“Baiklah, terserah kamu. Ingat Agata, kau wajib mengabari aku. Apa pun yang kau lakukan,” titah Reinhard dijawab dengan anggukan kepala dan kedua ibu jari Agata yang diacungkannya.
Ternyata pernikahan ini tidak seburuk yang dibayangkan. Reinhard memperlakukannya dengan baik, Agata sudah mulai merasakan bahwa benih cinta itu kini telah bertunas.
Sedangkan Reinhard, masih dengan penyangkalannya, tapi Reinhard juga tidak dapat mencegah apa yang sedang tumbuh di dalam hatinya.
“Hai, Markus! Selamat pagi!” sapa Agata kepada salah seorang sahabatnya.
“Agata! Kemana saja kamu hah?! Bisa-bisanya, kamu seharian tidak masuk tanpa berita sama sekali. Aku dan Sarah mencarimu ke rumahmu kemarin malam. Tapi rumahmu gelap dan sepi. Ada apa, Agata? Apa, kamu baik-baik saja?” tanya Markus khawatir kepada Agata.
“Yah, aku baik-baik saja Markus. Aku, sudah pindah rumah. Tapi, aku belum bisa menceritakan semuanya kepada kalian, maaf yah. Semua ini serba mendadak.” Markus mengangguk tanda mengerti dan tidak mau memaksa Agata untuk mengatakan apa yang terjadi.
Keduanya bercengkerama sambil menunggu Sarah datang. Tanpa Agata sadari, Reinhard juga memutuskan untuk berangkat pagi, dengan tujuan ingin melihat keseharian Agata di tempat kerjanya.
Reinhard memperhatikan dari sudut ruangan, interaksi yang terjadi antara Agata dan Markus. Hal tersebut membuatnya tidak suka.
“Apa Kamu, tadi pagi membuat salad?” tanya Markus sambil tersenyum menahan tawa dan memicingkan kedua matanya.
“Loh, kok Kamu tau?” Agata bingung.
“Dari mana Kamu tau, hah?” tanya Agata.
“Lihatlah,” Markus lalu mengambil sisa sayur yang menempel di rambut Agata.
“Ada sayur di rambut mu, hahaha! Agata, Kamu ini sungguh sembrono, selalu saja terlalu bersemangat melakukan segala sesuatunya.” Markus lalu memberikan sayur yang tertempel itu di telapak tangan Agata.
Keduanya kembali tertawa dan terbahak, interaksi itu membuat Reinhard begitu geram, karena bukan apa yang terjadi yang dilihat oleh Reinhard. Ia mengira jika Markus baru saja membelai lembut rambut Agata dan menyentuh telapak tangannya Agata.
“Bukankah aku sudah memperingatimu Agata. Jangan ada yang menyentuh dirimu. Cih! Ternyata kamu sama saja! Perempuan murahan, yang mau ku tiduri hanya untuk mengincar harta yang aku tawarkan.” Reinhard menjadi berang.
“Sekalinya kasta rendah, tetap akan kembali kepada kalangannya.” Reinhard lalu memalingkan wajahnya dan berbalik menuju lift khusus lalu naik ke ruangannya dengan d**a yang bergemuruh hebat.
Seluruh pekerjaan Reinhard jadi kacau balau karena emosinya yang tidak stabil karena salah paham dengan Agata. Kini Reinhard semakin menjadi-jadi, ia menatap layar monitor yang menampilkan cctv cafe.
Semakin salah paham sudah ketika Reinhard melihat Markus membantu mengikat celemek di tengkung dan di pinggang belakang tubuh Agata.
“Sialan!” teriak Reinhard sambil membanting semua benda yang berada di atas meja kerjanya, hingga membuat Shem masuk ke dalam ruangan kerjanya akibat suara gaduh.
“Tuan, ada apa, Tuan?” tanya Shem yang heran menatap Reinhard. Bukannya tadi pagi mood tuannya itu terlihat sangat baik, lalu kenapa pagi ini tiba-tiba semua berubah seratus delapan puluh derajat?
“Shem, aku minta Katrina datang menemui ku nanti malam. Aku ingin dia menginap di kamar tamu. Aku ingin menghabiskan malam ku dengannya.” Terkejut sudah Shem saat mendengar permintaan tuannya.
“Tapi, Tuan, apa Anda tidak salah?” Seketika itu Reinhard langsung melotot dan mengertakkan giginya dengan wajah yang merah padam menahan emosi.
“Baiklah, Tuan.” Shem lalu pergi dengan rasa kecewa atas sikap Reinhard dan segera melaksanakan perintah tuannya.
“Bagaimana mungkin, Tuan Reinhard melakukan hal ini kepada Agata. Ck!” Shem heran dengan perubahan sikap Reinhard yang mendadak menjadi dingin.
“Markus, Sarah, aku pulang duluan yah. Bye! See you tomorrow, guys!” Agata berlari dengan penuh semangat menuju ke arah halte bis.
Rasanya ia ingin sekali cepat pulang, hari ini Agata belajar memasak dari Markus. Ia begitu ingin menyenangkan hati Reinhard, dengan membuatkan Rebis bakar bumbu rempah asia.
Sesampainya di mansion tanpa mengganti pakaiannya Agata langsung menuju ke pantri dan bertemu dengan kepala koki untuk sama-sama berkolaborasi memasak makan malam.
“Nyonya, biar saya saja yang masak.” Kepala Koki yang bernama Simon begitu sungkan dengan Agata.
“Simon, come on. Jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya. Aku tidak suka mendengarnya.” Agata lalu segera berkutat di dapur yang lebih luas dari rumahnya itu.
Simon tidak mampu dan tidak berani mencegah Agata, ia akhirnya ikut membantu Agata menyiapkan segalanya.
“Baiklah, ini sudah selesai. Aku akan menunggu suamiku pulang, terima kasih Simon.” Agata lantas bergegas menuju ke kamar utama dan segera membersihkan diri, ia juga memberikan polesan make up minimalis di wajah cantiknya.
Sambil menunggu Reinhard pulang, Agata kembali menuju ke meja makan memastikan jika meja diatur dan disusun dengan rapi. Hingga, suara bel rumah berbunyi dan Agata segera membuka pintu tersebut. “Selamat malam,” sapa Agata dengan sopan.
“Apa, Reinhard sudah pulang?” Seorang wanita cantik tengah berdiri di hadapan Agata sambil menatap jengah kepada Agata.
“Maaf, siapa Anda?” tanya Agatha terdengar ramah.
“Ck! Aku ini bertanya apa, Reinhard sudah pulang? Aku disuruh kesini dan di mana kamar tamu kalian?” tanya wanita cantik itu tanpa basa basi.
Ia langsung masuk nyelonong ke dalam mansion. Dia bahkan tidak menghiraukan Agata yang tengah berdiri, bingung dengan siapa wanita ini.
Wanita yang cantik, kulit putih dan mulus, wangi, dengan buah d**a yang besar dan menyembul keluar. Ini terlalu seksi. Agata tidak suka melihatnya.
“Sepertinya itu palsu,” batin Agata dalam hati.
“Hei! Apa kau bisu?” tanya Katrina sambil menjentikkan jemarinya ke wajah Agata yang masih mencerna siapa dan mau apa wanita itu kesini.
Lalu, mengapa menanyakan kamar tamu? Apa maksudnya? Apa dia akan tidur disini? Semua pertanyaan itu kini begitu ribut dan berisik dan kepala Agata.
Suara langkah tergesah terdengar dari dalam ruangan. “Maaf, apa Anda, Nona Katrina?” tanya Yona salah satu wakil kepala pelayan di mansion ini.
“Akhirnya, ada yang bisa berbicara di mansion ini. Yah! Aku, Katrina. Dimana kamarku?” tanya Katrina sambil mendengus dan menatap jengah kepada Agata.
“Mari, Nona. Silahkan ikuti saya.” Yona lalu menunjukkan jalan menuju ke kamar yang di maksud. Raut wajah Yona terlihat tidak enak hati dengan Agata.
Ia hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah lugu nyonyanya. Hingga Yona mempersilahkan Katrina naik ke lantai dua.
Agata hanya memandang, setiap gerak gerik Katrina tanpa bisa berkata-kata. Ia tidak tau siapa wanita itu, bisa saja rekan bisnis, mungkin saja saudara, atau siapapun dia yang jelas Agata tidak berani untuk berkomentar atau mengambil sikap apapun.
Dia juga orang baru di mansion ini, dirinya juga harus bisa beradaptasi dengan baik.