Penghianatan Pada Suami

1291 Words
Adila, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Smith, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Kota B. Perawakan Adila sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat. Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Smith yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Adila pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Smith dalam hati Adila karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Adila tentang cinta.. Suatu siang, Adila sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Adila langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Adila terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Adila langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Tiler, anak tetangga depan rumah Adila kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Adila sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Tiler langsung lari ke arah Adila. "Kenapa tante?" tanya Tiler. "Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Ler..." ujar Adila sambil meringis. "Bantu saya berdiri,Ler..." kata Adila. "Iya tante," kata Tiler sambil memegang tangan Adila dan dibimbingnya bediri. "Tiler, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya..." kata Adila. "Iya tante," kata Tiler sambil segera menghampiri anak-anak Adila. Sementara Adila segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Tiler mengantarkan anak-anak nya ke rumahnya, Adila sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya. "Ada obat merah tidak, tante?" tanya Tiler "Ada di dalam, Le," kata Adila. "Kita ke dalam saja..." kata Adila lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah. Tiler dan anak-anaknya mengikuti dari belakang. "Ma, Donny ngantuk," kata anaknya kepada Adila. "Tunggu sebentar ya, Le. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang," kata Adila sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur. Setelah mengantar mereka tidur, Adila kembali ke tengah rumah. "Mana obat merahnya, tante?" tanya Tiler. "Di atas sana, Le..." kata Adila sambil menunjuk kotak obat. Tiler segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Tiler segera kembali dan mulai mengobati lutut Adila "Maaf ya, tante.. Saya lancang," kata Tiler. "Tidak apa-apa kok, Le. Tante senang ada yang menolong," kata Adila sambil tersenyum. Tiler mulai memegang lutut Adila dan mulai memberikan obat merah pada lukanya. "Aduh, perih..." kata Adila sambil agak menggerakkan lututnya. Secara bersamaan rok Adila agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Tiler. Tiler terkesiap melihatnya. Tapi Tiler pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Adila menggoda mata Tiler untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Tiler agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Adila. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Adila memakai celana pendek. Tiler biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Adila sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Adila sangat jelas terlihat. Adila sepertinya sadar kalau mata Tiler sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Adila merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Tiler pun sepertinya terkesima dengan sikap Adila tersebut. Tiler menjadi malu sendiri.. "Sudah saya berikan obat merah, tante..." kata Tiler. "Iya, terima kasih," kata Yuli sambil tersenyum. "Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi," ujar Adila lagi sambil tetap tersenyum. Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Adila. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Tiler adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber. "Kenapa kamu nunduk terus, Le?" tanya Adila. "Tidak apa-apa, tante..." ujar Tiler sambil sekilas menatap mata Adila lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu. "Ayo, ada apa?" tanya Adila lagi sambil tersenyum. "Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja..." kata Tiler sambil tetap menunduk. "Lihat apa?" tanya Adila pura-pura tidak mengerti. "Lihat.. Mm.. Lihat ini tante," kata Tiler sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Adila tersenyum mendengarnya. "Tidak apa-apa kok, Leeee," kata Adila. "Kan hanya melihat.. Bukan memegang," kata Adila lagi sambil tetap tersenyum. "Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi," kata Adila lagi sambil tetap tersenyum. "Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat," kata Adila "Benar tante tidak marah?" tanya Tiler sambil menatap Adila. Adila menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Tiler pun jadi ikut tersenyum. "Tante sangat cantik kalau tersenyum," kata Tiler mulai berani. "Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu..." kata Adila. "Saya berkata jujur loh, tante," kata Tiler lagi. "Kamu sudah makan, Le?" tanya Adila. "Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan," kata Tiler. "Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang," ajak Adila. "Baik tante, terima kasih," kata Tiler. Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Tiler menyentuk kaki Adila. Tiler kaget, lalu segera menarik kakinya. "Maaf tante, saya tidak sengaja," kata Tiler "Tidak apa-apa kok, Le......." kata Adila sambil matanya nenatap Tiler dengan pandangan yang berbeda. Ketika kaki Tiler menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Adila merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Adila merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Tiler terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh.. "Kamu sudah punya pacar, Le?" tanya Adila sambil menatap Tiler. "Belum tante," kata Tiler sambil tersenyum. "Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan," ujar Tiler lagi sambil tetap tersenyum. Adila pun ikut tersenyum. "Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?" tanya Adila lagi. "Keinginan apa tante?" tanya Tiler. Adila tersenyum. "Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara..." kata Adila. Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah. "Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?" tanya Adila. "Tidak ada, tante," kata Tiler. "Tadi tante mau tanya apa?" kata Tiler penasaran. "Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?" tanya Adila. "Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok," kata Adila lagi. "Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?" kata Adila lagi. "Iya, tante," kata Tiler. "Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi..." kata Adila sambil tersenyum. "Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus," kata Tiler tanpa ragu. "Maksudnya tubuh bagus apa," tanya Adila lagi. Tiler agak ragu untuk menjawab. "Ayolah..." kata Adila sambil memegang tangan Tiler. Tangan Tiler bergetar.. Adila tersenyum. "Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus..." kata Darmawan dengan nafas tersendat. "Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja," kata Yuli pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terus gemetar. "Mm.. Lihat orang sedang begituan..." kata Tiler. "Begituan apa?" tanya Adila lagi. "Ya, lihat orang sedang bersetubuh..." kata Tiler. Adila kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya. "Kamu suka tidak film begitu?" tanya Adila. "Iya suka, tante?" kata Tiler sambil menunduk. "Mau coba seperti di film, tidak?" kata Adila Tiler diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Adila mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tiler. Wajahnya di dekatkan ke wajah Tiler. "Mau tidak?" tanya Adila setengah berbisik. Tiler tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Adila membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Tiler. Tiler tetap diam dan makin gemetar. Adila terus menciumi wajah Tiler, lalu akhirnya dilumatnya bibir Tiler..... Lama-lama Tiler pun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Adila. "Masukkan tangan kamu ke sini..." *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD