Dengan cara seperti ini, aku bisa memandangi cowok es itu yang sampai sekarang belum bisa aku cairin hatinya yang beku.”
~Aluna Anastasya ~
Di sebuah kamar, seorang gadis sedang melamun memikirkan beberapa hal yang memenuhi otaknya selama ini. Dia selalu mencurahkan isi hati kepada diary kesayangannya yang menjadi tempat curhatnya, tiba-tiba seseorang dengan seenaknya masuk ke kamar gadis itu tanpa permisi, dan hal itu sudah menjadi kebiasaannya.
“Cie lagi nulis apa sih, Dek? Pasti lagi curhat lagi tentang Bryan yang selalu cuek sama lo, ya?” kata seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamar cewek itu.
Cewek itu kaget mendapati seseorang masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung cepat-cepat menutup diary-nya, lalu memasukannya ke laci meja belajar. Gadis itu langsung menatap tajam ke arah seseorang itu.
“Ish, Kak Arga selalu aja jahil, udah gitu pasti main masuk kamar aku, mau ngapain sih?” kesal gadis itu kepada kakaknya yang ternyata bernama Arga.
Arga tersenyum lalu mengacak rambut adiknya yang sedikit bergelombang dan berponi di depan.
“Udah kebiasaan, Dek, “ kata Arga.
“Kebiasaan sih kebiasaan, tapi Aluna kaget ,Kak,” kata gadis itu yang ternyata bernama Aluna.
Aluna terdiam sejenak menatap Arga yang sedang menatapnya juga, lalu memulai pembicaraan lagi.
“Kak, kalau seandainya aku punya kembaran gimana? Kakak bakalan pilih aku apa dia buat dijadiin adik?” tanya Aluna.
Arga terdiam sambil memandangi Aluna yang terlihat sangat penasaran dengan jawabannya. Arga yang melihat ekspresi penasaran Aluna, mempunyai ide untuk mengerjai Aluna.
“Kakak nggak akan pilih keduanya, soalnya satu Aluna aja udah bikin pusing apalagi ditambah satu lagi yang jutek dan galak kayak lo, Dek,” kata Arga.
Aluna terdiam, sedangkan Arga tertawa melihat ekspresi Aluna yang terlihat murung mendengar jawabannya.
“Ish ... kakak bercanda kali Dek, lagian ngapain lo nanya kayak gitu ke kakak. Udah nggak usah dibahas lagi mending lo tidur, udah malam,” kata Arga.
“ Iya, Kak.”
“Good night jutek,” kata Arga sambil meninggalkan Aluna yang sudah duduk di ranjangnya.
Aluna yang mendengar perkataan itu, langsung melempar bantalnya ke arah cowok itu. Arga yang terkena lemparan bantal Aluna, kemudian melempar balik bantal itu ke arah Aluna yang sudah berbaring di ranjangnya.
“Udah malam tidur, jangan stalking i********:-nya Bryan mulu ya, Dek,” kata Arga.
Aluna hanya tersenyum ke arah Arga yang sudah berdiri di pintu kamarnya.
“Sudah, sana balik ke kamar Kakak,“ balas Aluna.
Setelah kepergian Arga, tiba-tiba handphone Aluna bergetar tanda ada pesan masuk. Namun, gadis itu dengan cepat meletakan handphone-nya, lalu berusaha memejamkan mata dan tidur.
***
Keesokan paginya, seperti biasa Aluna pergi ke sekolah menggunakan busway--salah satu alat transportasi umum. Hal itu menjadi kebiasaan Aluna agar dia bisa memandangi cowok yang dia sukai sejak awal masuk sekolah.
Dengan cara seperti ini, aku bisa memandangi cowok es itu, cowok yang sampai sekarang belum bisa aku cairin hatinya yang sudah membeku, batin Aluna yang duduk sambil mendengarkan musik dengan earphone-nya.
Mendengarkan musik sambil memandangi cowok yang dia suka merupakan hal yang sangat membuatnya bahagia, walaupun disisi lain, sebenarnya dia merasakan sebaliknya.
Saat masih asyik memandangi cowok itu, tiba-tiba hanphone Aluna bergetar karena ada pesan masuk. Dia sedikit was-was saat melihat pesan dari seseorang, hal itu dikarenakan beberapa bulan belakangan ini ada teror yang dia terima dari seseorang melalui pesan ke handphone-nya.
From : 08574721xxxx
Selalu merasa senang padahal ada rasa sedih yang lo rasakan, itu akan menjadi bom waktu buat lo.
Aluna kaget, pesan yang diterimanya adalah benar dari seseorang yang menerornya. Dia menatap ke kanan dan kirinya, memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Namun, mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing.
Saat Aluna masih terpaku pada sms yang diterimanya, ternyata busway yang ia naiki sudah sampai di halte yang berada di dekat sekolahnya. Tanpa dia sadari ada seseorang yang menepuk bahunya dan menyadarkannya dari lamunan.