Devin POV
Sesuai dengan janjinya, Devin menjemput Silvi di rumahnya dan mengajaknya makan siang di Anchor Café. Ia bahkan tidak menolak diajak Silvi selfie bersama. Meski masih dingin, tapi ia berusaha sebaik-baiknya agar tidak terlalu jutek. Biar bagaimanapun, urusannya dengan ST Shipyard sedikit banyak bergantung dengan hubungannya dengan Silvi juga. Berdua mereka menikmati makan siang, dengan Silvi kebanyakan yang memulai topik pembicaraan, dan Devin hanya menjawab seperlunya. Ntah kenapa tiba-tiba ia teringat Maya, yang tak pernah banyak bicara dengannya. Bagaimana ya kabar tetangganya itu? Devin sudah lama tidak mengunjungi Maya untuk sarapan lagi karena ia sengaja menghindari gadis misterius itu, agar tidak terlalu gusar memikirkannya. Tapi terkadang Devin akui, ia rindu masakan dan kopi buatan Maya. Ia juga kangen dengan perlakuan Maya yang cueknya melebihi dirinya.
What the heck is wrong with me? Devin menggelengkan kepalanya kencang-kencang, berusaha menjauhkan imaji Maya dengan hoodienya dari pikirannya.
“Kenapa mas?” Komentar Silvi. “Kok tiba-tiba geleng kepala gitu. Lagi ada pikiran ya?”
“Ah, ngga kok.” Devin meneguk kopinya. “Sori, kamu ngomong apa tadi?”
“Nggak, aku seneng aja lunch sama mas Devin.” Silvi tersenyum. “Habis ini kita kemana, mas?”
“Pulang.”
“Loh, kok pulang? Mana ada orang ngedate makan doang terus pulang. Nonton yuk.”
“Nggak.” Tolak Devin, tegas. “Aku janji sama Pak Sudibyo cuma makan siang.”
“Ya udah.” Silvi membelai paha Devin di bawah meja. “Kita ke suite mas Devin aja.” Ia berbisik, sembari mencondongkan badan ke arah Devin, mempertontonkan belahan dadanya dengan sengaja.
“Sil..” Devin menggigit bibirnya. “Sudah kubilang jangan main-main soal itu.”
“Aku serius lho. Apa mas Devin takut gak bisa ngimbangin aku nanti di kamar?” Bisik Silvi lagi. Tangannya yang di bawah sudah semakin dekat dengan bagian sensitif milik Devin, membuatnya menahan nafas, nafsunya tiba-tiba meningkat.
“Aku ke toilet dulu.” Devin beranjak dari kursi, tapi Silvi menahan tangannya.
“Jangan dikeluarin sendiri ya, biar nanti sama aku aja.” Wanita muda ini mengedipkan mata, dengan perkataannya yang penuh makna. Devin melengos, berusaha menahan dirinya sendiri dan berlalu ke arah toilet café.
Devin lalu mencuci mukanya berulang kali, berusaha menurunkan sesuatu yang telah menegang karena perlakuan Silvi barusan. Devin memang playboy, tapi dia selalu berhati-hati agar tidak bermain dengan para wanita yang dicalonkan oleh keluarganya menjadi istrinya. Ia hanya main dengan perempuan tak dikenal yang mendekatinya di La Bella Vita atau escort yang disediakan oleh sekretarisnya. Tapi baru kali ini ada calon yang seliar ini dengannya. Masalahnya Devin belum yakin akan serius dengan Silvi, jadi dia tak mau membuat masalah dengan gadis itu, meskipun Silvi sendiri yang berulang kali mengajak Devin ke suitenya.
Setelah beberapa saat, Devin akhirnya keluar dari toilet kafé, dan baru akan kembali ke mejanya saat melihat seorang wanita berhoodie yang familiar, duduk sendiri di pojokan kafe sembari membaca buku.
“Maya?” Tanpa sadar, Devin sudah menghampiri dan menyapa Maya.
“Eh, mas Devin!” Maya tersenyum. “Disini juga ya?”
“Iya, gue lagi makan sama… temen.” Jawab Devin. “Lo sendirian?”
“Saya ada janji juga, tapi orangnya udah jam segini gak datang-datang.” Balas Maya, santai seperti biasa. “Paling kalau dia gak datang juga, bentar lagi saya pulang.”
“Oh..” Komentar Devin pendek. Ia baru akan bertanya lagi ketika mendengar seseorang menyapa mereka.
“Mbak Maya? Pak Devin?” Devin menoleh dan melihat Gilang berdiri di dekatnya, membawa kopi dan makanan dalam paper bag.
“Eh, mas Gilang!” Maya terlihat sumringah. “Duduk mas!” Maya menggestur kursi di sebelahnya. Gilang tampak rikuh, dan Devin langsung paham harus melakukan apa. Sepertinya janji Maya sudah datang.
“Saya harus kembali ke meja saya. Mari pak Gilang, Maya.” Ujarnya sebelum berlalu.
“Oke mas Devin, bye!” Maya melambaikan tangannya. Dan lagi-lagi, Devin kembali memikirkan apa hubungan Maya dan Gilang sebenarnya.
Maya POV
“Mas Gilang, kesini bukan karena disuruh kakek saya kan?” Tanya Maya pada Gilang ketika Devin sudah berlalu dari hadapan mereka.
“Hah?” Gilang mengerjapkan matanya, bingung. “Bukan mbak. Saya memang doyan kopi dan apple pie disini.” Ia mengacungkan kedua tangannya, menunjukkan makanan dan minuman yang baru ia beli dan akan bawa pulang.
“Oh, syukurlah.” Maya terkekeh.
“Memang kenapa, mbak Maya?”
“Saya harusnya ada janji sekarang dengan orang yang mau dikenalin sama kakek saya. Tapi sudah lewat satu jam orangnya gak muncul-muncul. Malah mas Gilang yang muncul, jadi saya kira kakek saya masih bersikeras mau menjodohkan saya sama mas Gilang. Padahal saya sudah kasihtau kakek saya kalau mas Gilang sudah ada calon. Tapi kakek saya kadang suka gak mau denger. Untung kali ini beliau mau dengerin saya.”
“Ooh.” Kali ini Gilang yang tertawa. “Iya, bukan saya kok mbak Maya. Malah saya kira tadi mbak Maya sedang makan berdua dengan Pak Devin. Makanya saya gak enak mau ganggu.”
“Mas Gilang kenal juga ya sama Mas Devin?”
“Iya, kantor Daewoo Batam kan di Dubil, mbak. Pak Devin kan direkturnya.”
“Ooh..” Maya mengangguk-angguk. Benar berarti kata Gina.
“Mbak Maya sendiri, kenal Pak Devin dari mana?”
“Beliau tetangga saya, pak. Kami pernah bertemu beberapa kali.” Jelas Maya. Gilang mengangguk, dan mereka terdiam beberapa saat.
“Orang yang mau dikenalin oleh Pak Sudibyo, bukannya Pak Devin ya mbak?” Celetuk Gilang lagi.
“Hah?” Maya terperanjat. “Memangnya Kakek kenal juga ya sama mas Devin?”
“Kenal, mbak. Pak Devin juga satu klub golf.” Jelas Gilang.
“Tapi Mas Devin gak tahu saya cucu kakek, deh. Dan Kakek juga gak tahu saya tetanggaan sama mas Devin. Lagian katanya tadi mas Devin makan bareng temen kok.”
“Oh, berarti bukan ya.” Gilang mengangguk-angguk.
“Bukan sih kayaknya.” Komentar Maya. “Hmm.. sudah lama juga nih saya nunggu. Mungkin sebentar lagi saya pulang saja. Mas Gilang mau pulang duluan?”
“Nggak mbak, saya gak buru-buru. Biar saya temani dulu saja.” Gilang meletakkan kopinya, lalu mengeluarkan pie dari paper bagnya. “Mbak Maya mau? Saya juga beli brownies.”
“Boleh deh, mas Gilang!” Maya menerima brownies dari Gilang. “Mas, panggil saya Maya aja boleh gak? Kan saya lebih muda, seumur Gina.”
“Tapi saya gak enak, sama pak Sudibyo.” Komentar Gilang.
“Justru saya yang gak enak, dipanggil mbak sama mas Gilang yang lebih tua.”
“Ya sudah, kalau begitu. Maya.”
“Gitu dong.” Maya tersenyum lebar, sementara Gilang terkekeh.
Devin POV
Interaksi Maya dan Gilang yang akrab di pojok café tak luput dari perhatian Devin, yang ternyata mejanya menghadap langsung ke arah mereka. Lagi-lagi Maya dan Gilang terlihat akrab, membuat Devin sedikit gusar.
“Ngeliatin apa sih mas? Dari tadi aku ngomong kok diem aja.” Suara Silvi tiba-tiba membuatnya tersadar dari fokusnya ke Maya.
“Eh, nggak.” Devin menggeleng. Silvi menangkap arah pandangannya dan lalu menoleh ke arah yang sama.
“Ugh, that bitch.” Umpat Silvi pelan, tapi terdengar oleh telinga Devin. “Ngapain sih ada dia disini? Bikin mood jelek aja.” Raut wajah Silvi langsung berubah kesal.
“Kenapa?” Tanya Devin. Silvi hanya menggeleng.
“Gak apa-apa mas. Aku cuma gak suka sama cewek yang pakai hoodie itu. Family problem.” Jelas Silvi pendek. Devin hanya mengangguk. Tentu ia semakin penasaran hubungan Silvi dan Maya, apakah membenarkan kecurigaannya kalau Maya adalah selingkuhan Pak Airlangga.Tapi seperti biasa, gengsinya menahan ia untuk bertanya lebih lanjut.
“Ya sudah, kita pulang?” Ajak Devin. Tanpa ia sangka, Silvi mengangguk. Baiklah, setidaknya selesai urusannya dengan Silvi hari ini.
Maya POV
Maya baru saja selesai memarkirkan mobil di parkiran apartemennya ketika sang kakek menelpon.
“Jadi, ngobrol apa aja tadi?”
“Ngobrol apaan? Orangnya aja tadi gak datang. Maya nungguin sampe lumutan terus pulang deh.”
“Kamu nih bercanda mulu. Dia saja sms kakek katanya baru antar kamu pulang.”
“Maya pulang sendiri lho kek. Tanya tuh mas Gilang kalau gak percaya. tadi Maya malah gak sengaja ketemu sama dia di Anchor. Bukan Mas Gilang kan yang kakek maksud?”
“Lho, ya bukan. Masa dia bohong sih sama kakek?” Kakeknya malah bertanya balik.
“Memang dia bilang dia kenal sama Maya dimana? Maya kan gak banyak kenalan di Batam ini.”
“Dia kenal kamu waktu acara pesta di Radisson itu, katanya.”
“Yang kenalan sama Maya waktu pesta itu cuma Mas Gilang, kek.”
“Lho? Dia bilang dia udah kenalan bahkan dinner lho sama cucu kakek.”
“Ya ampuun.” Maya tersadar sesuatu. “Cucu kakek? Cucu kakek kan bukan cuma Maya! Mungkin dia kenalan ama cucu kakek yang lain, kali.” Sindir Maya, teringat Silvi, adiknya beda ibu. Baik Silvi maupun ibu tirinya tidak pernah menyukainya, mungkin karena kakek Sudibyo yang terlihat jelas lebih menyayangi Maya dibanding Silvi, jadi ibu tiri dan Silvi selalu panas tiap melihat Maya.
“Lah, benar juga.” Kakeknya malah tertawa, baru menyadari miskomunikasinya selama ini. “Coba nanti kakek ngobrol lagi sama orangnya.”
“Memang siapa sih orangnya, kek? Masa namanya aja Maya gak dikasih tahu.” Tanya Maya balik, ingin mengonfirmasi apakah benar orang itu Devin, sesuai tebakan Gilang. Tapi kakek Sudibyo mengelak menjawab.
“Adalah, kamu juga paling gak kenal. Nanti kakek kabarin lagi.”
“Halah, gak usah repot-repot ah kek. Gak jadi kenalan juga gak apa-apa. Apalagi kalau orangnya udah kenal ama Silvi duluan. Males Maya, nanti malah berantem lagi. Cowok aja pake diributin, kayak gak ada orang lain aja.”
“Ya belum tentu juga dia cocok sama Silvi.” Komentar kakeknya santai. Maya hanya menggeleng-geleng, membayangkan reaksi Silvi dan ibunya nanti. Bukan salahnya kalau kakeknya lebih mencurahkan kasih sayangnya pada Maya, mungkin karena Maya cucu pertama dan saat Maya masih berusia 3 tahun, ayahnya selingkuh dengan aktris terkenal lalu meninggalkan Maya dan ibunya ketika selingkuhannya itu hamil. Beruntung kakek dan neneknya tidak mendukung perbuatan anak mereka itu dan malah membela Maya dan ibunya. Meski pada akhirnya ibunya bercerai dengan sang ayah karena ogah dimadu, tapi Maya tetap mendapat perhatian lebih dari kakek dan almarhumah neneknya. Itu juga mungkin yang membuat sang kakek, hingga kini, belum total menerima menantu baru dan cucu keduanya dan memperlakukan mereka berbeda dengan cara ia memperlakukan Maya.
“Kalau kata anak muda sekarang, All is fair in love and game.” Lanjut Kakeknya, diplomatis.
“Kakek kebanyakan nonton film.” Celetuk Maya sebal. “Lagian Maya harus bilang berapa kali sih kek? Maya gak lagi cari calon apalagi jodoh.”
“Ya kasih aja kesempatan ketemu sekali ini. Oke?” Pinta kakeknya.
“Ya udah, terserah kakek aja.”