Seminggu berlalu ziya yang hari ini libur tidak memiliki rencana apa pun hari ini di kejutkan datangnya sahabatnya secara mendadak.
Tok..
Tok..
Tok..
Suara ketukan yang terdengar pelan. Ziya yang bersantai di rumah sendiri karena mamanya pergi menemani papa keluar Kota untuk pekerjaan.
Tok..
Tok..
Tok..
Suara ketukan itu sepertinya semakin kencang membuat menggema terasa di telinga ziya. 'Entah siapa sepagi ini yang datang menggangu istirahatku saja'. Ziya berjalan menuju pintu untuk membukanya.
CEKLEK...
Tak pernah menyangka sahabatnya yang berdiri depan pintu dengan beberapa plastik di tangan mereka.
"Kau hanya akan melihat kami, tidak menyuruh masuk,"ucapan itu langsung tertuju padanya yang berdiri di ambang pintu.
"Kalian kok tidak memberitahu ingin kesini,"tanya ziya yang seperti heran bawaan plastik berisi seperti sayuran itu langsung ke arah dapur.
"Masak bersama,"jawab lita begitu semangat membuat ziya mengeryit.
"Iya dokter ziya pratiwi Kita masak bersama,"sambung Ines.
"Tadi mama kau menelpon, dia khawatir kau sendiri di rumah makanya kami berencana untuk masak bersama di rumahmu."jelas Nathan.
Lita merangkul sahabatnya dengan erat."bukannya kita sudah lama tidak masak bersama. Terakhir kali itu saat setelah kelulusan sekolah dulu."kata Lita.
Ziya sangat bahagia karena setelah seminggu sahabatnya berkunjung menemaninya yang saat ini dirumah sendiri. Ziya memang dari dulu senang memasak karena kesibukannya sekarang terkadang tak sempat memasak.
"Jadi apa yang kita masak"tanya ziya bersemangat.
"Bagaimana sup daging sapi sepertinya lezat,"ucap Ines.
"Wah sepertinya tidak buruk. Seandainya Ada Arta pasti dia akan bersemangat sekali."kata ziya seraya memotong daging yang telah di rebusnya.
"Oh iya Arta sangat menyukai sup daging sapi,"Tanya Lita.
"Iya dia semangat sekali kalau memakannya."ujarnya.
Ziya sangat mengetahui saat ini ia begitu merindukan Arta sehingga saat masak saja mengingat Arta. Wajar saja Arta pergi hampir sebulan berlayar kali ini. Entah kapan Arta kembali ia sendiri tidak pernah tahu.
"Kau rindu ya dengan arta,"ledek Nathan.
Ziya tak menjawab, menurutnya tidak terlalu penting jika Arta saja tidak Ada di hadapannya. Wanita itu tiba-tiba menatap Nathan yang hanya sibuk dengan tab miliknya. Terlintas pertanyaan yang tiba saja menggangu pikiran Nathan.
"Nathan kau tahu kenapa Arta begitu benci jika aku berdekatan denganmu,"
Nathan mengeryit kebingungan harus menjawab apa. 'Jujur saja Aku sendiri tidak bisa memastikan kebencian apa yang Arta miliki saat ini padahal sebelumnya Aku dan Arta memiliki ikatan begitu kuat,'
Melihat Nathan yang malah terdiam tanpa menjawab apa pun. Ziya sedikit kesal kepada pria bernama lengkap Nathan Anugraha Malik.
"Nathan" panggil ziya. Nathan masih terbuai lamunannya seperti tidak mendengar panggilan ziya tersebut.
"NATHAN.."teriak ziya mampu rasanya membuat gendang telinga Ines dan Lita bergema. Nathan yang tersadar dari lamunannya menoleh ke arah ziya.
"Aku sedang bertanya kenapa tak menjawab."ucap kesal.
"Aku tak Ada jawabannya, Aku sendiri tidak tahu,"elaknya lalu menyibukan diri dengan gamenya. Karena Nathan memang tidak pernah mengetahui hal berbau dapur berbeda dengan arta yang mandiri.
Aroma begitu harum masakan ziya dan di bantu kedua temannya membuat Nathan merasakan sangat lapar.
"Wah.. ziya masakan kau tampaknya enak sekali,"puji Nathan tak sabar mencicipinya. Ziya tersenyum,"kau suka sup daging Nathan,"tanya ziya karena ia belum pernah melihat Nathan memakan sup daging.
"Tidak terlalu, tapi aku tetap memakannya. Kau tahu ziya dari kecil ayahku selalu memaksa memakan ini."jelas Nathan.
"Kenapa!?"tanyanya lagi.
Nathan tersenyum "karena ayahku sangat menggemari ini, dulu waktu kecil ibuku sering kali memaksa sup daging untuk Ayah, kadang Aku merasa sangat bosan. Tapi mau bagaimana ibu sangat suka jika melihat Ayah bersemangat." ceritanya.
"Bundamu yang kau maksud, tidak biasa memanggilnya ibu."kata Lita membuat Nathan tertegun.
Nathan menghela napas begitu panjang. Ia bingung harus menjawab apa. 'aduh entah kenapa tiba-tiba mengingat ibu. Bagaimana kabar wanita yang telah melahirkanku,' Serasa begitu banyak jarum menusuknya, matanya mulai berkaca membuat Ines menyadari Ada sesuatu yang membuat Nathan terdiam.
Ines mendekat Nathan yang duduk terdiam. Ines menyenggol sedikit lengan Nathan yang gagah. "Hmm kenapa!? Sepertinya Ada suatu yang terpendam."ucap Ines seperti merasakan sakit melihat kesedihan Nathan.
Nathan tersenyum tipis "aku tidak apa-apa. Aku hanya mengingat kenangan suatu yang belum bisa kembali."jawabnya.
"Hah sudah tidak perlu di pikirkan."lanjut Nathan menahan Luka hatinya.
Masih menyiapkan untuk meja makan. Tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu rumah ziya.
Tok..
Tok..
Tok..
Mereka mendengar jelas suara ketukan itu.
"Zi Ada tamu tu ucap Nathan,"melihat ke arah pintu.
"Mungkin tante pulang.,"sahut ines.
"Tidak mungkin mama, karena beliau pulang besok.,"jawab ziya. Ia diam sejenak seperti berpikir 'mungkin itu tetangga' batin ziya merasa penasaran.
"Nathan, Aku masih sibuk membereskan meja. Tolong kau saja buka pintu, dari tadi kan kau bersantai."kata ziya.
Nathan menoleh ziya "memang tidak apa," tanya Nathan sedikit tidak enak. Ziya tetap memaksa. "Tidak apa buka saja."
Nathan berjalan membuka pintu atas permintaan ziya yang sibuk dengan dapurnya bersama kedua sahabatnya. Dengan perlahan Nathan membuka pintu. Begitu membuka Nathan terkejut kehadiran seorang tak asing bagi kehidupannnya.
"Kau..!!! Kenapa kau yang buka pintu?!"tanya seseorang yang penuh tekanan.
Nathan masih belalakan melihat orang di hadapannya yang sedarah dengannyaa. "Arta kau sudah pulang,"katanya sedikit ragu. Wajah arta yang terlihat amarahnya rasa meledak namun sedikit mereda saat mendengar teriakan seorang yang di cintainya.
"Nathan siapa yang datang,"teriak ziya dari dapur yang lumayan agak jauh dari luar rumahnya.
'hai Nathan apa kabar?"tanya Tama yang berada di belakang Arta saat itu.
"Bg Tama kau ternyata. Baik.. lama tak bertemu,"sahut nathan. Arta yang masih melihat sinis adiknya tersebut. "Panggil Tama saja, kau masih kaku seperti baru kenal saja,"kata tama sedikit geli menahan tawa melihat Nathan yang wajahnya begitu konyol saat ketakutan pada Arta.
"Hah.. sudahlah. Basa Basi kau sangat tidak enak."kata arta menjitak tama berhasil membuatnya meringis kesakitan.
"Nathan siapa,!? Kenapa diam saja.?"teriak ziya terdengar. Arta sangat tak tahan langsung saja masuk.
Arta perlahan masuk mengendap-ngendap seperti pencuri. Ia mendekati ziya yang sibuk menyiapkan makanan telah di masaknya. Sedangkan Ines dan Lita melihat Arta di belakang ziya. Arta seolah memberi kode agar kedua orang tersebut diam.
"Sepertinya kau memasak kesukaanku,"seseorang membisik dekat di telinga ziya. Ia berbalik melihat wajah orang tersebut. "Arta..!! Sayang kau disini" kebahagiaan terpancar di wajah ziya. Langsung saja dia memeluk kekasih yang sangat di rinduinya.
Arta membalas pelukan ziya, ia mendekap peluk kekasihnya. "Sayang kau lama sekali bahkan Aku susah menghubungimu."ucapnya manja tak ingin melepaskan pelukannya.
"Hmmm" Tama mendehem melihat sepasang kekasih yang mencurah kerinduan mereka.
"Ck..ck..bisa-bisa kalian bermesraan di depan para jomblo seperti Aku." Ucapnya kembali.
Arta dan ziya melepaskan pelukan mereka mendengar ocehan Tama. Ziya tersenyum "ternyata kau juga datang Tama,"
"Belum saja sampai rumah dia memintaku mengantar kesini."sahutnya. Ziya menggeleng kepalanya "sayang kau merepotkan Tama,"
"Mau bagaimana lagi sayang, Aku sudah tidak tahan. Rindu sekali ingin mencubit pipi kenyalmu ini."ucap arta sembari mencubit ziya.
Ziya memegang pipinya kesakitan."aduh sakit Arta,"merengek ziya.
Ziya, Arta dan sahabatnya makan yang telah di siapkan ziya.
"Ayo makan ziya sudah memasak sup sangat lezat,"ujar Lita yang ingin segera menyantap makanan tersebut.
Ziya tersenyum kecil mendengar perkataan Lita. "Lita kau sangat berlebihan,"seru ziya.
"Nathan itu sayur capchay kesukaanmu. Karena kau Tak suka sup Aku masakkan itu."ucap ziya kembali.
Arta menatap tajam menunjukkan kecemburuannya. 'oh my God Aku tak mungkin bersaing dengan Nathan adikku sendiri'.
Arta menghela nafas panjang 'tenang..tenang arta, ziya Hanya memcintaimu'. Arta menatap ziya penuh rasa cinta. Tatapan Arta disadari ziya. "Kenapa hah?!" Ucapnya mengangkat alisnya.
"Tidak Sayang,"tersenyum Arta. Arta duduk tepat di samping ziya.
"Aku cantik ya,"bisik ziya di daun telinga Arta membuatnya merasa gemetar menatap ziya.
Ziya tersipu malu saat arta menatapnya begitu dalam. Arta tak bisa menahan dirinya ia tak henti menatap ziya bahkan tak peduli saat ini mereka Ada di meja makan.
"Apa kalian berdua kenyang saling memandang seperti itu,"canda tama membuat semua tertawa bahak. Ziya semakin memerah pipinya. "Kalian jangan seperti itu, lihat wajah dokter ini jadi semakin merah,"sahut Arta pun meledek kekasihnya.
"Sudahlah habiskan makanan kalian,"jawabnya merajuk.