Bab 10. Mencuri

1279 Words
Bu Indri mencari kunci cadangan kamar Batari. Dia ingin melihat barang apa saja yang sudah dibelikan oleh Tara. Wanita paruh baya itu mau meminjam untuk dipakai ke acara arisan ibu-ibu. "Aku yakin ada kunci kamar Batari di sini. Tapi, yang mana kuncinya ya?" ucap Bu Indri bermonolog sambil melihat satu persatu anak kunci yang ada di laci bufet yang ada di ruang keluarga. Karena tidak tahu mana kunci yang cocok dengan pintu kamar Batari, akhirnya Bu Indri mengambil semua anak kunci itu dan mencoba satu persatu. Baru di percobaan ketujuh kuncinya bisa membuka pintu. "Sedang apa, Ma?" Bu Indri terlonjak mendengar suara Pak Rangga. Saking kagetnya dia sampai-sampai jantungnya terasa copot. "I-ini mau a-ambil mi-nyak angin. se-Malang Batari pinjam sama mama." Mata Pak Rangga melirik ke arah kumpulan kunci di tangan istrinya. Tidak biasanya hal ini terjadi. "Itu kunci untuk apa?" Bu Indri tidak bisa mengelak. Dia pun berkata, "Batari mengunci pintu kamarnya, Pah. Jadi, mama harus ambil kunci cadangan." "Oh. Tumben Batari mengunci pintu kamar. Pasti ada alasan dia melakukan itu," kata Pak Rangga terlihat berpikir. "Nggak tahu, Pah. Kenapa juga Batari meski mengunci pintu kamarnya. Mama jadi tidak bisa membereskan kamarnya," balas Bu Indri memberi alasan. "Sejak kapan Mama suka membereskan kamar Batari? Setahu papa ... Mama tidak pernah membereskan kamar Batari. Mama 'kan lebih suka membereskan kamar Utari," tanya Pak Rangga dengan tatapan curiga. "Siapa bilang! Mama juga terkadang membereskan kamar Batari. Apalagi setelah Batari kerja, mama yang sering membereskan kamarnya," jawab Bu Indri berbohong, karena kenyataannya dia tidak pernah mau membereskan kamar putri sambungnya itu. "Sudah, ah! Sana Papa urus keperluan warga yang akan mendapat bantuan pemerintah," titah Bu Indri kepada Pak Rangga yang kini merupakan RT di komplek perumahannya. Setelah Pak Rangga pergi, Bu Indri buru-buru masuk ke kamar Batari. Dia mencari belanjaan yang kemarin dibelikan oleh Tara. Tempat yang pertama kali dia buka adalah lemari. Pintu dari kayu jati itu terkunci, sehingga membuat wanita paruh baya itu berdecak kesal. Dia mencoba mencari kunci lemari, tetapi tidak bisa menemukannya. Bu Indri tidak tahu kalau kunci pintu lemari dan kunci laci meja rias, semua disembunyikan oleh Batari di bawah kasur. Sementara kunci pintu kamar dibawa oleh Batari. "Di mana Batari menyembunyikan kuncinya, ya? Apa dia membawa semua kunci agar tidak ada yang bisa membawa barang-barangnya?" batin Bu Indri yang menahan kesal. Seakan tidak mau menyerah, Bu Indri membongkar kamar Batari. Dia mencari di beberapa tempat yang diperkirakan bisa dijadikan tempat persembunyian. Ketika sedang sibuk mencari kunci, handphone milik Bu Indri berdering. Nama Utari tertera di layar. "Halo, ada apa, Kak?" tanya Bu Indri sambil berbisik. "Kenapa Mama bicara berbisik-bisik?" Terdengar suara Utari di sebrang sana. "Mama lagi mencari kunci lemari pakaian milik Batari." "Untuk apa?" "Mau lihat barang apa saja yang dibelikan oleh Tara kemarin. Soalnya tadi dia memakai perhiasan bermata permata yang indah. Jam tangan mahal, baju, tas, dan sepatu dari merek terkenal semua. Mama yakin masih banyak barang mahal lainnya yang disembunyikan oleh Batari." Bu Indri menyebutkan merek-merek terkenal yang hanya bisa dibeli oleh orang dari ekonomi golongan kelas atas. "Apa? Mujur sekali si Batari bisa dibelikan barang-barang mewah," ucap Utari. "Coba ibu cari di bawah kasur! Siapa tahu dia menyimpannya di sana. Dulu aku diam-diam pernah melihat dia menyimpan uangnya di sana juga." Akhirnya Bu Indri mengikuti perintah Utari. Matanya terbelalak ketika melihat ada beberapa anak kunci di sana bersama beberapa lembar uang ratusan ribu. "Lumayan, nih!" Bu Indri mengambil tiga lembar saja, berharap Batari tidak tahu uangnya diambil sedikit. Dengan perasaan bahagia Bu Indri membuka lemari pakaian. Dia memeriksa satu persatu kotak pakaian. Tidak ada barang yang aneh atau pakaian baru di sana. Semua bagian lemari dia periksa dari atas sampai bawah. Hasilnya nihil. Rasa kesal bercampur marah kini menguasai hati wanita paruh baya itu. "Di mana Batari menyembunyikan barang-barangnya?" ucap Bu Indri sambil menghentakkan kaki. Teringat dengan kunci lainnya, Bu Indri mencoba mencocokan anak kunci itu ke kotak laci meja rias. Matanya berbinar katika melihat ada beberapa tas belanjaan di kotak bawah sebelah kanan. "Wah, tas ini kan model terbaru!" Binar bahagia menghiasi wajah Bu Indri yang memegang tas branded dari negara Eropa. "Baju dan sepatu tidak muat untuk aku, tapi muat untuk Utari. Aku ambil juga, dia pasti senang." Semua yang ada di dalam sana Bu Indri keluarkan. Ada tiga paper bag masing-masing berisi pakaian, dua paper bag berisi sepatu formal dan sepatu untuk pesta. Serta dua tas jinjing yang bisa digunakan untuk ke acara formal dan informal. Setelah mengambil semua barang milik Batari, Bu Indri kembali mengunci pintu kamar itu. Dia lupa ada beberapa bagian kamar Batari menjadi berantakan, seperti kasur dan lemari pakaian. *** Kakek Pandu menahan Batari ketika akan pulang setelah selesai makan siang bersama. Laki-laki tua itu menyukai calon cucu menantunya yang terlihat sopan dan cerdas. Diajak bicara apa saja bisa nyambung, jika belum tahu tidak malu bertanya dan tidak sok tahu. "Kakek, ini sudah sore. Kasihan Batari pasti capek," ucap Tara begitu pulang ke rumah Batari masih ada di sana bersama kakeknya. "Batari, kamu menginap di sini saja. Mau, ya?" Kakek Pandu bicara dengan memelas. Batari bingung bagaimana cara untuk menolak keinginan Kakek Pandu. Dia jarang sekali tidur di luar rumah karena Pak Rangga tidak akan mengizinkan. "Kakek, jangan seperti itu! Batari belum sah menjadi bagian dari keluarga Adiwangsa. Jangan sampai ada gosip buruk kepadanya. Apa Kakek mau Batari kena hujatan netizen?" Tara tidak akan memberikan cela sedikit pun yang akan mendatangkan masalah kepada mereka di masa depan. Akhirnya Kakek Pandu merelakan Batari pulang. Laki-laki tua itu sering merasa kesepian, meski di rumahnya banyak pelayan dan penjaga keamanan. Mereka semua selalu sungkan ketika diajak berbicara. Namun, Batari dengan senang hati mendengarkan semua ucapannya dan membalas dengan perkataan yang sopan. "Besok kita pergi ke butik untuk mengukur baju pengantin," ucap Tara sambil mengemudi. "Apa keluarga aku juga akan mendapatkan pakaian dari butik untuk acara pernikahan kita nanti?" tanya Batari. "Ya, tentu saja. Keluarga kita akan memakai pakaian seragam, mereka akan datang ke rumah untuk mengukur badan. Bridesmaid juga akan punya seragam. Semua sudah ada yang mengatur. Kita tinggal duduk manis saja," jawab Tara. Dengan uang yang dimilikinya dia bisa menyuruh orang untuk mengatur semua sesuai kehendaknya. Perjalanan menuju ke rumah diisi dengan pembahasan pernikahan mereka. Tara mengikuti keinginan Batari karena dia ingin pernikahan yang bisa dikenang indah oleh gadis itu. Ketika Batari pulang ke rumah, keadaan di sana sangat sepi. Tidak ada seorang pun di rumah. Gadis itu sempat curiga ada yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Kasur yang tadi tapi kini seprainya terlihat agak kusut. Dia mengangkat kasur, kunci dan uang masih ada. Dia pun pergi mandi dan lupa mengecek laci meja rias. Sementara itu, Bu Indah dengan sombongnya memamerkan tas branded milik Batari diakui sebagai barang miliknya. Semua wanita yang hadir di acara arisan itu merasa iri karena barang itu merupakan edisi limited edition. "Bu RT, kamu punya uang dari mana untuk beli tas itu?" tanya salah seorang anggota arisan yang ragu kepada Bu Indri. "Ya, dari Utari, lah! Dia dapat uang bonus dari kantornya. Lalu, belikan tas ini untuk aku," jawab Bu Indri berbohong. "Bonus dari kantor mencapai hampir ratusan juta? Emang bener, deh, itu perusahaan besar! Sampai-sampai memberikan bonus sebesar itu kepada karyawan," sahut Bu RW. Bu Indri terlihat mulai cemas ketika teman-temannya membahas gaji yang bekerja di pabrik dan kantor. Dia tahu gaji Utari yang hanya karyawan biasa itu sebesar UMR di kotanya. Uang bonus juga tidak pernah mencapai dua digit ketika perusahaan mendapatkan keuntungan yang besar. "Tapi, menantuku yang bekerja di perusahaan ADIWANGSA GRUP tidak pernah mendapatkan bonus hampir ratusan juta. Padahal posisi dia sebagai kepala divisi produksi," tukas Bu Sersan. "Bu RT, emang Utari jabatannya apa di perusahaan?" tanya Bu RW dan membuat Bu Indri gelagapan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD