Satria, dengan sigap, mengambilkan gelas air minum dan menyodorkannya pada Alya. Ia kemudian mengelus punggung Alya dengan sangat lembut, menunggu dengan sabar saat gadis itu meminum air hingga batuknya mereda. Alya menghela napas panjang, meresapi ketenangan yang baru saja ia terima. Wajahnya masih memerah karena malu sekaligus terkejut. “Kenapa tiba-tiba melamarku?” Suara Alya lirih, hampir berbisik. Alya menunduk, menatap piring di depannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merah padam. Satria tidak membiarkannya menghindar. Perlahan, ia meraih dagu Alya dengan dua jarinya, lalu mendongakkan kepala Alya agar mata mereka bertemu. “Aku tidak mau keduluan pria lain, Alya.” Satria mengulang namanya dengan penekanan. “Apa jawabanmu?” Tanya Satria, nada suaranya menunt

