Gadis itu termenung di taman belakang rumahnya, sembari membelai boneka ikan lumba-lumba warna biru kesayangannya.
"Dolphin, Bang Ethan udah pergi jauh. Kamu jangan tinggalin aku kayak dia ya. Tetep di sini temani aku." Aca memeluk erat bonekanya seolah itu bisa memberinya ketenangan seperti saat memeluk sang bunda. Gadis itu merasa sangat sedih akan ditinggalkan oleh kakak laki-lakinya.
"Sayang, sini ikut bunda bentar." Sang bunda tiba-tiba datang menghampiri, mengajak Aca untuk masuk ke dalam rumah.
"Ini dia, Esperanza, biasa dipanggil Aca. Adek, kenalin ini tetangga kita yang baru namanya Velove sama abangnya, namanya Devan." Diana mengenalkan dua remaja yang duduk di ruang tamu mereka.
Aca menyalami gadis yang duduk di sofa dengan ibu muda yang sepertinya seumuran dengan bundanya.
"Aca."
"Ve."
"Nih mamanya Ve, namanya Tante Suli, baru pindah dari Bandung." lagi-lagi Diana menjelaskan, dengan senyum merekah di bibir.
Aca tersenyum kikuk memandangi Velove. Tapi, tak lama kemudian bibirnya terbuka lebar, dan kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Sebentar lagi, akan ada temannya belajar setelah Ethan memutuskan untuk menerima beasiswa kuliah di Amsterdam.
***
"Neng, jalan yuk! Nanti Akang beliin DVD drama Korea, mau?" tanya Doni saat Aca memasukkan tasnya ke dalam loker.
"Aca kerja, Kang. Lain kali aja ya," jawab Aca dengan senyum termanisnya.
"Berarti kalau bukan jam kerja, mau dong jalan sama Akang? Susah loh dapet tiket jalan sama Akang yang kece badai begini," ucap Doni sombong. Ia memang tampan, berkulit putih, badannya yang berotot dan tinggi 190 cm itu menurut Aca terlalu tinggi untuk ukuran orang asli Indonesia. Namun bagaimana pun bentuknya kalau hati nggak konek, tetap aja nggak bisa terima.
"Eh, sundel, minggir deh, badan lo tuh menuhin tempat tahu. Bikin sepet mata gue." Marin mendorong keras tubuh Doni hingga pria itu terjatuh di lantai. Kedua manusia beda gender itu tak pernah bosan saling mencaci dan menghina.
"Sialan lo perawan tua kurang belaian, gue pites baru tau rasa," balas Doni tak mau kalah. Cepat-cepat ia berdiri dan menghampiri Marin.
"Lepasin, sundel! Sakit tahu," teriak Marin saat Doni menjepit kepalanya di ketiak.
Doni lari keluar dengan tawanya yang membahana setelah menyentil dahi Marin keras, sementara Aca hanya terkekeh geli melihat kelakuan teman-temanya itu. Hiburan yang menyenangkan.
Seperti biasanya, Aca kebagian tugas mencatat pesanan dan mengantar makanan. Pekerjaannya sekarang ini memang berbeda jauh dari impian Aca, bekerja di kantor, duduk manis di depan komputer sepanjang hari tanpa harus mondar-mandir melayani pelanggan. Tapi, Aca sangat senang bekerja di Greenday Resto. Teman-temannya di sini memperlakukanya dengan baik. Dua bulan bekerja di sana membuat Aca mengerti susahnya mencari uang.
"Ca, ntar pulang sama siapa? Diantar Pak Devan lagi?" tanya Marin sambil membereskan piring kotor.
"Kok lo tau gue pernah diantar Bang Dev?"
"Lha, lo kira kita pada buta apa? Orang kaca tembus pandang gede banget gitu, masa nggak lihat femomena tarik-menarik ala-ala Esperanza."
Dinding Greenday Resto bagian depan memang hampir tujuh puluh persen terbuat dari kaca. Malunya Aca menyadari semua itu. Padahal kemarin itu bukan tarik-menarik, tapi cuma Bang Devan saja yang narik Aca. Tanpa menjawab pertanyaan Marin, Aca bergegas ke ruang ganti untuk mengganti seragam kerjanya dengan pakaian yang dikenakannya pagi tadi. Setelah selesai dan mengemas barang-barangnya, Aca sengaja keluar restoran dari pintu samping, mengendap-endap karena rasa malu yang tidak jelas sebabnya.
PLETAK!
"Aduh!” Aca terkejut ketika tiba-tiba ada yang menyentil kepalanya keras dan melihat Yona ada di belakangnya. “Sakit, Yona! Lama-lama kayak jelangkung lo, datang nggak diundang," komentar Aca sembari mengelus kepalanya.
"Nah, lo itu kayak maling celingak-celinguk nggak jelas. Laper nih gue. Cari makan, yuk!" Yona menarik tangan Aca untuk segera memasuki mobil.
"KFC ya, Na, udah lama nggak makan ayam goreng," ucap Aca setelah memasang sabuk pengamannya.
"Baru semalem dibeliin Bang Ethan, lo bilang udah lama. Amnesia lo—ups, sorry."
Tiba-tiba Yona menutup mulutnya, merutuki kebodohannya dalam berbicara, takut Aca tersinggung dengan kata-katanya. Sedangkan sahabatnya itu hanya diam menatap ke arah jendela, seolah tak terpengaruh dengan kalimat Yona barusan. Namun, dalam hati, tetap saja ia ingin mengingat sebagian masa lalunya yang terlupakan.
Kini suasana di dalam mobil jadi sunyi. Tak ada satupun yang bicara di sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya Yona yang pertama kali buka suara.
"Eh, itu bukannya Bang Devan?" Yona mencoba mencairkan suasana yang canggung saat mereka sampai di sebuah parkiran mal. Di sana terlihat Devan masuk mobil dengan seorang wanita.
"Itu Mbak Maya kan?!" ucap Yona histeris.
"Yona, pelan-pelan kenapa sih, kok lo yang sewot kalau itu Mbak Maya? Dia nggak minta makan sama lo kali."
"Gila tuh cewek! Nempelin Bang Dev terus,” cerocos Yona. "Masa minggu kemarin gue liat dia keluar dari apartemen Bang Dev pagi-pagi buta," tambah Yona kesal dan membuat Aca semakin bingung mendengar ucapan Yona.
"Lo kenapa sewot, Yon? Mereka kan udah nikah, wajarlah ke mana-mana sama-sama, dan pastinya Mbak Maya tidur di apartemen Bang Dev dong. Kan mereka pasangan suami-istri."
Yona menggigit bibir bawahnya keras, menyadari setiap kalimat yang keluar dari mulutnya kembali salah. Tiga tahun menyimpan rahasia itu memang sangat tidak nyaman.
"Aneh juga sih. Om Bagas bilang, Mbak Maya udah pergi, masa dia nggak tahu kalau menantunya tinggal di apartemen anaknya?” Aca menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal. Memikirkan kejadian-kejadian aneh di sekitarnya. “Ah, udahlah! Lagi males mikirin urusan orang."
Aca menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap pikiran buruknya dapat menghilang. Meski tak dapat dipungkiri hatinya sangat sakit melihat orang yang dicintainya bersama wanita lain. Sedangkan Yona kembali gelisah. Pikirannya kembali menimbang suatu hal, haruskah ia memberitahu Aca kebenarannya sekarang?
***