Kesalahan kecil

1025 Words
Alvin ingin membuat sketsa wajah saat ini, ia telah menghubungi seseorang yang ahli membuat sketsa wajah. Diki pun bersiap menceritakan tentang ciri-ciri orang itu, tapi Alvin tahan karena menunggu orang yang ahli untuk membuat sketsa wajah. "Tunggu, kita tunggu dulu orang yang akan membuat sketsa wajah. Nanti, Lo ceritakan langsung kepadanya!" tahan Alvin. Mendengar apa yang telah Alvin ucapkan akhirnya, membuat Diki diam karena mengerti. *** Di tempat lain, begitu terdengar tangisan air mata, dan jeritan yang menggema di sebuah ruangan gelap. Ruangan itu terdiri dari obor dan api yang sedikit menyinari ruangan gelap itu. Tepatnya di dalam sana ada pria paruh baya yang diikat kuat-kuat dengan tali tambang yang melilit kedua tangannya. Tubuh pria paruh baya itu terpasung seperti salib. Cetarrr …. Suara cambukan yang mendarat di tubuh pria paruh baya itu. "Arghhhh!!!" Pria paruh baya itu meringis kesakitan karena merasakan sakit di area tubuhnya. "Katakan! Katakan dimana pewaris Velopmant Group berada?" teriak orang yang sudah mencambuk pria paruh baya itu tadi. Pria paruh baya itu, yang ternyata adalah Pak Harianto menyeringai. "Saya sudah katakan, kalau orang yang kalian cari itu sudah tiada!" jawab Pak Harianto dengan lantang sambil menatap tajam ke arah mereka. Mereka yang terus menyiksa Pak Harianto itu kesal dan mereka berjumlah tiga orang. "Bohong! Atasan kami belum menemukan bukti kalau dia memang sudah tiada. Bahkan, saat kejadian waktu itu, jasadnya tidak ditemukan!" tekan penggentar itu. Penggentar itu terus saja tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Pak Harianto, karena atasannya yang begitu yakin kalau memang pewaris Velopmant Group masih ada. Dan walaupun sudah meninggal tapi pewaris Velopmant Group itu memiliki kunci untuk membuka sandi yang terletak di otaknya. Ya, dia tidak boleh meninggal! "Bagaimana bisa ditemukan? Kalau dia terkena ledakan saat itu?" Plak!!! Pak Haryanto kena tamparan keras lagi. Mereka kekeh ingin kalau pewaris Velopmant Group itu masih hidup dan harus ada. *** "Siap?" tanya Alvin. Saat ini Bella, Diki dan Alvin sudah siap untuk bergerak ke tempat yang diduga mempunyai peluru itu. Bahkan, sudah terkuak kalau yang mempunyai dan sering membeli peluru itu adalah perusahaan Velopmant Group yang membelinya. Perusahaan Velopmant Group dulunya terkenal akan kebaikan dan kedermawanan akan pemimpinnya itu, tapi terdengar kabar kalau perusahaan itu telah diambil alih oleh seseorang yang misterius lima belas tahun yang lalu, dan yang sampai saat ini sudah dijalankan oleh orang misterius itu sampai lima belas tahun lamanya dengan sadis. Dan selama itu, perusahaan itu pun terkenal akan keserakahan dan keganasannya disaat menginginkan saham untuk memajukan Perusahaannya. Mereka terkenal ganas dan kejam, bahkan mereka tega merebut tanah yang sedang ditempati oleh orang-orang miskin demi menjalankan proyek yang mereka inginkan dan demi keuntungan pribadi. Bahkan, terdengar juga kabar kalau ada yang akan menyaingi perusahaan itu, maka mereka tidak tinggal diam dan akan menyerang perusahaan itu sampai hancur, dengan cara memata-matai kelemahan perusahaan musuh dan mengambil celah di saat ada kesempatan. "Siap!" jawab Diki. Diki, Alvin, dan Bella memakai pakaian yang biasa, seperti orang biasa saja. Namun, mereka membawa senjata di dalam pakaiannya yang tebal. Diki mengenakan jaket hitam polos serta jeans dan kacamata bulat, serta masker yang menutupi wajahnya. Begitu pun, Alvin juga sama. Bella pun mengikat dua rambutnya yang panjang, dengan memakai kacamatanya yang bulat juga. Mereka akan memasuki perusahaan Velopmant Group untuk mencari informasi apapun itu. Mereka pun sebenarnya bertanya-tanya, untuk apa perusahaan Velopmant Group menculik Pak Harianto? Karena kan Pak Harianto tidak mempunyai bisnis yang menyainginya? Jadi, mereka pun harus menyelidikinya. Alvin juga tidak ingin menunjukan wajahnya yang familiar, karena dirinya juga terkenal akan keturunan Exelino yang juga kaya raya, menjadi keturunan orang terkaya nomor dua di kota itu. Tetapi, perusahaan Alvin dan Velopmant Group itu tidak bersaing, entah kenapa bisa mereka akur, Alvin pun belum mengetahui karena belum menjabat di perusahaan orang tuanya itu. "Ayo kita masuk, bertingkahlah santai, kita hanya perlu berjalan-jalan saja di dalam perusahaan ini, sambil melihat-lihat ada apa aja di dalamnya!" titah Alvin. "Siap!" jawab Diki dan Bella. Mereka pun masuk ke dalam gedung perusahaan yang begitu teramat besar dengan dinding kaca tebal yang menghiasi perusahaan itu. Diki berjalan dengan tenang dan santainya sambil menatap lurus ke arah depan, dan mereka bertiga pun berpencar. 'Aku tidak pernah menyangka bisa memasuki perusahaan sebesar ini.' dalam batin Diki tidak menyangka sampai ia menabrak seorang wanita. Bruk. Tubuh Diki dan wanita lain itu bertabrakan. Wanita itu menatap tajam ke arah Diki, "Lo gak punya mata, apa? Kenapa Lo main nabrak-nabrak segala?" Diki pun dimarahi oleh wanita itu. Diki mencoba untuk meminta maaf, tapi sayang wanita itu tidak memaafkan Diki. Padahal apa yang Diki lakukan itu tidak sengaja dan bahkan yang menabrak Diki duluan adalah wanita itu bukan Diki, tapi ya nasib malah Diki lah yang disalahkan. Diki ingin menghindari keributan itu karena takut akan terkena masalah, tapi sayang tubuhnya ditarik oleh wanita tadi. "Tunggu! Lo mau kemana pria cupu?" Diki memang saat ini berpenampilan seperti pria cupu karena memakai kacamata bulat yang besar dengan masker, serta tampilan rambutnya yang dibuat cupu dan lepek. "Maaf, saya ingin pergi!" jawab Diki. Diki gugup karena wanita itu berkata cukup keras sehingga membuat semua mata memandang ke arahnya. Di kejauhan ada Bella yang ternyata melihat Diki yang sedang ditarik oleh seorang wanita. "Itu kenapa lagi si, Diki? Cari masalah apa dia sama anak pemilik perusahaan ini?" gumam Bella. Diki pun membalikkan badannya dan menatap wanita muda ini. "Saya minta maaf nyonya, maafkan saya!" Diki memohon maaf. "Ish, kamu gak lihat saya ini masih imut dan muda? Jangan panggil saya nyonya! Panggil saya Nona, ingat, Nona!" tekan wanita muda itu yang ternyata anak dari pemilik perusahaan Velopmant Group. "B-baik Nona, kalau begitu saya permisi, tolong maaf ya!" ujar Diki melepaskan tangan wanita muda itu, tapi sayang dia lagi-lagi mencekal kembali tangan Diki. "Sebagai permintaan maaf Lo ke gue? Lo harus, jadi babu gue sehari ini!" ucap wanita muda itu. Diki menelan salivanya, tiba-tiba saja tenggorokannya tercekat. Bagaimana bisa dirinya membuat kesalahan seperti ini dan sampai membuatnya di posisi sekarang ini? Aduh, banyak banget halangan untuk mencari Pak Harianto. Sedangkan Bella, ia terus memperhatikan Diki dan wanita muda itu, Bella pun mengendap-endap untuk mendekati mereka. Tiba-tiba semua mata menuju ke arah seseorang yang begitu disegani dan ditakuti di perusahaan ini. "Ada apa ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD