Khawatir terhadap sesama manusia, menurut Biru, rasa empati yang demikian pasti dimiliki oleh setiap manusia yang memiliki akal sehat. Termasuk pada dirinya saat ini. Kepeduliannya terhadap si dosen judes, tentu hanya sebatas rasa kemanusiaan.
“Ayo Bu!” ajak Biru saat melihat tidak ada pergerakan dari Aya. Sebab wanita itu masih berdiri bak membeku di tempatnya, ponsel yang dipegangnya juga sempat jatuh di lantai, lantaran masih terkejut karena pintu ruangannya terbuka tiba-tiba.
“Ngg… nggak apa-apa, Biru. Saya sendiri aja. Lagipula, kamu kan terburu-buru. Nanti saya turun sendiri—“
“Tapi mantan suami Ibu masih menunggu Ibu
di mobilnya. Apa Ibu mau pergelangan tangan atau bagian tubuh Ibu yang lain memar lagi? jangan terlalu banyak berpikir, cepat saya antar sampai ke mobil!” Biru seakan memberi titah, dan mendikte Aya dengan nada yang cukup tegas, lelaki itu tidak peduli dengan siapa dia berbicara. Toh apa yang dia katakan juga untuk kebaikan Aya.
Aya menelan salivanya kasar, kepalanya terasa pening mendadak. Yang Biru katakan tidak ada yang salah, mengingat bagaimana perlakuan Rico padanya barusan, Aya jadi merinding, hingga dia mengangguk singkat menyetujui perkataan Biru. Mengapa keadaan jadi terbalik? Jadi Aya yang menuruti titah lelaki itu.
“Iya,” sahut Aya singkat lalu melangkah pelan setelah mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai.
Dengan sabar Biru menunggu wanita itu keluar dari ruangannya. Mengiringi langkah Aya yang tidak bisa cepat, Biru berjalan dengan pelan, tanpa peduli ponselnya yang terus berdering sejak tadi. Dia tahu itu pasti Lili. Sudah pasti wanita itu bertanya-tanya apa yang dia lakukan kembali naik ke lantai dua.
Tanpa berani menatap ke arah di mana mobil Rico terparkir, Aya terus fokus berjalan menuju mobil miliknya. Aya merasa cukup s**l karena mobilnya terpakir dengan jarak beberapa meter saja dari mobil Rico.
“Aya!” suara itu memanggilnya tepat saat Biru membukakan pintu mobil untuk Aya, setelah Aya menekan remot mobilnya.
“Biru… tolong saya,” lirih Aya tanpa sadar dia seperti setengah memohon pada mahsiswanya itu. Sebab, hanya Birulah yang bisa dia andalkan saat ini, tidak ada yang lain.
“Ibu masuk dan kunci pintunya, cepat, lalu langsung pergi dari sini. Biar saya yang hadapi!” titah Biru, Aya masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi tanpa berpikir panjang. Dia menekan tombol yang menjadikan semua pintu terkunci secara otomatis.
“Kenapa lo ikut campur urusan gue?” tanya Rico geram, merasa lelaki muda di hadapannya ini sangat sengaja menghalang-halanginya bertindak untuk bertemu Aya.
“Bu Aya sedang kurang sehat, jadi biarkan beliau pulang,” jawab Biru santai.
“s****n!” maku Rico lalu pergi meninggalkan Biru saat melihat mobil Aya perlahan bergerak meninggalkan area parkir.
“Pak, tunggu!” sekali lagi, Biru mencoba menahan lelaki itu agar Aya pergi menjauh dan Rico tidak bisa mengikutinya.
“Apalagi? gue nggak punya urusan sama lo-“
“Kita belum kenalan, Pak.” Biru masih santai menghadapi Rico.
“s**t!” maki Rico tanpa mempedulikan Biru, lelaki itu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Urusan apa sih kamu sama si judes?!” Lili yang sudah menunggu Biru terlalu lama, merasa ada yang tidak beres hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghampiri kekasihnya yang sikapnya mencurigakan. Lili langsung menarik lengan Biru untuk menuju mobil.
“Nggak ada, aku cuma nolongin dia dari bahaya mantan suami—“
“Bukan urusan kamu, mau bahaya kek apa kek, heran banget deh!” gerutu Lili kesal.
“Memang benar bukan urusan aku. Tapi paling nggak, aku nolongin dia supaya hatinya luluh dan urusanku cepat kelar. Kamu mau nikah kita dipercepat, kan?” Biru berkilah, meski yang dia katakan tidak ada yang salah. Melukuhkan hati seorang dosen yang terkenal judes dan sering mempersulit urusan mahasiswa.
“Ya… iya sih. Tapi nggak usah berlebihan juga. Kalau dia baper gimana?”
Biru kantas tertawa mendengar pertanyaan Lili. “Konyol banget pertanyaanmu. Mana mungkin dia baper hanya karena tindakan sederhana begitu.”
“Jangan salah. Dia janda yang mungkin haus belaian,” ucap Lili secara tak langsung mengumpat Aya.
“Udah, nggak usah bahas itu lagi. Sekarang jadi pergi nggak?”
“Oh tentu jadi dong!” sahut Lili dengan semangat, langsung menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih.
*
“Anak Mama kenapa?” Aya baru masuk keluar dar mobilnya yang terparkir di halaman rumah, langsung disambut oleh mamanya yang saat itu sedang menyiram tanaman. Melihat wajah pucat dan merengut anak perempuannya, langsung bertanya-tanya.
“Tadi… Aku ketemu Rico, Ma-“
“Ketemu di mana?”
“Dia datangin aku ke kampus.” Aya menghampiri sang mama dengan suara bergetar.
“Buat apa?”
Aya menggeleng. “Aku juga nggak tau, Ma.”
“Itu tangan kamu?”
Aya langsung menyembunyikan tangannya di balik saku blazer yang dikenakannya.
“Itu karena dia?”
Aya mengangguk. “Dia maksa aku masuk ke mobilnya. Dia narik tangan aku Ma, terlalu kuat sampai memar begini,” jelas Aya.
Wanita paruh baya bernama Miranda itu membuang napas berat. “Kalau Papamu tau, beliau pasti marah besar. Mau apa lagi sih, laki-laki nggak berguna itu?” geram Miranda.
“Katanya dia mau jelasin sesuatu tentang kesalahpahaman—“
“Ah kesalahpahaman apalagi? Semuanya udah terbukti. Ya udah sana kamu masuk kamar, istirahat. Oh iya, jadi kamu tadi sempat masuk ke mobilnya? terus gimana kamu bisa keluar dari sana? kamu nggak diapa-apain, kan?” tanya sang mama penasaran.
Aya menggeleng. Pikirannya langsung terlintas lelaki bernama Biru yang telah membantunya hari ini. “Aku beruntung karena mahasiswa bimbingan aku nyamperin kami, dan aku belum sempat masuk ke mobilnya. Kalau sampai aku masuk ke sana, mungkin bisa aja dia berbuat nekat. Sampai setelah urusanku selesai dengan mahasiswaku, ternyata dia masih nungguin aku, Ma. Tapi untung aja mahasiswaku itu temanin aku sampai aku masuk ke mobil dan benar-benar pergi.” Aya menceritakan sedara detil pada mamanya dan dia tak bisa menahan air matanya lagi.
“Udah sayang… udah. Semoga kamu mendapat pengganti yang lebih segala-galanya dari dia. Baik sekali mahasiswa kamu itu, siapa namanya?” Miranda langsung memberi pelukan pada sang anak semata wayangnya.
Baik? ya mungkin dia baik karena ada maunya, yang pasti supaya aku merasa berhutang budi, lalu mempermudah urusannya. Apalagi kalau bukan hanya azas manfaat? Aya membatin. Rasanya masih belum terima saat sang mama mengatakan seorang lelaki bernama Biru itu baik, padahal yang dia tahu cukup menyebalkan. Aya yakin Biru hanya memanfaatkan situasi saja, berbuat baik padanya.
“Eum, namanya Biru, Ma,” jawab Aya jujur.
“Oh cowok ya?”
“Iya Ma.”
“Ya udah, sekarang masuk ke kamar, isitrahat, ya.”
“Hm, iya Ma. Mama juga, udah mau maghrib. Ayo masuk.” Ajak Aya.
Bicara soal pengganti? tentu saja Aya masih trauma memulai dan merajut kembali hubungan percintaan. Masa lalu kelam dan sakit hati serta rasa ilfeelnya terhadap seorang laki-laki, masih belum hilang dan amat membekas di pikiran hingga hatinya.