Suara bass yang jelas kukenal betul siapa pemiliknya membuatku spontan mencari sumber suara itu berasal. Mataku spontan membulat melihat sosok Mas Bimo yang berdiri diambang pintu menatap lekat diriku dan Fandy saat ini.
“Saya dan Vanala harus─”
“Mending lo pergi dari sini deh, Fan. Vanala enggak punya urusan apa-apa sama elo dan kalo elo enggak mau punya masalah mending jangan pernah datengin Vanala lagi.” Mas Bimo dengan nada serius menatap lekat Fandy.
“Urusan gue sama Vanala belum kelar, Mas. Gue masih harus jelasin─”
“Lo pengen Vanala jadi bahan omongan dikantor ini karena ulah lo?”
Fandy melepas tanganku dan menghela nafas berat dan menatap lekat tepat dikedua bola mataku. “Tolong kasih kesempatan aku buat bicara, Va.”
Aku jelas menggelengkan kepala, “Udah enggak ada yang perlu dibicarain. Mulai hari ini jangan muncul lagi karena elo sama gue udah kaga ada urusan apapun dan gue enggak minat bahas apapun sama elo.”
“Vanala, cepat. Nanti kita terlambat.”
Aku mengangguki ucapan Mas Bimo dengan cepat dan mengikuti langkah seniorku itu. Aku dan Mas Bimo tidak ada janji apapun tapi untungnya kehadiran Mas Bimo membuatku jadi bisa pergi meninggalkan Fandy dengan segera. Aku mengikuti Mas Bimo menaiki motor miliknya padahal kami tidak memiliki janji apapun.
“Terima kasih sudah bantuin gue tadi, Mas.” Aku dan Mas Bimo berpisah di stasiun terdekat. Aku pergi menuju tempat tinggalku yang baru.
Aku menaiki lift dan membuka pintu unit yang menjadi tempat tinggalku menggunakan kode akses yang sudah Pak Mahesa berikan. Pak Mahesa sudah memberi tauku cara mengganti kode akses pintu apartemen tapi aku belum menggantinya karena belum ada kesempatan untuk melakukannya juga.
Aku memasuki apartemen dan langsung duduk di sofa dalam apartemen itu. Aku merebahkan kepalaku ke punggung sofa, memejamkan mata sambil mengatur nafas dan melepaskan segala penat yang kurasakan. Kehadiran Fandy jelas membuat moodku terjun bebas karena melihat pria itu mengingatkan aku pada kelakuan berengsek pria yang pernah mengisi hatiku itu.
Terdengar bunyi seseorang memasukan kode akses pintu membuatku spontan membuka mata dan menegakkan posisi dudukku. Aku menoleh bertepatan dengan pintu terbuka yang menampilkan sosok Pak Mahesa. Pak Mahesa masuk membuka sepatunya dan menggunakan sendal rumah miliknya lalu masuk sambil membawa sebuah bungkusan.
“Lusa kamu akan bertemu dengan orang tua saya dan masih banyak yang harus kita bahas. Kita baru tau tentang keluarga masing-masing. Kita belum membahas apa yang kita suka dan tidak seperti apa yang kamu makan dan apa yang tidak. Jangan sampai kamu letakkan kacang dimakanan saya karena kamu bisa bikin saya masuk ruang IGD karena saya alergi kacang.”
Masuk akal. Walau tidak mood karena kehadiran Fandy pada akhirnya aku mengangguk menanggapi ucapan Pak Mahesa. Memang hal itu perlu dibahas kalau tidak mau skenario yang dibuat oleh Pak Mahesa ini hancur berantakan.
“Saya mau ke toilet. Tolong siapkan makan malam. Kita bicara sambil makan saja.”
Tanpa menunggu perintah lainnya, aku melakukan apa yang Pak Mahesa katakan dan ketika Pak Mahesa kembali makanan sudah tertata rapi dan keduanya pun duduk berhadapan dan mulai menyantap makan malam mereka di meja makan sederhana dalam apartemen itu.
“Saya tidak pernah pilih-pilih makanan. Saya menyukai makanan western karena saya melanjutkan master saya di Australia dan saya tidak bisa makan kacang. Saya alergi kacang dan kalau saya makan kacang saya bisa sesak nafas dan berakhir di IGD.”
Aku mengangkat kepala mendengar ucapan Pak Mahesa dan menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti. “Saya juga tidak pilih-pilih makanan dan saya suka steak walau saya tidak pernah tinggal di Australia.” Aku tersenyum lebar diakhir kalimatku disaat Pak Mahesa merubah ekspresinya menjadi datar.
“Apa kamu ada alergi makanan juga?”
Aku menggelengkan kepala, “Saya tidak ada alergi apapun.”
“Good. Kamu lebih suka pergi ke pantai atau ke gunung?”
“Gunung. Saya lebih suka tempat yang dingin dari pada tempat yang panas tapi saya tidak menolak kalau ada yang mengajak saya berlibur ke pantai tapi kalau disuruh memilih antara gunung atau pantai jelas saya akan memilih gunung.”
Pak Mahesa menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyimak.
“Kalau bapak?”
“Saya suka keduanya. Saya tidak masalah ke pantai atau ke gunung yang penting saya bisa pergi untuk melepas penat. Yang jadi masalah untuk saya adalah saya tidak punya waktu untuk pergi kesana.”
Kini giliran aku menganggukkan kepala sambil berusaha mengingat-ingat setiap pembahasan kami saat ini. Pembahasan kami penting untuk mendukung skenario kami nanti saat bertemu dengan kedua orang tua Pak Mahesa.
“Apa yang kamu lakukan saat weekend?”
“Di─ kost? Saya lebih senang diam di kost dari pada pergi ke luar. Mall ramai saat weekend jadi saya lebih milih diam di kost sambil baca novel atau nonton drama korea.”
Pak Mahesa menatapku lekat, “Kamu berduaan sama mantan kamu di kost?”
Aku dengan cepat menggelengkan kepala dan melambaikan kedua tanganku sebagai isyarat tidak. “Saya enggak pernah berduaan sama mantan saya di kost, Pak. Mantan saya itu sibuk kalau weekend jadi saya sering ditinggal karena pekerjaan dia itu justru di weekend dan libur di weekday.”
Pak Mahesa mengerutkan alisnya, “Memangnya mantan kamu itu pekerjaannya?”
“Fotografer, Pak. Dia kerja diperusahaan dan kalau weekend kadang ada pekerjaan freelance foto acara nikahan dan sejenisnya.”
Pak Mahesa hanya menganggukkan kepalanya perlahan sambil menyantap makan malamnya dalam diam dan aku pun memilih ikut diam dan fokus pada makan malamku hingga makan malam kami selesai dan Pak Mahesa sudah pamit hendak meninggalkan apartemen. Aku berdiri di dekat pintu mengantarkan atasanku yang hendak pulang dan saat pria itu selesai menggunakan sepatunya, Pak Mahesa menatapku lekat, “Saya penasaran apa kamu masih cinta sama mantan kamu yang sudah selingkuh itu?”
Aku jelas kaget dengan pertanyaan Pak Mahesa itu. “Untuk saat ini saya tidak bisa menemukan rasa cinta itu dalam hati saya. Saat ini saya marah dan yang pasti saya tidak mau lagi berurusan dengan dia.”
“Good. Kamu harus fokus sama saya. Jangan tinggalkan celah buat laki-laki enggak berguna kayak mantan kamu itu.”
Aku mengangguk dan dalam hitungan detik Pak Mahesa sudah membawaku masuk ke dalam dekapannya membuat aku membulatkan mata sambil menahan nafas. Jelas kaget!
“Breath, Vanala. Kamu bisa pingsan kalau menahan nafas terlalu lama.”
Aku pun menghembuskan nafas perlahan, “Pak─”
“Anggap ini pemanasan sebelum ketemu kedua orang tua saya. Tidak aneh seorang laki-laki memeluk wanitanya sendiri dan mulai hari ini kalau kita berdua kamu harus biasakan merubah panggilan kamu ke saya. Panggil saya Mas Esa sama seperti keluarga saya memanggil saya begitu. Kamu paham, Vanala?”
Aku pun dengan cepat menganggukkan kepalaku dan Pak Mahesa pun melepaskan pelukannya dan menatapku lekat, “Ingat, Vanala. Kamu harus alihkan fokus kamu sama saya.”