Part (8)

2161 Words
JIMAT TALI MAYAT (The Series) Written by Daoed Soelaeman Bagian (8) ---------------- o0o ---------------- Basri menatap sedih istrinya. Perlahan dia usap wajah perempuan itu, kemudian berkata penuh kelembutan, "A-aku jadi ngerasa berat buat ninggalin kamu dan anak-anak, Bu." Sejenak laki-laki tersebut menarik napas untuk sekadar melonggarkan dadanya yang mendadak sesak. "Aku ngekhawatirin kalian semua. Tapi … walau bagaimanapun juga, aku harus tetap pergi, 'kan, Bu? Kalo enggak, aku bakal makin ngerasa berdosa, karena gak bisa menuhin kebutuhan keluarga. Kalian bertiga." Sejujurnya bukanlah itu yang terselip di dalam hati Basri. Kabar tentang pembongkaran kuburan Sukaesih akhirnya sampai juga di telinga Lastri. Perempuan itu jadi ikut merasa ketakutan. Entah tentang isu arwah gentayangan, mungkin, atau bisa pula terhadap pelaku pencurian tali mayat itu sendiri. Basri sadar, cepat atau lambat, kabar tersebut akan menyebar. Itu tidak bisa dipungkiri. Namun laki-laki ini yakin, tidak akan ada seorang pun yang mampu melacak siapa pelaku di balik kejadian biadab itu. Terkecuali dia sendiri dan sosok dukun tua Ki Jarok. "Jaga diri kalian baik-baik, ya, selama aku pergi," ucap Basri sesaat sebelum berangkat. "Iyan, jaga Ibu dan adikmu, ya, Sayang," imbuhnya terhadap si Sulung Aryan. Lantas beralih pada anak kedua perempuan, Maryam. "Adek juga, jangan nakal, ya. Bantuin Ibu di rumah. Oke, Cantik?" Kedua anak itu serentak memeluk bapaknya. "Bapak perginya jangan lama-lama, ya," ujar Aryan lirih. "Iyan gak mau lihat Ibu sedih lagi kayak kemarin." Basri tersenyum, lantas menjawab, "Tentu saja, Kak. Bapak perginya gak lama, kok. Doain aja sama Kak Iyan, ya." Anak sulung itu mengangguk. Usai melepas peluk, kedua kening anak-anak itu dikecup hangat. Lantas Basri beralih memeluk istrinya dengan erat. "Aku pergi dulu, ya, Bu," ucap laki-laki tersebut dengan suara lembut. "Hati-hati, ya, Pak." "Iya, Bu. Terima kasih." Sosok kerempeng itu pun mulai mengayun langkah, meninggalkan rumah kontrakan serta orang-orang terkasihnya. Berjalan menyusuri gang sempit, melewati tempat langganan belanja Lastri di kampung tersebut ; warung milik Bariah. "Berangkat, Mas Basri?" tanya wanita itu begitu sosok laki-laki tersebut lewat di depan warung. Basri tersenyum ramah, lalu menjawab, "Iya, Bu Bariah. Mari, Bu." Dia tidak ingin berlama-lama berada di sana. Apalagi melihat sorot mata Bariah yang aneh, seakan ingin menyelidik lebih jauh. "Eh, Mas Bas, … emang sekarang Mas Basri kerja di mana, sih?" Bariah lekas mengejar keluar dari dalam warung. Laki-laki itu tertegun dan spontan berhenti melangkah. "S-saya … kerja kayak biasa, Bu, di kota," jawab Basri gelagapan. "Biasalah, Bu. Jadi kuli. He-he." Bariah tersenyum-senyum sendiri. Ujar wanita itu berlanjut, "Lah, kalo ada lowongan kerjaan itu, ajak-ajaklah anak saya si Supri, Mas. Udah kelamaan dia nganggur. Kasihan." Basri menggaruk kepala. Bingung mau menjawab apa, tapi berusaha tenang bersikap di depan sosok yang satu ini. Salah sedikit, bisa-bisa jadi bahan gunjingan warga sekampung Cijèngkol nanti. Jawab laki-laki tersebut akhirnya, "O, iya, Bu. Nanti saya tanya-tanya dulu sama mandor saya. Siapa tahu lagi butuh tambahan tenaga kerja." "Nah … 'gitu, dong," ujar Bariah senang, "tapi … ya, jangan yang berat-berat juga, Mas. Kalo bisa, sih, kerjaan yang ringan, tapi gajinya gede. Hi-hi." "He-he." Basri ikut tertawa hambar. "Nanti saya coba tanyain, ya, Bu. Sekarang saya pamit mau—" Tukas Bariah cepat-cepat menghampiri, "Eehhh, buru-buru amat Mas Basri ini. Saya belom beres ngomong, lho, Mas. Ih!" Basri mengurungkan langkahnya. "Ada apalagi, ya, Bu? Saya …." "Begini, lho, Mas Basri … kalo bisa … kalo bisa nih, ya … hi-hi, kerjaan kayak Mas Basri ini. Seminggu bisa bawa duit banyak. Maaf nih, ya, Mas. Saya jadi banyak minta. Hi-hi." "Maksud Bu Bariah ini apa, ya?" Laki-laki bertubuh kerempeng itu mulai membaui aroma tidak enak dari obrolan wanita tersebut. "Saya gak ngerti," imbuh Basri kembali, lebih berhati-hati. "Aahhh, Mas Bas ini. Ih!" Tanpa ragu-ragu sosok janda itu menepuk lengan Basri diiringi senyumannya yang dibuat semanis mungkin. "Jangan pura-pura gak paham, Mas. Saya tahu, kok, sekarang Mbak Lastri lagi banyak duit. Itu hasil Mas Basri ngilang seminggu yang lalu itu, 'kan? Kerja apaan, sih, Mas? Hi-hi, jadi kepo saya." Wah, gawat! Pikir Basri. Ini bukan lagi obrolan sehat. Ini jebakan. "Eeuummm, maaf saya lagi buru-buru, Bu," ujar laki-laki itu mencoba menghindar. "Keburu siang, nanti dimarahin sama mandor saya. Maaf, ya, permisi." "Eh, Mas Basri! Tunggu dulu, Mas!" panggil Bariah sambil melambai-lambaikan tangan. Namun suami Lastri itu tidak mau mendengar. Langkahnya semakin cepat menjauhi. "Ih, dasar! Lagaknya takut kesiangan. Padahal saya tahu, pasti dia sudah janjian sama … sama ... siapa, sih, itu? Eeummm ... oh, temen bisnisnya! Preettt! Temen bisnis? Paling juga temen begalnya. Hih! Mudah-mudahan saja kamu cepet ketangkep sama polisi, Basri! Huh!" Wanita itu menggerutu sendiri. Tiba-tiba dari arah dalam rumahnya, terdengar seseorang berteriak pada Bariah, "Maahhh, k****t Usup udah dicuciin belom, sih? Usup mau pake tapi, kok, gak ada satu-satu acan, yak?" Bariah mendelik marah. Dia pun segera kembali ke dalam rumah menghampiri asal suara tadi. "Heh, Supri! Ngotak dikit kamu itu kenapa, sih! Badan gede, umur udah mulai tua, kerja belom, kawin gak laku-laku, tibang mau pake c*****t doang masih nanya-nanya sama Mamah? Mikir, dong, Supri!" Jawab Supri yang masih mengenakan handuk melilit di pinggang, "Lah, dari tadi juga Usup mah mikir, Mah. Itu k****t punya Usup ditaroh di mana, 'gitu. Makanya nanyain sama Mamah." "Au, ah, Supri!" Bariah kesal. "Cari aja sendiri sana!" "Mah, di mana?" Supri mulai merengek. "Masih direndem, noh, di ember, Supri!" "Lah … kok, bisa?" Jawab kembali Bariah makin keki, "Sengaja Mamah biarin, tuh, udah seminggu ngejogrog di rendeman. Biar kamu mikir dan belajar ngurus sendiri." "Seminggu? Ya, ampun, Mamah! Rendeman pake dibiarin semingguan, bisa-bisa udah bau berak codot, Mah!" "B-o-d-o a-m-a-t!" eja Bariah ingin puas. "Mah!" "Au, ah!" "Ih, Mamah." "Huh!" -------------------------- o0o -------------------------- Mbah Jarwo duduk termenung di atas kursi di depan rumahnya. Sebentar-sebentar mata lelaki tua itu menyipit, menatap lurus ke depan seperti tengah berpikir-pikir. 'Lentera itu ….' membatin sosok tersebut memeras otak. 'Kenapa aku begitu tertarik dengan jenis lampu itu, ya? Hhmmm, apa mungkin itu milik si pelaku pembongkaran kuburan almarhumah Sukaesih? Siapa pun bisa saja memiliki lampu model begitu. Tapi buat apa? Hampir semua warga kampungku sudah memasang aliran listrik di masing-masing rumahnya. Lalu, fungsi lentera itu buat apa? Kalaupun sebagai alat penerangan sementara di saat mati listrik, misalnya, kebanyakan orang-orang akan memilih untuk menyalakan lilin atau juga lampu senter darurat.' Dia mengetuk-ngetuk batok kepala dengan ujung jari telunjuk. Kembali berpikir dan berpikir dengan keras, sambil sesekali memejamkan mata dan manggut-manggut sendiri. 'Apa mungkin juga … lentera itu ada hubungannya dengan seseorang yang—' "Assalamu'alaikum, Mbah," ucap seseorang memberi salam dan langsung mengejutkan sosok tua Kepala Kampung Sirnagalih tersebut. Dia segera menoleh, kemudian …. "Eh, Dam! Syukurlah, akhirnya kamu datang juga," seru Mbah Jarwo begitu mengenali sosok yang baru datang itu. Sadam, orang kepercayaan Juragan Juanda. "Kemarilah, duduk di sini." "Iya, Mbah," ujar Sadam seraya memilih kursi kosong di sebelah Mbah Jarwo. "Maaf, Mbah, saya datang agak siangan. Soalnya ada urusan dulu dengan Juragan." "Oh, iya. Gak apa-apa. Gak masalah. Yang penting sekarang kamu sudah datang." "Iya, Mbah," kata Sadam seraya melirik ke arah gelas kopi dan kukus pisang di atas meja di antara mereka. Seketika jakun lelaki ini pun bergerak naik, menelan ludah. "Ngomong-ngomong, ada apa, ya, Mbah nyuruh saya datang? Ada sesuatu yang penting, ya, Mbah?" Sebelum menjawab, terlebih dahulu Mbah Jarwo menyeruput kopina dengan nikmat. Suaranya begitu menggoda, tapi teramat menyiksa bagi seorang Sadam yang hanya bisa melongo, ikut tergiur. "Penting sekali, Dam," jawab Mbah Jarwo beberapa saat kemudian. "Ini mengenai kuburan anak majikanmu itu." "Oohh, Sukaesih." "Ya, itu," timpal tetua Kampung Sirnagalih tersebut, kali ini sambil mencomot potongan kukus pisang tanduk atau pisang galèk. "Kamu sebagai tangan kanan Juragan Juanda, tentunya sudah ngobrol banyak dengannya, bukan?" "Eeuummm, gak begitu banyak, sih, Mbah." "Jangan bohong!" sentak Mbah Jarwo galak. "Saya yakin, majikan kamu itu pasti sedang merencanakan sesuatu di belakangku, 'kan?" "Eeuummm, s-saya … s-saya …." Sadam tergagap-gagap. Desak sosok tua itu kembali, "Kamu masih ingat pertemuan kita di saung Juragan Juanda beberapa hari yang lalu?" Sadam mengangguk pelan. "Saya tahu, hanya sebagian kecil yang kamu obrolkan di sana. Selebihnya, pasti kamu sampaikan jauh lebih banyak dengan Juragan Juanda. Benar, kan?" Mata Sadam ragu untuk menjawab. Matanya sebentar-sebentar melirik ke samping bawah. Sesuatu di atas meja. Sampai akhirnya Mbah Jarwo pun tersadar dan paham. "Astaghfirullah! Kamu mau ngopi juga, Dam?" tanya tetua kampung itu diiringi kekehannya. Jawab orang kepercayaan Juragan Juanda tersebut senang seraya menjilati bibir, "B-boleh, Mbah. Waduh … sluurrfff!" 'Huh, dari tadi kenapa, sih! Lama amat pekanya ini aki-aki!' gerutu Sadam. 'Kalo begini, 'kan, jadi enak ngobrolnya. Hadeuw!' Mbah Jarwo berteriak memanggil istrinya, minta dibuatkan kopi baru serta tambahan kukus pisang galèk. "Eh, geuning ada Mang Sadam. Sudah lama datang, Mang?" "Baru saja, Ambu. He-he," jawab Sadam mesem-mesem. "Ngkè tunggu sebentar, ya. Saya bikinin dulu." "Iya, Ambu. Hatur nuhun." Tidak berapa lama pesanan pun datang, kedua laki-laki ini lanjut mengobrol. Kali ini lebih lancar ketimbang sebelumnya. "Sebenarnya Juragan sudah gak mau ngebahas masalah ini lagi, Mbah," tutur Sadam sambil menikmati kopi, makanan kecil, dan kepulan bako taning yang diramu dalam buntal daun kawung. "Beliau sudah pasrah dan ikhlas. Apalagi kejadian ini ternyata sudah menyebar sampai luar kampung Sirnagalih. Pihak pemerintahan desa serta aparat penegak hukum pun sudah menemui Juragan Juanda. Intinya, beliau cuma pasrah dan memasrahkan proses penyelidikan selanjutnya pada pihak berwenang, jika memang itu diperlukan. Saat ini beliau hanya fokus pada kesehatan istrinya, Juragan Sumiarsih. Terus—" Tukas Mbah Jarwo yang kelihatan jemu mendengar penuturan Sadam, "Yang ingin saya ketahui itu bukan masalah itu, Sadam!" 'Huh, lancar bener ngomongnya begitu nemu air kopi si Sadam ini!' gerutu tetua kampung tersebut merasa sebal. "Semula Juragan Juanda memang berniat menyelidiki kasus ini, Mbah," imbuh Sadam kembali. Seketika Mbah Jarwo menoleh antusias. "Nah! Terus?" tanyanya penasaran. Jawab kembali tangan kanan Juragan Juanda tersebut, " … tapi semenjak kasus ini tersiar luas, beliau malah menangguhkannya, Mbah." "Kenapa?" Sadam menarik napas sejenak, lantas menjawab, "Juragan Sumiarsih tiba-tiba jatuh sakit. Mungkin gara-gara mendengar kabar itu." "Hhmmm. Aku pikir dia bakal—" Tukas Sadam, "Tapi …." "Nah, apalagi?" Sosok laki-laki kepercayaan tuan tanah di Kampung Sirnagalih itu terlihat bingung. Dia pun berkata pelan, "Barang bukti kita hilang, Mbah." Mbah Jarwo tercekat. "Barang bukti apa?" tanyanya ikut bingung. Jawab Sadam, "Lampu lentera itu, Mbah." "Astaga! Mana bisa? Bukannya kamu—" "Tertinggal di saung kebun Juragan. Begitu saya kembali, lampu kecil itu sudah gak ada di tempat." "Hhmmm," deham Mbah Jarwo mulai berpikir-pikir kembali seperti awal tadi. Batok kepalanya diketuk-ketuk dengan jari telunjuk. "Apa …." "Apa mungkin diambil oleh pelakunya, Mbah?" tanya Sadam disambut dingin bias wajah tetua kampung tersebut. Dia merengut kesal. "Saya juga tadinya mau nanya begitu, Dam. Hadeuw!" "Maaf keduluan sama saya kalo begitu." "Au, ah!" Kemudian keduanya terdiam. Hening. Hanya sesekali terdengar suara seruput nikmat air kopi dari samping Mbah Jarwo, diakhiri desah khas berbunyi, "Aaahhhh!" Jika lampu lentera itu begitu berharga untuk dijadikan barang bukti, lalu mengapa mesti hilang di saung itu? Ada seseorang yang sengaja mengambilnya untuk menghilangkan jejak. Di saung itu. Hanya ada beberapa orang yang datang disuruh Juragan Juanda ke sana. Artinya hanya orang-orang itulah yang mengetahui pertemuan tersebut. Namun perihal lentera itu, bukankah hanya Juragan Juanda, Sadam, dan Mbah Jarwo yang tahu? Ah, pertanyaan konyol. Waktu pengurukan kembali kuburan Sukaesih pagi itu, semua orang yang ada di sana pasti pernah melihat akan adanya keberadaan barang bukti tersebut. Menerka-nerka sendiri arti dari benda itu teronggok di sana. Kemudian timbul penasaran. Akhirnya …. 'Apa mungkin jika pelaku pembongkaran kuburan itu adalah orang yang mengambil barang bukti tersebut? Siapa lagi kalau bukan ….' Tiba-tiba Mbah Jarwo melirik diam-diam ke arah samping. Sosok orang yang kini sedang menikmati segelas kopi serta asyik mengunyah kukus pisang galèk itu. 'Sangat masuk akal sekali, jika hanya dia seorang satu-satunya orang yang mengetahui kondisi sepi di kuburan Sukaesih malam Jumat lalu.' "Ada apa, Mbah?" tanya Sadam tiba-tiba begitu memergoki sosok di sampingnya itu kedapatan tengah menatapinya. "Kenapa Mbah Jarwo melihat saya seperti itu?" Ketua kampung Sirnagalih itu malah mengulas senyum tawar. "Sudah berapa lama kamu bekerja dengan Tuan Juanda, Dam?" Sadam berpikir sejenak, menghitung, lantas menjawabnya dengan yakin, "Kurang lebih … hampir sebelas tahun, Mbah. Kenapa?" Mbah Jarwo kembali mengulas senyum. Ujarnya kemudian, "Gak apa-apa, Dam. Saya hanya senang sekali, ternyata kamu menyukai hidangan istri saya, ya." "He-he, saya lapar, Mbah. Dari pagi belum makan," kata Sadam seraya mencomot kembali sisa potongan kukus pisang galèk di atas meja. "Hhmmm," deham Mbah Jarwo dengan tatapan dingin. "Habiskan saja, Dam. Kebetulan saya sudah kenyang. He-he." "Iya, Mbah. Terima kasih." 'Hhmmm … untuk ukuran sosok kepercayaan seorang tuan tanah yang kaya raya, apakah mungkin dia masih terlihat hidup memprihatinkan seperti itu? Bahkan untuk sekadar makan pun, rasanya lebih layak dibilang kelaparan.' Benak Mbah Jarwo sibuk mengurai utas demi utas belitan benang merah yang masih terperam tersebut. 'Ada apakah di balik kehidupan si Sadam selama ini?" Entah mengapa, awalnya penasaran ingin memulai penyidikan atas kasus pembongkaran kuburan Sukaesih dari pecahan lampu lentera tadi, kini otak tetua kampung itu malah lebih tertarik mengalihkannya pada sosok satu tersebut ; Sadam. 'Hhmmm, kita lihat saja nanti, Dam. He-he.' BERSAMBUNG Sukabumi, 24 Desember 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD