahu Sabrin ada masalah dengan kandungannya sejak awal kehamilan. Mami semakin ketakutan akan terjadi hal buruk pada Sabrin. Di sepanjang perjalanan Ell tak bersuara sedikit pun. Dia tidak mau mengganggu suaminya yang sedang memiliki banyak masalah. Selama lima tahun Ell mencari tahu sosok Imam seperti apa, dia melewatkan tentang keluarga Imam. Karena tak banyak orang tahu Imam memiliki keluarga seperti apa di Jakarta. Bahkan pegawai-pegawai Imam yang berada di Jerman seperti tutup mulut tentang kehidupan sang bos besarnya itu. Dan kali ini Ell harus menyiapkan hati untuk bertemu dengan keluarga besar Imam. Yang rata-rata menurut Ell menganut agama yang fanatik. Apa dia akan diterima nantinya? ꭃ Setibanya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Imam, Ell, beserta kedua orang tuanya sudah ditunggu oleh sopir untuk membawa mereka ke rumah sakit. Mereka tiba pukul sepuluh malam waktu Jakarta. Karena perbedaan waktulah yang mengharuskan mereka sampai malam hari. Ternyata mobil yang membawa Imam dan keluarganya bergerak menuju rumah sakit yang dimiliki oleh Fatah—adik ipar Imam. Sesampainya di sana seorang suster mengantarkan mereka ke ruangan di mana Sabrin dirawat. Betapa terkejutnya mereka, ternyata Sabrin telah melewati proses persalinan caesar tadi pukul enam sore. Karena kondisi kandungannya yang tidak mungkin dipertahankan, untuk itu Dr. Iwan memutuskan untuk mengambil tindakan itu. "Ya, Allah, Rin. Maafkan, Mami. Mami salah ninggalin kamu sendiri!" histeris mami saat masuk ke dalam ruangan rawat Sabrin. Di dalam ruangan itu banyak yang menungguinya. Ada Fatah, kedua orang tua Fatah, Umi—adik Fatah, Adel—putri angkat keluarga Al Kahfi—, dan Sendi. Pandangan mata Imam terhenti pada sosok gadis itu. Gadis itu terlihat pucat dengan wajah lelahnya. Imam tahu Sendilah yang berjasa menolong adiknya itu. Tapi dia tidak mengerti mengapa Sendi bisa berada di sana. Lantas di mana orang tua Fatah saat itu? "Mami nggak usah minta maaf. Sabrin nggak papa kok," sahutnya lemas. Wajahnya masih sangat pucat tak bertenaga. Dia tidak bergerak sama sekali. Namun pandangan Sabrin terhenti saat melihat sosok Ell di belakang Imam. "Siapa itu, Mi?" "Mas, kenalkan istrimu sama Sabrin!" perintah mami. Semua orang di dalam ruangan itu nampak kaget. Terutama Sendi. Dia yang tadinya menundukkan wajahnya langsung menatap wanita yang berdiri di samping Imam saat itu. Sendi tidak bisa mengungkapkan kata-katanya saat ini. Dia jelas sekali kaget, karena yang dia tahu dari Sabrin bahwa Imam tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Tapi kenapa tiba-tiba Imam menikah? Apa Imam melakukan kesalahan? Astagfirullah al’adzim. "Rin, kenalin istri Mas. Namanya Sellma, panggil aja Kak Ell," tutur Imam. "Hai, aku Sabrin." Dia mengulurkan tangannya pada Ell. Sabrin yakin wanita inilah yang waktu itu Imam ceritakan padanya di kampus. "Hi, aku Ell. Kau tidak apa-apa?" tanya Ell hati-hati. "Aku baik. Sudah lebih baik sebenarnya. Tadi sempat pingsan beberapa saat," jelas Sabrin. Imam tak berniat mendengarkan perkenalan Ell dan Sabrin. Dia lebih memilih duduk di sofa yang kebetulan diduduki Sendi juga. Imam masih merasa sangat lelah dengan perjalanan jauhnya. Sayup-sayup Imam mendengar keluarganya dan keluarga Fatah masih berbincang tentang anak yang baru saja Sabrin lahirkan. Sekarang berarti status Imam sudah menjadi seorang paman. Dia masih tak menyangka adik kecilnya sudah berhasil menjadi wanita yang sempurna. Tanpa Imam sadari, Sendi memperhatikan Imam yang sedang terpejam di sampingnya. Sejak pertama kali Sendi mengenal sosok Imam, memang tak banyak perubahan. Sifatnya masih sangat baik dan sayang sekali dengan Sabrin—sahabatnya itu. Bahkan kadang Sendi suka merasa iri pada Sabrin. Jika dulu semasa bangku sekolah, Imam selalu mengantar jemput adiknya. Dan Sendi hanya bisa menatap keharmonisan hubungan adik-kakak yang terjalin antara Imam dan Sabrin. Menurut Sendi, Imam merupakan sosok pria yang bertanggung jawab. Dan beruntung sekali wanita itu yang sudah menjadi istrinya sekarang.         Astagfirullah al’adzim. Sendi merasa penyakit irinya merasuki hati. Dia tidak ingin berlarut ke dalam penyakit hati yang tidak baik untuk imannya itu. Sendi pamit pada Sabrin untuk pergi ke masjid sebentar. Mungkin dengan membaca Al-Qur'an hatinya menjadi tenang. Sejak sore Sendi menemukan Sabrin tak sadarkan diri, dia tidak pernah meninggalkan sahabatnya itu.         Bagi Sendi, Sabrin sudah seperti saudaranya. Karena itu juga malam ini dia masih berniat menemani Sabrin di rumah sakit. "Mas," panggil Ell. "Ya, Allah, aku ketiduran?" tanya Imam kaget. "Iya, kamu tertidur. Kamu sudah beribadah? Ibadah dulu," ujar Ell. Dia berkata seperti ini karena dia belum melihat Imam melakukan ritual ibadahnya sejak tadi di pesawat terakhir kalinya. "Sekalian kamu cuci muka." Imam menuruti permintaan Ell. Dia bangkit dan melihat Sabrin yang masih setia bermanjaan dengan maminya. Saat keluar dari ruangan Sabrin, Fatah mengikuti langkahnya ke masjid di sekitar area rumah sakit. "Mas, dia istrimu?" tanya Fatah. Dia memang penasaran melihat istri dari kakak iparnya itu. Fatah pikir Imam akan menikahi wanita seperti Sendi atau semacam Sendi dengan ilmu agama yang baik. Ternyata Fatah salah. Dia melihat Imam dengan istrinya seperti melihat dia dengan Sabrin. "Iya, dia istriku. Dan dia—" "Nasrani?" potong Fatah. "Kau tahu?" Imam menatap wajah adik iparnya itu. "Dari kalung salib yang dia kenakan," ujar Fatah. "Apa kalian saling mencintai? Atau lebih tepatnya, apa kau mencintai dia?" tanya Fatah hati-hati. Dia tidak ingin Imam tersinggung. Mereka duduk sebentar di pinggiran masjid. Melihat Fatah merupakan lawan bicara yang baik, akhirnya Imam menceritakan semuanya. "Iya, aku mencintainya." "Kadang kita terlalu cepat menafsirkan kata cinta. Menurut Mas Imam, rasa cinta seperti apa yang Mas rasakan pada istrimu itu?" tanya Fatah. "Entahlah. Yang jelas aku tidak mampu hidup tanpa dia." Imam memandang langit malam yang penuh dengan bintang. "Menurut hadits Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai'an fa huwa 'abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain atau diri sendiri. Apa Mas Imam seperti itu?" tanya Fatah, kemudian dijawab anggukan pasti oleh Imam. Awalnya Fatah merasa segan untuk menasihati kakak iparnya itu. Tapi setidaknya ia harus menyampaikan kebenaran walau pada akhirnya mungkin Imam tidak dapat menerimanya. "Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firmanNya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam i'tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain. Dalam Qur'an cinta memiliki 8 pengertian yaitu, 1). Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara, dan "nggemesi" kalau kata anak muda. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah, dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berpikir lain. 2). Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur'an, kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya di antara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau silaturrahmi, artinya menyambung tali kasih sayang. Suami istri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat. 3). Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut dalam konteks orang poligami di mana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama. 4). Cinta syaghaf adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil, dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf ketika mengisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir, kepada bujangnya, Yusuf. 5). Cinta ra'fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk sholat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra'fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2). 6). Cinta shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ini ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha yang setiap hari menggodanya, mohon dimasukkan penjara saja, sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif 'anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33) 7). Cinta syauq atau rindu. Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari hadits yang menafsirkan Al Qur'an. Dalam surat Al 'Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barang siapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadits riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa denganMu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq atau rindu adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih, safar al qalb ila al mahbub, dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi 8). Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al Qur'an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus'aha (Q/2:286) Banyak yang mendefinisikan arti cinta dari berbagai aspek. Namun aku merasa cocok dengan definisi yang telah disebutkan tadi. Sebagai seorang muslim yang tidaklah sempurna, belajar mencintai itu hal yang sulit, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Seperti peribahasa dalam bahasa Inggris "No harm to try". Bagaimanapun setiap manusia memiliki jalan masing-masing. Yang paling utama adalah optimis dan percaya bahwa kita bisa memampukan diri untuk selalu belajar lebih dan lebih baik lagi untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Jadi menurut Mas Imam, Mas masuk ke dalam cinta yang mana?" Setelah penjelasan panjang lebar dari Fatah, Imam terdiam sejenak. Apa Imam mengenali 'dia'? Apa ini sebuah cinta? "Mawaddah, ra'fah dan shobwah.," lirih Imam. Dia sadar perasaan cintanya pada Ell memang sangat menentang agama. Tapi dia yakin perbedaan ini bukanlah jurang pemisah antara dia dan Ell. "Jika Mas Imam sudah tahu cinta seperti apa yang Mas rasakan pada istrimu. Lakukanlah yang terbaik. Contohkan kepadanya bagaimana mencintai Allah. Jangan pernah memaksanya untuk mencintai Allah. Tapi tunjukkan betapa dahsyatnya cinta kita pada Allah. Maka dengan sendirinya dia sadar. Mas juga harus kenali diri dia dulu seperti apa. Jangan sampai nanti jadi bumerang untuk Mas sendiri," jelas Fatah. "Terima kasih. Memiliki adik ipar sepertimu sungguh beruntung. Aku akhirnya tenang Sabrin bersama dengan pria yang tepat." Imam menepuk bahu Fatah, dia bangga pada pria di sampingnya ini. "Ayo, kita sholat, Mas belum sholat isya." Hati Imam menjadi sedikit lebih tenang. Dia seperti mendapatkan pencerahan dari penjelasan Fatah tadi. Dan Imam harap dia bisa memfokuskan hati dan pikirannya di jalan Allah. ------ Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD