Devan Arsenio Luther

1193 Words
  Ketika cinta hadir tanpa kita sadari kapan waktunya. Menerobos pagar hati yang tiba-tiba menjadi rapuh dengan sendirinya. *** Aca mematung di ruangan itu, menatap lurus pria tampan yang duduk di sofa. Pria yang selalu memenuhi mimpinya di kala malam tiba. "Jeng… jeng... terereng… rereng!!! Kenapa ada syuting drama India di sini sih? Pake acara tatap-tapan gitu. Pegel gue liatnya." Omelan Ethan terdengar dari belakang Aca yang belum bisa bergerak sedikit pun. "Udah lama lo, Dev? Sorry, gue lagi sibuk banget nih,” ucap Ethan seraya menempatkan diri di kursi kerjanya. Sedangkan Devan masih menatap Aca yang sedang sibuk mencari map merah yang tadi dipegangnya. "Nyari apa lo, Bet? Nih, map-nya udah gue ambil tadi. Lo aja yang kebanyakan bengong." Ethan tersenyum miring mengejek adiknya yang mulai tersulut emosi. Pria itu memang memiliki panggilan kesayangan untuk Aca, yaitu Bety Lafea. "Abang jahat!" rajuknya dengan mimik muka dibuat-buat seraya menghampiri Ethan. "Minta uang, Bang, ganti uang taksi Adek ke sini tadi." "Lihat nih Dev, kelakuan adek gue, nggak ada manis-manisnya jadi cewek." Aca memutar bola mata sebal lalu melirik Devan yang dari tadi diam membisu. "Oh iya, lo bilang kan di restoran bokap lo lagi cari pelayan, bawa aja nih si Bety. Kalau cuma pegang nampan dia bisa kok," celetuk Ethan lagi. "Abang!" Aca mencubit kulit Ethan dengan keras. "Sakit, dodol!" Pria itu mengusap lenganya yang terasa perih. Ia pun bangkit untuk mengambil air mineral di kulkas dan memberikannya pada Devan. "Thanks.” Devan meraih minuman itu, lalu meneguknya sedikit. “Gue pulang deh, Than, kalau lo lagi sibuk. Lain kali gue ke sini lagi ya." Devan bangkit dari duduknya. "Yah, sorry banget nih. Jadi gak enak gue. Next deh ya kita ngobrol lagi.” Devan tersenyum maklum. “Santai aja. Gue paham kok.” Ethan pun menepuk bahu Devan, lalu melirik Aca yang masih manyun di dekat kursi kerjanya. “Eh, sekalian deh, tolong anterin si Bety pulang. Pengangguran dia nggak punya duit buat ongkos pulang." Aca melebarkan matanya mendengar ocehan Ethan. Ia hendak protes namun terhenti setelah mendengar ucapan Devan. “Boleh.” Ethan pun tanpa membuang waktu langsung mendorong sang adik keluar ruangan, mengikuti langkah Devan. *** Sepanjang perjalanan, Aca hanya terdiam, memalingkan wajah keluar jendela untuk menyembunyikan kegugupannya. Pertemuan pertama mereka setelah kepergian Velove serta kecelakaan yang merenggut sebagian ingatannya secara tiba-tiba seolah membuat jarak di antara mereka. "Abang apa kabar?" tanya Aca, memberanikan diri untuk menatap Devan di sampingnya. Diam-diam, ia menelusuri wajah yang sudah dua tahun ini hanya ada dalam mimpinya. Kulitnya masih sama, putih bersih, jarang terkena matahari karena Devan benci panas. Bibirnya tetap merah tanpa tersentuh nikotin. Ah, pria yang selalu Aca rindukan, Ji Chang Wook versi Aca. Pria itu mengenakan kemeja biru yang lenganya tergulung sampai siku, membuatnya terlihat semakin tampan. "Kenapa nanya gitu? Lo lihat sendiri gue baik-baik aja, hidup gue nggak kayak drama Korea yang lo tonton, banyak meweknya,” jawab Devan tanpa menatap Aca. Pria itu jadi teringat saat dulu ia harus keliling beberapa mal hanya untuk mencarikan DVD drama Korea terbaru saat itu, menemani Aca menonton konser boyband yang menurut Devan sangat tidak macho, membuatnya pusing tujuh keliling ketika harus menggantikan Ethan mengawal adiknya karena saat itu Ethan masih kuliah di Amsterdam. Namun, dua tahun tidak bertemu, Devan merasa Aca banyak berubah, lebih dewasa dan lebih cantik walaupun kebiasaan malas keramasnya itu masih tetap ada. "Syukur deh kalau Bang Dev bahagia. Jadi, gimana kabar Mbak Maya?" Tanpa sadar, pertanyaan polos Aca justru membuat rahang Devan menegang. "Lama banget nggak ketemu dia. Kangen nih. Kalian cepet bawain adek bayi ke sini dong, biar gue cubitin." Bukannya menjawab, Devan malah menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menatap Aca tajam. "Turun lo, beliin gue roti atau apa kek. Laper gue," ketus Devan tanpa memandang gadis di sampingnya. Aca tak percaya dengan apa yang didengarnya. Tiba-tiba berhenti di pinggir jalan dengan tatapan tajam yang serasa mau mencabik-cabik tubuh Aca, cuma karena lapar? "Kenapa diem? Sana beliin gue makanan, udah dikasih tumpangan juga." Aca memalingkan wajah ke arah jendela, membuang udara yang terkumpul di pipi karena menahan tawa. "Duitnya mana, Bang? Gue beneran nggak bawa duit, rencana mau minta Bang—" Kalimat Aca terhenti saat Devan menempelkan uang seratus ribu di bibirnya. Ia mencoba tersenyum pada Devan lalu turun dari mobil dan mulai berjalan mencari warung. Dari dulu Aca memang tidak pernah berani membantah setiap kata-kata Devan. Entah karena segan atau karena rasa cintanya pada pria itu. "Lho, mana Bang Dev? Beneran ditinggal nih gue, sialan," gerutu Aca saat kembali dari warung dan tidak menemukan mobil Devan di tempatnya tadi parkir. Aca mulai ketakutan, uang yang diberikan Devan tinggal dua puluh ribu, nggak akan cukup untuk naik taksi sampai rumahnya. Aca menggigit bibirnya kuat, berjalan menuju halte bus, dan duduk di bangku yang ada di sana. Tin! Tin! "Bang Dev!" Secepat kilat Aca berlari menuju mobil yang baru saja berhenti. Dengan senyum lebar, ia membuka pintu mobil dan siap mencerca pria yang telah meninggalkannya itu. "Bang Dev jahat banget sih, kalau gue sampe hilang siap-siap aja digolok Ayah." "Lha kan lo sendiri yang ngilang. Nggak baca sms gue apa? Suruh nyusul ke mushola malah ke halte. Gue kan udah bilang mau Zuhur dulu." Devan menggelengkan kepalanya, kemudian kembali mengemudikan mobilnya. Aca hanya bisa memamerkan cengirannya. Kenapa bisa ia melupakan ponselnya? Ia pun mulai memukul-mukul kepalanya sebal. "Nggak usah dipukul-pukul gitu kepalanya. Nanti malah tambah b**o," celetuk Devan, membuat Aca semakin mengerucutkan bibirnya. *** "Pagi, Bun!" Gadis itu memasuki ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur. Di sana sudah ada Ayah, Bunda, dan Ethan. "Tumben si Bety bangun pagi gini, lewat berapa jembatan lo kemarin?" cibir Ethan saat Aca duduk di kursi samping ayahnya. "Abang, jangan pakai lo-gue sama adeknya," tegur Diana. "Dek, gimana? Udah ada panggilan kerja belum?" tanya Rudi, menatap putrinya. "Belum, Yah." "Ya mana ada yang mau punya karyawan males kayak dia. Yah, keramas aja seminggu sekali, nanti bikin laporan setahun sekali dong," ejek Ethan yang sangat tahu kalau adiknya itu pengin sekali kerja di kantoran. "Abang…," tegur Diana lagi. "Katanya, Om Bagas lagi cari pelayan tuh di restorannya. Coba aja dulu, Dek, buat pengalaman." Kali ini Ethan mencoba memberi saran. "Iya, Dek. Lagian itu juga kerjaan halal daripada kamu nganggur nggak jelas begini," sahut Ayah menimpali. *** Di sinilah Aca sekarang, berdiri di depan Greenday, restoran milik Bagas, ayah Devan. Restoran bergaya Korea yang menyediakan makanan khas Korea dan Indonesia. Ia mengembuskan napas berat. Dengan berada di sekeliling keluarga Devan, maka cepat atau lambat, pasti ia harus bertemu dengan Mbak Maya, wanita yang dulu pernah sangat ia kagumi. Perlahan, Aca melangkahkan kakinya ke lantai dua setelah melewati meja kasir dan menyapa beberapa karyawan yang ada di sana. Beberapa tahun lalu, ia beberapa kali diajak Devan ke tempat ini. Jadi, ia sudah tahu pasti di mana ruangan Bagas. "Wah, siapa yang datang ini?!” sapa Bagas dengan hangat. “Sini, Sayang, sudah lama nggak ketemu kamu makin cantik ya." "Om apa kabar?" Aca memasuki ruangan minimalis itu, kemudian memeluk pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. "Baik. Ethan tadi telepon katanya kamu mau kerja di sini. Lowongannya yang ada cuma pelayan, nggak apa-apa?" Ia mengajak Aca duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. "Nggak apa-apa, Om. Itung-itung buat pengalaman, daripada nganggur." Aca mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Mbak Maya mana Om?" Bagas sedikit tersentak dengan pertanyaan Aca. Ia mengembuskan napas berat, menyandarkan diri di sofa. "Maya sudah lama pergi.” Aca tidak bisa menutupi mimik kagetnya. Selama ini ia memang tidak pernah mendengar kabar Maya, tapi jika sampai benar-benar pergi, kenapa tak ada satu pun orang yang memberitahunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD