INI KAMAR TIDUR?!

1071 Words
Setelah semalam menginap di hotel tempat mereka melangsungkan pernikahan, Inggrid dan Dante langsung meluncur ke bandar untuk bulan madu. Oh bukan bulan madu, melainkan menemani Dante untuk memantau perusahaannya di Vietnam sekaligus berbulan madu. Perjalanan selama lima hari tersebut cukup membuat tenaga Inggrid terkuras karena terus mengikuti kemana pun Dante pergi. Hari ini, akhirnya mereka kembali dari bulan madu singkat mereka. "Pak, dimana? Saya sama Inggrid sudah di bandara" Dante menelfon supir setia keluarga mereka, Pak Udjo. "Ayo, Pak Udjo udah nunggu dari satu jam yang lalu" Dante menyeret kopernya tanpa memperdulikan Inggrid yang wajahnya nampak lesu. "Kamu gak bisa bantu aku gitu?" tanya Inggrid yang akhirnya meminta tolong. "Kenapa sih? Kamu lesu banget keluar dari pesawat? Aku gak berbuat apapun sama kamu semalaman tapi kenapa kamu lesu gini sih?" Dante menjining tas tangan istrinya. "Ih! Aku juga tahu kamu gak apa-apakan aku semalam, siapa juga yang mau!" balas Inggrid sengit. "Siang Tuan dan Nyonya" Pak Udjo menyapa mereka. "Siang pak, langsung pulang saja ya" Dante memberikan kopernya dan Inggrid pada supirnya. Sesampainya di rumah, Inggrid dan Dante di sambut oleh Citra yang diam-diam sedang menyumbunyikan sesuatu dari mereka. "Wah pengantin baru rupanya sudah pulang bulan madu" Citra tersenyum dan menyambut mereka dengan wajah pucat. "Kakak kok wajahnya pucat?" Inggrid memperhatikan wajah Citra yang nampak beda itu. "Haduh Citra, kamu jangan terlalu banyak gerak kenapa sih?" Asri menghampiri Citra dengan was-was. "Loh kalian sudah pulang rupanya, kenapa gak ada kabar-kabar dulu?" Asri menyambut anak dan menantunya tersebut. "Urusanku di Vietnam sudah selesai, jadi ya kita pulang" Dante menjawab. "Citra sekarang kamu kembali ke kamar, kondisi kamu belum pulih betul dan kamu juga harus banyak-banyak istirahat Citra!" Asri menyuruh Citra untuk kembali ke kamar tidurnya. "Ah! Mama, aku kan ingin hirup udara bebas juga" Citra memohon. "Memangnya kakak sakit apa?" tanya Inggrid penasaran. "Dia nggak sakit, cuma hamil" jawab Asri tersenyum, begitu juga Citra. "Hah? Hamil?" tanya Dante mendengus. "Yang pulang bulan madu kan Inggrid, kenapa yang hamil malah Kak Citra?" tambahnya. Inggrid kontan melotot dan mencubit pinggang suaminya. "Adaww! Sakit tahu! Kamu kalo nyubit ternyata sakit juga ya!" Dante meringis sambil memngelus-elus pinggangnya. "Lagian kamu kalo ngomong gak di jaga" balas Inggrid sengit. "Aduh pengantin baru kok malah ribut sih?" Asri menggoda keduanya. "Kamu kalah cepat sama kakak sendiri" jawab Citra tersenyum. "Makanya gerak cepat kalau mau Inggrid sama kayak aku!" Citra tersenyum dan meninggalkan mereka berdua. "Sudah, kita ke kamar saja, aku capek banget" keluh Dante. Inggrid tidak percaya saat ia masuk ke dalam kamar tidur suaminya. "Dante..." ucap Inggrid lirih sambil melihat sekeliling kamar tersebut dengan tatapan tidak percaya. "Ini kamar kamu?" tanya Inggrid semakin tidak percaya. "Iya ini memang kamar aku, yang bilang ini kamar kamu siapa? Ya meskipun sekarang ini kamar kamu juga" Dante langsung menghambur ke tempat tidurnya. Bahkan Inggrid saja ogah untuk sekedar rebahan di ranjang itu. "INI YANG KAMU BILANG KAMAR TIDUR?" Inggrid berteriak melihat isi kamar Dante yang berantakan tidak karuan itu. "Baju berserakan dimana-mana, sisa fast food kamu belum di buang, 4 botol kosong pomade kamu bergeletakan di ujung, kabel-kabel itu melilit gak jelas dan kamu betah di kamar seperti ini Dante?" Inggrid makin meninggi. "Kamu jangan bawel kenapa sih? Aku capek! Udah pesawat kita delay 4 jam di Kuala Lumpur dan sekarang di sini kamu malah marah-marah. Diem aja kenapa sih?" Dante kesal. "Jelas saja aku marah-marah, kamar kamu berantakan gini Dante! Huh!" Inggrid pun membuka kopernya dan mengambil kantong plastik yang ia simpan untuk mengantongi bawaan. Tidak peduli dengan Dante yang sudah tidur, Inggrid mematikan AC yang baru saja Dante nyalakan beberapa saat sebelumnya. "Eh kenapa kamu matiin AC-nya? Aku mau tidur, panas tahu nanti!" Dante kesal saat mendengar bunyi AC yang di mati. "Biarin aja panas!" Inggrid pun mulai memungut botol-botol kosong tersebut. "Jadi kamu suka panas-panasan?" tanya Dante sambil tersenyum nakal dengan mata sambil menatap istrinya yang mulai beberes. "Kamu mau tidur atau aku seret dan bantuin aku beresin kamar kamu?" Inggrid berkacak pinggang. "Eh iya-iya aku tidur, tapi setelah beres-beres, AC tolong nyalakan lagi" Dante tergagap. "Gak! Pokoknya mulai sekarang kalau kamu mau tidur siang atau sekedar rebahan pakai kipas angin! Berhubung kipas anginnya gak ada jadi kamu pakai AC alam dulu" Inggrid membuka lebar-lebar jendela kamar. "Nanti kalau nyamuk masuk gimana? Kamu mau aku kena demam berdarah ya?" keluh Dante. "Ini kan ada kawat kassa! Kamu gimana sih?" Inggird menutup jendela dengan kawat kassa. "Nanti kita beli kipas angin yang besar, jadi kamu gak terlalu kepanasan kalau tidur nanti" Inggrid mulai membenahi kamar yang lebih mirip kapal pecah tersebut. Setelah selesai dengan urusan kamar super berantkan Dante, Inggrid bisa bernafas lega dan tersenyum puas melihat hasil karyanya. "Nah kalau begini kan enak! Lebih luwes, lebih enak di lihat. Dia juga enak kalau mau bekerja, gak pusing kamar berantakan" Inggrid berkacak pinggang dan menatap sekeliling kamar. Dante masih terlelap dan rupanya ia tidak terganggu dengan suara vaccum cleaner dan gerak-gerik Inggrid yang sudah pasti mencipatakan suara-suara yang bisa saja membuatnya terbangun. "Monster ini rupanya kalau udah tidur pulas suara bom pun dia gak dengar kali ya?" Inggrid menatap Dante yang tertidur pulas. Sebenarnya wajar jika Dante tertidur pulas, semalaman selama di Vietnam dan menunggu pesawat di Kuala Lumpur ia tidak tidur malah terus bekerja dengan tablet PC miliknya. "Ya kamu capek juga sih, tapi ya sudahlah" Inggrid mengangkat bahunya dengan acuh. Saat hendak ingin merapihkan sprei ranjangnya yang berantakan di ujung ranjang, kakinya tanpa sengaja menginjak sesuatu yang keras dan cukup tajam. Inggrid pun berjongkok dan menemukan sebuah bingkai foto di bawah ranjang suaminya tersebut. Posisi bingkai yang terbalik dan lumayan berdebu membuat Inggrid berhati-hati jika ia tidak ingin bersin akibat debu yang cukup banyak menempel pada bingkai foto tersebut. Inggrid mengambil sebuah lap basah dan membersihkan bingkai foto tersebut, dari debu-debu. Dengan sangat hati-hati ia membersihkannya hingga akhirnya ia melihat foto sosok wanita yang ada pada bingkai foto tersebut. Wajahnya cantik, rambutnya pun juga mengkilat bagus. Senyumannya juga tidak kalah menawan, di tambah dengan kulit putihnya yang terawat tentunya. "Dia siapa?" tanya Inggrid menatap wanita dalam bingkai tersebut. "Apa dia mantan kekasihnya Dante?" Inggrid seperti merasa sesak sendiri menebak hal tersebut. "Aduh, aku saja menikah dengan dia karena terpaksa! Kenapa aku jadi sesak sendiri kalau pun ini benar mantannya?" Inggrid bertanya-tanya. "Hmm cantik sih, pasti dari kalangan atas. Tapi siapa ya namanya?" Inggrid membalik bingkai tersebut dan berharap menemukan sedikit petunjuk siapa wanita tersebut. Matanya menangkap sebuah tulisan di ujung kiri bawah bingkai tersebut. Ravenna Delia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD