Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Aku menghela nafas membaca tulisan yang baru saja kulihat dari jendela pesawat yang kutumpangi saat ini. Ya, kami tetap jadi pergi ke Bali. Aku duduk bersebelahan dengan Ibu Dara di dalam pesawat pribadi milik keluarga Wiradilaga. Wiradilaga benar-benar keluarga kaya raya. Aku pernah naik pesawat komersial tapi pesawat pribadi jelas ini pertama kalinya. Selama ini aku hanya melihat isi dalam pesawat pribadi di media sosial karena para artis ibukota berlomba memamerkan kegiatan mereka dan kini aku bisa duduk di dalam pesawat yang dipamerkan para artis ibukota itu.
Aku duduk di dalam pesawat itu dengan kikuk disaat Pak Mahesa duduk dengan santai disebelah Pak Eric. Untungnya Sienna dan Kevan tidak berangkat bersama dengan kami. Aku tidak ada masalah apapun dengan keduanya. Kevan bersikap baik padaku dan aku tidak kikuk menyapa adik bungsu Pak Mahesa itu tapi dengan Sienna semua terasa berbeda. Aku masih bingung bagaimana berinteraksi dengan adik perempuan Pak Mahesa yang nampak kurang suka dengan kehadiranku.
“Nanti sampe Bali mama kenalin ke sepupu-sepupu Esa ya. Mereka pasti seneng kamu ikut kumpul juga,” ucap Ibu Dara dengan nada antusiasnya. Aku sadar kalau wanita paruh baya itu berusaha membuatku nyaman.
Kami sampai di Bali dan sudah ada supir yang menunggu kedatangan kami. Aku yang baru pertama kali merasakan semua ini jelas terkagum. Ternyata begini rasanya jadi orang kaya yang memiliki segalanya. Pergi tinggal pergi dan semua sudah tersedia sesuai apa yang dibutuhkan. Menyadari hal ini aku merasa kecil mengingat sedari dulu keluargaku harus berusaha keras untuk mencapai sesuatu berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan saat ini dimana semua dengan mudahnya tersedia tanpa berusaha keras.
“Kamu capek?”
Pertanyaan dari Pak Mahesa spontan membuatku menoleh menatap pria yang sudah memakai kaos dan celana jeans. Aku menggelengkan kepala dan Pak Mahesa dengan santainya mengenggam tanganku dan melangkahkan kaki mengikuti kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu berjalan di depan kami. Aku sudah mulai terbiasa melihat Pak Mahesa tanpa pakaian kantor formal.
“Villa keluarga besar saya punya banyak kamar. Biasanya saya tidur dengan Kevan atau sepupu saya yang lain. Tidak jarang kami malah tertidur di ruang keluarga karena terlalu asik bermain. Nanti sampai villa kita pilih kamar untuk kamu dulu dan saya pastikan kamu tidur sendiri karena saya yakin kamu tidak nyaman kalau harus berbagi dengan orang yang baru kamu kenal.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Pak Mahesa. “Terima kasih, Mas.”
Pak Mahesa membukakan pintu mobil untukku sambil tersenyum lebar. Senyum yang tidak pernah aku lihat saat kami berada di kantor. Aku memanggilnya dengan sebutan Mas karena saat ini Ibu Dara sedang memperhatikan kami dan aku menyadari itu. Beliau tersenyum hangat melihat Pak Mahesa yang membukakan pintu untukku lalu menutupnya dari luar sebelum duduk di kursi penumpang bagian depan.
Mobil yang kami tumpangi menuju salah satu kawasan di Bali lalu memasuki sebuah villa yang sangat-sangat besar. Aku tercengang. Jelas keluarga Pak Mahesa ini bukan keluarga kaleng-kaleng. Rumah kedua orang tuanya saja sudah besar dan villa tempat aku berada saat ini tidak kalah besarnya. Aku merasa tempatku berada saat ini lebih mirip hotel dari pada villa. Mobil yang kutumpangi harus melewati sebuah jalan lurus dimana dibagian kiri dan kanannya ada pohon-pohon besar yang membuat tempat ini terlihat begitu hijau. Tanaman hias yang terpangkas rapih dan jalan setapak pun ada di area taman hingga mobil yang kutumpangi ini berhenti disebuah bangunan kokoh dan mewah dengan gaya khas Eropa lengkap dengan banyak jendela. Aku merasa minder saat ini. Tempat ini luar biasa megah seakan mengukuhkan keluarga Wiradilaga bukan keluarga yang setara dengan keluargaku.
“Kakak ipar saya arsitek dan villa ini hasil karyanya. Suami saya dan anggota keluarga yang lain urunan membeli lahan di sini dan semua pembangunan villa ini berjalan bertahap sesuai dengan keinginan mereka,” ucap Ibu Dara menjelaskan mengenai bangunan yang ada dihadapanku saat ini. “Ayo, Masuk, Nala.”
Aku mengangguk. Ibu Dara lebih dulu melangkahkan kakinya mengikuti Pak Eric yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. Sementara aku masih berdiri di tempat yang sama. Rasa bersalah itu kembali muncul. Keluarga Pak Mahesa begitu baik dan aku membohongi mereka dengan setuju dengan skenario pacar pura-pura yang Pak Mahesa buat.
“Kenapa belum masuk?” Pak Mahesa muncul dengan koperku yang sudah dibawanya dan tiba-tiba Pak Mahesa mendekatkan mulutnya ketelingaku dan berbisik,, “Ingat, panggil Mas seperti tadi. Keluarga saya banyak disini jadi jangan sampe salah panggil, Cantik.”
Aku menganggukkan kepala lalu Pak Mahesa dengan santainya mengenggam erat tanganku dan mengajakku memasuki bangunan kokoh yang ada dihadapan kami. Villa ini begitu kokoh, megah dan jelas dibagun dengan penuh perhatian disetiap sudutnya. Aku dan Pak Mahesa mulai berpapasan dengan keluarga besar Pak Mahesa yang lain dan untungnya mereka menerima kedatanganku dengan baik.
“Wah, Mas Esa gandeng calon member baru nih?”
Pak Mahesa terkekeh sambil mengacak rambut seorang wanita yang usianya jelas lebih muda dariku itu. “Iya, Mas Esa bawa calon member baru. Kenalin dulu pacar Mas Esa, Vanala Cantika. Kamu bisa panggil Mbak Vanala, Lia.”
Wanita muda yang dipanggil Lia itu mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman, “Salam kenal, Mbak Nala. Nama aku Julia dan biasa dipanggil Lia. Aku panggil Mbak Nala boleh? Kalo Mbak Vanala agak kepanjangan gitu.”
Aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala dan menyambut uluran tangan wanita muda itu. “Boleh. Salam kenal juga Lia.”
Berawal dari Julia lalu muncul sepupu-sepupu lain Pak Mahesa. Aku berkenalan dengan mereka satu per satu dan benar kata Ibu Dara yang mengatakan bahwa Pak Mahesa memiliki banyak sepupu dan jika berkumpul maka rumah akan terasa begitu ramai.
“Vanala, sini ikut Mama.” Ibu Dara mengenggam tanganku dan mengajakku menuju pasangan yang baru memasuki ruang keluarga. “Ayo, kenalan sama Om Edo dan Tante Silvi. Om Edo dan Tante Silvi ini yang akan merayakan ulang tahun pernikahan nanti malam.”
Aku dengan cepat mengulurkan tangan untuk bersalaman dan memperkenalkan diri pada pasangan yang diperkenalkan Ibu Dara sebagai Om Edo dan Tante Silvi. “Selamat ulang tahun pernikahan Om, Tante. Semoga pernikahan Om dan Tante selalu bahagia.”
“Amin... Terima kasih untuk ucapan dan doanya, Vanala. Salam kenal, ya...”
Aku tersenyum dan bersyukur karena keluarga Pak Mahesa terlihat menerima kehadiranku padahal jelas posisi kami berbeda layaknya langit dan kerak bumi. Semua yang hadir menggunakan pakaian yang terlihat biasa saja tapi sesungguhnya berharga fantastis. Aku mendadak merasa rendah diri karena aku hanya seorang pegawai kantoran biasa dengan kedua orang tua seorang petani di sawah.
Ya, ini memang sebuah kebetulan. Kebetulan yang merepotkan dan jelas membuatku sakit kepala karena harus berbohong.
Pak Mahesa berkumpul dengan para sepupunya dan aku mengikuti kemana pun Pak Mahesa melangkah. Pak Mahesa mengobrol dengan para sepupunya dan sesekali aku ikut menanggapi tapi meski begitu aku lebih suka jadi pendengar dari pada ikut masuk ke dalam percakapan mereka. Semenjak masuk ke dalam villa, Aku tidak pernah melepaskan genggaman tangan Pak Mahesa. Satu tanganku yang bebas aku gunakan untuk berjabat tangan berkenalan namun tanganku yang lain tetap mengenggam erat tangan Pak Mahesa.
“Saya antar ke kamar yang akan kamu tempati malam ini. Kamu bisa beristirahat sebentar lalu bersiap untuk acara nanti malam.”
Tentu aku langsung mengangguki ucapan Pak Mahesa. Pak Mahesa memimpin langkahku menuju sebuah pintu dan saat kami masuk ke dalam kamar. Pak Mahesa menutup pintu dan aku membuang nafas panjang. Ahirnya aku bisa bernafas lega tanpa khawatir melakukan kesalahan. Aku menatap ke sekeliling kamar dan terkejut karena koper milikku sudah ada di dalam kamar ini.
“Kamu terlalu gugup padahal keluarga besar saya begitu menyukai kamu. Mereka bahkan lebih tertarik bahas tentang kamu dari pada saya, Cantik.”
“Bisa panggil saya Vanala aja?”
Pak Mahesa menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaanku. “Ada yang salah?”
“Rasanya aneh. Saya tidak terbiasa dipanggil─”
“Cantika kan nama kamu juga. Vanala Cantika. Kalau saya panggil Cantik kan gak masalah.”
Aku spontan menggaruk kepalaku walau tidak terasa gatal. Ucapannya memang benar tapi...