“Aku harus apa sekarang?” gumamnya dengan tangan yang menggenggam ponsel. Skylar jelas masih marah padanya. Bahkan pesannya sejak semalam hanya dibaca tanpa gadis itu memiliki niat untuk membalasnya. Gabriel memijat pelipisnya. Mulai detik ini ia sadar, bahwa marahnya gadis itu berbahaya baginya.“Aku harus memperbaikinya sebelum i***t tadi merebut Skylarku.” Gumamnya seraya mengangguk - anggukkan kepala.“Ya, Skylar hanya akan menjadi milikku, bukan milik si bocah i***t tadi pagi.”-Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya dengan penuh emosi yang buruk, akhirnya Gabriel keluar ruangannya pada pukul 4 sore dengan senyuman dibibirnya. Membuat Antonio yang berpapasan dengannya menganga dengan dahi mengernyit heran.“Kau benar – benar gila kah?” cetusnya tanpa berfikir, dan Gabriel pun menai

