Bab 4. Fitnah

1211 Words
Hari Minggu Dewa datang ke rumah untuk bertemu dengan orang tua Utari. Dia datang sebagai kekasih gadis itu, bukan sebagai kekasih Batari. Utari dan Bu Indri dengan senang hati menerima kedatangan Dewa. Tentu saja Pak Rangga terkejut karena setahu dia, pemuda itu adalah kekasih putrinya. Dia juga sudah memberikan restu dan berharap Batari dan Dewa segera menikah. "Kok, kamu dan Utari berpacaran? Bukannya kamu kekasih Batari?" Pak Rangga belum tahu kalau hubungan dua orang itu sudah kandas beberapa waktu lalu. "Papa tidak tahu, ya, kalau Batari dan Dewa sudah lama putus. Sekarang Dewa berpacaran dengan Utari," ujar Bu Indri dengan tersenyum manis. Pak Rangga menatap kepada Dewa meminta penjelasan. Karena dia tahu beberapa waktu yang lalu, Batari menjemput Dewa ke bandara ketika laki-laki itu baru pulang dari luar negeri. "Ayo, ayo, masuk!" ajak Bu Indri menarik tangan Pak Rangga. Sementara Batari yang giliran masuk kerja di hari Minggu ini, sedang merasa bahagia karena dirinya diterima sebagai calon istri CEO dari perusahaan ADIWANGSA GRUP. Dia membuka internet untuk mencari tahu seperti apa laki-laki itu. "Wajahnya terlihat enggak asing, ya?" Batari bergumam ketika memandangi wajah Nusantara di sebuah majalah bisnis. Penampilan laki-laki itu sangat rapi dan berkelas layaknya CEO yang ada di dalam drama-drama. "Siapa itu? Ganteng banget!" Kartika menengok ke arah gawai yang ada di tangan Batari. "Dia ini CEO ADIWANGSA GRUP, namanya Nusantara Putra Adiwangsa," jawab Batari. "Padahal usianya sudah 37 tahun, tapi terlihat jauh lebih muda, ya?" "Hah, 37 tahun? Berarti nanti kamu akan menikah dengan laki-laki yang jauh usianya sama kamu," ujar Kartika terkejut. "Enggak apa-apalah, tua juga. Yang penting bisa membuat aku bahagia, daripada sama laki-laki seumur, tapi membuat aku menderita." Kartika mengangguk. Sekarang usia tidak jadi masalah dalam pernikahan karena yang penting bisa berkomitmen. Sama-sama mau saling kepada pasangan dan tidak ada pengkhianatan. Batari melihat status yang dibuat oleh Utari di akun sosial media miliknya. Terlihat perempuan itu bersama dengan Dewa. Dia tahu di mana foto itu diambil. Terlihat di belakang mereka ada foto keluarganya yang diambil ketika Utari di wisuda beberapa tahun silam. Seharusnya Batari sudah pulang ke rumah, tetapi dia sedang malas bertemu dengan Dewa yang masih ada di rumahnya. Jadi, gadis itu memilih pergi jalan-jalan ke taman. Hati Batari merasa sedih ketika melihat pasangan suami-istri yang sudah berusia lanjut, sedang berjalan bersama dengan gadis muda. Hal ini mengingatkan dirinya kepada kakek dan nenek yang sudah meninggal. Tahun itu merupakan tahun terberat dalam hidupnya karena dalam setahun dia kehilangan tiga orang yang dia sayangi, yaitu nenek, kakek, dan mamanya. Batari tersentak saat melihat laki-laki yang pernah dia lihat ketika mendatangi kantor perusahaan ADIWANGSA GRUP. Orang itu memakai setelan traning karena sedang berlari di sore hari. "Hey, kamu!" panggil Batari. Tara menghampiri Batari yang sedang duduk di kursi taman kota. Dia tersenyum ketika beradu pandang dengan gadis itu. "Kenalkan aku, Batari. Siapa nama kamu?" tanya Batari sambil mengulurkan tangan. "Senang berkenalan dengan kamu, Batari. Aku, Tara," balas laki-laki itu sambil menjabat tangan sang gadis. "Aku mau ucapkan terima kasih," kata Batari tersenyum lebar. "Untuk?" Tara merasa heran. "Karena kamu sudah membuat aku bahagia." Tara tercengang. Dia mengira Batari sudah tahu identitas dia yang sebenarnya. Dia menerima Batari sebagai calon istri karena ada beberapa poin yang membuat gadis itu memiliki nilai lebih dibandingkan dengan pelamar lainnya. "Perasaan aku sudah menyamar dengan sempurna kemarin," batin Tara. "Sebagai ucapan terima kasih aku akan kamu traktir soto Mang Bejo," kata Batari tersenyum lebar. Tara sempat terdiam sejenak, lalu dia tersenyum. Dia penasaran dengan sosok Batari. Awalnya dia menilai gadis itu sebagai perempuan yang menyedihkan, lalu berubah setelah melihat perlawanannya kepada Utari dan Dewa. Dia suka kepada perempuan yang tidak mau ditindas dan memberikan perlawanan kepada orang yang sudah semena-mena kepadanya. Batari dan Tara makan soto di pinggir jalan. Keduanya nampak menikmati makanan itu. "Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan sampai membuat kamu senang," kata Tara setelah selesai makan. "Karena kamu sudah membuat saudara tiri ku marah. Baju yang dipakainya itu adalah baju milik aku, tapi dia ambil dan ibu tiri ku malah meminta aku memberikan kepadanya. Alasannya karena aku ini hanya seorang SPG dan Utari seorang karyawan kantor dari perusahaan besar. Padahal baju itu pemberian dari seorang desainer ternama yang kebetulan memberikannya kepadaku sebagai ucapan terima karena sudah menolongnya," jelas Batari dengan perasaan puas. Tara mengangguk paham. Secara penampilan memang Utari sering terlihat memakai barang bermerek. Berbeda dengan Batari yang memakai pakaian dari barang diskonan. "Kamu bekerja sebagai OB di perusahaan ADIWANGSA GRUP, pasti kenal dengan saudara tiri ku itu. Hati-hati sama dia. Karena dia itu suka sama pria tampan," kata Utari. "Eh, sekarang kayaknya bukan hanya suka sama pria tampan, tapi harus berduit juga. Mana mau dia pacaran sama orang kere." Tara tertawa melihat ekspresi Batari. Dia suka dengan orang yang jujur apa adanya, daripada orang-orang yang bermuka dua, apalagi orang yang manipulatif. "Kamu sudah berapa lama kerja di kantor perusahaan ADIWANGSA GRUP?" tanya Batari. "Hmmm, sekitar 15 tahun," jawab Tara. "Apa?" Batari terkejut karena dia melihat laki-laki itu seperti masih muda. "Apa kamu tidak bosan bekerja di sana selama itu?" tanya gadis pemilik rambut panjang hitam berkilau. "Bagaimana, ya? Di bilang bosan, enggak juga. Tapi, dibilang enggak, aku terkadang bosan juga," jawab Tama menyeringai dan Batari melongo. "Apa kamu kenal dengan Pak Nusantara, CEO di sana?" tanya Batari yang mulai pada tujuan utamanya ingin mencari tahu tentang laki-laki itu. Tara mengangguk. Tentu saja dia tahu karena dia sendiri adalah Nusantara, orang yang dimaksud oleh Batari. "Bagaimana dia menurut kamu?" tanya putri dari Pak Rangga itu penasaran. "Dia laki-laki hebat. Orangnya pekerja keras, memiliki otak yang cerdas. Tubuh yang sehat dan kuat, juga yang pastinya memiliki wajah yang tampan," jawab Tara dengan penuh percaya diri. Terlihat jelas laki-laki itu sedang membanggakan dirinya. "Apa yang disukai oleh Pak Nusantara? Lalu, apa yang tidak disukainya?" "Dia suka dengan sesuatu yang menantang. Paling tidak suka dengan kebohongan dan pengkhianatan." "Oh. Tapi, yang aku maksud itu makanan dan minuman yang dia sukai. Siapa tahu dia punya alergi terhadap makanan atau minuman tertentu." "Tidak ada makanan yang tidak dia sukai selagi rasanya enak. Dia tidak suka minum alkohol. Kalau alergi, kayaknya alergi sama serbuk bunga. Makanya dia tidak suka dengan bunga." Batari mencatat semua itu di kepalanya. Ini adalah informasi penting yang tidak dia temukan di berita mana pun yang memuat wawancara laki-laki itu. Sekitar satu jam Batari dan Tara ngobrol di warung soto Mang Bejo. Kebetulan hari itu sedang sepi pengunjung. Tidak terasa mereka sampai menghabiskan satu mangkok soto dan tiga gelas sirup. Batari pulang sore menjelang malam. Dia sengaja karena tidak ingin bertemu dengan Dewa. Namun, siapa sangka ternyata laki-laki itu masih ada di rumahnya dan akan makan malam bersama keluarganya. "Dari mana saja kamu, Batari? Kenapa baru pulang?" tanya Pak Rangga. "Aku bertemu dengan teman setelah pulang kerja, Pah," jawab Batari setelah melirik sinis kepada Dewa yang terus menatap kepadanya. "Kamu tidak pergi dengan selingkuhan kamu itu, 'kan?" tanya Pak Rangga. Mata Batari membulat lebar. Dia tidak paham dengan ucapan ayahnya. "Maksud Papa, apa?" "Katanya kamu sudah punya kekasih lain selama Dewa pergi kuliah di luar negeri. Papa kecewa sama kamu." "Apa?" Batari menoleh kepada Dewa yang duduk terdiam dengan muka pucat. Sementara Utari terlihat tersenyum sinis. Dalam sekejap d**a gadis itu bergemuruh karena amarah. Dia tidak terima dengan fitnah yang disebarkan oleh mantan kekasih dan kakak tirinya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD