Author POV :
***
Semenjak Michael keluar dari kamar Arthur ia masih belum paham dengan situasinya, semua rahasia dan pernyataan dari cerita Kakaknya saja belum ia mengerti, sekarang malah terang-terangan terjadi keanehannya.
Sekarang ini Michael berada didalam kamar mandinya, masih mengamati bola matanya. Ia tak bergerak sedikitpun.
Sejam yang lalu, ia sudah mandi dan bersiap-siap. Ia sudah menyetelankan dirinya dengan kemeja flanel panjang dan celana jeans biru pudar.
Setalah itu, Michael keluar dari kamar mandi dengan perlahan. Berjalan menghampiri kasurnya yang tergeletak handphone.
Michael mendialkan dan menambahkan nomor kawan-kawannya kedalam sebuah panggilan video. Setelahnya, ia menghubungi mereka semua secara bersamaan.
Di sisi lain, handphone ketiga kawan-kawannya berdering. Mereka semua belum juga mengangkat telepon, membuat Michael tak sabaran.
Jensen yang masih mengumpulkan nyawa di kasur sutranya, Calum yang sedang berdandan di kamar mandinya, sementara Henry sedang berperang dengan peralatan makannya di ruang makan keluarga.
Akhirnya ketiga kawannya itu mengangkat panggilan video, layar handphone mereka terpenuhi oleh wajah-wajah yang berbeda.
Mereka bertanya-tanya, tidak biasanya Michael menghubungi mereka semua, apalagi dengan pangilan video. Lantas tatapan aneh terpasang di muka kawan-kawannya.
Calum masih menata rambutnya dengan sisir ketika Michael sedang berbicara, Jensen yang diam tak mengerti karena masih mengantuk, Henry menghentikan sarapannya dan berjalan di koridor.
"Kau mengigau yah, Jensen?."
Tanya Michael, sedikit meledeknya.
Henry dan Calum yang mendengarnya langsung terkekeh kecil. Sementara itu, Jensen hanya menggelengkan kepalanya.
"Cepatlah bersiap-siap, aku tunggu kalian di rumahku. Ingat, jangan bawa kudapan atau apapun."
Kata Michael, sembari menghunuskan telunjuknya.
"Cincin yang bagus, Mike!."
Hati Michael berdegup kencang, sedikit berkeringat di dahinya. Mendengarkan tanggapan dari Calum membuatnya membelalakkan mata, tak tenang.
"Cepatlah datang!."
Michael yang tak tahu harus berkata apa langsung mematikan panggilan video, meninggalkan ketiga kawannya. Tanggapan dari Calum membuatnya semakin gelisah.
***
Sekarang ketiga kawannya Michael sudah berada di ruang keluarga, duduk di sofa. Mereka semua penasaran dengan niat Michael mengumpulkan ketiganya.
Jensen yang sedang tiduran, Calum yang sedang mengemil, dan Henry hanya mengutak-atik layar kaca handphonenya. Mereka semua diam menunggu Arthur datang.
Setelah beberapa detik, Arthur datang dengan kemeja coklat miliknya. Melihat Arthur menghampiri, mereka langsung duduk dengan sopan.
"Kalian pasti nunggu lama, kan?. Maafkan Kakak, tadi sekretaris Kakak nelpon dari kantor."
Kata Arthur, sedikit menyesal. Membuat Michael dan ketiga kawannya menggelengkan kepala.
"Baiklah. Begini..."
Mulut Arthur berkomat-kamit menceritakan semuanya, begitu juga dengan Michael yang membantu sebisanya. Ketiga kawannya Michael mendengarkan dengan seksama.
Sesuai yang telah di beritahu oleh Michael, menceritakan semuanya kepada mereka bertiga butuh usaha dan kesabaran yang ekstra. Mereka semua berengsek.
Mereka semua tak menganggap cerita dari Michael dan Arthur serius, seperti Michael sebelumnya. Mereka terus menertawakan semua yang di ucapkan oleh Kakak-beradik itu.
Tanggapan dan tawa blak-blakan dari ketiga kawannya membuat Michael menghela nafas panjang. Arthur seketika menghentikan perkataannya karena Michael menyorot kearahnya, geram dan muak.
Arthur langsung mengangguk perlahan. Sementara Michael, ia mengangkat dan menunjukkan cincin misterius yang masih terpasang di jari tengahnya, membuka kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakan.
Ketiganya yang melihat kelakuan aneh dari Michael perlahan menghentikan tawa mereka. Ia menyodorkan tangannya kearah mereka dengan sedikit kesal, sementara mereka diam menyorot kearah cincin misterius itu.
Henry mendekat dan berlutut di hadapan Michael, mengamati. Sementara yang lainnya hanya duduk dan mengamati dari jauh.
Michael POV :
***
"Kok ini, gak bisa lepas. Seperti menempel di kulitmu, kok bisa gitu?."
Tanya Henry, yang terus memainkan jari tengahku.
"Mana aku tahu, aku juga sama sekali tidak menyangka cincin sialan ini akan menempel permanen di kulitku"
Jawabku, sedikit kesal.
"Kenapa kau memakainya, Mike. Ada-ada saja, darimana kau mendapatkan cincin itu?."
Tanya Jensen, menyorot ke arahku dan sedikit menghakimi.
"Ayahku bilang, ini adalah titipan dariku."
Mendengar pernyataan dariku, ketiga kawanku membelalakkan mata mereka. Terkejut dan kebingungan kentara di muka mereka yang memerah.
"Mangkanya, dengarkan dengan serius, supaya tidak telmi."
Gerutuku, mengepalkan dan menarik kembali tanganku.
"Mataku seperti ini gegara cincin sialan ini."
Imbuhku.
"Ini kedengarannya seperti candaan bagiku, Mike. Konyol, konyol sekali."
Cetus Jensen, masih tak percaya.
"Sama, Jen. Aku juga masih belum mengerti dengan semua ini."
Cetus Calum, menepuk pundak Jensen.
"Mangkanya, kita harus mendengarkan semuanya dengan baik."
Imbuhnya, menyorot kearahku.
"Kak makasih ya, Kakak sekarang boleh pergi. Aku bisa memulainya sendiri dari sini."
Aku menyuruh Kakak pergi supaya aku bisa leluasa menggumpat kearah kawan-kawanku, mereka semua belum juga mengerti satu katapun dariku. Lantas Kakak berjalan meninggalkan kami.
"Bulan purnama akan terjadi malam ini, aku akan mengalami episode terakhir."
Bisikku, mereka mendengarkan dengan serius kali ini.
"Efeknya akan sangat kuat terhadapku, aku akan merasakan sakit yang tak dapat aku bayangkan lagi. Mangkanya, cincin ini dapat menetralisir sebagian dari efeknya."
Decakku, mereka sedikit ketakutan mendengarnya.
"Sebesar itukah efeknya? seram sekali."
Kata Henry, membuatnya bergidik.
"Di sisi lain, aku sangat mengkhawatirkan Kak Arthur. Jiwaku akan meninggalkannya dan berpindah ke dunia duplikat."
Kataku, sedikit melemas memikirkannya.
"Apa, Mike. Jiwa, dunia duplikat, istilah apalagi itu?."
Tanya Jensen, menggaruk kepalanya karena kebingungan.
"Kau pasti bergadang semalaman, kan Jensen?."
Tanya Henry, sedikit menyipitkan matanya.
"Persetan denganmu, Henry."
Gumpat Jensen, melempar bantal kecil kearah Henry.
Henry yang melihat bantal mengapung dan melesat ke arahnya langsung menghindar, lidahnya menjulur mengolok-olok Jensen yang tak terima. Aku hanya tersenyum melihat mereka bertengkar.
"Kalian kenapa sih, tidak malu apa? yang mulia ada di sini kalian malah bertengkar."
Aku yang mendengar candaan dari Calum langsung terkekeh, begitu juga dengan mereka. Kami semua tertawa terbahak-bahak.
Suasana menjadi semakin terkendali ketika kami semua hanyut dalam tawa, mencuatkan suasana. Aku akan sangat merindukan kekonyolan mereka.
***
Aku berhenti di tengah-tengah mereka yang sedang bertingkah aneh, meledekku jika aku menjadi seorang raja di dunia duplikat. Mereka tak berhenti menertawakanku.
"Jika aku benar-benar pergi, tolong jaga Kakakku."
Kawan-kawanku seketika diam menyoroti ku. Mereka berhenti tertawa setelah mendengar suaraku yang melemas, membuat mereka iba.
"Jangan katakan hal itu, Mike. Semuanya akan baik-baik saja."
Cetus Henry, ia mengusap-usap punggungku.
"Kami semua akan menjadi temannya jika perlu."
Imbuhnya, membuatku sedikit lebih baik.
"Benar, Mike. Jangan lupakan kami jika kau mengingat semuanya, berusahalah untuk tidak mati di sana."
Kata Calum, menepuk pundakku.
"Kembalilah ke dunia ini jika bisa."
Imbuhnya.
"Kalian berdua ini memang dungu. Bukannya menyemangati, kalian malah membuat dia merasakan semuanya."
Gerutu Jensen, sangat dingin.
"Terus mau ngapain? Jangan sok bijak deh, Jen."
Gerutu Calum balik, menyorot kesal kearah Jensen.
"Tau ini orang, dingin amat!."
Cetus Henry, yang juga menyorot kesal kearah Jensen.
"Kalian ini bagaimana, kalian semua akan menyerah tanpa perlawanan sedikitpun?."
Tanya Jensen, merambati kami satu-persatu.
Aku yang mendengarnya hanya bisa terdiam tak berdaya. Calum dan Henry menatap kearah Jensen yang sedang menunggu jawaban, sedikit menyipitkan matanya.
"Bayangkan saja seperti ini. Setiap bulan purnama cahayanya pasti sedikit meredup, bahkan cahaya bulan asli saja tak cukup mengalahkan terangnya lampu."
Decak Jensen, tangannya juga ikut menjelaskan.
"Kita tambah saja cahaya di ruangan ini, supaya cahaya dari bulan purnama tak dapat menyoroti tubuh Michael."
Aku masih terdiam tak percaya. Calum dan Henry yang juga mendengarnya dengan jelas langsung bertatap muka, loading.
"Benar juga apa yang barusan dia bilang. Ah, tenyata kawanku yang satu ini sungguh hebat."
Kata Henry, mendekati Jensen perlahan.
"Apa sih, lepaskan tubuhku, bodoh!."
Gerutu Jensen, memberontak karena Henry memeluknya manja.