Teror dalam Rumah

1134 Words
“Sudah hampir subuh.” Deny menganggukkan kepala tanda setuju pada ucapan Karina. Keduanya kini tengh duduk di ruangan berkarpet biru dengan jendela yang sepetinya hanya muat satu orang –pun itu jauh di atas sekali, yang masih berantakan dengan beberapa kardus berisi buku di dalamnya. Ruangan ini adalah ruang baca. Karina mengatakan bahwa kedua orang tua Deny mengetahui ruangan ini dari Bayu, pria tempo hari yang merupakan teman Chandra. Ruangan ini memang sudah ada sejak pembangunan, namun berkat tangan-tangan terampil Bayu, pintu ruangan ini Ia sembunyikan dan ia buat menyaru dengan tembok kayu di seputar rumah. Diam-diam Deny kagum sendiri dengan hasil karya teman ayahnya tersebut. “Ayah gimana ya Den?” Deny terdiam mendengar pertanyaan Karina. Ia sendiri khawatir karena sejak semalam dan tak bisa tertidur karena memikirkan ayahnya yang pergi ke hutan sendirian. Tapi mengingat bahwa Chandra adalah pria yang tangguh, selain itu sebentar lagi juga fajar, maka Deny merasa sedikit lega. Gonggongan di luar tidak lagi berfokus pada rumah Deny. Ia menduga bahwa bahwa anjing-anjing itu sudah menyebar terror ke seluruh desa, mungkin sudah sampai ujung ke rumah Bima karena suaranya takk begitu intens, seintens beberapa jam awal. Mungkin karena rumah dinas merupakan papan yang paling dekat dengan hutan larangan, sejak magrib sampai pukul Sembilan, suara gonggongan terdengar terus tanpa henti dari halaman. Atau mungkin ini salah Deny juga karena di awal ia tak mematikan lampu yang ada di ruang tamu. “Bunda pengen nyari ayah Den.” “Iya bun.” “Nanti setelah fajar, kita cari ayah ke deket hutan ya Den?” pinta Kirana. Wanita itu tak tidur semalaman karena menjaga Deny sekaligus memikirkan suaminya yang belum diketahui kondisinya. “Bunda khawatir banget ayah kenapa-napa.” Deny mengangguk. Remaja itu kemudian menyetel youtube dengan volume pelan. Ia memilih melihat performa live band Coldplay di layarnya untuk merelaksasi dan menenangkan diri. Selain memikirkan ayahnya, Deny juga memikirkan pintu belakang yang tidak terkunci dan sengaja ia biarkan begitu. Meskipun sebentar lagi terornya selesai, namun Deny masih parno bila pintu tersebut terbuka dan a*u njegog mengacaukan seluruh rumah. Apalagi kalau mereka bisa membuka pintu ruang baca yang saat ini. Dlam kekhidmatannya mendengarkan Coldplay, bulu kuduk Deny tiba-tiba berdiri. Pri itu tak bisa menjelaskan, namun biasanya bulu kuduk Deny beridiri ketika aa bisa measakan ada sasuatu yang buruk yang akan terjadi. Ia mematikan lagu coldplay. Telinganya tajam berusaha mendengarkan suara lain yang mungkin bisa ia tangkap dari luar ruangan ini. Beruntung ruangan ini tidak kedap udara, jadi ia bisa mengetahui keadaaan di luar melalui indra tubuhnya. ‘Tap-tap-tap-tap,’ Mengrinyit, Deny terheran ada suara langkah kaki dari luar. Suara itu sayup, tapi Deny yakin bahwa pendengarannya tidak salah. Ia sedang duduk bersandar pada tembok yang bersebrangan dengan halaman samping, ia tahu benar kalau suara itu adalah benturan sepatu dan tanah. “Bunda denger langkah kaki?” tanya Deny berbisik. “Engga tuh. Orang dari tadi Cuma suara anjing.” “Engga bun. Itu beneran suara langkah,” Deny masih berbisik. Ia menempelkan telinga ke tembok dan mendengarkan dengan seksama karena langkah itu makin lama menghilang. Itu bukan suara langkah Chandra. Lalu siapa? ‘Krieet…’ Jantung Deny terasa mencelos mendengar suara yang ia sudah takuti sejak tadi. Bukan… bukan a*u njegognya. Pintunya… Pintu belakang terbuka. Tak butuh waktu lama, suara anjing menyalak memenuhi dalam rumah tersebut. Karina menutup mulutnya dengan tangan dan menahan nafas.Sementara itu Deny buru-buru merangkak ke pintu ruan baca dan menggunakan tubuhnya agar makhluk apapun yang di luar sana tidak masuk. Entah berapa menit sudah berlalu, Deny bisa merasakan cakaran di dinding dan juga pecahan barang-barang yang entah apapun itu. Dadanya berdegup kencang dan rasanya remaja itu ingin kencing saja di celana. Sementara itu Karina dengan gemetar ikut menahan pintu ruang baca dengan tubuhnya seperti yang Deny lakukan. ‘DOR!’ Tubuh Deny membeku. Apa itu ayahnya? Ia melihat jam, lima menit lagi sebelum fajar. Suara gongongan itu menhilang, namun bukannya lega, Deny malah semakin berdebar karena itu artinya anjing tersebut pergi ke sumber suara tembakan. Karina yang sepertinya berpikiran serupa menggenggam tangan Deny yang sudah basah oleh keringat dingin. “Bun…” “Ssshh… sebentar lagi kita susul ayah.” Deny tak pernah tahu ibunya seberani ini. Wanita kecil di sebelah Deny memang kecil, namun lihatlah Deny yang malah bergemetar ketakutan sementara Karina berusaha menenangkan dengan genggaman. ‘DOR!’ Tembakan kedua. Deny menengok ke arah ibunya. Lampu ruangan ini sengaja memang tidak dinyalakan, sehingga satu-satunya penerangan adalah dari layar ponsel dan cahaya alami dari jendela yang bahkan sepertinya terlalu kecil untuk tubuh Deny. ‘ARGGH!’ Dengan pandangan horror, Karina menatap anaknya yang balas manatap dengan pandangan yang sama. Raungan itu terdengar memilukan, membuat Deny ingin segera keluar dan mencari sang ayah yang sepertinya tak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Wantu terasa lambat sekali berjalanan, lima menit yang terasa seperti selamanya. “Bun, suaranya berhenti.” “Keluar?” “Keluar.” Keduanya mengangguk sepakat. Deny mengambil sebotol baygon yang tadi ia temukan sebagai perlindungan. Entah mau diapakan baygon tersebut. Setidaknya ia merasa memiliki s*****a yang membuatnya merasa lebih aman. Ruang keluarga begitu kacau. TV sudah berada di lantai, entah pecah atau tidak. pot yang kapan hari mengenai kakinya sudah terseret sampai ruang makan. Beberapa peralatan masak Karina yang terbuat dari kaca berhamburan jadi berates kepingan kecil yang jika terkena akan melukai. Rumah ini seperti kapal pecah. Hantu-hantu s****n! “Den, ayo!” Deny yang sempat tertegun sejenak sambil mengutuk penyebab kekacauan di rumahnya, terkaget. Kirana sudah berada di pintu belakang yang terbuka lebar. Wanita itu sudah memakai sandal dan tak memperdulikan koleksi mahalnya yang jadi sampah dan tersebar di seputar dapur. Deny mengangguk. Ia bisa merasakan ada beling kecil yang menancap di telapak kakinya, namun hal tersebut ia tahan dan kakinya hanya ia usap sekali dengan tangan yang bermaksud untuk membersihkan. Agak perih tapi tak apa. Ia segera menggandeng ibunya dan menyalakan senter dari ponsel. “Semoga ayah nggak papa.” ‘Dan semoga hantu-hantu itu betulan sudah pergi.’  *** “Ini betulan sudah mati?” “Nafasnya sudah nggak ada.” “Mau kita tinggal di sini? Atau bawa saja seperti biasa.” “Tinggal saja. Kurasa sebentar lagi anak istrinya keluar rumah cari orang ini.” … “Tuh suaranya.” Keduanya tersenyum miring. “Anjingnya sudah lengkap semua?” “Sudah. Sudah masuk semua.” “Ayo pergi.” Dua langkah boots terdengar meninggalkan tubuh pria paruh baya yang terkapar dengan wajah menghadap ke langit. “Hhhh… akh.” Lelaki itu mengambil nafas yang sempat ia tahan selama lebih dari tiga menit. Tubuhnya terasa sakit, tak bisa digerakkan. Sekalipun ia bisa hidup sampai sekarang, tapi sepertinya sebentar lagi tidak begitu. Darah mengalir dari beberapa bagian dan ia tidak bisa merasakan kaki kirinya. Apa putus?  Perlahan kesadarannya memudar. Meskipun otaknya menolak untuk tertidur, perlahan kegelapan menghampiri penglihatannya. Dalam sisa kesadaran, ia berbisik… “Dasar bjingan tengik.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD