Jam dinding menunjukan waktu 09:00 WIB
Waktu Indonesia Bagian Mager.
Sepagi ini aku masih bergulang-guling diatas kasur, belum mandi, belum sarapan, belum ada niat ataupun motivasi untuk bangun dari tempat tidur. Sungguh sombong diriku, baru saja punya pekerjaan tapi gayanya sudah seperti seorang nyonya rumah. Namun apa daya, beginilah peraturan di kantorku.
“Besok kamu ga perlu ke kantor dulu ya, langsung aja ke lokasi ketemuan sama yang lain” begitulah kata mas Lucky kemarin.
Kakiku bergerak kesana kemari menikmati dinginnya sprei di pagi hari. Sungguh pagi yang tenang, setidaknya sampai..
“Kamu itu niat apa engga sih kerja??! Bangun Leona, buruan mandi nanti kamu telat!” Suara Mama yang menggaung seisi rumah.
“Masuk siang aku tuh Ma, nanti langsung pergi ke Senayan..”
Selang beberapa menit Mama menghampiriku ke kamar seolah tak percaya “Oh ya? Enak juga ya kerjaan kamu, nanti siapa yang jemput kamu?”
“Aku naik motorku sendir lah..” kataku sambil berpelukan mesra dengan guling yang sejuk.
“Yakin kamu? Minta jemput temen kantor kamu aja Mama ga ngasih ah!” Mama memasang wajah khawatirnya yang paling aku benci.
“Ya gak mungkin dong Ma, Leon kan anak baru dan emang perarutarannya di kantor ya berangkat sendiri..” Aku membenamkan wajahku kedalam guling.
“Pokoknya Mama gak kasih! Mending kamu gak usah berangkat. Mama tuh khawatir..” Katanya sambil berusaha menarik guling yang menutup wajahku.
“Hahaha please deh Ma, aku udah 3 tahun ga diperduliin Mama. Gak usah sok care lah..”
“....” Suasana mendadak hening, Mama terdiam memandangiku yang kini sedang pura-pura sibuk dengan ponselku setidaknya selama 2 menit dan akhirnya pergi dari kamarku. Sepertinya, kejujuranku tadi cukup melukainya. Tak lama, kudengar Mama pergi berangkat kerja tanpa berpamitan denganku. Tinggalah aku sendiri dirumah. Hmm, tapi aku tidak canggung dengan suasana ini, aku telah terbiasa dengan kesendirian selama lebih dari 3 tahun terakhir ini. I’ve been waiting for this moment, driving alone like I’m an adult, hiduplah kita masing-masing dengan ego sendiri. Aku sudah terbiasa tanpa perhatian Mama dan Papa lagi.
***
Niatnya adalah berangkat liputan naik motor supaya cepat sampe lokasi, kenyatannya adalah sudah hampir satu jam aku berkendara di bawah terik matahari dan debu polusi Jakarta yang luar biasa tapi belum juga sampai tujuan.
“Setelah 200 meter, putar balik..” Dan selama satu jam itu juga telingaku rasanya kenyang mendengar suara perintah mba-mba Google Maps yang begitu terdengar nyaring lewat earphone.
“Putar balik..” Kata Mba Google, sekali lagi.
“...” beberapa kendaraan didepanku bahkan belum bisa putar balik karena lalu lintas yang cukup padat untuk antri masuk jalur.
“Putar balik..” SEKALI LAGI.
“Berisik! Iyaa tau gue, sabar dong depan gue juga lagi puter balik” Rasanya seluruh badanku sudah matang karena emosi hingga jadilah diriku ini emosi sendiri dengan mba-mba Google Maps, dan juga kelepasan sampai beberapa pengendara di sampingku menoleh dengan wajah terheran-heran.
“Putar balik..” Ingin rasanya meledak diri ini tapi ternyata Tuhan tak tega melihatku tersiksa, akhirnya mobil yang ada di depanku akhirnya bergerak dan aku akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama setelahnya akhirnya aku sampai di hotel Fairmont, lega sekali rasanya setelah aku bisa melepas seluruh jaket, helm, dan masker yang sedari tadi sudah menjadikanku seperti pisang dalam kukusan. Matang sempurna.
Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam lobby hotel bintang 5 dan ternyata di dalamnya begitu luas, tinggi, terasa mewah dengan pilar-pilar putih menjulang tinggi, lantai marmer yang mengkilap dan ornamen-ornamen yang artistik. Meski terjebak macet dan beberapakali tersasar tenyata aku datang 20 menit lebih cepat, aku memang ahlinya dalam menyesuaikan waktu pertemuan.
“Halo mba, mau tanya untuk lokasi ballroom acara ini dimana ya?” Tanyaku kepada resepsionis hotel sambil menunjukan lembaran acaranya.
“Oh Mba bisa naik lift yang ada di ujung sana, naik ke lantai 2 nanti ruangannya ada di sebelah kiri..” Resepsionis mengarahkanku dengan gestur ramahnya menuju sebuah arah di sisi kanan.
“Oke, terima kasih..” Acaranya memang masih lama, tapi karena ini liputan pertamaku tentunya aku tak mau tertinggal sedikitpun. Aku segera masuk kedalam lift yang tadi ditunjukan oleh resepsionis dan mengirim pesan untuk rekan kerjaku hari ini.
“Anak Singa...”
“...” Sebuah suara membuatku terdiam sejenak hingga aku menoleh ke seorang laki-laki yang ternyata satu lift denganku, kenapa aku bisa-bisanya ga sadar kalau ada orang lain di dalam lift ini dan sekarang laki-laki ini tersenyum kepadaku. Dan bagaimana bisa dia tau panggilan itu.
“Hai!” Lelaki itu kini tersenyum lebar.
“H..Hai.. Kita pernah kenal? Kok lo tau sih nama it..” Aku menatapnya dengan heran.
“Hahahah kenalin..” Dia mengulurkan tangannya “Aku Mikael, tapi kamu bisa panggil aku Miki..”
“Oke, hai Miki..” ku jabat tangannya, masih dengan wajah heran.
“Dulu kita satu jurusan, kamu mungkin gak terlalu kenal sama aku soalnya aku lihat kamu jarang membaur sama yang lainnya” Dia menjelaskan dengan sangat fasih.
Thanks for a good reminder.. Aku memang dulu kurang suka bergaul dengan beberapa anak satu jurusan karena mereka terlalu keren dan Mikael tentu.. sangat keren sampai aku tidak pernah memperhatikannya. Tapi tidak untuk Leona yang sekarang, aku sudah mulai membuka diriku.
Ting!
Akhirnya sampai di lantai 2 dan Mikael a.k.a Miki juga keluar dari lift.
“Oohhh, okay sorry karena gue ga sehafal itu sama seluruh anak satu jurusan. Tapi kalo lo bisa manggil gue dengan sebutan tadi tentunya gue ga perlu ngenalin nama gue dong..” Kami berdua berjalan pelan-pelan setelah keluar dari lift.
“Haha yaa its okay, of course I know you Leona..” Duh, gue baru sadar kalo ini anak kalo senyum ganteng banget! “Jadi, sepertinya kita satu arah. Boleh aku tahu kamu lagi apa disini?” Dia mengajakku berhenti sejenak.
“Aku kesini untuk hadir ke acara lauching produknya Chef Nicolasz. Mm, Mascarpone.. Liputan pertamaku..”
“Jadi sekarang kamu jadi wartawan .. dan sepertinya kamu akan berurusan dengan banyak krim hari ini..” Krim? Oh ya? Oh benar.. Aku lupa untuk cari tahu tentang liputan hari ini.
“Iya begitulah hehe.. Kamu sendiri kesini ngapain?” Aku kembali melanjutkan langkahku.
“Oh aku juga ada acara di ruangan sebelah, yaa ga jauh beda sama acara kamu cuma mungkin lebih boring dan ga ada krim disana heheh” Duh mas aku kenyang jadinya liat senyumanmu itu. “Oh ya, boleh minta nomer telepon kamu?”
“Mm, untuk apa yah?”
“Ya, untuk jaga-jaga aja. Mungkin aja nanti aku butuh bantuan kamu, lagian kan secara ga langsung kamu temen lamaku hehehehe”
“Hmm, baiklah.. Sini pinjam handphone kamu biar aku yang ketik nomernya” “Nih, connect langsung ke w******p dan Dot Messenger”
“Wahh.. Thank you yah..” Dan sekarang Aku dan Miki kembali berhenti didepan sebuah pintu dan saling bertatapan. Duh, kalau bisa aku deskripsikan ya, Lelaki ini punya badan yang cukup tinggi dan berisi dengan rambut lurus coklat gelap yang disisir rapih kesamping, putih, dan mata kebiruan yang indah banget. Bisa aku tebak kalau Miki ini pasti blasteran. Rasanya aku bisa hanyut beradu pandang terus sama dia.
“Leona!” Time out! Sesi menyenangkan tadi harus berakhir oleh datangnya partner kerjaku.
“Aku kayaknya harus masuk duluan deh hehehe partner kerja aku udah dateng tuh..” Sesuatu yang manis-manis emang ga boleh dikonsumsi kebanyakan, jadi aku harus cut sekarang. Walaupun belum puas sih..
“Okedeh.. Bye Leona..” dia melambaikan tangan lalu berjalan menuju ruangan lainnya.
“Bye.. Miki...” Aku masih senyam senyum mandangin Miki sampai aku masuk ke dalam ballroom. Entah bagaimana ceritanya dulu bisa-bisanya aku melewatkannya. Tapi bagaimana bisa ternyata dia yang justru mengenal aku.
“Ehem, senyam senyum aja sih. Pacarnya ya tadi?” Kenalkan, yang mengganggu momen indah tadi ini adalah Mas Hendra, kabarnya dia akan jadi fotograferku setiap kali liputan.
“Bukaan hahaha itu temen kuliah saya Mas,”
“Oh, cakep. Jadiin dong..” katanya sambil menyikut lenganku.
“Hahaha jadiin apanya Mas. Oh ya untuk hari ini gimana?”
“Oh ya nanti kamu akan saya ajak ketemu Wartawan senior kita, dia yang akan banyak jelasin kamu tentang kerjaan kamu dan acara hari ini” Mas Hendra mengajakku bertemu dengan seorang Wartawan yang akan menjadi Leader kerjaku. “Ini dia orangnya..”
“Hai, saya Dewi. Kamu pasti Leona ya? Untuk hari ini kamu ikut terus sama saya ya! Nanti saya jelaskan semuanya..” Seorang perempuan yang tampaknya lebih tua dariku dengan wajah yang nampak tegas berkharisma, terasa dari genggaman tangannya.
“Baik Mba Dewi..” Kami akhirnya duduk di barisan yang lumayan terdepan. Di dalam ballroom yang besar ini ada panggung dengan letter T yang biasa dipakai para model untuk catwalk memperagakan busana, bedanya di atas panggung utama ada meja persegi panjang dengan beberapa alat membuat kue. Menakjubkan, ternyata demo masak bisa jadi semegah ini, sementara Mba Dewi menjelaskan banyak hal mataku tak ada hentinya mengagumi keindahan tata panggung dan megahnya ballroom di hotel ini.
***
Mascarpone adalah salah satu jenis keju yang dibuat dengan krim dari s**u sapi. Karena dibuat dari krim maka teksturnya jauh lebih lembut dan halus dengan warna putih kekuningan khas keju. Biasanya Mascarpone banyak digunakan untuk hidangan penutup seperti belasan cake yang tersaji di acara hari ini.
And i’m in love with Mascarpone..
Like, seriously?! Kemana saja hidupku sampai baru sempat merasakan krim lezat ini?? Sepanjang acara tadi aku benar-benar dimanjakan oleh pemandangan model yang berlenggak lenggok menggunakan pakaian kombinasi warna pink, ungu, krem, dan kerlap-kerlip dengan rok yang mengembang membawakan baki berisi cake yang tak kalah cantik. Setiap tamu yang datang mendapatkan potongan cake tadi dalam bentuk potongan kecil tapi rasanya sanggup membuat lidahku menari kegirangan dimanjakan oleh lembutnya Mascarpone. Sementara di panggung utama ada Chef Nicolasz yang tampan sekali sedang memperagakan cara pembuatan cake yang ditampilkan hari ini. Sungguh pekerjaan yang menyenangkan.
“Gimana Leona? Seru liputan hari ini?” Tanya Mba Dewi setelah memergokiku tak ada habisnya memotret cake yang dipajang disebuah meja kaca besar.
“Hehehe hai Mba, duhh seru banget dan cakenya enak bangeeett” Walaupun sebenarnya ingin berteriak kegirangan tapi aku gak boleh norak.
“Bagus kalo kamu enjoy, kalau gitu sekarang waktunya interview ya. Untuk sekarang ini lo cukup perhatiin gue aja. Lo akan gue kenalin sama chef Nicolasz dan ibu Karina, ketua penyelenggara acara ini” Mba Dewi mengajakku kesalah satu sudut dimana kebetulan Chef Nicolasz dan ibu Karina berada. Mengaggumkan sekali rasanya bisa berdekatan dengan Chef yang membuat mahakarya tadi, dilihat dari dekat ternyata rambut pirang bergelombangnya sungguh menawan. Ditambah lagi matanya yang mengingatkanku..
Doting me!
Sebuah notifikasi muncul ditengah sesi interview
‘Serius banget. Hai, aku teman lamamu di arah jam 3’
Aku menoleh ke kiri dan menemukan Miki diujung sana sedang melambaikan tangan. Manis sekali dan secara otomatis tanganku membalas lambaian tangannya malu-malu.
“So, this is Leona. Our new member..” Kata Mba Dewi sambil menyenggolku dengan siku, sepertinya aku ketahuan tidak fokus.
“Hello, I’m Leona and thank you for a very delicious cake..” Aku menjabat tangan Chef Nicolasz yang ternyata wahh lembut sekali. Aku kembali memperhatikan bagaimana Mba Dewi mewawancarai seorang Chef, hal apa saja yang ditanyakan dan mengamati logat Perancis Chef Nicolasz yang masih terasa asing untukku. Walaupun sebenarnya sebagian dari fikiranku masih ingin bicara banyak hal dengan Miki. Sedikit doang loh ya!
***
Buat ukuran aku yang bahasa Inggrisnya payah, mengamati orang Perancis yang berbicara dalam bahasa Inggris selama 30 menit interview adalah cukup memusingkan. Untungnya, untuk berita hari ini bukan aku yang akan membuatnya dan selepas interview masih ada sesi bebas untuk menikmati beberapa cake cantik yang tadi ditampilkan. Mataku masih asik memandangi cake tadi satu persatu dan akhirnya berlabuh pada cake kecil yang berbentuk lonjong berwarna coklat, entah itu apa namanya.
“Éclair..” Seseorang dibelakangku yang mengatakan, oh ternyata..
“Eh, kamu lagi hehehe tadi kamu bilang apa?” Yup, suaranya Miki!
“Cake yang kamu liatin daritadi itu namanya Éclair, kamu suka?”
“Kok kamu tahu sih? Iyaa! Aku baru pertama kali coba dan ternyata enak bangeett..”
“Mendiang Ibuku orang Perancis, dia suka banget Éclair..” Pantes saja, ternyata mata indahnya itu keturunan dari Mamanya. Tak lama, seorang pramu saji membawa nampan berisikan beberapa Éclair dan menawarkannya kepadaku. Aku mengambil 2 buah Éclair untuk diberikan satu untuk Miki.
“Emang aku boleh ikutan makan?”
“Boleh dong! Kamu membaur aja hahaha..” Ku berikan Éclair yang ada di tangan kananku padanya.
“Hahaha bisa aja kamu, thanks loh ya!”
Kamu mau tau bagaimana rasanya Éclair yang aku makan? Cake ini punya luaran yang renyah seperti kue sus, dengan isian krim Mascarpone yang leembut, gurih manis, lalu dilapisi krim rasa tiramisu diatasnya dengan hiasan potongan kacang hazelnut dan potongan dark chocolate yang tipis. Semua tekstur renyah, dan dinginnya krim yang lembut berpadu di mulut begitu sempurna. Tapi aku ga bisa jabarin gimana rasanya makan Éclair sambil mandangin Miki yang juga asik nikmatin Eclairnya. Manis banget.. Eclairnya hehehe..
“Kamu suka Eclairnya Mik?”
“Suka, enak banget aku udah lama ga makan yang seenak ini! By the way kamu sehabis ini kemana?” dia berkata sambil menjilati tangannya yang terkena krim tiramisu.
“Mm, pulang dong.. Kamu?”
“Sama, mau pulang bareng?” tanya Miki.
“Makasih bangeett, tapi aku bawa motor” Walaupun sebenarnya hatiku berkata lain.
Mau banget! Tahu bakalan begini kan aku gak perlu susah-susah bawa motor sendirian.
“Serius? Kamu berani banget ini udah lumayan malam loh. Aku saranin pulang sekarang loh daripada kamu kemalaman kan bahaya”
“Gitu yah?” Okay aku emang clueless banget sama jalanan Jakarta. “Kamu ga siap-siap pulang?”
“Ini juga aku mau pulang, kamu mau aku anterin dulu sampai parkiran?” katanya sambil menunjukan tas yang ada di bahunya.
“Mmbbolleh hehehe” Kalo boleh jujur, aku sendiri malu dengan sikapku yang sok malu-malu ala ABG begini. Tapi rasanya aku pun gak bisa membohongi diriku kalau aku senang dengan perlakuannya. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Miki banyak bercerita tentang hal yang tak kusadari selama masa kuliah, bahwa ternyata dulu banyak orang yang mengurungkan niat untuk berteman denganku karena aku banyak menutup diri. Kami bercerita satu sama lain seolah memang sudah lama saling kenal.
“Tapi kita termaksud beruntung sih, soalnya aku dengar banyak teman-teman kita tuh belum pada dapat kerjaan” Dia sungguh terdengar begitu ramah, bahkan ketika sedang membukakan pintu untukku dan mengantarku menuju parkiran.
“Iya sih, tapi aku sebenernya ga nyangka bisa ketemu kamu disini..”
“Aku juga... Oh ya Leona..” Mata biru itu menatapku kembali. “Kalo udah sampai rumah, kabarin aku ya..” Tiba-tiba rasanya angin lebih dingin dari biasanya, padahal aku sudah pakai jaket. Perasaanku tadi parkiran terasa pengap tanpa udara, tapi sekarang jauh terasa sejuk.
“Okee deh! Kalau gitu aku duluan yah.. Bye Miki..” Kataku setelah bersiap-siap di atas motor dan melaju keluar parkiran hotel.
Bayangan Miki perlahan mengihilang dari pantulan dari spion motorku. Rasanya seperti memenangkan tiga hadiah sekaligus hari ini, cukup lah untuk mengisi amunisi kesabaran untuk kembali mendengarkan Mba-mba Google Maps selama satu jam kedepan. Tapi ternyata jalanan malam hari ini cukup gelap dan ramai sekal, aku harus tetap fokus.
***
Walaupun sudah bermata empat, dalam keadaan gelap seperti ini rasanya sulit untuk membaca rambu-rambu lalu lintas. Aku hanya bisa mengandalkan suara Mba-mba Google Maps dan insting ‘kira-kira’, menebak kapan harus belok dan petunjuk nama tempat yang ada di papan lalu lintas. Tiga puluh menit berlalu, Google Maps mengarahkanku untuk masuk ke jalur perumahan, menelusuri gang-gang kecil yang sepertinya...
Kok jalan ini lagi...
Aku melewati jalur yang sama selama tiga kali! Waktu sudah semakin malam dan aku juga rasanya semakin kebingungan, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke jalan raya daripada terus-terusan masuk ke gang sempit. Karena ini pertama kalinya aku melewati jalan protokol, aku benar-benar clueless tentang jalur mana yang boleh aku lewati atau tidak, yang aku tau adalah harus cepat sampe rumah.
Priitt.. Priittt...
Good job Leona, jam segini segala pakai acara ditilang..
“Selamat malam, mohon maaf Mba harus kami berhentikan dulu karena sudah melintas di jalur utama. Untuk kendaraan beroda dua sebaiknya menggunakan jalur sebelah kiri..” Seorang polisi berjalan kearahku dan mengarahkan untuk menepi.
“Selamat malam pak, duhh.. Maaf banget tapi saya emang gak tau jalan pak..” kataku sambil membuka helm.
“Tapi memang jalur yang mba pakai ini salah, lagi pula sudah ada rambu-rambu peringatan di awal lajurnya” Benar saja, mata rabunku melewatkan rambu tersebut.
“Tapi pak..” tidak ada jalan lain, semoga caraku yang terakhir ini berhasil. “hari ini pertama banget saya kerja. Saya baru lulus pak, punya uang juga engga..” dengan muka memelas, puppy eyes yang mulai menggenang, dan suara yang sedikit terisak aku berusaha membujuk polisi tersebut untuk mengkasihaniku dan membebaskan aku segera.
“Bapak mau liat isi dompet saya? Beneran buat kerja aja saya tuh kurr...” kataku sambil berusaha membuka tas yang sebenarnya hanyalah basa basi.
“Waduh dasar perempuan hahaha jangan pakai jurus air mata dong. Kamu memang mau ke arah mana?” Polisi tadi menghentikan gerak tanganku.
“Saya mau pulang pak, ke Bekasi” sekali lagi, dengan puppy eyes yang mulai banjir, kali ini aku membuka masker wajahku untuk menunjukan betapa menyedihkannya wajahku sekarang.
“Hahaha haduh Mbanya curang nih, kalau gitu kali ini mba boleh bebas. Selanjutnya tolong jangan diulangi yaa..” yess, akhirnya taktikku berhasil. Setelah itu, polisi tadi memberiku banyak petunjuk jalan yang terdekat agar cepat sampai rumah. Meskipun sebenarnya tadi darahku mendadak berhenti sampai lemas lutut kakiku ini.
Setelah hampir satu jam perjalanan yang membuatku ketakutan dan (malah) menangis, akhirnya aku sampai rumah dengan aman, selamat tak kurang satupun. Kedatanganku disambut dengan Mama yang penuh pertanyaan karena rasa khawatirnya, tapi aku terlalu lapar untuk menjawabnya dan jadilah semua tas dan sepatu ku lempar, ku cuci kedua tangan dan kutentramkan lelahnya perjalanan di meja makan.
***
Mari belajar dari wahana rollercoaster, hidup akan selalu butuh seat belt bagaimanapun rutenya. Sangking senengnya habis cemal-cemil ditemenin Miki, jadilah mata ini ga fokus liat rambu-rambu lalu lintas. Untung pak polisinya baik hati kan hehehehe :3
Doting me!
From : Mikael Antonie J.
Message :
Hi Anak Singa! Udah sampai rumah?
Nah loh! Sangking lapernya tadi sampe lupa kalo ada yang nungguin kabar loh. Aku bukan kegeeran loh ya, pesan tadi buktinya!
Replying Mikael:
Hai Miki! Udah sampai sih dari tadi tapi sempet hampir ketilang huhu.. Kamu sendiri?
Setelah seharian lelah bekerja (gaya, baru juga sehari), tinggalah waktunya aku menikmati waktu untuk berleha-leha di kamar dengan perut yang sudah bahagia a.k.a kenyaanggg. Baru lima menit diri ini merebahkan badan, aku dibuat shock dengan notifikasi telepon yang membuatku terbangun.
Erhm.. Erhmm.. Mari atur suara karena yang telepon malam ini adalah...
MIKI
“Hai...”
“Leona? Are u Okay? Kok bisa ketilang? Kenapa tadi? Terus gimana?,” tanya Miki dengan suara yang terdengar cemas.
“Wow, easy Miki, easy.. Im okay, sudah dirumah.. “
“Okay, glad to know.. Sorry, aku cuma agak khawatir aja pas tadi kamu bilang abis ketilang..”
“Ooh, makasih loh hehehe duuhh maaf ya udah bikin kamu khawatir..” Eh, What? Khawatir?
“You’re Welcome.. Btw, aku ganggu kamu ga?”
Jelas engga lah! Malah aku seneng banget hehehe. Malam ini terasa beda dari biasanya, tidak akan sehening biasanya. Malam ini, aku dan Miki bicara banyak sekali hal lewat telepon, beberapa hal lucu dan tentang diri kami masing-masing. Seru sekali bicara dengan Miki, hingga kami tenggelam dalam waktu dan menikmati percakapan hingga larut malam.