Setelah menyampirkan gitar bolong ke bahu, Lexi melangkah keluar restoran Platia untuk pulang ke rumah yang seperti hutan belantara itu. Rumah Lexi tak jauh bedanya dengan hutan belantara, karena di halaman belakang rumah banyak sekali ditumbuhi tanaman dengan berbagai jenis. Pohon-pohon menjulang tinggi itu memiliki daun lebat yang sanggup menutup atap rumah Lexi. Pecinta tanaman? Bisa dibilang begitu jika orang awam yang menilai, tapi bukan itu alasan Lexi sebenarnya. Dia menanam semua tanaman itu untuk menemani kesendiriannya. Menari, berbicara, dan menyanyi bersama tanaman adalah sebuah hiburan yang menyenangkan bagi Lexi.
Sejak dia kecil dan mulai memahami bahasa, dia baru mengerti kalau tanaman-tanaman di halaman panti bisa berbicara, berteriak kesakitan, dan bernyanyi. Seolah-olah tanaman itu hidup layaknya manusia. Dulu sewaktu kecil, dia terus mencoba meyakinkan pengurus panti bahwa semua tanaman yang ada di sana bisa berbicara layaknya manusia, bahkan Lexi pernah menyuruh Cleo berjongkok selama berjam-jam di halaman panti untuk membuktikan bahwa tanaman itu bisa berbicara. Namun, segala upayanya untuk meyakinkan orang-orang tentang apa yang ia alami sama sekali tidak membuahkan hasil. Mereka hanya berkata bahwa itu hanya imajinasi dan sebuah khayalan anak kecil. Sejak saat itu, Lexi berhenti untuk meyakinkan orang-orang di sekitarnya.
"Bye, Lexi!"
Lexi menolehkan pandangan lalu tersenyum kepada tanaman yang berjajar mengelilingi bagian depan restoran. Bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyum untuk membalas sapaan mereka. Ini semua seperti sebuah dongeng yang menceritakan tentang seorang wanita cantik bisa berkomunikasi dengan makhluk hidup selain manusia. Benar-benar di luar nalar, tapi Lexi berusaha untuk memahami dirinya, tidak menghindari mereka, dan bisa hidup senormal mungkin. Ya ... senormal yang ia bisa.
Lexi terus melangkahkan kakinya dengan mantap, meskipun telinganya mendengar beberapa tanaman bergumam aneh. Akhir-akhir ini Lexi selalu merasa dibuntuti seseorang hingga membuatnya sedikit merasa tidak nyaman. Anehnya lagi, Naxos Town terlihat lengang di malam ini, hanya terdapat beberapa gelintir wisatawan asing yang berkeliaran di jalanan. Biasanya hampir setiap malam Naxos Towan dipadati oleh para wisatawan yang mencari kudapan malam, berfoto-foto di jalanan dan keluar masuk klub hiburan. Tiga malam ini benar-benar aneh bagi Lexi.
Dengan kepala tertunduk Lexi berbelok ke kanan, menuju ke sebuah gang sempit yang minim penerangan. Baru saja menapakkan kaki ke gang sempit itu, kepalanya terbentur sesuatu.Lexi terdiam dan membeku ketika melihat sosok menjulang tinggi berdiri di hadapannya. Oh Lord! Dia melihat sesosok wajah yang memiliki pahatan sempurna sehingga ia yakin kalau pria ini adalah jelmaan seorang dewa Yunani. Mata biru terang milik pria yang ada di hadapannya ini sanggup menenggelamkannya di lautan Atlantis. Serta tubuh yang memiliki tinggi sekitar 190 cm itu terlihat begitu atletis dan menggoda. Mulut Lexi hampir meneteskan air liur ketika melihat kesempurnaan pria itu.
"Hai, Nona," sapa pria itu dengan senyuman miring.
Lexi masih terpana melihat ketampanan pria itu. Matanya menelisik setiap lekuk wajah yang dimiliki pria itu, terlihat begitu sempurna, tanpa celah sedikit pun dan begitu selaras. Lexi baru menyadari bahwa laki-laki sesempurna ini masih ada di dunia.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja," jawab Lexi ketika kesadarannya mulai kembali. "Maaf telah menabrakmu dan … kalau boleh jujur, baru pertama kali ini aku melihat pria tampan sepertimu."
Pria itu terkekeh. "Apa kau sedang merayuku, Nona?"
Dengan sigap, Lexi menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak, aku tidak merayumu. Aku hanya kagum melihat keindahan wajahmu."
Jemari pria itu menyibak anak rambut Lexi yang menutupi dahi. "Ucapanmu terlalu berbahaya untuk seseorang yang membuntutimu sedari tadi."
Rasa kagumnya itu sirna ketika mendengar ucapan pria itu. Membuntutinya sedari tadi? Jadi pria ini yang membuntutinya? Pandangannya berpindah ke balik punggung pria itu. Dia melihat tiga orang pria dan satu orang wanita—yang sama tingginya dengan pria itu—muncul dari gang sempit yang akan ia lewati. Otak cerdasnya memerintahkan kakinya untuk mundur beberapa langkah sebagai bentuk pertahanan.
"Apa yang ingin kau lakukan kepadaku? Apa kau penjahat baru di sini? Sayangnya kau salah sasaran. Aku bukan turis, aku penduduk asli di sini," tegasnya.
"Aku menginginkan nyawamu."
Seketika itu tenggorokan Lexi terasa kering kerontang. Ucapan pria itu begitu menakutkan.
Sedetik setelah pria itu mengatupkan mulutnya, Lexi mulai balik kanan, tapi langkahnya terhenti ketika bahunya ditarik oleh pria itu.
Entah dari mana asalnya, suatu benda berbentuk panjang berdesing melewati wajahnya dan menancap tepat ke d**a pria itu dan ....
‘Slash.’
Pria itu hancur menjadi butiran abu. Mata Lexi terbelalak, tenggorokannya tercekat, dan jantungnya hampir saja berhenti ketika melihat peristiwa yang tak wajar disuguhkan di hadapannya. Sontak dia balik kanan dan mengambil langkah seribu. Belum genap, ia melarikan diri, tubuhnya menabrak seorang lagi hingga membuat langkahnya terhuyung. Mata hijau terangnya menangkap sosok maskulin dan misterius. Aura yang dimiliki pria ini lebih dingin daripada aura pria yang telah hilang menjadi abu tadi. Sosok pria asing berambut hitam arang sebahu itu sangat ganas, mata hitam bak predator seolah-olah siap menyantap tubuh Lexi, dan rahang berbentuk persegi itu membuat Lexi menelan ludahnya—menakutkan.
"Nyna?" gumam pria itu.
Belum sempat Lexi beradu argumen, Zenon langsung menarik lengan Lexi untuk berlindung di balik punggungnya. Kaki panjang berlapis celana kulit itu menendang tubuh Sirenes yang berlari ke arahnya.
"Lari!" perintah Zenon dari balik bahunya.
Mendengar perintah dari pria asing itu, Lexi langsung mengambil langkah seribu. Dia tidak mau terlibat dalam perkelahian menyeramkan itu. Bagaimana seorang manusia menghilang dan menjadi abu ketika jantungnya ditikam oleh belati? Pemandangan itu begitu menyeramkan bagi Lexi.
Mata tajam Zenon menangkap salah satu Sirenes hendak menggunakan teleportasi untuk mengejar Lexi. Sebelum Sirenes wanita itu menghilang, Zenon sudah mengempaskan tubuh Sirenes itu ke tanah hingga berdebam. Sebuah mata pisau ia lemparkan tepat mengenai d**a Sirenes wanita itu.
Zenon menolehkan pandangan ke arah Sirenes lainya. Sial! Jumlah Sirenes berkurang satu, dia lupa tidak menyelimuti Nymph itu dengan kabut ilusi. Dengan gerakan cepat, Zenon melemparkan dua belati ke punggung Sirenes yang hendak menyusul Nymph berambut ombre itu. Satu kakinya menendang belati yang tertancap di punggung Sirenes hingga berubah menjadi abu. Tubuhnya berputar, lalu menekankan tangannya ke belati yang tertancap di punggung Sirenes satunya dan semua Sirenes yang ada di gang sempit itu berubah menjadi abu.
Lexi terus berlari di jalanan utama Naxos Town. Dia tidak mau melewati gang-gang sempit lagi karena sama saja dia menyetorkan nyawanya sendiri. Dia tidak mau di hadang oleh makhluk-makhluk aneh itu. Oh Tuhan, dia bermimpi apa semalam? Baru pertama kali dalam hidupnya melihat tragedi aneh itu.
Langkah Lexi langsung terhenti saat seorang dari gerombolan tadi sudah ada di hadapannya. Dia menoleh ke belakang untuk memastikan yang lainnya tidak mengikutinya. Kenapa pria ini tiba-tiba ada di hadapannya? Apa pria ini memilih jalan memutar?
"Kau tidak akan bisa lari dariku."
Lexi mundur selangkah. "Ini jalanan utama, kau akan masuk penjara jika kau membunuhku di sini."
Pria bermanik biru itu terkekeh. "Mari kita buktikan!"
‘Slash.’
Lagi-lagi, mata Lexi terbelalak saat melihat tubuh tinggi menjulang itu hilang menjadi abu. Napas Lexi terengah-engah karena panik, tangannya menangkup wajah mungilnya. Dia tidak mau melihat hal buruk ini lagi. "Ini pasti mimpi, ini pasti mimpi," gumam Lexi dari balik telapak tangannya.
Tiba-tiba lexi merasakan sentuhan hangat di pucuk kepalanya. Sebuah tangan berukuran dua kali lipat dari tangannya sedang membelai rambut panjang tergerainya. Dengan perlahan, Lexi membuka telapak tangan yang menutupi wajah, lalu mendongak. Dia melihat sosok asing yang tadi menyuruhnya melarikan diri.
Untuk sesaat, waktu terasa membeku. Mereka berdua saling menatap dalam diam. Mata hijau terang Lexi menelusuri setiap lekuk wajah maskulin Zenon. Wajah yang ia lihat seperti predator itu berubah menjadi lembut, berbanding terbalik dengan yang ia lihat tadi.
Jemari Zenon menelusuri rambut Lexi, lalu bergulir menyentuh pipi hingga ke dagu Lexi. "Nyna." Hanya kata itu yang bisa diucapkan Zenon.
Lexi menepis tangan Zenon dari dagunya. "Aku bukan Nyna dan aku sama sekali tidak mengenalmu. Terima kasih sudah membantuku."
Lexi langsung balik kanan dan berlari pergi meninggalkan Zenon yang masih terpaku.
Zenon tetap bergeming di tempatnya, melihat punggung Lexi yang makin lama makin menghilang dari pandangan. Apa ini mimpi? Dia melihat wajah Nymph itu hampir mirip dengan Nyna. Dia juga tidak menyangka kalau anak dari Flavian dan Gene mirip dengan istrinya yang telah tiada. Sungguh, ini sebuah kebetulan. Ah, tidak ... ini bukan kebetulan, pasti dewa telah merencanakan sesuatu tentang dirinya. Kepalanya mendongak menatap kelamnya langit yang sama sekali tidak bercahaya. Apa dewa sedang mempermainkan hidupnya? Apa dewa tengah berkonspirasi untuk menyakitinya lagi?
Zenon menyibak anak rambut yang menutupi pandangan. Dia berani bersumpah kalau sampai hal buruk terjadi lagi padanya, dia akan menghancurkan dunia Hades meskipun jiwa abadinya sebagai taruhan.
Mata hitam yang mempunyai kekuatan mistis itu menangkap siluet yang berkelebat sebanyak tiga kali menuju ke arah perginya Nymph itu. Dia mengembalikan semua kesadaran, lalu menggeram pelan. Pasti Teles dan Dionisos berkonspirasi untuk membunuh anak Falvian dan Gene. Sepertinya malam ini adalah malam yang panjang untuknya. Nymph berambut ombre itu pasti mempunyai sesuatu yang kuat.