Chapter 2 - Natasha

1238 Words
    Sebenarnya apa sih yang istimewa dari cewek sialan satu itu?     Sambil bersandar di kursiku, aku mulai mengamati Talitha. Heran, dia tidak sehebat yang aku bayangkan sebelumnya, tapi kenapa banyak sekali orang yang suka padanya?     Yah, harus kuakui, Talitha memang cantik. Tapi dia tidak secantik itu. Bahkan kalau boleh jujur, aku merasa aku lebih cantik daripada dirinya. Kalaupun bukan dibandingkan denganku, masih banyak kok yang lebih cantik daripada Talitha. Memang, kulit putih bersih, mata belo dan hidung mancung Talitha cukup nyaman dipandang mata. Rambut hitam sebahunya plus tinggi tubuhnya pun melengkapi penampilannya. Tapi sekali lagi, dia tidak sesempurna itu. Aku bahkan bisa menyebutkan sepuluh nama cewek yang jauh lebih sempurna daripada Talitha.     Sekarang tentang otak. Ok, aku akui Talitha sama sekali tidak bodoh. Talitha memang bukan juara umum di sekolah ini, tapi namanya tidak pernah absen dari tiga besar di kelasnya. Belum lagi prestasinya di bidang jurnalistik. Tapi yang harus kutekankan adalah tidak hanya Talitha yang mempunyai perpaduan seperti itu. Sekali lagi, aku bisa menjadi contoh nyatanya. Walau baru masuk ke sekolah ini kurang lebih satu semester, aku sudah bisa membuktikan kalau aku bisa mengalahkan Talitha. Yah, walau nilai kami beda tipis, aku tetap lebih unggul darinya. Aku tetap mengalahkannya.     Satu-satunya kemenangan telak Talitha dariku hanyalah kesupelannya. Berbeda denganku yang termasuk kaku dan tidak bisa berbaur, Talitha justru mudah berteman dengan siapapun. Sekalipun dia cukup ceplas ceplos dan terkadang sinis, entah kenapa dia seperti punya aura tertentu yang membuat orang lain tidak bisa membencinya. Apapun nama auranya, yang jelas itu tidak mempan padaku. Aku tetap membenci Talitha. Setengah mati.     Dan tanpa terpengaruh dengan kebencianku, menurutku bukan hanya Talitha yang mempunyai perpaduan semacam itu. Di kelas ini saja, aku bisa menyebutkan setidaknya dua orang yang cukup sebanding dengan Talitha. Serius. Singkat kata, menurutku Talitha tidak mempunyai sesuatu yang istimewa yang bisa membuat dia begitu dipuja. Sama sekali tidak. Maka itu, aku cukup heran dengan kepopuleran cewek rese itu di sekolah ini.     Mungkin orang akan heran kenapa aku bisa begitu membenci Talitha dan berniat mengalahkannya walaupun aku baru kenal dengannya. Tapi aku punya alasan yang sangat kuat. Dan tepat pada saat aku memikirkan ini, subjek dari alasanku muncul di hadapanku. Hmm, atau lebih tepatnya muncul di hadapan Talitha.     Aku reflek menegakkan tubuh saat melihat Aaron, kakak kelasku dan Talitha, sekaligus teman masa kecilku, memasuki kelas kami dan menghampiri Talitha dengan penuh senyum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Aaron menyukai Talitha setengah mati. Walaupun sudah pernah ditolak oleh lebih dari sekali oleh Talitha, Aaron tetap saja gigih mengejar Talitha. Dan ini yang membuatku sangat membenci Talitha.     Aaron… Bagiku, dia bukan hanya sekedar kakak kelas atau teman masa kecil. Dia lebih dari itu. Dia itu cinta pertamaku. Bahkan mungkin, cinta terakhirku, karena aku tidak yakin aku bisa menyukai orang lain sedalam ini. Maka itu, wajar kan kalau sekarang aku benci setengah mati pada Talitha? Dan yang membuatku tambah membenci Talitha adalah fakta bahwa aku menjadi tak terlihat di hadapan Aaron jika ada cewek itu. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal atau bahkan melebih-lebihkan. Namun sayangnya itulah yang terjadi.     Pekerjaan ayahku membuatnya sering dimutasi ke kota satu dan kota lainnya. Aku, ibu dan adikku otomatis ikut berpindah dari kota satu ke kota lainnya mengikuti ayahku. Saking seringnya kami berpindah, aku sudah tidak berminat menjalin pertemanan dengan siapapun. Kupikir itu akan percuma. Belum sempat kami akrab, jangan-jangan keluargaku akan pindah kembali.      Tapi semua itu berubah sejak aku bertetangga dengan Aaron. Sekalipun aku bersikap dingin pada Aaron, cowok satu itu tetap ramah padaku dan mengajakku ikut bermain dengan dirinya dan adikku. Mulanya aku tidak menanggapi, tapi lama-lama aku jadi menunggu kedatangannya ke rumahku. Sejak umur delapan tahun, aku bisa dibilang jatuh cinta pada Aaron. Mungkin cinta monyet, tapi kenyataannya perasaan itu tetap ada hingga kini.      Singkatnya, aku luar biasa bahagia ketika ayahku kembali dimutasi ke kota penuh kenangan ini. Aku menjadi bersemangat pindah ke kota baru ini karena aku bisa kembali satu kota dengan Aaron. Begitu tiba di kota ini, aku langsung menemui Aaron. Tapi apa yang terjadi? Hari itu juga, aku tahu Aaron tengah mengejar seorang cewek. Nama cewek itu Talitha. Bahkan sekalipun aku tidak pernah bertemu Talitha sebelumnya, aku sudah tahu banyak tentang cewek itu. Apa warna kesukaannya, apa makanan favoritnya, apa yang tidak disukainya. Semuanya. Aneh kan? Tidak juga, kalau topik pembicaraanmu adalah cewek itu. Hanya cewek itu. Karena setiap kali aku mengubah topik, entah kenapa Aaron bisa mengembalikan pembicaraan menjadi tentang Talitha.     Talitha, Talitha, Talitha… Sumpah, nama itu membuatku muak setengah mati. Aku masih ingat bagaimana sikap Aaron saat kusuruh menemaniku di hari pertamaku masuk sekolah. Bukannya mengajakku berkeliling sekolah, Aaron malah mengajakku ke ruang guru dan langsung ‘menyerahkan’ku pada Bu Jessica dengan alasan mau bertemu dengan Talitha. Gila. Dan yang lebih gila lagi, sejak tersiar berita tentang aku yang terang-terangan bermusuhan dengan Talitha, Aaron tidak lagi mau bicara denganku. Dia seolah takut Talitha menjauhinya jika tahu dia mengenalku. Dasar sial.     Nah, sekarang jelas kan kenapa aku benci setengah mati pada Talitha? Justru aneh kalau aku tidak membencinya. Maka itu, jangan heran kalau akhirnya aku punya obsesi gila tentang Talitha. Apapun, kapanpun dan di manapun, selama masih menyangkut Talitha, aku harus memastikan diriku lebih unggul darinya. Itu sebabnya aku jadi mati-matian belajar untuk mengalahkan rankingnya, padahal di sekolahku yang lama, bisa masuk 20 besar saja sudah termasuk keajaiban untukku yang tidak pernah belajar. Kedua orangtuaku sampai berjingkat kesenangan begitu tahu melejitnya prestasiku begitu aku pindah ke sekolah ini.     Itu sebabnya juga aku sampai rela mengikuti segala kegiatan yang Talitha ikuti sekalipun sebelumnya aku sama sekali tidak paham dengan apa yang kuikuti. Ya, aku mengikuti semua kegiatan yang diikuti Talitha tanpa kecuali. Mulai dari sekedar esktrakurikuler jurnalistik hingga pelatihan sinting yang akan memakan seminggu waktuku yang berharga.         Ah ya, tentang pelatihan sinting itu. Dasar sial, setiap kali mengingat aku akan menghabiskan tujuh hari penuh untuk sesuatu yang sama sekali tidak kusukai, aku bergidik ngeri. Yah, aku tahu, acara ini termasuk acara yang bergengsi. Bukan hanya bergengsi, pelatihan ini juga batu loncatan bagi siapapun yang mengejar karir di bidang jurnalistik. Kalau aku tidak salah, siapapun yang berhasil menunjukkan prestasi sebagai peserta didik terbaik, akan langsung direkrut menjadi karyawan magang atau semacamnya. Aku tak terlalu peduli, jadi aku tidak terlalu memperhatikan. Namun bahkan orang awam sepertiku tahu betapa besarnya hadiah itu untuk orang yang benar-benar berniat berkecimpung di bidang ini nantinya.     Sayangnya, aku bukan Talitha yang ingin sekali menjadi reporter handal. Ketertarikanku di bidang ini adalah nol besar. Kalau bukan karena Talitha, bisa kupastikan seumur hidup aku tidak mungkin berurusan dengan hal-hal yang berbau jurnalistik. Jangankan berurusan, aku bahkan tidak pernah melirik eskul jurnalistik saat aku SMP ataupun saat aku masih di sekolah lamaku.     Aku menghela nafas panjang. Sebenarnya, aku masih bisa mengundurkan diri dari pelatihan sinting yang tak jelas apa manfaatnya itu. Tapi, peringatan Talitha tadi benar-benar menawan akal sehatku. Apapun yang berpotensi menyengsarakan Talitha adalah sumber kebahagiaanku. Jadi mana mungkin aku melewatkan sebuah kesempatan untuk bahagia? Terlebih lagi untuk lolos seleksi seperti sekarang, aku sudah pontang panting bahkan merasa nyaris gila saat mengerjakan semua tugas yang diberikan panitia saat seleksi beberapa waktu terakhir.     Sekali lagi aku menghela nafas panjang. Sepertinya memang tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Jawabannya sudah jelas. Mau tidak mau, aku harus ikut dalam pelatihan sialan itu. Itu adalah sebuah harga mati. Paling tidak, aku masih punya waktu seminggu untuk memikirkan beberapa hal yang bisa kulakukan agar pelatihan nanti tidak akan terlalu menyiksa bagiku. Dan yang lebih penting adalah aku juga masih punya waktu beberapa hari untuk mempersiapkan hal-hal yang bisa membuat Talitha gagal total dalam pelatihan yang sangat berharga untuknya ini.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD