Dalam Pikiran

1185 Words
 “Den, mulai besok kamu udah bisa masuk sekolah ya.” “Oke yah.” “Perlu dianter nggak?” “Nggak perlu. Deny nanti bareng temen aja.” “Yang kemaren?” “Iya, yang cewe dua sama cowo satu itu.” Chandra mangut-mangut sok mengerti. Lelaki itu menatap anaknya yang sedang asyik masyuk memainkan game di ponsel sambil tiduran. Deny bahkan menjawab pertanyaan dirinya tanpa menatap mata. Kalau saja ini jaman behula, Deny pasti sudah kena rotan. Dalam kurun waktu empat hari ini, Chandra bisa melihat perubahan putranya yang awalnya sewot, jadi sedikit lebih bersemangat menjalani hidup di Temayang. Tentu itu tak lepas dari pengaruh teman baru Deny yang hampir setiap hari nangkring mampir sepulang sekolah. Chandra ingat yang pria bernama Bima. Anak itu tambun seperti ayahnya, Burhanudin, yang ditinggal di ujung desa sebelah utara. Burhanudin adalah kuli bangunan yang dikontrak borongan. Hanya pergi ke kota jika ada pekerjaan, sisa waktu tidak ke kota ia habiskan untuk membantu istrinya meladang. Sementara itu Fira adalah anak bidan desa, bukan hanya desa, tapi kecamatan sebenarnya. Di tempat ini, bidan bukan Cuma berperan sebagai dukun beranak, tapi juga sebagai dokter umum. Kompetensi bidan memanglah tidak mencukupi untuk menjadi dokter sungguhan, tapi mau bagaimana lagi? Mana ada dokter mau masuk ke daerah terpencil begini? Dokter dinas dari pemerintah hanya masuk Temayang dua minggu sekali, itu saja untung-untungan apakah bisa bertemu beliau atau tidak. Beruntung, ibu Fira, Nuridah, lahir di Temayang dan memutuskan untuk mendedikasikan diri di sini. Masyarakat sangat tertolong, apalagi jika sakitnya begitu genting. Nuridah memiliki mobil yang ia fungsikan sebagai ambulan dadakan untuk warga. Bukan cuma ibunya yang terpelajar, ayah Fira adalah seorang buruh pabrik yang membuat perpustakaan umum di rumah Fira. Setiap pulang ke Temayang, ia selalu membawakan Fira buku yang sangat banyak dan pada akhirnya, buku-buku yang sudah Fira baca dipajang di perpustakaan umum bikinan ayah Fira, Bahari. Sementara gadis satunya… Chandra agak lupa namanya. Namun gadis berkulit putih tersebut, tinggal di daerah tengah, bukan di pinggir jalan aspal. Ayahnya petani dan ibunya adalah tukang jahit. Ia sempat berkenalan dengan sang ibu yang bernama Tumirah untuk menjahitkan seragam Deny yang baru. Secara keseluruhan, Chndra menganggap teman-teman Deny adalah teman yang baik. Namun ada sedikit perasaan di hati pria tua tersebut agar anaknya bisa berteman dengan anak lurah dan anak pak RT, lebih bagus lagi dengan si anak kepala desa. Tapi sepertinya itu tak mungkin, dari dalam bilik kamarnya, beberapa hari lalu Chandra bisa melihat putranya membuat anak pak kades emosi. Chandra ingin melerai, tapi mengingat Deny sudah dewasa dan ia adalah anak yang bertanggung jawab terhadap tindakannya, Chandra hanya bisa geleng-geleng kepala dan menutup telinga terhadap kebisingan yang diciptakan empat motor modifikasi tersebut. “Ayah, ini berarti aku pakai seragam lama?” Terbuyar dari lamunannya, Chandra lagi-lagi mangut-mangut. Deny kini sudah terbangun dari sofa tamu dan sedang makan siang di depannya. Pria tua itu tak tahu sejak kapan anaknya menaruh ponsel dan mengambiil makan, tapi ia jadi ikut lapar. “Nanti kamu bawa berkas yang ayah siapkan aja. Siapa tahu masih butuh.” Giliran Deny yang mangut-mangut. Ayahnya memang serba cepat dalam menangani berkas. Padahal Deny mengira ia bakal lebih lama bisa berleha-leha di rumah baru, tapi sudahlah. Ia akhirnya bisa satu sekolah dengan Fira, Laila, dan Bima. Sejak konfrontasinya dengan Nata dan gengnya tempo hari, Deny dan rumahnya menjadi shelter keselamatan bagi ketiga manusia tersebut. Terutama Bima. Awalnya Deny pikir, Nata memang tukang bully dan mengincar orang lemah, tapi ternyata ada alasan dibalik tindakan Nata. Bima misalnya. Lelaki tambun itu menyukai Naya, saudara kembar Nata (Deny juga kaget, manusia seperti itu punya saudari kembar). Naya memang cantik, banyak lelaki mendekat bak lebah yang mau menghisap madu. Tapi Bima, sebagai lelaki lemah gemulai, membuat malu Naya sampai menangis karena Bima menyatakan perasaan di tengah sekolah. Selama seminggu, Naya terus mendapatkan ejekan karena disukai oleh pria yang dilabeli “banci” oleh satu sekolah. Bukan Cuma dari teman, tapi guru-gurupun bersikap sama.  Tentu Nata tidak terima. Jadi setelah tahu adiknya jadi bahan olok-olok, Nata beraksi merundung Bima untuk mengembalikan harga diri Naya. Sedangkan Laila? Wanita yang kerap dipanggil Lele tersebut Cuma kena getah saja. Ia ikut dikejar-kejar sepulang sekolah karena berteman dengan Bima. Mereka memang dekat sejak sekolah dasar, sudah seperti saudara. Bahkan memang saudara karena ibu Laila dan ayah Bima adalah sepupu. Selain itu, salah satu teman Nata, Damar, anak lelaki dengan baju sekolah sebagai outer dan kaos di dalamnya, menyukai Laila. Cintanya yang ditolak membuat Damar, anak pak RT 01, marah. Untuk Fira… kisahnya berurusan dengan Nata agak aneh. Keduanya sempat pacaran di awal SMA. Bahkan sejak SMP keduanya saling menyukai. Anak bidan dan anak kades, cocok sekali bukan? Tapi keduanya memutuskan –Fira sebenarnya yang tak ingin melanjutkan, hubungan di awal kelas dua. Penyebabnya? Siapa lagi kalau bukan Naya? Sejak dulu Fira dan Naya memang tidak pernah akur, tapi menurut Fira hal itu dikarenakan Naya iri terhadap kecerdasan Fira. Selama ini Fira sudah menahan diri tak berusan dengan adik mantan pacarnya tersebut, tapi semenjak kejadian tembak-menembak, Fira betul-betul tak tahan. Tangis buaya Naya, Nata yang membela dan membully Bima, membuat gadis itu muak! Fira memang pro keadilan, ia tak sudi berkekasih seperti preman yang hobi mengitari desa hanya untuk mencari keberadaan Bima dan kawannya, Laila. Jadi semenjak putus, setiap pulang sekolah, Fira bergabung dengan kedua manusia tersebut untuk menjaga mereka. Kadang Nata urung merundung jika melihat Fira, kadang juga pria itu tetap melakukannya. “Makasih ya Den udah belain kami. Padahal kamu nggak tahu apa-apa. Kamu juga beleum resmi masuk sekolah. Tapi kamu dah musuhan sama Nata.” Ujar Fira setelah bercerita soal latar masalahnya dengan Nata.  Sebagai respon, remaja tanggung itu hanya mengangguk. Deny diam-diam agak menyesal juga karena amarahnya yang impulsive kapan hari, ia jadi punya musuh bahkan sebelum resmi jadi siswa Temayang. Tapi tak apa, toh ia merasa sudah melakukan hal yang benar. “Yah, nggak makan?” suara Kirana memecah hening diantara kedua lelaki tersebut. Chandra beranjak ke dapur, sementara Deny kembali sibuk berkelana di dalam pikirannya. Entah mengapa, kali ini Deny malah fokus kepada rasa penasarannya terhadap hubungan Fira dan Nata. Keberanian dan keramahan Fira menarik Deny sejak awal. Gadis itu bulu matanya panjang, Deny selalu memperhatikannya kala Fira asyik bercerita. Gadis itu memang suka menggebu-gebu, apalagi jika sedang bersemangat. Tapi Deny tak masalah karena lelaki itu juga sama menggebu-gebu ketika bercerita menimpali Fira. Fira memang cantik sih. Kulitnya kuning kecoklatan, bukan sebuah ciri yang diprefensikan oleh orang asia. Tapi sepertinya Fira masa bodoh dengan hal tersebut, dan kulitnya yang berbeda dari gadis Temayang kebanyakan, membuat Fira jadi pusat perhatian. Senyumnya yang manis dengan hanya satu lesung pipit dan hidung kecil mancung tersebut memang membuat orang-orang meleleh. Termasuk Nata. Mungkin… Deny juga. Memikirkan Fira pernah berkekasih pria yang seperti Nata membuat Deny begitu masam. Apakah ketika mereka berpacaran, Fira dan Nata begitu manis? Seperti apa ketika mereka jatuh cinta? Sudah sampai mana? Apa Fira sudah pernah dicium Nata? Deny memukul pahanya sendiri karena pertanyaan terakhir. Buru-buru ia menyuap kuah sop yang masih panas karena salah tingkah. Hal itu tentu saja berakhir dengan Deny yang hoh-hah-hoh-hah dan membuat Kirana terpogoh-pogoh mengambilkan air. ‘MIKIR APA SIH DEN?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD