Devan Arsenio Luther “Apa pun tentang kamu, selalu bikin aku nggak fokus dengan yang lain saat di dekatmu.” Entah bagaimana kalimat itu keluar dari mulutku dengan mudahnya. Kupikir, itu akan membuatnya senang tapi ia justru mencebikkan bibirnya, menambah kesan seksi di bibir mungilnya. Hatiku berdesir aneh melihat bibirnya yang merah dan mendekatkan wajahku padanya. Melumat bibirnya dengan rakus. udara malam yang dingin sepertinya akan menggiringku dalam kubangan dosa. “Astagfirullahaladzim.” Aku berhenti dan mengusap wajahku kasar ketika berbagai macam pikiran yang tak seharusnya muncul di kepala saat berdekatan dengannya. Gila. Gila. Astaga, ini tak bisa dibiarkan. Benar-benar gila. Aku melangkahkan kaki menjauh dari Aca, menuju pintu keluar. “Maaf, maafi

