“Engghhhh! Fandy!”
Tubuhku menegang. Ya, aku tidak salah mendengar tadi nama Fandy yang disebut. Rasa penasaran menggelayuti hati dan kepalaku sehingga dengan kebodohanku, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen Fandy dan semakin jauh aku melangkah suara lenguhan semakin terdengar dan tidak hanya suara lenguhan seorang pria yang kini ditangkap oleh telingaku tetapi juga suara lenguhan seorang pria.
Tanganku mulai gemetar. Aku melihat ada baju berserakan saat melangkah menuju pintu kamar yang biasa Fandy tempati terbuka. Suara desahan semakin terdengar jelas dan begitu aku melihat ke dalam kamar Fandy tubuhku seakan kehilangan kekuatan untuk berdiri. Aku spontan berjongkok dengan tangan yang menutup mulutku untuk menahan teriakan melihat Fandy sedang sibuk bergerak diatas seorang wanita yang sangat kukenal. Keduanya sama-sama tanpa busana. Fandy bergerak liar dengan Lena meracau mendesah dibawah Fandy.
Lena adalah sahabatku dan Fandy adalah kekasihku. Bagaimana bisa mereka berkhianat padaku seperti ini? Pantas saja Lena tidak pernah berusaha menenangkan aku saat aku dan Fandy dalam masalah. Lena bahkan mendukungku ketika aku sempat berpikir untuk menyudahi hubunganku dengan Fandy ketika kami dalam masalah. Ternyata.... Memang bangkai yang ditutupi pada akhirnya baunya akan tercium juga...
Keduanya tidak menyadari kehadiranku. Keduanya asik tenggelam dalam kegiatan mereka membuatku syok bukan main dengan apa yang kulihat saat ini. Dua orang yang aku percaya mengkhianatiku namun keterkejutan yang aku rasakan hanya bertahan sepersekian detik karena selanjutnya kemarahan yang luar biasa besar bercokol dalam diriku.
"MANUSIA LAKNAT!"
Aku berteriak membuat para setan itu kaget bukan main. Kini aku percaya kata orang kalau hari sial memang tidak ada di kalender. Baik Fandy dan Lena sama-sama kaget. Lena spontan menutupi diri mereka dengan selimut yang ada di di dekatnya. Sementara Fandy buru-buru mengambil celana dan mengenakkannya. "Va, aku bisa jelasin─ "
"Udahlah, Fan. Vanala udah liat ngapain juga kamu masih pura-pura," ucap Lena dengan nada malas. "Gue suka sama Fandy udah lama─"
"Diam, Len!" Fandy membentak memotong ucapan Lena disaat aku menatap Lena dengan tatapan penuh kebencian. Fandy mengalihkan pandangannya dan mendekatiku. "Aku bisa jelasin, Va. Semua ini─ "
"Gue sama Fandy udah setahun sama-sama. Gue udah lama suka sama Fandy dan elo terlalu sibuk sama dunia lo sampe-sampe gak paham kalo cowok lo punya kebutuhan. Dia cowok normal yang butuh kehangatan dan gue yang kasih kehangatan yang dia butuh itu karena elo terlalu sok suci," ucap Lena dengan nada sinis terang-terangan membuatku merasa bodoh sudah menganggap ular sialan ini sebagai sahabatku.
"SELENA!" Fandy membentak Lena dengan suara menggelegar.
"Satu tahun," ucapku dengan nada sinis sambil menatap Fandy. Cinta yang aku rasakan mendadak lenyap entah kemana karena pengkhianatan pria itu.
"Aku minta maaf, Va. Aku khilaf. Aku─"
"Khilaf kamu setahun, Fan?" Lena kembali buka suara dengan nada sinis membuat Fandy mengumpat. "Udah jujur aja sih. Sampai kapan mau kamu tutupin."
Aku masih memasang ekspresi yang sama membuat Fandy menyugar rambutnya dengan gerakan frustrasi sambil mengumpat untuk kesekian kalinya. "Fine! Aku bakal jujur sama kamu." Fandy menjeda kalimatnya dan menatapku lekat." Kamu terlalu sibuk sama kerjaan kamu, Va. Setiap aku butuh kamu, kamu selalu sibuk sama kerjaan kamu. Kamu juga selalu nolak kalau aku ajak kamu buat berhubungan padahal aku ini pria normal. Aku punya kebutuhan dan Lena siap kasih itu ke aku jadi selama ini aku selalu dapetin apa yang aku butuh dari Lena di saat kamu terlalu sibuk sama dunia kamu dan sok suci menjaga diri."
Aku tertegun mendengar pengakuan Fandy selama beberapa detik sebelum akhirnya aku mengambil vas bunga yang ada di dekatku dan melemparkannya ke arah tembok membuatt vas itu pecah dan Lena berteriak histeris.
"Mulai hari ini kita putus, Fan!" Aku beranjak dari tempatku berdiri hendak meninggalkan apartemen terkutuk ini.
"Va─ " Fandy menahan kepergianku.
Aku menyentak tangan Fandy hingga terlepas dan dengan langkah cepat aku pergi dari apartemen sialan ini. Aku merasa hari ini benar-benar hari tersial dalam hidupku. Sialnya air mataku kini keluar dan saat ini aku tidak paham cara menghentikan air mata ini agar berhenti keluar. Aku kecewa dan aku membenci mereka. Bagaimana orang-orang terdekatku malah mengkhianatiku seperti ini?
***
Aku mengerjapkan mataku setelah merasakan getaran alarm dari ponselku. Perlahan aku mengerjapkan mata dan bangun dari posisi tidurku setelah melihat jam dilayar ponselku sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Semalam alih-alih pulang ke kost, aku memilih kembali ke kantor yang lebih dekat. Aku memilih untuk menginap di kantor yang jelas tidak mengeluarkan biaya. Walau ada perasaan tidak ingin masuk kerja hari ini tapi ingatan kalau Jojo membutuhkan biaya untuk membayar kuliahnya, Ambu dan Abah membutuhkan uang bulanan untuk keperluan sehari-hari karena sawah milik kami yang gagal panen. Aku memilih untuk rajin bekerja karena aku harus membiayai kehidupan keluargaku.
Untungnya gedung kantor tempatku bekerja memiliki akses dua puluh empat jam. Di dalam gedung kantorku bukan hanya ada perusahaan tempatku bekerja saja tapi ada beberapa perusahaan lain yang berada industri dibawah naungan Wiradilaga Group. Dengan alasan ada pekerjaan yang belum selesai saat aku berpapasan dengan Pak Junet dan Pak Isam satpam gedung yang berjaga semalam, akhirnya aku berhasil kembali ke ruangan divisiku. Aku memutuskan tidur di dalam ruangan pribadi milik Pak Mahesa dan memasang alarm jam setengah enam pagi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian kerja yang aku simpan di kantor untuk situasi darurat.
Walau gedung kantor itu bisa diakses dua puluh empat jam, jam operasional tetap mengikuti jam kerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan dan jika karyawan datang diluar jam operasional maka karyawan itu akan bertemu dengan seorang petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk dan memeriksa kartu karyawan yang diberikan dengan sistem sebelum mengizinkan karyawan yang datang untuk masuk ke dalam gedung kantor. Aku dan keempat seniorku ini sudah sering lembur karena permintaan gila Pak Mahesa tentunya dan kebiasaan kami yang pulang malam membuat kami akhirnya mengenal para petugas keamanan yang berjaga malam.
Pagi ini sebelum keluar dari ruangan pribadi milik Pak Mahesa, aku memilih mampir sebentar ke dalam toilet hanya untuk berkaca. Untungnya mataku pagi ini tidak bengkak. Semalam aku berhasil berhenti menangis setelah sadar tidak ada gunanya menangisi pria berengsek macam Fandy lalu mengambil es batu dari kulkas yang ada di pantry untuk mengkompres mataku sebentar sebelum tidur dan hasilnya mataku pagi ini tidak bengkak sama sekali.
Setelah memastikan ruangan istirahat milik Pak Mahesa yang aku pakai sudah kembali rapi seperti sebelum aku menggunakannya untuk beristirahat tadi malam, aku mengambil ponselku dan mengenggamnya dengan erat lalu sebelah tanganku yang lain dengan cepat membuka pintu. Biasanya Pak Mahesa akan datang di jam delapan dan tidak pernah pria itu datang lebih pagi dari itu dan sekarang jam menunjukan hampir jam enam pagi dan seharusnya ruangan kerja bosku ini masih kosong tapi sialnya yang aku lihat saat ini seakan berhasil menyedot habis darahku. Pemandangan di dalam ruang kerja Pak Mahesa yang kulihat saat ini sukses membuat tubuhku menegang sempurna. Pak Mahesa berada di dalam ruangannya bersama dengan seorang wanita yang berdiri bersisian dengan seorang pria.
“Kamu ngapain di sini?”