Shakira bangun pagi dan langsung pergi ke dapur untuk mencuci muka, kemudian langsung mencuci piring. Dia bangun terlambat, ibunya baru selesai memasak dan ayahnya tengah bersiap pergi ke kebun.
"Masih belum bangun Yan? Ini loh udah siang. Mau bangun kapan kamu?" Ibu mengomeli putranya yang tidak kunjung bangun, padahal mau diajak ke kebun.
"Biarin, nanti biar nyusul!" Ayah menyela ibu yang akan mengomel lagi.
Shakira selesai mencuci piring, dia melihat ibu dan ayahnya berjalan pergi ke kebun. Telinganya masih mendengar suara keluhan ibunya tentang Rian yang tidak juga bangun.
"Yan, cepet makan!" Shakira melihat adiknya baru bangun, memperhatikan wajahnya yang masih terlihat sangat malas.
Shakira kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur, tapi Lian tidak kunjung bangun. Jadi dia meninggalkannya saja untuk mencuci baju.
Kegiatan pagi itu sama seperti biasa. Ayah dan ibu pulang di siang hari, karena sudah menyelesaikan pekerjaan penanaman. Dan siang itu, datang tetangga yang melihat kepulangan mereka.
"San, aku ada lowongan kerja untuk anakmu!"
"Kerja apa?"
Ayah langsung mengangkat wajahnya. Menunggu informasi dari tetangganya tersebut. Dia sebenarnya tidak tahu kalau istrinya sedang mencarikan kerjaan untuk anak-anak.
"Jaga toko, gajinya lumayan. Dari pada nganggur di rumah!"
"Siapa yang nganggur?" Rian baru pulang dan mendengar pembicaraan tetangganya.
"Wes, kamu masuk dulu. Panggil kakakmu!"
Rian menurut setelah melihat ibunya yang terburu-buru mengusirnya.
"Kakak, dipanggil ibu. Kayaknya mau dicarikan kerja!" Panggil Rian di luar pintu kamar saudarinya.
Shakira tidak tahu menahu kalau ibunya mencarikan kerja. Jadi dia penasaran. Merapikan rambutnya dan berjalan ke teras depan. Ada ayahnya di ruang dalam sedang menunggu Lian selesai membuatkan kopi.
"Iya, kayaknya lebih cocok kalau Lian saja. Dia tinggi, cantik dan tinggal nunggu kelulusan kan?"
Shakira yang baru keluar dan mendengar pendapat tetangganya pun merasa canggung. Malu dan agak kecewa, karena dalam arti lain, menurut tetangganya, dia tidak cocok dan tidak lebih baik dari Lian untuk kondisi pekerjaan yang sedang ditawarkan.
Santi melihat rasa malu putrinya, tapi hanya mengabaikannya saja. Yang penting salah satu putrinya bisa dapat pekerjaan. Nanti dia akan mencarikan pekerjaan lagi jika ada kesempatan lain kali.
"Dimana kerjanya? Kamu tahu sendiri kalau Lian belum pernah kerja, masih agak rewel. Apakah bosnya baik?"
"Kerjanya di Bekasi. Agak jauh dari sini. Tapi nanti disediakan tempat tinggal. Bareng sama anak-anak yang kerja disana!"
Lian keluar dari rumah, dia berbisik di telinga kakaknya. "Kak, aku gak mau kerja. Aku mau kuliah!"
Shakira menghela napas memperhatikan ibunya yang tengah asik mengobrol dengan tetangganya. Dia ingin mengabaikan keluhan adiknya, tapi tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Kembali masuk ke rumah tanpa bicara.
Malam itu, Shakira tidak banyak berbicara dan tidur lebih awal. Dia tidak tahu ada perdebatan alot antara ibu dan Lian. Sedangkan ayah dan Rian juga akhirnya ikut berpendapat yang membuat situasi semakin buruk.
Bagi ayah, membesarkan anak-anak adalah hal yang tidak menyulitkannya. Dia tidak keberatan jika anak perempuannya tidak bekerja. Tapi bagi Santi, memalukan jika ada tiga anak menganggur di rumah.
"Jangan berdebat lagi. Semuanya diam dan kembali ke kamar!" Ayah tidak tahan lagi mendengar suara putrinya yang menangis menolak untuk bekerja. Dan dia muak mendengar istrinya terus membandingkan anak-anak dengan anak-anak di desanya.
Santi dan Rahmat tidak banyak bertengkar selama pernikahan. Tapi malam ini, Rahmat merasa sangat tersinggung oleh ucapan istrinya.
"Anak-anak tumbuh sehat saja aku merasa senang. Jangan sakiti hatinya hanya karena kamu malu dengan tetangga dan kerabat. Apakah anakku memalukan? Mereka cantik dan tampan, tidak cacat. Pandai membantumu di dapur dan rumah kita juga menjadi rumah yang paling bersih. Kopi buatan Lian adalah kopi ter-enak favoritku. Rian juga anak berbakti yang mau membantuku mengolah tanah. Dan Shakira, anak kesayanganku yang pendiam, jangan rengut senyum mereka!"
Santi menangis mendengar kemarahan suaminya. Yah, dia memang egois, tapi bukankah itu juga untuk kebaikan anak-anak. Bukankah anak-anak akan bisa merasa percaya diri jika mereka punya uang dan pekerjaan. Dia tidak pernah meminta anak-anak memberinya uang, tapi dia hanya meminta mereka hidup bisa mengangkat tinggi-tinggi wajah mereka saat bertemu orang.
"Apakah aku sangat picik dimatamu? Apakah kamu tidak mengenalku? Apakah menurutmu aku mau menghancurkan hati mereka? Aku hanya tidak ingin ada yang menghina anak-anakku!"
"Tidak ada yang akan menghina mereka? Mereka baik-baik saja!" Rohmat membentak istrinya tanpa sadar.
Sunyi, hanya terdengar suara tangisan lemah Santi. Keduanya mencoba menjadi orang tua yang baik. Tapi tentu saja, jika melihatnya dari sudut pandang yang benar.
Rian berdiam diri di kamar. Dia mendengarkan suara tangisan ibunya dengan hati yang sakit. Sebenarnya dia ingin keluar dari desa dan mencari pengalaman kerja di kota. Tapi dirinya enggan meninggalkan orang tua yang mengolah kebun sendirian.
Dia punya rencana di benaknya. Tapi tidak tahu, apakah hal tersebut akan baik atau buruk. Tapi ada tekad yang kuat di hatinya.
Pagi itu ibu tidak melihat Shakira membantu memasak. Dia juga tidak memanggilnya, karena pertengkaran semalam dengan suaminya, dia terus bungkam pada anak-anak.
"Yan! Dari mana?" Ibu melupakan amarahnya sejenak saat melihat Rian kembali dari luar pagi-pagi sekali.
"Aku anter kakak. Ibu tidak akan diejek lagi oleh tetangga. Kakak pergi mencari kerja. Dan biarkan Lian tinggal di rumah, entah dia kuliah atau tidak. Lagi pula baru lulus, tidak perlu terburu-buru, " Rian tidak sempat melanjutkan, karena di tarik oleh ayah.
"Katakan lagi. Kakakmu pergi?" Rohmat melotot pada putranya dengan jantung berdegup kencang.
Rian bisa melihat kepanikan di wajah ayahnya. Dia tahu apa yang sedang dirasakan ayahnya. Ayah paling menyayangi kakaknya. Dan paling takut membiarkannya pergi keluar sendiri, apalagi membiarkannya keluar menjelajah dunia. Mungkin dia sedikit berlebihan, tapi itulah yang sebenarnya. Ayahnya adalah yang paling enggan dan khawatir anak-anaknya terluka. Terutama untuk putri sulungnya.
"Yah, aku anter kakak pergi sama mbak Diah. Katanya mbak Diah nyari pekerja wanita untuk bekerja bersamanya di rumah makan!"
Ayah menampar Rian, tidak terlalu kuat. Hanya untuk memberikan hukuman, karena tidak membicarakan masalah itu dengannya.
Ibu menarik Rian di belakangnya. Dia khawatir suaminya akan memukul Rian lagi. Sebenarnya dia sama dengan suaminya, terkejut dengan keputusan anak-anak yang terlihat terburu-buru.
Lian keluar dari kamarnya, dia bangun dan mendengar ucapan Rian kalau kakaknya sudah pergi. Sungguh, dia sebenarnya sedikit merasa bersalah, karena semua ketegangan di keluarga dimulai olehnya yang ingin melanjutkan kuliah.
"Apakah dia membawa uang? Dan bagaimana tempat kerjanya? Kalian benar-benar, tidak bisakah kalian izin ayah sebelum memutuskan?" Rohmat sedikit gelisah sekarang. Dia khawatir dengan putrinya.
Ibu mencoba menenangkan diri dan bersikap seperti biasanya. "Jangan khawatir. Shakira berusia dua puluh tujuh tahun. Dia pasti tahu apa yang baik dan buruk untuknya!"
Rian memalingkan wajahnya dari ayahnya. Dia juga berharap kakaknya baik-baik saja.
_
Shakira memegang erat tasnya. Dia naik mobil bersama mbak Diah. Ingatannya masih pada sikap adiknya pagi ini. Anak lelaki itu mengantarkannya pergi dan memberinya uang.
Saat itu dia menolak, karena dirinya sendiri masih memiliki uang. Tapi Rian memaksanya menerima uang tersebut.
"Kak, ini uang hasil kerjaku. Uang simpanan. Jadi jangan khawatir. Tolong jaga diri baik-baik. Kakak layak untuk bahagia. Jadi cari bahagia itu, jangan menyerah!" Ucapan Rian masih terngiang-ngiang membuat Shakira merasa sesak.
Rian adalah orang yang tidak mau membantu pekerjaan rumah. Bahkan saat dia tidak pergi ke kebun. Suka main game dan sering keluar malam bermain dengan teman-temannya. Anak laki-laki yang dulunya sering Shakira momong ternyata sekarang sudah dewasa. Dan Shakira baru menyadarinya.