Winda menginap di rumah kami, menemani dan menghiburku saat ayah dan bang Tegar pergi. Memasakkan makanan untuk kami, karena aku tidak bisa menyalakan kompor. Pagi tadi saat hendak memanaskan sayur yang dibeli ayah, tanganku bergetar hebat saat memutar tuas kompor gas. Begitu api biru menyala, tubuhku berkeringat. Kenangan akan ruangan kantor yang pengap dan terbakar memenuhi pikiranku. Seketika bang Tegar mematikan api dan membawaku ke ruang tengah, memberi air dan memeluk tubuhku yang gemetar. Ayah langsung menghubungi dokter Prisa, yang membantuku psikoterapi dan membuat jadwal untuk pertemuan kami. Ternyata efek trauma pasca kejadian sehebat ini, kukira aku cukup kuat untuk tidak lagi mengingat ketakutan akan kenangan buruk itu. Nyatanya, tubuhku berkata lain. Beruntung aku dikelili

