Dua minggu telah berlalu sejak evakuasi berdarah dari punggung gunung, membawa mereka ke ruang interogasi militer di pangkalan bawah tanah, yang terasa seolah-olah menjadi gua kedua bagi para survivor. Ruangan itu, tanpa jendela yang menawarkan pandangan keluar, dikelilingi oleh dinding beton dingin yang menyerupai penjara emosional bagi mereka yang terjebak di dalamnya. Mereka berada di bawah pencahayaan lampu neon putih yang menyilaukan, berkedip pelan seperti mata setan yang tidak pernah tidur, mengingatkan mereka akan kenyataan mengerikan yang pernah mereka hadapi. Di tengah ruangan berdiri kokoh sebuah meja baja panjang, dengan kursi-kursi besi yang seolah mencengkeram mereka, mengikat pergelangan tangan mereka dalam belenggu yang tidak tampak. Udara pengap yang bercampur bau kopi basi dan aroma tumpukan kertas dokumen rahasia menambah ketegangan, menumpuk hingga setinggi lutut, sementara AC dingin begitu menusuk kulit mereka yang masih dipenuhi bekas luka, sama sekali tidak mampu menghilangkan mimpi buruk yang terus menghantui semua orang yang selamat dari tragedi tersebut: jeritan lembah, bisikan rawa, dan mata kabut punggung gunung yang seolah mengikuti mereka naik helikopter ke tempat ini. Tidak hanya itu, ruangan tersebut terpantau oleh kamera CCTV tak kasat mata dan mikrofon tersembunyi, sementara pintu besi tebal berteknologi tinggi dengan kunci biometrik hanya dapat diakses oleh tim intelijen militer yang berpenampilan gelap, seragam hitam tanpa lencana nama terlihat suram dan misterius. Di luar ruang bawah tanah ini, wartawan diblokir oleh pagar kawat berduri, yang menghalangi informasi mengenai berita nasional "pesawat hilang" yang berubah menjadi versi resmi "kecelakaan latihan". Namun, cerita sebenarnya, yang melibatkan kultus, suku, dan roh tua di sana, telah diklasifikasikan sebagai TOP SECRET dan diancam dengan hukuman penjara seumur hidup jika bocor keluar.
Rizal, salah satu survivor, duduk di ujung meja, terikat longgar ke kursinya, wajahnya tampak kurus, bobotnya 10 kilogram lebih ringan, matanya cekung namun masih menatap tajam lawan bicara mereka, Kolonel Hendra. Si kolonel adalah pria berusia lima puluhan, berjanggut rapi dengan seragam penuh tanda jasa yang menampilkan senioritas dan kepercayaan diri, namun matanya dingin dan tajam, seperti pisau bedah yang siap memotong ketidakjujuran. Di sekeliling meja, 9 survivor lainnya ada dalam keadaan beragam: Fauzan menggigit bibir menunjukkan ketegangan yang merangkak ke dalam dirinya; Sari menopang tangan Fahri yang masih pucat akibat psikosis ringan yang menyergap; Bima terbatas di kursi roda dengan d**a yang dibalut perban setelah operasi panjang selama 6 jam; Dito memegang radio yang telah rusak, seolah menjadi talisman sempurna setelah serangkaian kejadian gaib; Tono sibuk dengan peta usang dilipat dan dilipat kembali; Maya mengasah panah busur darurat dengan sabar; Hasan duduk tenang dalam posisi yang meyakinkan; dan Rangga duduk diam di pojok, liontin tulang kusam tergantung di lehernya, memberikan kekuatan spiritual yang tidak terlihat. Mereka semua terbalut dalam pakaian rumah sakit berwarna abu-abu, bekas luka masih terlihat di bawah cahaya neon yang menyinari.
Kolonel Hendra membuka sebuah map tebal berlabel "BRAVO INCIDENT - CLASSIFIED", suaranya datar namun menggelegar menghantam dinding beton yang tangguh. "Laporan evakuasi konfirmasi: 10 survivor dari 25 kru pesawat latihan. Kerugian: 15 tewas, termasuk pilot. Versi resmi menyebut sebagai akibat kecelakaan cuaca ekstrem. Namun, rekaman black box, sinyal radio Dito, dan saksi SAR memberikan gambaran lain. Kultus Tengkorak? Suku primitif? Roh lembah? Jelaskan kronologi lengkapnya—tanpa sensor. Nasib kalian tergantung pada kejujuran kali ini."
Rizal mengangkat dagunya, suaranya serak, namun stabil dan bertekad. "Kolonel, pesawat bukan jatuh karena kecelakaan. Ada sabotase—bukan akibat cuaca. Kami diserang suku dengan masker dan menggunakan tombak beracun, lalu kultus Tengkorak dengan ritual kurban yang mengerikan, menggunakan parang berdarah dan masker mata putih. Di Lembah Tengkorak penuh dengan tulang sekitar 50 jiwa, rawa penuh kutukan dengan akar hidup yang menjebak, serta punggung gunung yang diliputi oleh roh tua dan kabut. Kami melawan dengan menghancurkan altar mereka—hingga mengeluarkan banyak darah, namun kami berhasil selamat, 10 orang berkat..." Rizal melirik Rangga, "...pengetahuan lokal yang ada padanya."
Fauzan melangkah maju, suaranya marah namun terkendali. "Kolonel, saya Fauzan—pada awalnya saya curiga kepada Rangga, namun dia beberapa kali menyelamatkan kami. Liontin tulangnya memegang peran penting dalam menolak kutukan. Bima hampir mati dua kali—d**a robek oleh parang, dan infeksi sepsis. Lina mengalami cacat kaki permanen. Ini bukan hanya cerita hantu—kami punya bukti: liontin milik Rangga, peta milik Tono, dan rekaman radio Dito yang mengabadikan jeritan dari ritual yang mengerikan!"
Kolonel Hendra mengangkat tangan untuk menghentikan perbincangan itu, matanya yg menyipit menatap Rangga penuh ketegangan yang sulit dijelaskan. "Kau. Identitasnya misterius—muncul saat pesawat jatuh, dengan pengetahuan akan rute rahasia, dan liontin 'pelindung'. Siapakah kau sebenarnya? Agen suku? Mata-mata dari kultus? Atau... sesuatu yang lebih dari itu?"
Rangga tetap dingin, tanpa memberikan reaksi berlebihan, dengan liontin tulangnya bergantung tenang di dadanya, suaranya pelan namun menusuk. "Nama saya Rangga, anak dari penjaga hutan yang telah mati berjuang melawan kultus 10 tahun lalu. Kakek saya mengajarkan cara bertahan hidup dan rahasia lembah kepada saya. Liontin ini peninggalan yang dipercaya mampu menolak roh jahat. Motivasiku adalah untuk bertahan hidup. Jika saya seorang agen, kalian tidak akan selamat dari altar pertama."
Sari memegang tangan Fahri erat, suaranya gemetar namun penuh ketegasan. "Fahri mendengar suara roh—di titik pertemuan punggung gunung. Ini bukan halusinasi—kami semua menyaksikan pohon obsidian, batu mata spiral, dan kabut yang menjerat tali helikopter. Gunung runtuh ketika evakuasi—roh tua membiarkan kami pergi, namun masih ingat nama-nama kami."
Fahri mengangguk pelan, meskipun matanya masih diliputi kerawanan namun memancarkan kejelasan. "Ada suara bilang 'keseimbangan rusak—orang luar harus membayar'. Kami membayar dengan darah dari 15 orang teman. Jika cerita ini bocor, akan ada lebih banyak orang yang akan datang—kultus akan bangkit kembali."
Bima, dari kursi rodanya, dengan d**a yang masih berbalut perban, mengeluarkan suara yang lemah namun gigih. "Kolonel, saya hampir mati di p*********n lembah itu. Kultus menggunakan sepatu bot modern—bukan sepenuhnya primitif. Apakah ada basis luar? Agen korup yang terlibat?"
Kolonel Hendra berdiam lama, menutup map tebal dengan rapat, lalu menekan tombol pada intercom. "Tim psikiater, masuklah. Verifikasi klaim." Pintu besi terbuka, kemudian dua psikiater militer masuk dengan tas alat tes di tangan mereka, tetapi Kolonel membisikkan kata-kata secara pelan kepada Rizal, "Kalian selamat bukan karena keberuntungan belaka. Ada yang melindungi—apakah itu liontin? Roh? Atau... kita selidiki desa Pak Karto malam ini. Ikutlah, atau klasifikasi seumur hidup jika kalian menolak."
Dito berteriak penuh protes, "Kolonel, radio saya telah merekam sinyal kutukan—silahkan dengarkan sendiri!"
Maya mengasah panah dengan ritme yang konstan, matanya tajam bak elang berburu mangsa, "Kami akan mencari bukti jika diperlukan. Kultus masih berlanjut—rahasia ini adalah bom waktu menunggu untuk meledak."
Hasan, yang seorang tentara, mengangguk pelan penuh pengertian, "Perang tidak selesai di medan perang. Bayangan tak terlihat ikut pulang bersama kami."
Tono melipat peta di tangannya, "Kami memiliki koordinat gua, lembah, dan rawa—kami dapat menunjukkan kepada tim SAR."
Rangga tetap diam, namun matanya dingin seakan menghaturkan pesan, "Hutan mengingat semua yang telah terjadi. Jangan diganggu lagi."
Kolonel bangkit dari kursinya ketika pintu besi terbuka untuk perjalanan helikopter yang akan berangkat di malam ini. "Siapkan tim. Bravo akan mengikuti misi verifikasi desa—malam ini juga. Jika ada kebohongan, penjara sudah menunggu. Jika kebenaran terungkap... kita akan melawan kultus yang berkembang menjadi ancaman nasional."
Para survivor saling pandang, ketegangan memenuhi udara—mereka selamat secara fisik, namun bayangan hutan kembali bangkit. Di luar jendela kecil berventilasi, kabut tipis perlahan naik dari lembah yang jauh—mata hitam samar mengintip, seperti janji babak baru dari neraka yang akan datang.
Sesuatu menyingkap trauma yang abadi dan membuka misi rahasia, 10 jiwa melawan konspirasi kultus yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
***
Helikopter Black Hawk militer bergerak dengan lancar dalam malam tropis yang pekat, rotornya menghasilkan deru lembut yang menyusup dengan gesit melalui kanopi hutan yang begitu lebat, menuju ke arah desa Pak Karto. Sinar lampu sorot pencari menyapu lembut atap rumah panggung kayu yang redup dan sawah yang tampak basah serta diselimuti kabut seperti kabut yang terangkat dari punggung gunung. Udara malam yang begitu lembab menusuk masuk melalui pintu samping yang terbuka, beserta aroma tanah basah akibat banjir yang telah berlalu dan asap kayu bakar yang samar dari desa yang nampak sepi dan tidak lazim—tidak ada suara ayam, anjing, atau obrolan dari warga layaknya suasana desa yang normal pada umumnya. Di dalam kabin gelap tersebut, sembilan orang survivor duduk dengan raut tegang sambil mengenakan seragam tempur militer pinjaman, dan senjata standar Pindad SS2 digenggam erat oleh Rizal, Fauzan, Maya, serta Hasan, sementara Bima yang duduk di kursi roda dengan stabilisasi menyandang pistol di pangkuannya. Sari memegang erat tangan Fahri, pandangan mata liarnya menatap kegelapan di luar seolah melihat bayangan dari masa lalu. Dito menggenggam radio enkripsi, sementara Tono melipat peta koordinat desa, dan Amira mempersiapkan obor resin. Di pojok, Rangga diam tanpa suara sambil mengusap liontin tulang yang menghangat pelan seperti memberikan peringatan. Kolonel Hendra berada di depan dekat pilot, raut wajahnya yang keras tampak di bawah cahaya hijau kokpit, bersama tim SAR elit yang terdiri dari sepuluh orang lengkap dengan NVG siap bernavigasi turun menggunakan rappel.
Kolonel Hendra menekan intercom dengan suara yang rendah untuk melawan deru rotor, "Kita akan mendarat 500 meter di tepi desa—tim Bravo akan memimpin masuk ke rumah Pak Karto. Verifikasi apakah itu basis kultus, cari bukti ritual. Jika bertemu musuh, tembak." Suaranya meski terdengar dingin, namun matanya melirik menghormati Rizal secara tersembunyi.
Rizal mengangguk dengan tegas, SS2 teracung siap, dengan suara stabil melawan angin malam, "Kolonel, desa ini adalah basis kultus—Pak Karto telah menyelamatkan kami namun dia berbohong soal anaknya Suroto. Rumah panggung yang berada di tengah desa adalah tempat altar berdarah. Fauzan dan Maya akan flank kiri; Hasan dan Tono kanan; Sari dan Fahri akan kontrol belakang medis untuk Bima; Amira dan Dito akan menjaga komunikasi radio; sementara Rangga memimpin rahasia gua bawah. Bergerak dengan diam menuju masuk."
Helikopter melayang rendah, tali untuk rappel dilempar, dan tim dengan cepat turun ke tanah berlumpur di tepi desa. Desa yang mencekam dalam sunyi—rumah panggung kosong, dengan pintu yang terbuka sementara angin menderu, bayangan panjang obor desa yang telah mati bergoyang seolah roh tidak tenang sedang bergerak. Suara jangkrik tiba-tiba berhenti, sementara kabut tipis naik dari sawah seperti menggambarkan napas hutan yang hidup kembali.
Fauzan berbisik dengan tegang, parang cadangan diselipkan di pinggang, "Desanya mati—tidak ada warga sama sekali. Pak Karto benar-benar berbohong. Maya, lihat itu—jejak boot modern di lumpur menuju rumah yang tengah!"
Maya memicingkan mata elang dengan NVG, busurnya siap, "Setuju. Jejak yang masih segar—menunjukkan ada sekitar 5-7 orang kultus yang tersisa. Hasan, aku mencium bau darah amis dari rumah panggung!"
Hasan mengangguk pelan, dengan pistol yang memiliki suppressor, "Ritual malam. Kita masuk dengan diam-diam, ambil bukti foto. Bima, kau stabil?"
Bima mendorong kursi rodanya pelan dengan bantuan Sari, dadanya terasa kaku dan dibalut perban, suaranya terdengar lemah namun gigih, "Stabil...."
Sari mendorong kursi lebih cepat, tangan Fahri dipegang erat, "Fahri, jangan dengarkan bisikan lagi. Fokus pada misi, oke?"
Fahri menggumam dengan gelisah, mata liarnya bergerak tak menentu, "Bisikan berkata 'darah membayar altar'. Mereka sedang menunggu kita."
Dito berbisik melalui radio, "Base, Bravo telah masuk desa—sinyal lemah akibat kabut. Kontak visual dengan rumah yang tengah." Sementara Tono menunjuk pada peta, "Di bawah rumah panggung terdapat gua—koordinat lokasi altar."
Amira perlahan menyalakan obor resin, "Kabut naik dengan cepat—sama seperti punggung gunung. Rangga maju dengan tenang, liontinnya bersinar redup "Mari kita masuk ke gua di bagian bawahnya. Roh desa sudah bangun."
Mereka akhirnya mencapai rumah panggung milik Pak Karto—pintu kayu yang retak itu terbuka, bau amis darah segar terasa menyengat, dan lantai bambu yang basah dengan noda merah mengering. Di ruang tengah, altar terbuat dari batu hitam dengan tulang manusia tersusun melingkar, serta darah segar menetes dari patung tengkorak, bersamaan dengan foto Pak Karto bersama anaknya Suroto sedang menunjukkan mata bertopeng putih yang terpampang di dinding.
Kolonel segera memfoto bukti, "Ini bukti yang solid—kultus telah menginfiltrasi desa. Segera cari guanya!" Namun suara gemuruh tiba-tiba muncul dari lantai kayu—jejak bot mendekati dari belakang rumah.
Rizal memberikan isyarat, "Kontak musuh! Flank!" Fauzan dan Maya melompat keluar jendela di flank kiri, sementara Hasan dan Tono mengambil posisi di kanan. Lima kultus yang tersisa muncul dari sawah yang berkabut, mengenakan topeng tengkorak dengan mata putih kosong, dan parang mereka beracun mengeluarkan bunyi menderu.
Rizal menembak dengan SS2 dalam burst, merobek d**a dua anggota kultus. Fauzan membacok salah satu anggota kultus dengan parang membuatnya jatuh ke lumpur dan menjerit. Maya memanah mata satu anggota kultus, Hasan menembak kepala salah satunya. Kultus terakhir merintih, "Suroto hidup!" dan berusaha lari ke kabut namun Rangga melemparkan pisau tepat ke punggungnya.
Kolonel mengangkat radio, "Ekstrak sekarang! Apakah kultus punya basis di kota?!" Mereka membuka pintu lantai kayu, dan tampak gua bawah yang sempit penuh dengan tulang dari 20 jiwa, altar dilengkapi patung dengan mata merah dengan darah mengalir, dan peta koordinat Jakarta bertanda "kurban urban".
Fahri menjerit, "Lina... telah membayar semuanya!" Bima menembak altar hingga pecah. Kabut dari gua naik berusaha untuk menjerat kaki, namun liontin Rangga bersinar, memaksa kabut untuk mundur.
Tim bergerak dengan cepat untuk evakuasi melalui helikopter, dengan bukti map yang tebal di tangan Kolonel. "Ini adalah konspirasi—kultus kemungkinan telah menginfiltrasi militer? Bravo, kalian adalah pahlawan yang dirahasiakan."
Rizal menatap kabut desa dari helikopter, "Adanya kultus di kota... adalah neraka yang baru."
Babak dari konspirasi urban ini memuncak, peperangan melawan kultus yang ada di kota.