File - 6

1380 Words
  Sudah hampir satu jam Lexi mondar-mandir memandangi tubuh berdarah-darah di atas lantai. Apa yang harus ia lakukan untuk menolong pria ini?. Lexi menebak kalau pria ini adalah imigran gelap. Pasti pria ini tidak mau diketahui identitasnya, tapi di sisi lain, Lexi tidak tahu bagaimana mengobati seseorang yang terluka parah? Bahkan dia sama sekali tidak punya kenalan seorang dokter. Matanya bergulir melihat jarum jam yang menunjukkan pukul delapan. Dua jam ... ah, tidak, satu jam setengah lagi dia harus pergi meninggalkan rumah. Dia harus berpikir cepat untuk mencari jalan keluar. Lexi kembali berjongkok, merogoh kantong celana bagian belakang pria ini. Pertama-tama dia harus mengetahui identitas pria ini, dia akan menyita kartu identitas pria ini supaya bisa mengadu kepada pihak berwajib jika terjadi apa-apa dengan dirinya dan juga rumahnya. Dia akan meninggalkan pria ini sementara waktu karena sebentar lagi dia harus bekerja. Sebuah dompet kulit berwarna cokelat tua berhasil dikeluarkan. "Maaf aku tidak bermaksud lancang. Aku melakukan ini semua untuk berjaga-jaga, kalau kau macam-macam ... aku jamin kau akan menghabiskan hidupmu di penjara," ucapnya sambil membuka dompet itu dan mengambil kartu identitas. "Zenon of Orchomenus." Kening Lexi berkerut ketika bibirnya membaca nama pria itu. Jika dilihat dari namanya, pria misterius ini adalah keturunan Yunani, tapi kartu identitas pria itu menunjukkan bahwa dia berasal dari Amerika Serikat tepatnya di New Orleans. "Dasar imigran gelap!" Langkah selanjutnya Lexi akan berusaha memberi obat merah atau sesuatu yang berguna untuk mengobati luka. Paling tidak, upayanya bisa mencegah infeksi di tubuh pria itu. Dengan mengerahkan seluruh tenaga, Lexi berhasil meloloskan jaket kulit dari tubuh tinggi besar itu. Dia melemparkan jaket yang memiliki banyak lubang di setiap sisi. Lexi tahu apa yang harus ia lakukan dengan baju yang membungkus tubuh pria itu. Dia berjalan masuk ke dapur untuk mengambil gunting. Dia akan membuka baju pria itu dengan gunting. "Maaf kalau aku merusak bajumu." Lexi bergumam lagi dan langsung menggunting bagian tengah baju pria itu. Dia menyibak baju yang sudah terpotong sempurna di bagian tengah. Kali ini Lexi dibuat terbelalak melihat tubuh pria itu. Memang tubuh pria itu terlihat kokoh, indah, atletis, dan begitu menggiurkan, tapi bukan hal itu yang membuat Lexi terperangah. Tubuh pria itu hanya ada luka goresan yang menurut Lexi luka seperti itu tidak akan mengeluarkan banyak darah. Lexi membolak-balik baju pria itu, dia melihat beberapa sobekan yang letaknya pas dengan luka-luka di tubuh pria itu. Dia juga menemukan bercak darah di baju dan sekujur tubuh. "Tidak mungkin." Tangan Lexi gemetaran menelusuri d**a pria itu, menyibak rambut yang berkerumun di d**a untuk melihat seberapa dalam luka yang tergores. "Ini aneh! Pria ini aneh! Ada yang tidak beres dengan semua ini!" Tubuh pria itu sama sekali tidak mempunyai luka yang begitu dalam. Otak cemerlang Lexi langsung bisa menangkap semua yang telah terjadi. Dia merangkai peristiwa aneh semalam dengan peristiwa pagi ini. Pria yang ada di hadapannya saat ini bukan manusia! Lexi yakin dengan praduganya. Dia harus mengorek lebih dalam tentang pria ini agar rasa penasarannya terjawab. "Baik tuan misterius, aku rasa aku tidak perlu mengobati lukamu," ucap Lexi yang disusul dengan lenguhan panjang. "Aku akan menunjukkan pria ini kepada Cleo agar dia percaya, agar dia tidak menganggapku gila." ***   Zenon terbangun dari pingsannya dan mendapati rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuh. Sedikit mendesis, ia mencoba megembalikan semua kesadaran, menajamkan padangan untuk menjelajahi atap ruangan yang penuh dengan hiasan bunga-bunga. Dinginnya lantai tempatnya berbaring membuat tubuhnya sedikit ngilu. Di mana ia berada sekarang? Untuk pertama kali dalam waktu ribuan tahun, Zenon tidak pernah merasakan keraguan yang mendalam. Tapi sekarang, dia tidak tahu di mana ia berada? Dan sekarang pukul berapa? Seingatnya, dia sedang bertarung dengan para Sirenes selama semalaman demi melindungi Nymph berambut ombre itu. Dia berhasil menghabisi seluruh Sirenes yang mencoba merangsek rumah Nymph itu. Dari balik rasa sakit yang berdenyut di kepala, memori tentang apa yang ia lakukan setelahnya membuat bibirnya melenguh panjang. Kenapa dia berteleportasi ke rumah Nymph berambut ombre itu? Dari banyak tempat yang ada di Yunani, kenapa dia berteleportasi ke rumah yang dipenuhi hiasan bunga-bunga? Kenapa dia memberi kesan buruk kepada Nymph itu? Seharusnya bukan seperti ini pertemuan yang ia inginkan, tapi semua terjadi di luar dugaan dan keinginannya. Sial! Kekuatan Shades Guardian yang dimilikinya sanggup membuat rasa nyeri yang ia rasakan tadi menghilang. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir sesak di d**a. Pupil matanya melebar ketika mendapati baju yang berharga ribuan dolar terpotong di bagian tengah. "Dia menyempurnakan sobekan di bajuku. Sial!" gerutunya sambil melepaskan kaos yang sekarang terlihat seperti kemeja setengah jadi. "Sepertinya aku harus membeli persediaan baju yang lebih banyak. Sirenes di tempat asalnya lebih menantang dari pada di New Orleans." Tangannya meraih jaket kulit yang tergeletak di samping kaki kursi bermotif bunga-bunga, meneliti sebentar lalu memakainya untuk menutupi tubuh yang bertelanjang d**a. Setelah tubuhnya terasa agak mendingan, dia mulai berdiri, sudut matanya menangkap sebuah dompet yang mirip seperti dompetnya. Di bawah dompet itu terdapat secarik kertas. Dear Tuan Misterius.   Sebelumnya aku meminta maaf telah merusak bajumu yang sudah sobek-sobek. Aku hanya menyempurnakan bagian yang sobek dengan menggunting bagian tengahnya. Aku harap, kau bisa segera sadar dari kondisimu karena aku lihat kau hanya mendapat luka sayatan. Aku baru menyadari kalau kau benar-benar aneh dan aku yakin kalau kau bukan manusia. Kau berhutang pertanyaan kepadaku karena kau dengan seenaknya masuk ke dalam rumahku! Jadi aku sengaja menyita kartu identitasmu supaya kau tidak pergi dari rumahku. Tunggu aku sampai pulang bekerja. Oke? Lexi. Zenon berdecih setelah membaca surat dari Nymph yang bernama Lexi. Dia meraih dompet dan memeriksanya. Memang benar, kartu identitasnya sudah raib dibawa Lexi. "Nymph yang cerdik," gumamnya sambil mengantongi dompet. Dia merogoh kantong bagian depan celana kulitnya untuk mengeluarkan ponsel. Dia ingin menghubungi Dye untuk menanyakan sesuatu tentang Lexi. Nymph yang ia lindungi kali ini sepertinya bukan Nymph yang sembarangan. Anak Flavian dan Gene pasti mempunyai sesuatu yang membuatnya terus diburu. "Dye," sapa Zenon setelah nada panggilnya terhenti. "Ada apa, Z? Kau sudah bertemu dengan Nymph itu?" "Sudah dan benar-benar menakjubkan." "Apa anak Flavian dan Gene menarik hatimu?" Zenon mengangkat sebelah alisnya, pertanyaan Dye benar-benar mencurigakan. "Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Dari seberang sana Dye terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Zenon, "Tidak. Aku tidak menyembunyikan apa pun." "Pertanyaanmu aneh, Dye. Aku harap kau tidak menyembunyikan apa pun dariku." Zenon mulai berjalan menuju jendela, jemarinya menyibak gorden berwarna hijau toska dengan hiasan bunga-bunga. Matanya mengintip di balik jendela ruang tamu, melihat banyak mobil dan orang yang berlalu lalang di jalanan depan rumah. "Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." "Apa itu?" "Menurutku, Nymph yang aku lindungi saat ini bukan Nymph sembarangan." "Apa maksudmu?" "Tch ... jangan berpura-pura bodoh. Semalaman aku bertarung habis-habisan dengan para Sirenes itu. Aku menghabisi dua puluh lima Sirenes dalam semalam dan aku hampir saja sekarat." "Wow!" "Apa kau ingin aku mati? Kau sudah tidak membutuhkanku menjadi Shades Guardian?" "Hei, apa yang kau katakan?!" Zenon menangkap nada kesal dari Dye. "Kau adalah Shades Guardian terhebat yang aku miliki. Aku sengaja menempatkanmu untuk melindungi Nymph itu karena dia mempunyai kekuatan istimewa." Zenon memutar tubuh, punggungnya bersandar di sisi jendela. "Sudah kuduga. Sejak dia lahir, dia menjadi incaran para Sirenes." "Ya, dia diburu ribuan Sirenes malam itu dan kau hampir saja sekarat. Tapi aku rasa kau semakin tua, Z." Zenon terkekeh mendengar ucapan Dye, bukankah Dye lebih tua dari dirinya. "Ejekan itu lebih tepat untukmu, Dye." Dye tergelak mendengar perkataan Zenon. "Aku rasa kau menua duluan daripada aku. Buktinya kau hampir sekarat setelah melawan dua puluh lima Sirenes." Zenon langsung tercenung setelah menyadari semuanya. Perkataan Dye seakan-akan menampar kesadarannya. "Apa kau mengetahui sesuatu?" "Tidak, aku tidak mengetahui apa pun selain Nymph yang kau lindungi memiliki kekuatan hebat. Anak Flavian dan Gene akan melahirkan seorang bayi yang akan menghancurkan para Sirenes." Zenon hanya terdiam mendengar penjelasan Dye. "Apa dia hamil dengan sendirinya?" Dye terbahak mendengar pertanyaan konyol dari Zenon. "Apa kau masih balita, Z?" "Berhentilah mengolokku! Aku berbicara serius denganmu!" "Oke baiklah, aku tahu kau tidak mempunyai selera humor yang tinggi, tapi kau cukup tahu bagaiman cara membuat seorang bayi. Bahkan dewa pun juga bercinta demi mendapat keturunan." "Siapa pria itu?" "Aku tidak tahu, Z. Aku hanya tahu sebatas itu saja. Selain menjadi pelindungnya, kau juga menjadi orang tuanya. Aku berharap banyak darimu." Zenon mengangguk paham. "Iya, aku mengerti, Dye. Aku akan berusaha semaksimal mungkin." "Baiklah, selamat bertugas, Sobat." Dye memutuskan panggilan Zenon. Seluruh pertanyaan yang terngiang di kepala Zenon terjawab semua. Sekarang dia mengetahui kenapa anak Flavian dan Gene menjadi incaran Sirenes. Zenon menyunggingkan senyum saat merasakan atmosfer yang begitu menantang. Sirenes yang akan ia hadapi bukan Sirenes yang menganggap bahwa pistol bisa menyelesaikan segalanya. Dia sudah tidak sabar menantikan peperangan yang mengancam jiwanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD