Fucker - 11

1605 Words
Saat Paul sedang berjalan hening sambil berbicara sendiri, tiba-tiba dia merasakan hawa kehadiran seseorang di belakangnya yang cukup kuat. “Hey kau,” ucap suara misterius itu dari belakang, membuat Paul secara refleks menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Entah karena situasinya minim pencahayaan atau memang sosok misterius memiliki tubuh yang tidak lazim sehingga Paul membelalakan matanya dan meloncat mundur, menjauhi makhluk asing itu yang bentuknya sangat tinggi dan juga besar. Tentu saja yang dimaksud tinggi dan besar adalah badan dari makhluk itu, sungguh Paul saja sampai tak henti-hentinya terpaku dengan ukuran tubuh dari sosok itu, karena dia belum pernah melihat manusia yang setinggi dan segemuk itu dalam hidupnya. “Gila! Sebenarnya kau ini apa?” Bahkan Paul harus mendongakkan kepalanya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi agar ia dapat melihat wajah dari manusia aneh itu, meski sejujurnya tidak mungkin karena suasana sedang remang cahaya seperti ini. “Maaf jika aku mengagetkanmu, aku hanya ingin bertanya saja, kau sedang apa di sini?” tanya makhluk gemuk itu yang akhirnya bisa diidentifikasi bahwa dia merupakan seorang laki-laki tambun yang tubuhnya nyaris mencapai 5 kaki. “Bukan urusanmu! Lagipula, kau ini siapa!? Bertanya begitu seolah-olah kau mengenaliku, berhentilah sok akrab begitu, b******k!” “Eh?” Pria raksasa itu terkaget saat Paul membentak-bentaknya dengan kasar. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkenalan? Namamu siapa? Aku Gadon, meski penampilanku begini, aku bukan orang jahat, aku orang baik.” “Hah? Kau pikir aku peduli soal namamu? Siapa juga yang ingin berkenalan denganmu! Menjauhlah dariku! Aku sedang sibuk! Kau bukan siapa-siapa! Aku juga tidak peduli kau orang jahat atau pun baik! Gadon Sialan!” Setelah mengatakan itu semua, dengan santainya Paul membalikkan badannya dan kembali melangkah, melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Hatinya jadi gondok karena harus berurusan dengan manusia raksasa itu, Paul jadi kesal pada Roswel karena tidak memberitahukannya soal makhluk-makhluk yang menghuni istana b****k ini. Tapi ya sudahlah, toh Paul juga tidak begitu mempedulikannya. Terus melangkah dan melangkah, meninggalkan Gadon yang sedang berdiri di tengah lorong sendirian, akhirnya secercah cahaya yang terang benderang mulai muncul, Paul sudah mencapai ujung dari lorong panjang ini sebelum akhirnya dia bisa keluar dari tempat gelap ini. “Hah?” Paul terkejut karena dia malah kembali ke ruangan berbunga yang sebelumnya pernah didatanginya dengan Roswel. Memicingkan kelopak matanya, mengamati tempat itu baik-baik, Paul menemukan ada beberapa sosok yang hadir di ruangan penuh bunga ini, salah satunya adalah gadis yang pernah meremehkannya dan ia siksa dengan boneka jerami milik Lolita. “Ternyata dia masih ada di sini, ya?” Paul memandangi sekelompok laki-laki asing yang berjalan mendatangi gadis sialan itu. “Siapa mereka?” Dilihat dari gaya pakaiannya, Paul bisa menebak kalau lelaki-lelaki bodoh itu pasti semacam geng yang suka sekali mengganggu orang lain. Tidak langsung masuk lebih dalam ke ruangan itu, Paul memilih berdiri dulu di ambang pintu masuk, ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan sekelompok lelaki itu pada gadis berambut putih keriting itu yang ia ingat namanya kalau tidak salah adalah Gissel, salah satu mentor dari negara Marigold. “J-Jangan mendekat!” Gissel tampak memundurkan langkahnya dengan gontai, dua betisnya bergetar, wajahnya jadi sangat ketakutan saat Leo dan sepuluh pahlawannya mendatangi dirinya dengan memasang wajah menyeringai jahat layaknya sekelompok harimau sedang mengepung seekor kancil lemah. “Kubilang jangan mendekat!” “Kau ini sebenarnya kenapa? Kami mendekatimu hanya ingin berinteraksi saja, kau pikir kami mau melakukan apa padamu? Memperkosamu? Itu tidak mungkin.” kata Leo dengan menghentikkan langkah kakinya, sesaat jaraknya dengan Gissel cuma sekitar 1 meter, pahlawan-pahlawannya pun mengikuti gerakannya dengan berhenti melangkah. “Aku tidak percaya padamu! Kau sudah mempermainkanku sebelumnya! Kali ini aku tidak akan membiarkanmu berbuat seenaknya padaku, dasar lelaki pengecut!” “Lelaki pengecut?” ulang Leo dengan menoleh ke muka pahlawan-pahlawannya yang berdiri di belakangnya, ia pun menyebarkan tawa renyahnya, membuat mereka semua termasuk dirinya terkekeh-kekeh mendengar perkataan lembut yang dipenuhi rasa takut dari mulut Gissel. “Aku kemari cuma mau bilang,” Tawa mereka berhenti secara serentak saat Leo kembali melanjutkan ucapannya. “Mengapa kau dengan Pelayan Pendampingmu bisa berbicara secara akrab dengan Tuan Vardigos? Apakah kalian sudah saling kenal? Atau mungkin kalian lah yang memakai suatu cara agar bisa dekat dengan beliau? Jawab pertanyaanku, Gissel.” Rambut cokelat milik Leo terasa hangat, aromanya seperti daun pepaya yang harum, itulah yang Gissel rasakan saat lelaki yang merupakan seorang mentor dari Megasta mendatanginya sedekat ini. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” Gissel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya seraya menatap tajam bola mata Leo setajam silet. “Tapi apa pun itu, aku tidak peduli pada maksudmu, aku hanya ingin kau bersama pahlawan-pahlawanmu pergi dari hadapanku! Menjauhlah! Jangan dekati aku!” “Hoooo?” Seringaian di bibir Leo jadi semakin mengembang selepas Gissel berkata demikian, rasa gemas ingin menghancurkan sesuatu bangkit dari alam bawah sadarnya, ia benar-benar ingin menghabisi nyawa gadis ini. “Baiklah, aku mengerti. Tidak ada gunanya bertanya pada gadis lemah yang sedang ketakutan. Kalau begitu, kami akan pergi. Jangan khawatir, aku bersama bawahan-bawahanku tidak akan mengganggumu lagi, Tuan Putri.” Direndahkan serendah-rendahnya, Gissel tersentak saat mendengar ucapan Leo yang menganggap dirinya sebagai gadis yang lemah, itu sangat menyebalkan dan amarahnya jadi naik saat itu juga. Maka dari itu, Gissel langsung mengatur napasnya pelan-pelan dan bersuara, “Tadi kau bilang apa?” Baru saja Leo mau mengajak pahlawan-pahlawannya pergi dari tempat ini, ia terkejut dan menoleh saat mendengar suara Gissel yang terasa nyaring dari sebelumnya, nadanya dipenuhi dengan amarah dan rasa kesal, itu benar-benar membuat Leo jadi terhibur. “Kenapa? Aku? Aku tidak bilang apa-apa, kok,” Disusul suara tawa pahlawan-pahlawannya sesaat Leo mengatakan itu. “Memangnya aku bilang apa, ya?” “Kau tadi menyebutku sebagai gadis lemah yang sedang ketakutan! Apa maksudnya itu!? Apa kau menghinaku?” “Tenangkan dirimu, Gissel. Aku sama sekali tidak berniat menghinamu, aku bilang begitu karena memang kenyataannya kau seperti itu. Tidak ada sedikit pun aku berniat merendahkanmu atau semacamnya. Begini-begini aku juga punya sopan santun, loh.” Jelas-jelas tadi Leo mengatakannya dengan nada dan ekspresi yang merendahkan Gissel, tapi mengapa dia tidak mau mengakuinya? Menyebalkan sekali! Gissel sangat tidak suka dihina-hina seperti itu, itu membuat perasaannya terganggu dan bahkan bisa berpotensi depresi. Gissel tidak ingin dirinya jatuh terpuruk lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika dia pertama kalinya mendapatkan hujatan massal dari sosial media saat dia debut sebagai selebgram di Minstagram. “Kau harus minta maaf,” tekan Gissel dengan nada yang penuh kemarahan. “Pokoknya kau tidak boleh pergi sebelum meminta maaf padaku!” “Hooo? Kau ini benar-benar menjengkelkan, ya?” Leo jadi tersenyum kecut saat melihat Gissel menampilkan wajah benci pada dirinya. “Kunci dia!” perintah Leo pada sepuluh pahlawannya, dan secara serentak mereka semua langsung berlari mendekati Gissel dan satu-persatu dari mereka menarik tangan Gissel, memegang erat pundaknya, bahkan membekap mulut gadis keriting itu hingga membuatnya hanya bisa mengerang-erang meminta dilepaskan. “MMMMMM! MMMMMMM!” Sekuat tenaga Gissel menggeleng-gelengkan kepalanya, agar bekapan pada mulutnya bisa terlepas karena dia ingin meneriaki sesuatu pada Leo, tapi usahanya sia-sia karena bekapan dari tangan laki-laki terlalu kuat untuk dilepaskan oleh seorang gadis sepertinya. “Ketahuilah,” ucap Leo dengan berjalan santai di depan Gissel yang seluruh tubuhnya sedang dikunci oleh sepuluh pahlawannya sambil berdiri. “Sejujurnya aku tidak ingin melakukan ini padamu, apalagi kau ini adalah salah satu idolaku yang sangat kukagumi. Jika kau mau tahu, aku ini sangat mengidolakanmu bahkan sebelum kau debut sekali pun dari Minstagram. Aku pertama kali melihatmu saat kau mengikuti audisi menyanyi di sebuah studio besar dan disiarkan di televisi. Saat itu kau gagal, tapi disitulah rasa kagumku muncul begitu saja dari dalam hatiku, kau benar-benar membuatku merasa bahagia, Gissel.” Mendengar segala yang Leo ucapkan, Gissel hanya mengerang kesal, dia tidak begitu memperdulikan soal masa lalunya atau pun asal-muasal lelaki jahat itu mengaguminya. Yang Gissel inginkan saat ini hanyalah Leo minta maaf padanya dan pergi menjauhinya. Hanya itu saja. Tapi sepertinya tidak sesimpel itu, mengingat orang yang dia bicarakan di sini adalah Leo Si Tukang Pengganggu yang Super Menyebalkan. “Hey, Gissel,” lanjut Leo dengan berdiri sangat dekat di wajah Gissel, membungkukkan badannya sedikit, lelaki itu tersenyum. “Aku tidak akan menyakitimu, karena kau ini hanyalah gadis lemah yang bisanya cuma menjerit ketakutan, tapi aku akan terus mengganggumu sampai kau mau mengakuiku dan bersedia memberikan tanda tanganmu, karena aku ini penggemar pertamamu, loh. Yah, cuma itu saja, selebihnya aku pinta kau tidak perlu bersikap akrab dengan Tuan Vardigos kami, sebab beliau bisa saja menyentuh dan merusakmu. Ini peringatan dariku.” Terperanjat, dua kelopak mata Gissel terbelalak saat Leo bilang demikian. Apa maksudnya itu? Vardigos bisa saja menyentuh dan merusaknya? Apa-apaan itu? Apakah Leo cuma ingin Gissel tidak terlalu dekat dengan Vardigos demi keselamatannya atau apa? Sungguh, Gissel tidak begitu mengerti pada maksud yang diucapkan oleh Leo, tapi yang jelas dia ingin terbebas dulu dari kekangan dan kuncian ini sebab sebentar lagi napasnya terasa sesak dan dia bisa pingsan lagi. “Peringatanmu itu terdengar seperti bocah t***l yang cemburu melihat ayahnya lebih dekat dengan anak tetangga, Bodoh!” Leo, sepuluh pahlawannya, dan juga Gissel terkejut saat mendengar suara keras dari seorang laki-laki yang masuk ke ruangan ini dengan gerak langkahnya yang penuh penekanan. Sesaat Leo dan Gissel menoleh ke samping kiri, ke tempat suara itu berasal, mereka tercengang saat melihat perwujudan dari seorang laki-laki kekar berambut hitam mengenakan kaos hitam berlengan pendek serta celana jins pendek abu-abu. Bukan, bukan pakaiannya yang membuat Leo dan Gissel begitu tercengang, melainkan wajah galak dan menyeramkan dari laki-laki muda itu, yang tampaknya seperti berandalan yang barbar dan mengerikan. “Apakah dia salah satu pahlawan bimbinganmu?” tanya Leo yang mencoba menyimpulkan sesuatu yang muncul dari pemikiran simpelnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD