44. Kaca yang retak

1160 Words

“Saya akan cari cara bongkar kebusukan Ardan. Nena tidak boleh menikah dengan laki-laki berengsek macem Ardan. Saya tidak mau Nena terluka.” Pak Mahesa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu benar-benar gusar. Ia bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan kekesalannya. “Sialan! Saya benar-benar tertipu. Saya tidak menyangka Ardan seberengsek itu!” Aku hanya diam tapi aku pun merasakan hal yang sama. Aku tidak menyangka akan tertipu oleh Fandy. Aku terlalu bodoh mempercayai Fandy bahkan mencintai pria itu walau kini entah pergi kemana cinta yang aku rasakan selama ini. Mungkin benar kata Mas Bimo. Aku terlalu bodoh. Cintaku terlalu buta untuk Fandy sehingga aku tidak sadar kalau pria itu sudah menipuku sedemikian rupa. Aku tersenyum miris menyadari semua kebodohanku selama i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD