Kesepakatan dengan Pak Mahesa membuatku tertekan. Kepalaku terasa penuh dan hatiku terasa tidak tenang. Aku merasa skenario Pak Mahesa bisa membawaku ke masalah serius jika terus dilanjutkan tapi dihentikan pun aku tidak tau caranya karena Pak Mahesa bersikeras melanjutkan rencananya dan aku tidak memiliki jalan untuk mundur. Resign adalah pilihan yang sulit untuk kujalani saat ini dan jelas aku tidak mungkin jujur pada pada siapapun soal kesepakatanku dengan Pak Mahesa sehingga aku bingung dan menanggung semua ini seorang diri.
"Muka lo belakangan ini kusut banget. Si Fandy masih berusaha kontek elo?"
Pertanyaan dari Mbak Retha mengalihkan perhatianku dan aku memilih menggelengkan kepala untuk mengikuti alur pertanyaan Mbak Retha. “Fandy udah gue block, Mbak. Dia coba kontek pake nomer lain tapi gue abaikan karena gue enggak mau buang-buang waktu.”
Aku berbohong karena menjawab jujur tidak mungkin kulakukan.
Mas Satria yang baru duduk di kursi kekuasaannya langsung mengangkat jempolnya yang bebas sambil menyeruput kopi yang baru saja ia buat membuatku tersenyum akan responnya barusan. “Emang enggak ada gunanya selain bikin lo kesel jadi bener udah apa yang elo lakuin, Va.”
“Gue bingung buat apa lagi si Fandy datengin Vanala. Udah ke-gap selingkuh harusnya dia udah gak punya muka lagi buat datengin si Vanala,” ucap Mas Satria lagi dengan nada heran bercampur kesal.
Aku mengangguk membenarkan ucapan seniorku itu. Aku pun bingung dengan niatan Fandy yang masih berusaha mendatangiku. Entah apa yang mau pria itu bicarakan tapi aku tidak perduli karena menurutku memang sudah tidak ada lagi yang perlu kami bahas selain itu isi kepalaku saat ini sudah penuh dengan Pak Mahesa dan skenarionya sehingga aku tidak mau menambah beban pikiranku dengan memasukan urusan Fandy yang sebenarnya sudah tidak perlu aku pikirkan lagi karena memang urusan kami sudah selesai.
“Tapi gue penasaran juga kenapa si Fandy dengan muka temboknya masih datengin Vanala karena kalau dia punya otak dan malu harusnya dia udah gak datengin si Vanala lagi. Pasti ada alasannya dan gue sangat penasaran,” Bang Rizal yang sedari tadi diam pun akhirnya buka suara dengan nada serius membuat kami semua terdiam berpikir sambil menyimak ucapannya.
Mas Satria mengangukkan kepala pelan, “Penasaran sih tapi gue yakin cuma mau minta maaf terus minta balikan. Dia cinta kali sama elo, Va.”
Mbak Retha mendengus kesal. “Minta maaf tinggal chat langsung selesai sih. Terus kalo emang dia cinta, dia enggak bakalan selingkuh. Kelainan kalo sampe cinta tapi masih selingkuh. Gue yakin bukan karena cinta tapi ada maksud lain aja.”
“Gak penting bahas maksud dia apa. Yang Vanala lakuin udah bener. Gak ada gunanya nanggepin sampah macem gitu. Buang waktu,” ucap Mas Bimo ikut menanggapi.
Aku hanya diam tidak menanggapi. Ucapan Mas Bimo memang benar tapi ada sisi lain hatiku yang penasaran sama seperti Bang Rizal. Entah apa yang mau Fandy bicarakan dan kenapa tidak langsung saja tanpa berbelit-belit. Ah... Lupakan Vanala. Tidak ada gunanya kamu pikirkan.
Dan isi kepalaku tiba-tiba teringat dengan pertemuanku dengan kedua orang tua Pak Mahesa kemarin. Siapa sangka Pak Mahesa adalah anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja. Tidak ada nama Wiradilaga dibelakang namanya sehingga wajar aku tidak menyadarinya tapi apa para seniorku juga tidak tau mengenai identitas Pak Mahesa sama sepertiku?
“Mas, nama Pak Mahesa itu irit banget ya. Mahesa doang gitu. Gue aja Vanala masih ada Cantika-nya.”
Mas Bimo mengerutkan alisnya, “Lo lagi berusaha buat ngalihin pembicaraan, Va? Gak smooth banget.”
Aku meringis. “Bukan. Gue lagi ngetik nama Pak Mahesa dibagian Approval. Gue kepo aja kok nama orang bisa irit gini.”
“Iya juga. Irit banget namanya Mahesa doang. Gue aja Maretha masih ada Arini-nya. Nama gue ada dua suku sama kayak si Vanala.”
Aku menganggukkan kepala setelah mendengar ucapan Mbak Retha.
“Ya, tapi kan emang ada orang tua yang kasih anaknya nama satu doang. Mungkin orang tuanya Pak Mahesa tipe yang begitu,” ucap Mas Bimo dengan nada santai.
Aku memperhatikan ekspresi keempat seniorku. Keempatnya tidak ada yang menampakkan ekspresi aneh yang membuatku curiga dan bisa aku katakan mereka memang tidak mengetahui mengenai identitas Pak Mahesa sebenarnya.
“Permisi...”
Perhatian kami pun terarah pada pintu ruang divisi kami yang sudah terbuka dan muncul sosok seorang pria yang kami kenal sebagai tangan kanan owner dan founder perusahaan tempat kami bekerja.
“Selamat Pagi Pak Bagas.” Mbak Retha dengan sigap menyapa. “Mau cari Pak Mahesa ya, Pak?”
Pria bernama Bagas yang mungkin berusia empat puluhan itu pun tersenyum formal sambil menggelengkan kepala, “Saya tidak cari Pak Mahesa. Saya diutus untuk panggil Mbak Vanala,” Pak Bagas menoleh menatap Vanala, “Mbak Vanala, bisa ke ruangan Pak Eric? Sudah ditunggu sama Pak Mahesa dan Pak Eric di ruangan, Mbak.”
Aku spontan mentap ke arah Mbak Retha. Ekspresi Mbak Retha berubah was-was dan memberi isyarat padaku untuk segera beranjak. Aku berdiri dan mengikuti Pak Bagas dengan segera. Aku berjalan dibelakang Pak Bagas dan saat Pak Bagas membuka pintu ruang kerja Pak Eric, aku pun terkejut melihat kehadiran Ibu Dara yang ada di dalam ruangan bersama dengan Pak Mahesa. Pak Mahesa duduk dengan ekspresi datar andalannya, menghela nafas pendek sebelum memberi instruksi padaku untuk mendekat dan duduk disebelahnya. Jelas sebagai karyawan yang baik aku mengikuti instruksi atasanku dan mataku membulat kaget menatap tangan Pak Mahesa yang dengan santainya kini mengenggam erat tanganku.
“Pak, kita ada dikantor,” ucapku dengan suara berbisik sambil mendekat ke arah atasanku.
“Maaf ya, Vanala. Mama yang minta Bagas buat panggil kamu. Weekend ini Mama sama Papa dapet undangan ulang tahun pernikahan Om dan Tantenya Esa. Jadi Mama mau ajak kamu. Biar nanti Bagas yang urus tiket kita ke Bali.”
Mataku membulat. “B─bali?” aku tergagap berusaha mengkonfirmasi ulang yang kudengar. Ya, Allah. Apa lagi ini?! Anak sama Ibu kok hobi bikin orang jantungan?!
Ibu Dara menganggukkan kepalanya, “Iya di Bali, Nala. Keluarga Papa punya villa besar di Bali yang biasa dipakai untuk kumpul keluarga jadi kalau ada acara pasti kumpul disana.”
Aku melirik Pak Mahesa yang masih berekspresi datar. Pria itu menarik nafas perlahan dan menghembuskannya. “Nanti sore aku akan kabarin mama soal ini. Aku harus cek─”
“Mama begini karena mama takut Vanala capek duluan sama kamu, Mas. Kamu itu kaku. Untung Vanala mau sama kamu kalo enggak kamu masih jomblo sampe sekarang.”
“Ma, biarkan Esa bicara berdua dengan Vanala. Mama─”
“Papa jadi belain Esa? Mau anak sulungnya enggak nikah-nikah? Udah bagus ada yang mau bukannya bantuin mama malah belain anaknya.” Ibu Dara merajuk berdiri meninggalkan ruangan Pak Eric membuat Pak Eric menggaruk tengkuknya. Jelas pria paruh baya itu serba salah karena tingkah laku istrinya.
“Maafin, istri saya ya, Vanala. Dia terlalu senang karena Esa akhirnya punya pasangan. Dia sangat menyukai kamu jadi dia pengen kamu ikut dalam acara keluarga kami tapi jangan jadikan ini beban karena saya paham kamu dan Esa pun masih saling mengenal.”
Aku menganggukkan kepala, “Saya paham, Pak.”
Senyum Pak Eric mengembang sempurna dan pria itu menatap putranya, “Ya, sudah. Lebih baik kaliang kembali ke ruangan kalian sekarang sebelum mama kalian kembali dan bikin kalian tambah pusing.”
Aku meringis disaat Pak Mahesa menganggukkan kepalanya, “Kami permisi, Pa. Soal acara di Bali kami akan bicara berdua dulu.”
Satu anggukan dari Pak Eric membuat kami spontan berdiri meninggalkan ruangan kerja pemilik sekaligus pendiri Wiradilaga Group itu. Pak Mahesa berjalan lebih dulu dan aku mengikuti di belakangnya. Aku merasa seperti memiliki benang kusut yang bingung bagaimana cara mengurainya.