Tapi aku tidak janji, apakah hati ini bisa membuang rasa cinta untuk Kakak. Sejujurnya hatiku tetap untuk Kakak, karena hatiku sudah memilih Kakak untuk aku suka dan cintai.”
~ Aluna Anastasya ~
Aluna melihat orang-orang yang ada di sekitarnya, dia terus memperhatikan mereka, tapi dia tak merasakan kejanggalan apa pun.
Udah Lun nggak usah dipikirin lagi SMS dari orang yang nggak jelas itu. Fokus jauhin Kak Bryan biar nggak sakit hati, batin Aluna.
Aluna sekarang fokus memperhatikan pelajaran Matematika, yang gurunya terkenal killer. Tanpa pemberitahuan apa pun, sang guru mengadakan ulangan. Semua siswa kaget bukan main, tapi tidak dengan Aluna yang memang menyukai matematika. Dia bisa mengerjakan setiap soal yang diberikan gurunya.
Aluna mengerjakan ulangan itu dengan tenang, sampai semua soal selesai dia kerjakan. Kedua sahabatnya hanya geleng-geleng kepala. Mereka memperhatikan Aluna yang nampak senang dan tenang saat ulangan sudah selesai dia kerjakan. Dia pun tersenyum bahagia.
“Wah, gue nggak nyangka lo bisa setenang itu ngerjain ulangan Matematika, Lun. Gue tahu lo pasti bisa ngerjain, karena lo jagonya Matematika,” kata Adara.
Aluna hanya tersenyum sinis menatap Adara yang nampak berantakan karena harus bekerja keras mengerjakan ulangan Matematika. Sama halnya dengan Bella yang sama-sama berusaha keras menyelesaikan soal Matematika.
“Makanya belajar yang giat, seenggaknya tiap malam baca buku catatan kalian. Aku juga sama kayak kalian cuma bedanya aku lebih rajin mencatat, karena itu bisa buat belajar dan nggak akan merugikan. Justru mencatat bisa membuat kalian mengingat pelajaran yang sudah diajarkan,” balas Aluna menasihati kedua sahabatnya.
Ulangan telah usai, jam pelajaran pun selesai, dan murid-murid pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa, Aluna tak mau ikut naik mobil Kakaknya, dia sengaja naik busway agar bisa melihat wajah cowok es yang sudah mengisi ruang hatinya.
Aluna duduk di bangku belakang yang merupakan tempat favoritnya. Dia sengaja duduk di sana karena posisinya sangat strategis untuk memperhatikan Bryan yang selalu duduk di bangku depan. Bryan selalu duduk diam, sambil mendengarkan musik seperti yang dilakukannya saat ini. Bryan sebenarnya anak orang kaya. Namun, dia tak suka menggunakan kendaraan mewahnya ke sekolah. Bryan lebih nyaman menggunakan fasilitas umum. Mungkin dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang biasa seperti yang lainnya.
Berada di dekatnya, selalu bisa membuatku nyaman sekaligus jantungan karena jantungku berdetak tak beraturan apabila aku di dekatnya, batin Aluna sambil memperhatikan Bryan.
Saat Aluna sedang asyik memperhatikan Bryan, tiba-tiba ada pesan whatsppp masuk ke handphone-nya. Aluna sangat kaget membaca pesan dari nomor yang selalu menerornya. Akhirnya Aluna memutuskan untuk menamai nomor itu dengan sebutan “Teror Misterius“.
From : Teror Misterius
SELAGI MASIH ADA KESEMPATAN UNTUKMU MEMANDANGNYA, NIKMATILAH! JANGAN BERHARAP UNTUK SELANJUTNYA KAMU AKAN MUDAH UNTUK MELIHATNYA LAGI! HIDUPMU TIDAK AKAN TENANG ALUNA!
Setelah membaca pesan itu, Aluna langsung memasukan handphone-nya ke dalam tas. Dia melihat kanan dan kirinya, tapi tidak tampak ada yang mencurigakan di sana.
Siapa sih pengirim pesan ini? Selalu aja bikin aku was-was, apa dia ada di dekatku sampai dia tahu keadaanku? batin Aluna.
Aluna yang sedikit takut setelah menerima pesan tersebut, langsung turun dari busway yang memang sudah berhenti di halte yang berada di dekat rumahnya. Dia segera turun, meskipun sempat melirik ke arah Bryan yang masih asyik mendengarkan musik.
Ternyata saat Alun turun dan berjalan menuju rumahnya yang tidak jauh dari halte, diam-diam Bryan memperhatikan Aluna dari kaca jendela.
Ternyata dia masih nggak nyerah buat dekat sama gue sampai dia nggak sadar, kalau sebenarnya gue tahu dia ada di belakang gue dari tadi, tapi gue pura-pura nggak tahu, batin Bryan memandangi Aluna yang sedang berjalan menuju rumahnya.
***
Sesampainya di rumah, Aluna langsung menuju kamar dan berbaring di ranjang. Dia segera mencurahkan isi hati dan pikirannya ke dalam diary-nya—kegiatan yang biasa dia lakukan. Namun, terkadang dia bercerita kepada Arga--kakaknya.
Dear Diary,
Aku sudah bahagia di sini, tapi aku merasa kebahagianku menjadi penyebab penderitaan orang yang aku sayangi, orang yang menjadi bagian dari hidupku. Entah kenapa sampai sekarang aku belum berani menemuinya, tapi aku merasakan penderitaannya. Saat dia sakit, aku juga merasakan sakit. Aku belum berani menemuinya, tapi aku janji akan menemuinya secepatnya. Sekarang aku merasa gelisah sekaligus takut, karena beberapa bulan belakangan--setiap hari aku selalu mendapatkan pesan yang berisi teror misterius. Awalnya, aku anggap tak penting, tetapi semakin lama pesan itu semakin membuatku takut. Bagaimana caranya menghadapi teror itu? Di sisi lain, Bryan, cowok yang aku cintai memintaku untuk menjauhinya. Namun, hati ini belum bisa menjauhinya, sebaliknya selalu ingin berada di dekatnya.
Tepat setelah Aluna selesai menulis di diary-nya, Arga masuk ke kamarnya. Arga memang terbiasa melakukan hal itu, tapi tetap saja membuat Aluna kaget melihat kedatangan Arga.
“Cie, lagi curhat apa nih sama si diary? Kenapa nggak curhat sama kakak aja? Kakak nggak bakal ember kok,” goda Arga.
Aluna langsung menyimpan diary-nya ke dalam laci meja belajarnya supaya Arga tidak semakin penasaran dengan apa yang dia tulis di sana.
“Kepo banget sih, Kak Arga! Urusanku lah mau nulis apa? Itu diary aku, privasiku!” kata Aluna.
Arga yang melihat ekspresi kesal Aluna menjadi gemas. Arga sengaja membuat Aluna kesal agar terlihat lebih lucu.
“Gemesin banget sih Adik gue ini ...” goda Arga sambil mencubit pipi Aluna.
“Aw, sakit Kak!” rintih Aluna.
Arga menghentikan cubitan di pipi Aluna saat melihat ekspresinya yang semakin kesal.
“Sorry, Dek, habis gue gemes sama lo,” kata Arga.
Saat mereka berdua sedang asyik bercanda, tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk ke kamar Aluna.
“Sayang, mama dengar besok kamu studytour ke Bandung, ya? Mama udah siapin keperluan kamu di koper ini, ya. Jangan lupa jaga kesehatan ya Sayang,” kata Wulan.
Aluna mengecek isi koper, yang sudah berisi semua keperluannya untuk studytour. Namun, dia kaget karena melihat begitu banyaknya barang yang disiapkan mamanya.
“Mah, ini kebanyakan. Aluna pergi cuma tiga hari, kenapa bawa banyak barang? Aku nggak mau teman-teman aku anak mama dan nggak mandiri. Jadi, ini Aluna kurangin barang bawaannya,” kata Aluna mengeluarkan beberapa baju yang menurutnya tidak perlu dibawa.
Wulan sempat protes, tapi keputusan Aluna selalu tidak bisa diganggu gugat. Arga hanya tersenyum melihat kedua orang yang ada di depannya itu berdebat. Cowok itu tahu sifat mamanya yang terlalu protektif kepada anaknya.
***
Keesokan paginya, Aluna terpaksa menuruti keputusan mamanya. Dia tak bisa menolak permintaan mamanya yang memaksa mengantarkannya ke sekolah.
“Bye Mama, Aluna bakalan jaga diri kok, tenang aja,” kata Aluna tersenyum ke arah mamanya yang nampak khawatir dengannya.
Aluna justru terus tersenyum, sambil melambaikan tangan ke arah mamanya. Dia melakukan itu agar mamanya tidak mengkhawatirkannya lagi.
Sebelum Aluna menaiki bus yang akan membawanya ke Bandung, dia menyempatkan diri menghampiri Bryan yang sedang latihan basket.
“Selamat pagi Kak Bryan, aku boleh ngomong sebentar nggak sama Kakak? Empat mata?” pinta Aluna.
Bryan melirik ke arah teman-teman dan juga pelatihnya. Dia meminta ijin untuk berbicara dengan Aluna.
Akhirnya, pelatih basket Bryan mengijinkannya berbicara dengan Aluna yang nampak ingin sekali berbicara dengan Bryan sebelum dia pergi ke Bandung. Bryan langsung tanpa basa-basi menanyakan apa yang ingin dia bicarakan.
“To the point aja , cepetan lo mau ngomong apa sama gue?” kata Bryan.
Aluna masih berusaha tersenyum, walaupun jujur dia cukup sakit mendapati Bryan terlihat tak ingin bertemu dengannya.
“Aku cuma mau pamit doang kok Kak, jangan khawatir. Setelah ini, aku janji akan berusaha ngejauhin Kakak, aku juga akan melupakan Kakak,” kata Aluna.
Bryan hanya diam menatap Aluna yang nampak serius dengan kata-katanya itu.
“Ok, baguslah kalau begitu,” kata Bryan menanggapi Aluna.
“Tapi sebelum aku pergi, aku boleh meluk Kakak nggak?” kata Aluna meminta ijin memeluk Bryan.
Bryan mengangguk, tanda mengijinkan Aluna memeluknya sebelum Aluna pergi ke Bandung. Gadis itu tersenyum, dia senang mendengar Bryan mengijinkan memeluknya, tanpa pikir panjang dia langsung memeluk Bryan dengan erat.
“Jaga diri Kakak baik-baik, aku janji akan berusaha menjauh dan melupakan Kakak,” kata Aluna.
“Kakak hari ini bertanding basket, ya? Kalau gitu semangat ya Kak. Aku doain Kakak dari jauh, aku yakin pasti tim basket sekolah kita menang,” kata Aluna.
Bryan hanya diam, menikmati pelukan Aluna yang sangat erat, seperti tak ingin melepasnya. Dia merasa seolah gadis itu seperti akan pergi jauh dan lama.
“Tapi aku tidak janji, apakah hati ini bisa membuang rasa cinta untuk Kakak. Sejujurnya hatiku tetap untuk Kakak, karena hatiku sudah memilih Kakak untuk aku suka dan cintai,” bisik Aluna sambil melepas pelukannya kepada Bryan.
Aluna tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Bryan yang masih diam, sedangkan Bryan menatapnya tanpa kata saat Aluna memasuki bus itu bersama teman-temannya.
***
Beberapa jam kemudian, Aluna beserta teman-temannya sudah sampai di Bandung. Mereka langsung masuk ke kamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka semua.
Aluna duduk di sofa yang berada di balkon kamar hotel. Dia tersenyum, saat menonton sesuatu di handphone-nya. Gadis itu nampak bahagia, melihat Bryan memasukan bola berkali-kali ke ring lawan. Ya, dia sedang menonton pertandingan basket sekolahnya.
“Cie, ada yang senang banget nih nonton pangerannya tanding basket dan menang,“ goda Adara.
“Iya Lun, sampai lo nggak ingat waktu buat kumpul,“ kata Bella.
Aluna langsung menoleh, lalu menatap tajam ke arah Adara dan Bella. Mereka memberi tahu kalau sudah waktunya untuk memulai kegiatan studytour.
“Ya ampun sekarang udah waktunya untuk kumpul, ya? Sorry, aku lupa guys,” kata Aluna.
Mereka langsung pergi dan berkumpul untuk mendengarkan arahan petugas yang akan memberi tahu mana saja tempat yang akan dikunjungi. Mereka di beri tahu waktu dan tempat yang akan mereka kunjungi selama kunjungan wisata yang baru akan dimulai keesokan harinya.
Pada malam hari, semua murid berada di kamar, entah beristirahat atau menikmati waktu. Aluna membuka laptop-nya, mengisi kekosongan waktunya dengan menulis daripada bergosip ria dengan teman-temannya. Namun, saat sedang asyik dengan laptop-nya, tiba-tiba handphone-nya bergetar tanda ada pesan masuk.
From : Teror Misterius
HIDUPMU TIDAK AKAN TENANG! AKU AKAN SEGERA MELENYAPKANMU!!
Aluna yang sedikit takut saat membaca pesan itu, langsung memasukan handphone-nya ke kantong celananya. Lalu, dia mencoba memejamkan matanya untuk istirahat.
“Lo kenapa, Lun? Kok muka lo jadi pucat gitu habis lihat handphone lo?” kata Adara.
Aluna berusaha tenang menatap Adara yang ternyata sedari tadi memperhatikannya.
“Aku nggak apa-apa, cuma kecapean kayaknya. Aku tidur duluan ya,” kata Aluna.
Adara dan Bella nampak curiga dengan Aluna yang kelihatan gelisah. Namun, mereka percaya setelah mendengar penuturan gadis itu yang mengatakan keadaannya baik-baik saja.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aluna sudah keluar dari kamarnya untuk jalan-jalan, menikmati udara pagi di taman yang cukup ramai. Namun, tiba-tiba dia melihat seseorang sedang di-bully di pojokan sebuah gedung dekat taman. Dia kaget melihat orang itu, yang ternyata dia kenal.
“Itu kan ...”