Fabian lupa kapan terakhir kali menginjakkan kaki di tempat ini. Sepertinya sudah lama sekali. Ia turun dari motornya, lalu berjalan menghampiri gerombolan mahasiswa yang tengah berkumpul di depan ruang bahasa, tak jauh dari ruang dosen.
"Wih, Fabian. Masih hidup lo? Ke mana aja?" seru salah seorang laki-laki berambut cepak.
"Sialan lo." Katanya sambil meninju bahu laki-laki itu dan bersalaman dengan yang lainnya.
"Gue pikir udah di DO." kata laki-laki berkemeja kotak- kotak.
"Parah lo." Sungut Fabian sambil melirik ke arah ruang dosen. "Pak Mulyadi ada?" tanyanya ada teman-temannya.
"Ada, gue juga abis bimbingan sama dia barusan." Laki-laki berambut cepak itu menunjukkan satu bendel skripsinya yang sudah di coret-coret pada Fabian yang langsung tertawa.
"Pak Mul itu dosen apa anak TK sih. Hobinya kok coret-coret." Kata Fabian yang langsung menyulut tawa dari yang lainnya.
Mereka semua bukan teman satu angkatan Fabian. Teman-teman satu angkatanya sudah di wisuda satu tahun yang lalu sedangkan dirinya masih saja berurusan dengan skripsi yang tak kunjung selesai.
Fabian menoleh ke ruang dosen saat mendengar suara pintu terbuka dan melihat pak Mulyadi keluar dari ruang dan mendekat ke arah toilet.
"Eh, gue masuk dulu, ya. Mumpung Pak Mul lagi ke toilet." Kata Fabian sambil berdiri lalu masuk ke ruang dosen yang hari itu tampak sepi. Tanpa pikir panjang, ia langsung menuju meja Pak Mul dan duduk di depannya. Ia mengeluarkan bundelan skripsi dari tasnya dan menaruhnya di atas meja. Jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk meja. Membuat bunyi beraturan.
"Ngapain kamu di sini?" Fabian mendongak dan melihat dosen itu menatapnya bak tersangka dan duduk di depannya.
"Mau bimbingan, Pak." Jawabnya sambil menunjukkan skripsinya di atas meja.
"Bimbingan, ndasmu." Semprot pria berkacamata itu pada Fabian. "terakhir kali kamu ke sini, saya suruh kamu balik satu minggu, ini sudah satu bulan. Kamu masih punya muka buat menghadap saya?" kata pria itu dengan nada geram.
Fabian tersenyum, menampilkan lesung pipinya. "Saya sibuk akhir-akhir ini pak."
"Mahasiswa macam kamu itu sibuknya ngapain? Paling cuma nongkrong-nongkrong nggak jelas. Buang-buang duit orangtua." Pria itu membenarkan letak kacamatanya dan menatap Fabian baik-baik.
"Saya janji, Pak. Skripsi saya nggak akan molor lagi. Saya janji bakal kelar dan ikut sidang tahun ini."
"Mau kamu ikut sidang tahun ini atau sepuluh tahun lagi juga saya nggak peduli. Kamu mau jadi mahasiswa abadi juga saya nggak peduli. Saya sudah malas mengurus mahasiswa macam kamu."
"Dih, bapak jangan gitu dong." Rayu Fabian dengan nada memelas.
"Sekarang coba kamu berdiri." Pinta Pak Mulyadi pada Fabian yang langsung menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Kenapa, Pak? Kita ngobrolnya sambil duduk aja. Pamali kalau berdiri." Kata laki-laki itu sambil memajukan tubuhnya ke meja.
"Saya bilang berdiri, ya berdiri." Pria itu memukul meja dan membuat Fabian tersentak kaget. Perlahan, laki-laki itu berdiri dan menunduk. Tak berani menatap pria di depannya.
"Coba kamu lihat diri kamu sendiri. Berani-beraninya kamu menemui dosen dengan celana buntung kayak gitu." Pria itu melepas kacamatanya dan sedikit melemparkannya ke atas meja.
"Semua celana saya belum pada kering, Pak."
"Kamu itu tinggal di Jakarta bagian mana? Dari kemarin itu matahari terik, gimana bisa celana kamu nggak kering?"
"Beneran hujan di rumah saya, Pak."
"Alasan aja kamu. Pokoknya sekarang kamu keluar dan jangan berani-beraninya masuk ke ruangan saya kalau betis kamu masih telanjang gitu."
Fabian menggigit bibir bawahnya lalu berujar, "Oke deh, Pak. Sepuluh menit saya balik lagi ke sini."
"Nggak peduli, mau tahun depan kek kamu ke sini, yang penting saya nggak mau lihat betis kamu."
"Siap, Pak." Katanya sambil menaruh sebelah tangannya di samping kening seraya hormat dan berbalik lalu keluar dari ruangan.
Fabian keluar dari ruangan lalu melirik penampilannya. "Apa yang salah sama betis gue. Giliran mahasiswi pake rok yang betisnya kelihatan aja, nggak pernah diomelin." Keluhnya "padahal betis gue juga nggak kalah mulus sama betis mahasiswi yang lain." Lanjutnya sambil berjalan mendekati kerumunan yang sebelumnya di datanginya.
"Bro, pinjem celana dong." Kata laki-laki itu.
"Celana apa?"
"Celana panjang, lah. Yakali celana dalam."
"Dih, ogah ah."
"Bentaran doang."
"Gue ada kelas tambahan abis ini."
"Gue mau ketemu pembimbing sebentar lagi."
"Gue mau balik, sudah di teleponin sama mama dari tadi."
"Pelit lo semua." Sungut Fabian. Matanya mengitari sekeliling hingga berhenti pada sebuah bangunan di sebelah lapangan. Ia tersenyum dan tanpa sadar langsung bergerak mendekati bangunan.
Lima menit kemudian, ia sudah berada di depan pintu ruang dosen. Sekali lagi ia melirik penampilannya dan tersenyum saat ide cemerlangnya membuat betisnya kini tertutup. Ia kembali masuk ke ruangan hanya untuk melihat kedua mata Pak Mulyadi melebar tak percaya.
"Fabiiiiaaaaaaannnn. Saya suruh kamu pakai celana panjang. Bukannya pakai sarung!!!"
***
Gadis itu menautkan jari-jarinya sambil menunduk. Ia tak menyangka suasana akan menjadi secanggung ini sepeninggal kedua orangtuanya. Ia mendongak, menatap laki-laki berkacamata itu tersenyum tulus ke arahnya.
Laki-laki itu memiliki senyum manis dengan kulit sawo matang dan rambut dibelah pinggir khas dosen-dosen berumur. Tapi laki-laki di depannya masih berumur kurang dari tiga puluh tahun. Berkemeja garis-garis dengan celana bahan dan sepasang pantofel yang melekat pas di kakinya. Jangan lupakan suara lembut khas dosen baik hati dan tidak sombong.
Elisa seharusnya tahu bahwa kedatangan kedua orangtuanya tak mungkin tanpa maksud. Dan sekarang, ia tahu salah satu alasannya.
Laki-laki di depannya bernama Alfian. Anak dari teman kedua orangtua Elisa yang bekerja sebagai asisten dosen di salah satu universitas di Jakarta dan tengah menyelesaikan pendidikan S2nya di kampus yang sama. Ia sebenarnya mengenal kedua orangtua Alfian, namun tidak dengan Alfian. Ia hanya sempat mendengar namanya beberapa kali disebut saat kedua orangtuanya dan orangtua laki-laki itu tengah berbincang.
Orangtuanya memang hanya menyuruh keduanya saling mengenal. Tapi, Elisa tahu akan ke mana arahnya. Perjodohan bukan hal baru dalam keluarganya. Dua tahun yang lalu, kakaknya, Ayu, menikah juga karena sebuah perjodohan. Tapi kakaknya patut bersyukur karena laki-laki yang dijodohkan dengannya adalah teman masa kecilnya. Berasal dari keluarga yang mereka kenal dekat dan Ayu memang menyimpan perasaan pada laki-laki itu.
"Kamu besok ada waktu?" tanya laki-laki itu. Kembali membuka pembicaraan setelah keheningan yang berlarut-larut.
"Ndak ada, Mas." Jawab Elisa lembut.
"Kamu keberatan kalau besok mas ajak jalan?" tanya laki-laki itu sopan.
"Ke mana?"
"Makan aja. Besok mas selesai ngajar sekitar jam empat."
"Aku ada kelas sampai jam lima."
"Ya sudah, biar mas jemput sekalian ke kampusmu, gimana?"
Elisa mengangguk sambil tersenyum kecil.
***
Ilham menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu juga dengan Wina, Fabian dan Made yang melihat Lala sudah menghabiskan bakso dalam mangkok ketiganya. Sungguh ini rekor terbaru yang bisa di dapat gadis itu.
"Mas, gimana perasaan lo punya istri yang perutnya kayak mesin giling gini?" Tanya Made sambil melirik pada Lala yang duduk di depannya.
"Kok lo ngomongnya gitu, sih, Mad? Ini porsi baksonya kecil, tahu. Makanya gue nggak kenyang cuma makan satu mangkok."
"Kita semua kenyang kok. Emang lo aja yang aneh." Kata Wina.
"Lo bunting kali, La." celetuk Fabian.
"Anjrit, lo pikir gue kucing apa." Sungut Lala.
"Udah, La, udah. kamu makan aja yang banyak, ya. Biar nanti tengah malam nggak kelaparan." Kata Ilham sambil mengusap rambut istrinya mesra. Membuat yang lainnya iri setengah mati.
"Lo iri, Mad? Sini gue usap muka lo pakai kain lap." Kata Wina sambil tertawa, begitu juga dengan yang lainnya.
"Gaya, lo. Baru punya gebetan aja udah sombong. Inget, dulu siapa yang nemenin lo jadi jomblo." Kata Made dengan nada sengit.
"Dih, sensi banget lo akhir-akhir ini. Gimana mau punya pacar lo?" Wina memandang bingung kearah Made.
"Gue juga gini-gini jomblo pemilih. Bukannya nggak laku. Jomblo bahagia, tahu." kata Made dengan nada percaya diri.
"Ari sia mah ngakuna jomblo bahagia, angger weh geus asup kamar mah galau deui." Kata Fabian dengan logat khas sunda yang langsung membuat Wina tertawa sementara Lala dan Ilham hanya saling pandang.
"Iiihh, Fabian ngomong jorok yaa?" kata Lala dengan pandangan aneh.
"Sayang, mentang-mentang kamu nggak ngerti apa yang Fabian bilang, bukan berarti dia ngomong jorok. Kamu kurang-kurangin deh ya." Kata Ilham sambil mengusap kepala istrinya.
Elisa : Made, besok jangan lupa bawa catatanku, yo.
Made : Iya ndoro putri.
"Kasihan banget hidupnya Elisa." Kata Wina sambil menatap layar ponsel dan membaca pesan group.
"Iya, kita mah lagi nongkrong-nongkrong. Dia malah ngurung diri di kamar." Sambung Lala.
"Makanya, gue harus pacaran sama dia. Biar hidup dia lebih berwarna sedikit."
"Makanya, ikuti motto gue. Jodoh itu bukan dicari, tapi dijebak." Kata Lala sambil tersenyum lebar dan melirik Ilham yang mengusap wajahnya.
"Mitosnya, orang Sunda sama orang Jawa bukannya nggak boleh nikah ya?" kata Made sambil menatap teman-temannya satu persatu.
"Halah, cuma mitos kan? Jangan percaya." Sangkal Fabian.
"Yang penting, kalau lo naksir sama malaikat, berhenti jadi setan." Kata Wina telak.
***
Turun dari motor, alih-alih masuk ke rumahnya, Fabian memilih melangkah menuju lantai atas. Menghampiri satu-satunya pintu yang setengah terbuka.
"Bantuin gue dong." Fabian masuk ke dalam dan langsung duduk di sofa. Loreng yang tengah tiduran di sofa lainnya hanya melirik sekilas.
"Bantu apa?"
"Kerjain skripsi gue." katanya sambil mengeluarkan laptop dan bundelan kertas dari tasnya.
"Yailah. Lo kuliah dari dulu kagak lulus-lulus. Mending cari tukang jasa bikin skripsi. Tinggal terima beres."
"Dih, gue gini- gini juga pintar kali. Nggak butuh jasa-jasa begituan."
"Percuma pintar kalau malas." Loreng bangun dari tidurnya lalu membuka laci di samping sofa dan mengeluarkan beberapa camilan dari sana.
"Tumben lo punya makanan banyak gini?" tanya Fabian dengan nada heran.
"Dari tetangga sebelah. Dia tiap balik tugas selalu ngasih oleh-oleh."
"Enak banget hidup lo."
"Iya, jadi, dari pada ngerjain skripsi. Mending kita minum aja."
"Mabok mulu isi otak lo." Fabian melempar pulpen hingga tepat mengenai dahi laki-laki di depannya.
"Lah, gue kan nggak punya banyak beban. Nggak kaya hidup lo yang penuh dengan drama dan kepalsuan itu." kata Loreng sambil membuka satu kantong camilan dan memasukkannya ke dalam mulut.
"BODO AMAT." sungut Fabian, "nih, yang gue tulis di kertas ini, lo benerin di laptop ya. Jangan sampai salah halamannya." perintah Fabian.
"Tapi gue minta nomor telepon teman lo ya?."
"Siapa? Wina?"
Fabian melihat laki-laki di depannya mengangguk sambil tersenyum penuh harap.
"Dia udah punya gebetan yang lebih ganteng dari pada lo. Lagian selera dia itu tinggi. Lo mah... Ah sudahlah." kata Fabian sambil berdiri, "gue ngerokok di bawah dulu ya. Jangan lupa itu di kerjain."
"Kutu kupret. Udah nggak mau ngasih, pakai ngata-ngatain lagi."
***
Dengan lintingan nikotin di tangannya, Fabian turun dan melangkah menuju gazebo yang ada di sebelah parkiran motor. Tiga orang laki-laki sepantaran tetangganya ada di sana. Sedang bernyanyi dengan sebuah gitar.
"Bertigaan aja kayak ban bajaj." Fabian duduk sambil menghisap lintingan ditangannya.
"Daripada berduaan, kayak biji." celetuk salah seorang laki-laki.
"Astagfirullah." Fabian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biji apa? Biji mata maksudnya. Pikiran lo pada ya." kata laki-laki itu.
Pandangan keempatnya teralihkan saat sebuah mobil berhenti di samping gazebo dan pasangan paruh baya keluar dari mobil.
"Widih, Bu Rik sama Pak Yu dari mana nih?" tanya Fabian yang langsung membuat tiga temannya mengulum senyum.
"Kamu ini, udah di bilang juga, kalau manggil nama saya itu yang lengkap, Bu Rika, gitu. Jangan di potong-potong, nggak enak tahu di dengarnya." protes wanita itu.
"Iya, kamu manggil nama saya kayak mau ngajak ribut." kata Pak Yusuf yang tak lain pemilik rumah kontrakan.
"Nggak apa-apa lah, Pak, Bu, yang penting saya bayar kontrakannya lancar." jawab Fabian tanpa dosa.
"Ah, Iya, ngomong-ngomong soal bayaran, bulan ini kamu udah telat lho, Fino?" Bu Rika, yang kalau masalah pembayaran kontrakan daya ingatnya menjadi setajam silet langsung menatap laki-laki yang duduk di sebelah Fabian.
"Ah, elo sih, Fab. Pakai ngomongin bayar kontrakan. Kena kan gue." katanya sambil menyikut dan berbisik pada Fabian. "iya, bu, saya bayar minggu depan." lanjutnya.
"Awas ya kalau kamu jambu."
"Jambu apaan Bu?
"Janji busuk."
***
Fabian : Ajeng
Fabian : Ajeng
Fabian : Ajeng... Besok gede mau jadi apa?
Elisa yang sedang berkutat dengan laptopnya hanya melirik sinis saat melihat pop up pesan dari Fabian. Memilih mengabaikan pesan itu, pandangannya kembali menatap lurus ke layar di depannya.
Fabian : Ajeng, kenapa pesan aku nggak pernah di balas sih? Kamu nggak mungkin nggak punya pulsa kan?
Elisa menyambar ponselnya dalam satu sentakan dan membuka pesan dari Fabian. Dahinya mengernyit dan menscroll layar. Membaca pesan-pesan lampau yang sama sekali tak pernah ia balas.
Fabian : Oia, ibu kamu cantik, mirip sama kamu. Bapak kamu mirip pak Raden.
Elisa : Kurang ajar.
Elisa menekan tombol send dengan kencang. Seenak-enaknya dia bilang bapaknya mirip pak Raden. Memang bapaknya itu berkumis, namun jelas tak selebat pak Raden. Lagipula, laki-laki itu tak seharusnya membicarakan orang tua seperti itu, tidak sopan, pikirnya.
Fabian : Akhirnya di balas juga
To Be Continue
LalunaKia