8. Maju mundur kena

1150 Words
Aku duduk di kursi kerjaku dengan kepala yang mendadak penuh. Aku tidak menyangka Tuhan akan mendengar doa Mas Bimo secepat ini. Mas Bimo mendoakan aku mendapatkan pengganti Fandy dengan segera dan TRIINNGGGGG... SIMSALABIM.... Pengganti Fandy muncul dengan cara yang tak terduga dan penggantinya adalah si Raja Setan Ajaib Pak Mahesa. Wadidaw banget gak tuh? Aku masih ingat ekspresi Pak Mahesa dan dari ekspresinya aku yakin kalau atasanku itu tidak main-main dengan ucapannya. Aku tau Pak Mahesa gila dan tiodak menyangka kegilaan bosku bisa separah ini. Mengikuti keinginan Pak Mahesa jelas bukan hal yang benar. Aku bisa punya masalah baru karena kalau suatu hari nanti kebohongan Pak Mahesa terbongkar maka kedua orang tua Pak Mahesa akan marah besar padaku. Tapi menolak apa yang Pak Mahesa pun beresiko besar. Aku harus pergi dari perusahaan ini disaat aku belum memiliki pekerjaan lain. Abah, Ambu dan Jojo jelas akan berada dalam masalah besar kalau sampai aku tidak memiliki pekerjaan. Kuliah Jojo bisa berantakan dan kedua orang tuaku akan kebingungan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kepalaku berdenyut ditengah keheningan malam. Ya, hari sudah malam dan sudah tidak ada siapapun dalam ruangan kerjaku. Para seniorku sudah pulang saat aku keluar dari ruangan Pak Mahesa dan tidak lama aku duduk di kursiku. Pak Mahesa keluar dari ruangan kerjanya berjalan lurus meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun padaku. Banyak hal yang aku pikirkan dan semua itu buyar karena getaran ponselku. Nama Jojo muncul di layar ponselku membuatku otomatis tersenyum mengingat wajah satu-satunya adik laki-laki yang kumiliki itu. “Halo, Jo.” “Halo, Teh. Teteh lagi sibuk gak?” “Enggak, Teteh lagi enggak sibuk. Kamu udah makan malam, Jo?” Aku dan keluargaku memang memiliki komunikasi yang baik. Kami sering berkomunikasi lewat telepon sekedar memberi saling kabar dan membahas keseharian kami satu sama lain. Abah dan Ambu mendidik aku dan Jojo untuk saling menyayangi satu sama lain. “Jo, nurut sama Teteh ya. Kamu harus fokus kuliah supaya bisa cepat selesai kuliahnya. Kalau sambil kerja fokus kamu pasti terbagi antara kuliah dan bekerja.” Suara helaan nafas Jojo terdengar kecewa. Jojo adalah anak yang baik. Jojo ingin bekerja supaya bisa meringankan bebanku yang perlu memenuhi biaya kuliahnya dan kehidupan kedua orang tua kami tapi aku tidak ingin kuliah Jojo berantakan dan akhirnya membuat Ambu dan Abah bersedih. Dulu Abah bekerja keras di sawah dan di pasar untuk memenuhi biaya kuliahku dan sekolah Jojo dan kini saat aku sudah bekerja aku mengambil alih tugas Abah sebagai baktiku untuk meringankan beban yang Abah pikul karena Abah sudah semakin tua. “Kamu telepon Teteh kangen, Jo?” “Pengen banget aku kangenin, Teh?” Jojo mencibir membuatku terkekeh lalu beberapa saat kemudian aku mengerutkan alis tanpa sadar mendengar suara helaan nafas Jojo, “Teh Siti barusan telepon aku. Teh Siti enggak berani telepon Teteh karena takut Teteh kepikiran tapi aku rasa, Teteh harus tau kondisi Abah.” Aku mendengarkan dengan serius cerita Jojo. Jojo bercerita bahwa tetangga kami Teh Siti memberi kabar kalau Abah dibawa ke rumah sakit karena pingsan. Teh Siti membantu Ambu mengurusi segala keperluan Abah di puskesmas dan Jojo sudah mengganti uang Teh Siti yang terpakai saat Abah berada di puskesmas. Abah kelelahan bekerja di sawah demi mengumpulkan biaya kuliah Jojo padahal aku sudah bilang pada Abah untuk tidak lagi memikirkan biaya kuliah Jojo karena aku yang akan menanggung biaya kuliah adikku itu. Namun Abah adalah pria yang keras kepala dan kekeraskepalaan Abah menurun padaku. Abah bersikeras ke sawah untuk bekerja dengan usianya saat ini. Untungnya dari cerita Jojo, aku tau kalau kondisi Abah sudah lebih baik. Abah sudah mendapatkan penanganan dan sedang beristirahat. “Makasi udah cerita sama Teteh ya, Jo. Uang jajan kamu yang kamu kirim ke Teh Siti nanti Teteh gantiin ya.” “Sama-sama, Teteh. Soal Abah atau Ambu, Jojo pasti cerita sama Teteh. Tapi soal uang jajan, uang jajan Jojo masih ada, Teh. Yang penting sekarang uang semesteran karena bentaran lagi Jojo UAS dan uang semesteran Jojo belum lunas, Teh.” Aku menghela nafas perlahan. Sepelan mungkin agar Jojo tidak mendengar helaan nafasku. Seharusnya uang semester Jojo sudah lunas tapi waktu itu karena Ambu sakit, aku memilih mengalokasikannya ke kesehatan Ambu dari pada uang kuliah Jojo karena uang semesteran Jojo masih belum jatuh tempo dan siapa sangka kalau jatuh tempo uang semesteran Jojo bersamaan dengan Abah yang sakit. Abah tidak bercerita padaku pasti karena Abah tau kalau uang semesteran Jojo yang belum lunas. Aku yakin itu. “Kamu tenang aja soal uang semesteran. Uang semesteran kamu, Teteh transfer besok ya, Jo. Besok Teteh gajian.” Komunikasi antara aku dan Jojo berakhir dan pandanganku tertuju pada ruangan Pak Mahesa yang gelap dan jelas kosong. Aku merasa dihadapkan pada pilihan yang sulit. Generasi sandwich begitulah orang menyebut posisiku saat ini. Aku harus menanggung beban finansial dua arah sekaligus. Merawat dan membiayai orang tuaku yang sudah lanjut usia dan berusaha membiayai kehidupanku sendiri. Aku terjepit diantara dua hal yang sama-sama membutuhkan biaya dan akulah orang dewasa yang harus menanggung semua itu. Maka dari itu aku harus tetap memiliki pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluargaku sedangkan bersikukuh dengan menolak rencana Pak Mahesa membuatku harus resign dari kantor ini. Perlahan aku menundukkan kepala namun beberapa saat kemudian aku mengangkat kepalaku karena mendengar suara pintu terbuka. Pandanganku bertemu dengan Pak Mahesa. “Lho, kamu belum pulang?” Aku menggelengkan kepala perlahan, “Sebentar lagi, Pak. Bapak sendiri?” “Ada barang saya yang tertinggal.” Pak Mahesa berlalu menuju ruang kerjanya lalu beberapa saat kemudian keluar dari ruangan itu, “Saya dulu─” “Pak, apa boleh saya cari kerja lain dulu sebelum saya─” Aku dengan cepat memotong ucapan Pak Mahesa dan Pak Mahesa berhenti melangkah sambil menatapku lekat. “Tidak bisa. Kamu harus resign secepatnya. Saya tidak ingin berita kejadian tadi pagi menyebar di kantor lalu ada skandal yang muncul karena berita itu.” Pak Mahesa memasang ekspresi tegas dan aku mengerti kalau aku tidak bisa menego ucapannya barusan. Pak Mahesa kembali melangkahkan kakinya menuju pintu dan otakku berpikir cepat. Tidak ada jalan lain. Aku harus mengikuti keinginan Pak Mahesa karena aku harus tetap bekerja. Jojo membutuhkan biaya untuk kuliahnya dan aku harus membantu Abah dan Ambu. Berpegang pada keinginanku untuk berkata jujur bisa membuat keluargaku dalam kesulitan karena aku adalah tulang punggung mereka. “Saya akan mengikuti rencana Bapak.” Aku dengan sengaja menjeda ucapanku menunggu respon dari Pak Mahesa. Pak Mahesa berhenti melangkah dan memutar tubuhnya lalu menatapku lekat. “Saya tidak bisa resign segera karena saya tidak memiliki pekerjaan pengganti. Tapi sebelum itu saya ingin kita rencanakan dengan baik supaya tidak ada masalah lain dikemudian hari.” “Kamu yakin dengan keputusan kamu ini?” Pak Mahesa bertanya dengan nada serius. Pandangan kami bertaut dan aku menganggukkan kepala. “Kamu tidak bisa menarik keputusan kamu setelah kita sama-sama sepakat, Vanala.” Aku menghela nafas pendek dan menganggukkan kepala lagi. “Deal. Bereskan barang-barang kamu sekarang juga. Kita akan bahas kesepakatan kita sambil makan malam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD