Tubuh Rendi menegang seketika saat mendengar suara itu. Wajahnya berunah pucat pasi dan terlihat ketakutan. Seolah-olah dia baru saja melihat hantu yang menyeramkan.
's**t! Kenapa dia harus datang ke sini sih? Ini lebih menyeramkan dari ketemu hantu kuntilanak!' ucapnya dalam hati.
"Sudah makin berani ya kamu, Ren. Belum juga resmi cerai, tapi udah berani ajak cewek. Masih istri orang lagi ceweknya!" Seorang perempuan muda tampak berdiri di dekat meja keduanya sambil melipat tangan di depan d**a.
"Eh, Mbak! Kamu tahu nggak sih cowok yang lagi sama kamu ini siapa? Kamu tahu nggak kalau dia ini udah punya anak dan istri?" Perempuan muda itu berkata sambil menatap ke arah Anggun.
Anggun tampak kebingungan. Dia sama sekali tak mengerti dengan ucapan perempuan muda itu. Dia tak paham maksudnya.
"Maksud kamu?" Pertanyaan yang membuatnya terlihat semakin bodoh.
Perempuan muda di depannya tersenyum miring. Seolah mengejek kebodohan istri Gunawan itu.
"Asal kamu tahu aja ya, Mbak. Cowok ini tuh udah punya anak dan istri. Dia udah bukan lelaki single seperti bayanganmu." Perempuan itu berkata sambil menunjuk tepat ke arah muka Rendi.
"Kamu juga harus tahu ya. Sekarang keluarga Rendi tuh udah nggak sekaya dulu. Dia dan keluarganya tuh numpang hidup di keluarga aku," lanjut perempuan itu.
Anggun semakin melongo dibuatnya. Dia sama sekali tak tahu-menahu tentang keluarga Rendi yang sekarang. Baginya itu tak terlalu penting. Karena baginya, Rendi bisa memberikannya uang banyak itu sudah cukup. Tapi ternyata…
"Satu lagi, jauhin dia atau kamu akan menyesal seumur hidup!" tegas perempuan itu lagi.
Anggun menatap perempuan itu dan Rendi secara bergantian. Dia tak ingin kehilangan tambang emasnya. Akan tetapi, dia juga tak ingin dicap sebagai perusak rumah tangga orang lain.
Rendi yang sedang duduk di hadapannya tampak pasrah. Dia tak ingin kehilangan Anggun. Namun, dia juga tak ingin kehilangan semua fasilitas yang dia dapatkan dari keluarga istrinya.
"Pilihan ada di tangan kamu, Mbak. Aku nggak mau kamu menyesal karena nggak mau dengerin omongan aku ini," lanjut perempuan muda itu.
Sementara itu, Gunawan tampak sedang berada di ruangan Pak Adi. Dia dipanggil mandornya itu karena ada yang ingin dibicarakan dengan lelaki itu. Gunawan tampak menundukkan kepalanya. Dia tak berani mengangkat wajahnya sedikitpun.
"Kamu memang rajin, Gun. Tapi akhir-akhir ini saya lihat kamu sering ngelamun. Kamu nggak fokus pada pekerjaan kamu," ucap Pak Adi.
Gunawan semaki menundukkan kepalanya. Dia tak berani mengangkat wajah barang sedikitpun. Ada rasa sesal yang menggumpal dalam d**a lelaki itu.
"Kamu lagi ada masalah di rumah?" tanya Pak Adi.
Gunawan masih terdiam. Dia seolah enggan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari Pak Adi. Pak Adi menghela napas panjang. Dia juga tak bisa memaksa Gunawan untuk menceritakan masalahnya.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau cerita. Akan tetapi, harus kamu ingat. Setiap masalah pasti ada solusinya. Tuhan nggak akan memberikan masalah tanpa solusi. Tugas kita sebagai manusia adalah mencari solusi itu," ucap Pak Adi.
Gunawan menganggukkan kepalanya perlahan. Dia paham dengan apa yang dikatakan oleh sang mandor.
"Sekarang, kamu balik kerja lagi deh. Semangat ya, Gun!" pungkasnya.
Gunawan menganggukkan kepalanya sekali lagi. Setelah mengucapkan terimakasih, lelaki bertubuh tinggi itu segera keluar dari ruangan Pak Adi.
****************
Hari telah berganti petang. Matahari pun telah bersiap untuk beranjak dari singgasananya. Semburat warna hingga membuat langit sore ini menjadi begitu indah dan romantis.
Gunawan baru saja tiba di rumah. Dia meletakkan sepeda tuanya di samping rumah. Seperti biasa, sebelum masuk, lelaki itu terlebih dahulu mencuci tangan dan kakinya di kran yang ada di depan. Setelah itu baru dia masuk ke rumah.
Gunawan mengelap tangannya yang basah dengan handuk yang selalu ia bawa. Handuk kecil degan warna yang telah pudar itu selalu setia menemaninya bekerja di proyek.
"Baru pulang, Mas?" Anggun tiba-tiba saja menyapa Gunawan dengan suara lembut.
Gunawan tampak terkejut mendengar sapaan dari sang istri yang sudah lama tak pernah ia dengar lagi itu.
"Eh, i-iya aku baru pulang," jawab Gunawan gugup.
Anggun mengulas senyum. Dia lantas menarik tangan Gunawan dan mencium punggung tangan lelaki itu. Gunawan tersipu malu saat melihat apa yang dilakukan oleh Anggun. Hatinya menghangat kala melihat perubahan sikap sang istri yang begitu drastis.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Anggun.
Gunawan semakin salah tingkah kala sang istri bertanya padanya.
"Kamu sakit, Mas?" Raut kecemasan nampak terlihat jelas di wajah Anggun.
Gunawan hanya bisa menggeleng tanpa membuka mulutnya.
Anggun sekali lagi mengulas senyum. "Syukur deh kalau kamu nggak sakit. Aku khawatir banget kalau kamu sakit," ucap Anggun.
Gunawan semakin meleleh mendengar suara sang istri yang terdengar lembut dan bersahabat itu. Dalam hati dia bersyukur karena akhirnya sang istri tak lagi jutek padanya.
"Aku minta maaf ya atas sikapku selama ini sama kamu. Aku menyesal sudah mendiamkan kamu selama ini. Aku juga menyesal sudah membuat kamu marah waktu itu." Anggun berkata sembari bergelayut manja pada Gunawan.
Gunawan hanya bisa tersenyum melihat sikap sang istri. Terus terang dia rindu dengan sikap dang istri yang demikian ini. Dia rindu pada sikap manja sang istri jika dirinya terlalu lama berada di luar rumah.
"Kamu mau kan, Mas maafin aku?" ujar Anggun.
Gunawan tersenyum sekali lagi dan mengangguk yakin.
"Sebelum kamu minta maaf. Aku udah maafin kamu, Dik!" Gunawan berkata sambil membelai lembut rambut sang istri.
Anggun tersenyum ceria mendengar ucapan sang suami. Hatinya lega karena sang suami mau memberinya maaf.
Di dalam rumah, Bu Ika tampak gemas melihat Anggun yang bermanja-manja pada suaminya. Perempuan itu tampak tak suka melihat sang anak dan menantunya sudah akur kembali.
'Anggun apa-apaan sih? Kenapa dia malah bersikap manja pada Gunawan? Harusnya dia langsung saja meminta cerai dari kuli bangunan itu. Huuh! Ini nggak bisa dibiarin,' batin Bu Ika.
Bu Ika tampak mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat melihat sikap Anggun pada sang suami.
Saat mereka berdua masuk ke dalam, Bu Ika berpura-pura tak melihatnya. Perempuan itu berpura-pura sedang menonton acara televisi kegemarannya.
"Aku mandi dulu ya, Sayang!" pamit Gunawan.
Anggun mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia ikut duduk bersama dengan Bu Ika di ruang TV saat Gunawan masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh, Nggun! Kamu apa-apaan sih? Kok malah manja-manjaan sama dia sih?" semprot Bu Ika.
Anggun yang disemprot begitu oleh sang ibu menjadi kesal.
"Emang kenapa sih, Bu? Dia kan suamiku. Wajar dong kalau aku manja sama dia. Daripada aku manja sama lelaki yang katanya single tapi udah punya istri," sahut Anggun.
"Maksud kamu apa?" tanya Bu Ika tak mengerti.
"Iya. Lelaki yang ibu agung-agungkan itu ternyata udah punya anak istri. Ogah banget aku jadi istri keduanya," jawab Anggun.
Dari balik kelambu pembatas, Gunawan mengulas senyum. Dalam hati dia bersyukur karena akhirnya sang istri memilih untuk berpisah dari lelaki itu. Akan tetapi, semua itu hanya berlangsung sekejap mata. Dia kembali harus mengelus d**a kala mendengar ucapan sang ibu mertua.