CHAPTER DUA PULUH

1990 Words

"Bang Damar mau ada program baru, terus mau ngeliput rumah Pak Wijaya buat tayangan perdana, jadi ya tadi ngundang sekalian ngomongin itu, mumpung masih di Jakarta." Jelas Rara.   "Ya ampun, kirain Bian sama Ajeng mau dijodohin gitu."   "Kayak nggak laku aja kamu, minta dijodoh-jodohin." Nina memberi tanggapan lalu menggendong Rania menuju kamar.   "Kamu yakin, Bi, mau sama Elisa?" tanya Damar, ia tersenyum saat melihat adik iparnya mengangguk. "berat, tahu." lanjutnya.   "Berat apanya. Kurus gitu."   "Bukan orangnya, blegug." Rara melempar bantal sofa tepat ke muka Fabian.   "Lah, terus."   "Kamu punya apa berani-beraninya naksir sama dia?" tanya Rara, "dia itu, masalah jodoh nggak sembarangan. Kamu pikir kamu bisa biayain hidup Elisa dengan hidup kamu yang amburadul kayak gini. Sk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD