Be Touching to the Heart

1419 Words
Sesuai janji, Sedayu akan ikut jalan-jalan jika Gilang menutupi kepala. Apa pun bentuknya, terpenting ia tidak melihat licin di kepala Gilang. Satu lagi, ia tidak ingin jalan-jalan berdua. Hana dan Bintang harus ikut. Permintaannya dikabulkan. Mereka akan wisata alam di Bukit Rangkok sesuai keinginan Bintang. Pagi-pagi sekali, pengusaha bidang kuliner itu sudah sibuk di dapur. Membuat beragam camilan agar bisa disantap saat santai di bukit. Prinsip yang selalu ia terapkan dalam hidup; kalau bisa buat sendiri kenapa harus mengeluarkan duit. Ya, meskipun membuat sendiri juga membutuhkan anggaran. Setidaknya ia bisa lebih berhemat. Ada hal-hal penting yang lebih diutamakan daripada hanya mementingkan urusan perut. Tepat pukul tujuh, bekal selesai dibuat. Sembari tersenyum, ia membungkus roti gulung pisang cokelat, kimbab, martabak telur, dan hashbrown menggunakan alumunium foil. Berharap hasil kreasinya bisa menyenangkan sang pujaan nanti. "Koen maring endi?" Gilang terperanjat oleh suara sang mertua. Pasalnya, ia membungkus makanan sembari membayangkan senyuman Sedayu yang merekah indah. "Mama! Kapan datang?" Selama hidup di Tegal, Gilang tidak pernah berbicara menggunakan bahasa daerah. Ia berasal dari Jakarta. Merantau ke Tegal dan bertemu Diana, lalu menikah dan menetap di daerah ini. "Wiwit biyen." Sang mertua memperhatikan bungkusan makanan. Gilang bergegas memasukkan dalam ransel. Kemudian pamit ke kamar mandi. Sebenarnya menghindar, takut dilontarkan berbagai tanya yang bakal dijawab dengan kebohongan. Sampai detik ini, ia belum berani meminta izin nikah lagi. Sebab jawaban yang didapat pasti sudah bisa ditebak; tidak bisa. Saat keluar dari kamar mandi, sang mertua sedang menginterogasi Bintang. Bertanya banyak hal termasuk sikap Gilang yang menurutnya aneh. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan. Gilang mendelik ke arah Bintang, memberi isyarat agar tidak membocorkan rencana pernikahannya. Sang anak memahami. Ia mengangkat tangan dan meletakkan di atas kepala, kemudian mengacungkan jempol. Isyarat samar agar neneknya tidak menyadari. "Hari ini aku mau ajak papa adu nyali di Bukit Rangkok. Mbah mau ikut?" "Ora ndhelikake soko?" "Yo, ora tok, Mbah. Kayak novel misteri wae, main rahasia-rahasiaan. Mbah arep neng kene po tak ggawa mulih?" "Awas yo kalo koen sekongkol karo bapake." Nenek berdiri setelah memberi ancaman yang hanya ditertawai Bintang dalam hati. Setelah neneknya sampai di halaman, tawanya meledak. Baru kali ini ia berbohong pada neneknya. "Siapa suruh penjarain papaku. Dikira enak apa main sendiri." Telinganya dijewer setelah gumaman mengatai sang nenek berakhir. "Sakit, Pa." Remaja 16 tahun itu meringis. Tangan kekar sang papa masih memutar telinganya. Tidak peduli wajah anaknya mengernyih masam. "Apa maksudmu main sendiri barusan?" "Yaelah, Pa. Pakai nanya lagi. Aku udah enam belas tahun. Papa selalu bahas apa saja padaku, tetapi kenapa papa selalu menghindar pembahasan tentang seks?" Gilang gelagapan. Ia melepaskan tangan dari kuping Bintang, lalu berpura-pura memperbaiki ransel. "Ayo, berangkat!" "Tuh, kan. Menghindar lagi." Ya, Gilang akui ia memang menghindari pembahasan mengenai seks. Entahlah, ia hanya merasa tidak nyaman membicarakan hal tersebut. Padahal para pakar parenthing menyarankan kalau orang tua jangan menganggap pembahasan tentang seks sebagai sesuatu yang tabu. Ia sendiri pun tahu kalau seks bukan hanya soal ranjang. Ada banyak hal tentang seks yang bisa dijadikan bahan diskusi. Tentang penciptaan manusia yang termuat dalam kitab suci agama Islam, misalkan. Namun, untuk membahas bersama Bintang, ia masih belum sanggup. "Jangan salahkan aku kalau nanti kutanyakan pada Mbak Dayu. Kayaknya tuh mama tiri smart banget perihal itu. Aku pernah kepoin i********:-nya, yang dia follow itu kebanyakan motivator juga pakar parenthing. Jangan-jangan dia lebih ahli dari papa sendiri." "Bintang, setop!" Anak itu melebarkan senyumannya. Kemudian membuka pintu mobil di bagian belakang dan duduk di sana. "Kenapa duduk di situ?" "Pa, belum nikah lagi udah pikun aja. Ini kita mau jemput Mbak Dayu. Papa enggak mau dia duduk di samping?" Gilang manggut-manggut tanpa kata. Ia mengarahkan pandangan ke depan sembari tersenyum. Bahagia sekali saat restu dari sang anak sudah dikantongi. Urusan mertuanya nanti saja. Itu bukan prioritas utama. Lagi pula, nikah tanpa izin mertua pun tidak masalah. Bukan sebuah kewajiban ia harus mematuhi perintah mertuanya seumur hidup. Cukup sudah enam belas tahun hidup dengan rasa bersalah. Ia yakin, mama anaknya yang tenang di alam sana telah memaafkan kekhilafannya. "Wah, Om Gilang pakai topi kupluk." Komentar Hana saat mobil Gilang berhenti di depan gang. Sedayu yang sedari tadi memperhatikan ponsel akhirnya mendongak. Tatapannya terkunci oleh sorot tajam mata Gilang yang memandang penuh cinta. Binar ceria tidak dapat disembunyikan. Hana menyikut lengan Sedayu. Kemudian berlari naik ke mobil, duduk di samping Bintang. Sedayu yang melihat itu mendengkus kesal. Mau tidak mau ia harus duduk di samping Gilang. Dua puluh menit perjalanan, hanya ditemani keheningan. Hana asyik membaca komik pemberian Bintang. Sementara Bintang sendiri menutup telinganya dengan headphone. Ingin membunuh sunyi, Gilang berdeham. Diam-diam ia melirik Sedayu. Gadis itu mengarahkan pandangan ke luar jendela. Dua tangannya meremas ujung baju. Kelihatan gugup sekali. Gilang tersenyum, lalu tangan kirinya bergerak mendekat. Ia genggam tangan Sedayu yang terasa sangat dingin. Gadis itu terperanjat. Berusaha melepaskan genggaman tangan Gilang, tetapi tidak berhasil. "Kamu kenapa? Masih takut? Kan, kepalanya sudah ditutupi?" tanya Gilang tanpa menoleh ke arah Sedayu. Ia fokus menyetir. Sedayu melihat ke belakang. Hana tertidur. Mungkin karena semalam begadang. Sementara Bintang asyik dengan musik. Bergoyang-goyang tanpa pedulikan siapa pun di dalam mobil ini. Sedayu menarik napas panjang. Ia melirik genggaman tangan Gilang. "Om yakin mau nikah sama aku? Aku masih sering kekanakan." "Kamu mau aku buktikan dengan cara apa lagi?" "Apa kata orang nanti kalau kita jadi menikah, Om? Jangan-jangan aku dituduh menggilai harta Om?" Gilang mencecap. Kesal mendengar panggilan om dari bibir Sedayu. Ia memang belum meminta Sedayu menghentikan panggilan tersebut. Sebab ia berharap gadis di sampingnya ini berinisiatif memanggil dengan sapaan yang lain. "Dayu, boleh enggak berhenti panggil om?" Sedayu mengatupkan kedua bibir. Kemudian mengangguk pelan. Meski hatinya menggerutu; Kau emang pantas dipanggil om keles. "Sekarang dengar. Jangan pedulikan omongan orang. Hidup ini berjalan di atas ketentuan Ilahi. Kalau ada yang memiliki niat buruk, biarlah menjadi urusannya dengan Tuhan. Kita sebagai sesama manusia hanya saling mengingatkan. Bukannya kalimat itu ada di postinganmu? Kenapa mudah sekali menuliskan hal seindah itu, tapi enggak mau mengaplikasikan dalam kehidupanmu?" Sedayu menggigit bibir dan tertunduk malu. Betapa selama ini ia terlalu banyak mengumbar kata-kata manis. Saking banyaknya hingga lupa menerapkan kata-kata tersebut dalam hidupnya. Gilang melirik sejenak dan tertawa pelan melihat gadisnya tertunduk sedih. Ia melepaskan genggaman tangan, lalu mengusap-usap puncak kepala sang pujaan tanpa memalingkan wajah, tetap fokus ke depan. "Enggak apa, Sayang. Manusia memang seperti itu, butuh kehadiran orang lain untuk saling mengingatkan." Mendengar suara lembut menyebutnya sayang, Sedayu tersenyum malu-malu. "Aku mau tanya, kenapa Om pilih nikah sama aku? Padahal di warung juga ada karyawan yang bisa dijadikan istri." "Saat pertama kali lihat kamu menabrakku di pantai, wajah ketakutanmu itu lucu kayak mamanya Bintang waktu per ..." "Oh, jadi Om pilih aku karena mirip mamanya Bintang?" "Bukan gitu maksudnya, Dayu." Sedayu tetap tidak terima. Perih hati saat disamakan dengan sang mantan. Ia tidak ingin pasangannya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. "Berhenti!" "Dayu, aku bisa jelasin." "Berhenti!" Teriakan Sedayu membuat Hana dan Bintang terlonjak kaget. Keduanya bingung memandang dua orang yang duduk di bagian depan saling melotot. "Berhenti, Om!" Gilang mengalah. Ia menepikan mobil dan berhenti. Sedayu hendak membuka pintu, tetapi terkunci. Sekali lagi gadis itu berteriak. Gilang menghela napas. Ia menoleh ke belakang, memberi isyarat pada Bintang untuk keluar sebentar. Memahami isyarat itu, Bintang mengajak Hana turun tanpa bicara apa pun. Orang dewasa memang serumit itu. Gerutunya dalam hati. Sementara di dalam mobil, Gilang menarik tubuh Sedayu dan mendekapnya erat-erat. Tidak peduli pemberontakan yang dilakukan gadis tersebut. "Maaf kalau aku salah bicara, ya. Kamu adalah kamu. Aku menyayangimu bukan karena mamanya Bintang." "Enggak percaya. Om jahat." "Ya, itu urusanmu." Gilang mengusap kepala Sedayu, lalu memberikan satu kecupan hangat di sana. Sedayu tidak lagi memberontak. Sepertinya merasa sangat nyaman dalam dekapan Gilang. "Kita udah boleh jalan, kan?" Sedayu mengangguk tanpa mengangkat kepala dari d**a bidang Gilang. Ia meremas baju gilang sembari menghirup aroma maskulin yang sangat memabukkan. Melihat Sedayu yang tetap menempel, Gilang tertawa dalam hati. Kemudian ia mengangkat tubuh gadis itu, duduk di pangkuannya sembari pindah ke kursi bagian kiri. Ia membuka pintu, meminta Bintang duduk di bagian depan. "Kamu nyetir, ya." Bintang mengangguk, tetapi menggerutu kesal. Bisa-bisa mereka bermesraan dan nyuruh aku nyetir. "Enggak usah pasang tampang kesal, deh. Katanya pengin papa nikah." "Nikah ya nikah, tapi enggak gini juga kali, Pa." "Mamamu lagi ngambek. Kalau enggak diginiin, minta pulang dia. Mau perjalanan kita batal?" Sedayu mencubit perut Gilang. Wajahnya dibenamkan ke d**a Gilang. "Malu, Om." Mobil berjalan. Sedayu masih dalam dekapan Gilang. Sepuluh menit berlalu, mobil terhenti. "Ada polisi." Bintang memukul setir. Ia belum memiliki SIM. "Kalau hari ini kita enggak jadi ke bukit, jangan harap aku kasih izin kalian menikah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD