"Aku akan keluar kota selama dua hari." Luca menatap Zara sambil menyantap sarapan paginya. Mereka duduk berhadapan di meja makan penthouse. Luca sudah terbiasa dengan masakan Zara dan dia menikmatinya tanpa banyak protes. "Apa? Keluar kota? Kenapa baru memberitahuku sekarang?" "Ini kunjungan mendadak. Aku juga tidak bisa menolak. Tapi aku pergi tidak terlalu jauh." Zara mengigit bibir bawahnya dan menunduk sedih. Dia tidak rela ditinggalkan, tapi tidak mungkin juga menahan Luca. Suaminya menanggung hidup ribuan karyawan di pundaknya. Jika dia merengek, itu juga pasti akan membuat kesal suaminya. "Begitu, ya, tapi... bagaimana dengan orang yang menyusup ke sini? Luca, aku takut. Aku tidak berani sendirian." Zara memilin jari jemarinya. Dia tidak lagi tertarik dengan makanannya seka

