Lyana duduk di balkon kamar apartemennya yang berada di lantai sembilan. Hamil. Meski dua hari telah berlalu, tetapi fakta ini masih menyerangnya habis-habisan seperti petir hebat. Satu malam yang ia habiskan dengan Steve telah berhasil memberi dirinya kehidupan mungil dalam perut. Hanya satu malam, dan Lyana menemui kondisi ini. Dia sama sekali tak mengira konsekuensi dari satu malam akan menjalar sampai seperti ini. Pantas akhir-akhir ini Lyana merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya. Mudah down, mual, dan demam. Tadinya ia pikir semua itu faktor kelelahan. Haidnya dari dulu juga tak pernah teratur. Jadi saat tiba-tiba tamu bulanannya tak datang, Lyana tak pernah merasa khawatir. Siapa sangka semua itu mengarah pada kehamilan. Lyana bahkan mengulangi tes kehamilan tiga kali bertu

