Kening Batari mengerut melihat sebuah iklan di sebuah surat kabar nasional. Dia membaca tulisan yang ada di sebuah kolom yang ada di pojok bawah.
"Dicari seorang perempuan berusia sekitar 25-35 tahun untuk dijadikan istri," ucap Batari kembali membaca tulisan paling atas.
Seketika tawa renyah keluar dari mulutnya. Sudah hampir satu bulan ini dia tidak terlihat tertawa setelah putus dari Dewa. Batari merasa lucu melihat iklan itu.
"Kenapa tidak cari di biro jodoh atau grup chat para jomblo saja. Sudah tidak zaman pasang pengumuman seperti ini di sebuah koran cetak," kata Batari bermonolog.
Suasana di ruang tunggu salon yang sedang sepi, hanya ada Batari seorang. Saat ini dia sedang menemani temannya memotong rambut. Ada dua orang perempuan yang sedang ditangani oleh penata rambut.
Tawa Batari terhenti saat melihat Dewa tutun dari mobil di sebrang jalan. Rupanya ada seorang wanita juga yang turun dari kendaraan itu. Mereka berjalan bergandengan tangan memasuki restoran.
"Kok, aku sepertinya familiar dengan bentuk tubuh wanita itu?" ucap Batari bergumam sambil terus melihat ke arah luar jendela kaca.
"Ada apa, sih, kamu tertawa tadi?" tanya Kartika, rekan kerjanya Batari.
"Aku tadi baca iklan di koran ini," jawab Batari sambil menyerahkan korannya.
"Wow, gaji bulanan 100 juta. Kalau melahirkan anak laki-laki akan mendapatkan uang 1 miliar! Gila ini." Kartika memekik karena terkejut saat membaca bagian kompensasi yang akan didapat oleh perempuan yang terpilih menjadi istri.
"Kamu benar, ini gila! Apa ada orang yang mencari jodoh lewat iklan di koran dan mencantumkan kompensasi yang begitu fantastis? Bahkan, diberikan satu unit apartemen dan mobil juga. Aku rasa ini penipuan," ucap Batari berbisik. "Aku takut ini cara merekrut para gadis untuk dijual."
Tubuh Kartika langsung merinding mendengar itu. Tidak mau lama-lama lagi di salon, dia segera mengajak Batari untuk makan siang. Mereka pergi ke restoran yang ada di sebrang.
Ketika Batari dan Kartika masuk ke restoran, mereka melihat Dewa sedang tertawa sambil mengelus wajah perempuan yang duduk di sampingnya. Kedua gadis itu menatap penuh kebencian kepada laki-laki itu.
"Tunggu, itu 'kan Utari!" ucap Batari terkejut ketika melihat saudara tirinya yang sedang bermesraan dengan Dewa.
"Dasar saudara tiri tidak tahu diri. Berani-beraninya merebut kekasih saudaranya sendiri!" kata Kartika dengan geram.
Kedua gadis itu berjalan mendekati meja di mana Dewa dan Utari sedang makan saling menyuapi. Begitu mereka berdiri di depan meja, pasangan itu terperanjat sampai Dewa menjatuhkan sendok dari tangannya yang menggantung.
"Oh, jadi ini alasan kamu memutuskan hubungan kita! Sejak kapan kalian selingkuh di belakangku?" tanya Batari dengan sinis. Terlihat kalau dia sangat marah sekaligus jijik kepada dua orang yang sudah mengkhianati dirinya.
Senyum lebar tercipta dari bibir merah Utari. Dia berdiri agar bisa sejajar dengan Batari. Pantangan baginya jika harus mendongak kepada saudara tirinya itu, yang ada seharusnya Utari menunduk di bawahnya. Karena dia lebih tua usianya dua tahun.
"Kenapa? Seharusnya kamu sadar diri. Kalau kamu itu tidak pantas untuk Dewa," ujar Utari dengan nada menghina. "Lihat dirimu, ini! Sungguh terlihat kumal dan buluk , tidak berpendidikan, dan hanya seorang SPG."
Batari menahan diri agar tidak sampai melayangkan tamparan kepada Utari. Gara-gara dirinya dia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena uang tabungannya dari asuransi pendidikan malah digunakan untuk biaya kuliah Utari atas desakan ibu tirinya. Ayahnya menurut saja karena beralasan nanti giliran Utari yang akan membantu membiayai kuliah Batari. Buktinya sampai sekarang tidak ada sedikit pun uang diberikan oleh saudara tirinya itu.
"Meski aku terlihat jelek di matamu, setidaknya aku tidak memiliki sifat jelek seperti dirimu yang suka merebut milik orang lain dan tukang berbohong," balas Batari jujur agar saudara tirinya ini tahu diri siapa dirinya.
"Kau–" Utari melayangkan tangannya hendak menampar Batari.
Akan tetapi, dengan sigap Batari menahan tangan Utari, lalu mendorong agar menjauh darinya. Ternyata kekuatan dia terlalu besar sehingga perempuan itu hilang keseimbangan saat mundur dan berakhir jatuh terduduk di lantai.
Orang-orang di sana hanya terbelalak dan ada juga yang menganga mulutnya. Tidak ada seorang pun yang menolong Utari agar segera berdiri. Kartika malah terlihat menahan tawa dengan mulut ditutup jari-jari tangannya.
Begitu juga dengan Dewa yang terkesima melihat kejadian barusan. Dia tidak menyangka kalau Batari yang dikenalnya lemah lembut, baik hati, dan suka menolong, kini bertindak barbar.
Utari melihat ada seorang laki-laki berjalan ke arahnya sambil membawa nampan berisi segelas es kopi, segelas air putih, dan beberapa piring kecil berisi makanan. Lalu, dengan cepat dia berdiri dan mengambil dua gelas itu dengan gerakan cepat. Detik berikutnya dia menyiramkan itu ke tubuh Batari.
"Hei, apa yang kau lakukan pada minumanku!" bentak laki-laki yang memakai setelan baju kasual dengan raut wajahnya terlihat murka.
Tidak ada yang sadar kalau orang itu adalah Nusantara atau lebih dikenal dengan nama Tara, yang merupakan atasan Dewa dan Utari di tempat kerjanya. Apalagi saat ini laki-laki itu hanya menggunakan pakaian santai sehari-hari, bukan pakaian formal.
"Ooops, maaf! Aku tidak sengaja," balas Utari yang merasa tidak bersalah. Dia itu memang lain di mulut lain di hati orangnya.
Batari berusaha membersihkan pakaiannya dibantu oleh Kartika. Dia nampak kesal karena noda kopi tidak bisa hilang kecuali dicuci.
Terlanjur kesal dan ingin melampiaskan emosinya saat ini, Batari mengambil gelas minuman milik Utari yang ada di atas meja. Lalu, dia siramkan ke muka perempuan itu biar riasannya rusak juga. Karena dia tahu saudara tirinya ini sangat bangga dengan wajahnya yang cantik karena make up dari brand mahal.
"Apa yang kamu lakukan!" jerit Utari histeris dan Dewa segera membantu mengelap muka Utari dengan menggunakan tisu.
Tara yang melihat itu sangat senang, meski wajahnya terlihat datar. Dia pun menelisik Batari yang dianggapnya perempuan hebat karena tidak mau ditindas oleh orang lain. Dia tidak tahu apa permasalahan di antara keduanya, tetapi dirinya berpihak kepada Batari.
Beberapa karyawan kafe meminta mereka keluar karena sudah membuat gaduh di tempatnya. Utari dan Dewa pergi sambil bersungut-sungut.
Rasa dendam dan amarah kini sudah menguasai hati Batari. Dia teringat kembali dengan iklan di koran itu. Tanpa berpikir panjang dia kembali ke salon dan meminta koran bekas yang sudah beredar hampir satu bulan yang lalu.
"Kamu yakin mau ikut melamar jadi istrinya? Kata kamu ini bisa saja penipuan," tanya Kartika jadi cemas.
"Iya, aku yakin. Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya. Lagian alamat pengiriman berkas persyaratan masih ada di kota ini. Kita tinggal cari saja alamatnya apakah asli apa palsu."
Kartika hanya bisa menghela napas. Dia tahu kalau Batari sudah merencanakan sesuatu, pasti akan melakukannya. Jadi, dia akan pantau saja.
Batari mencari foto dirinya bersama mendiang Batara, kembarannya. Karena salah satu persyaratan tertulis harus memiliki saudara kembar. Senyum dia mengembang ketika melihat foto terakhir dirinya dengan Batara sebelum kembarannya meninggal kecelakaan bersama ibu mereka.
"Aduh, kenapa harus kirim lewat pos, sih!" Batari mengeluh karena jarak kantor pos cukup jauh dan harus menggunakan kendaraan ke sana.
Ketika akan memberikan suratnya ke petugas kantor pos, Batari sempat ragu. Namun, ketika mengingat kembali perbuatan Dewa dan Utari membuat dia langsung menyerahkan surat lamarannya.
***
Mata Batari terbelalak ketika menerima surat dari pos yang berisi undangan untuk menghadiri interview. Dia lolos di babak penyisihan awal dan awal bulan Oktober harus mulai mengikuti beberapa interview untuk menjadi seorang istri CEO dari perusahaan ADIWANGSA GRUP.
"Apa? Jadi, yang mencari jodoh itu CEO ADIWANGSA GRUP!" Batari baru tahu karena di iklan surat kabar tidak disebutkan siapa orang yang sedang mencari istri, hanya beberapa persyaratan yang terlihat aneh dan kompensasi yang akan diterima jika sudah menjadi istri.
Dengan perasaan tidak percaya Batari menghubungi Kartika dan memberi tahu kabar itu. Dikira temannya akan sama terkejutnya seperti dia, justru ia lebih antusias dengan interview nanti.
"Kamu harus berpenampilan menarik. Nanti aku pinjamkan baju, sepatu, dan tas," kata Kartika semangat.
"Terima kasih. Tapi, aku ingin menjadi diriku sendiri dengan segala kemampuanku. Kalau sudah takdir untuk menjadi orang kaya, pastinya aku akan mendapatkan itu tanpa harus membohongi orang lain. Aku takut nanti malah mengurangi poin diriku di mata penguji. Aku cari aman untuk kedepannya," jelas Batari tertawa kecil.
Ketika makan malam bersama keluarga, Batari menatap tajam kepada Utari yang duduk di depannya. Rumah yang dulu terasa nyaman berubah menjadi terasa neraka setelah ayahnya menikah dengan Bu Indri, ibunya Utari.
"Pah, katanya hari Minggu besok akan ada tamu ke rumah. Utari mau mengenalkan seseorang," ucap Bu Utari kepada Pak Rangga dengan perasaan bahagia.
Utari tersenyum manis kepada orang tuanya. Lalu melirik kepada Batari dengan sinis dan senyum mengejek.