Levin duduk termenung di depan meja Resya. Ia masi memikirkan permintaan mamanya untuk pulang. Sedangkan Levin masih mempunyai tugas untuk menjaga Resya. Ia tidak bisa meninggalkan gadis itu begitu saja. Beberapa hari terakhir Levin merasa ada yang aneh. Ia merasa ada yang mengikuti setiap gerak-gerik mereka. Levin pun tidak tenang memikirkannya. Saat keluar hendak ke rumah sakit, Levin juga merasa ada seseorang yang mengikuti mereka. Saat hendak mengejar tiba-tiba saja orang itu menghilang tidak tahu ke mana.
Levin masih menerka-nerka siapa yang mengikuti mereka. Ia tidak salah jika memang orang itu mempunyai tujuan buruk. Levin belum sempat melihat wajahnya. Ia hanya melihat orang tersebut memakai pakaian hitam dengan wajah yang tidak terlihat begitu jelas. Pemuda itu semakin ragu untuk meninggalkan Resya dan pulang ke rumah untuk bertemu sang mama. Namun, ia sudah terlanjur membuat janji dan tidak ingin membuat ibunya kecewa.
Berbicara dengan Resya menurutnya adalah satu hal yang percuma. Gadis itu pasti tidak akan membiarkannya pergi dan bisa jadi malah mengikutinya. Sedangkan mamanya pasti akan tidak bisa menerima kehadiran Resya. Levin bingung memikirkan semuanya. Ia mulai gelisah dan memikirkan cara untuk bisa pulang dengan izin dari Resya dan memastikan gadis itu aman.
Resya yang melirik gerak-gerik Levin membuatnya penasaran apa yang dipikirkan Levin. Gadis itu berdiri dan langsung duduk di dekat Levin. Membuat pemuda itu langsung terkejut. Ia berusaha menjaga jarak dari Resya, tetapi gadis itu malah menarik tangannya dan membuat Levin tidak bisa berkutik. Karena sentuhan tangan Resya dan jarak mereka begitu dekat membuat Levin menggigil layaknya orang kedinginan. Tiba-tiba saja Levin merasa gugup saat gadis itu menatapnya. Senyumnya seolah membuat Levin kebingungan harus bagaimana menghadapi Resya. Padahal sebelumnya ia selalu berusaha cuek saat Resya merajuk atau sengaja menggodanya.
“Om, dari tadi kenapa, sih? Ada yang mau dibicarakan?” Resya masih memegang tangan Levin. Gadis itu tidak membiarkan pemuda itu menghindar darinya.
“Aku ... aku ... aku...”
“Aku kenapa? Kenapa Om jadi gugup gini? Apa karena aku memegang tanganmu?” Resya mengangkat kedua alisnya dan tersenyum. Tangan Levin semakin terasa dingin. Resya merasa hal itu terasa sangat konyol baginya. Selama ini tidak ada yang pernah merasa gugup saat dengannya. Zidan yang terbiasa dengannya pun biasa saja dan terkesan santai.
“Aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan Mama.” Akhirnya Levin bisa menjawab pertanyaan Resya. Ia mulai mengutarakan niatnya dan keinginan sang mama menyuruh Levin pulang sebentar.
Levin pun meminta izin Resya untuk pulang ke rumah dan meminta Resya untuk tetap di rumah selama Levin pergi. Masalah pekerjaan kantor, Levin yang akan mengatakannya langsung kepada Nasya agar memberi Resya kelonggaran selama Levin tidak bisa menjaga putrinya.
Rencananya Levin akan meminta izin selama dua hari untuk pulang. Ia hanya ingin merawat mamanya dan membuat wanita itu sedikit lebih tenang saat melihat Levin di rumah bersamanya.
“Tidak masalah jika Om Levin mau izin, tapi ... aku ikut!”
Benar dugaan Levin, permintaannya pasti akan semakin sulit karena Resya. Gadis itu pasti akan meminta ikut dengannya. Padahal Levin sendiri tahu apa yang akan terjadi jika Resya ikut dengannya dan Levin juga harus pulang untuk memenuhi janjinya kepada sang mama.
“Ayolah Om, cukup mudah saja. Om boleh izin, asal aku ikut sama Om.” Resya masih merengek. Ia menarik-narik tangan Levin memohon. “Aku janji enggak bakalan ganggu.”
“Sya, kamu tahu, kan, bagaimana Mama saat bertemu kamu?” Levin mencoba mengingatkan kejadian lalu saat Mamanya Levin begitu histeris dan mencekik leher Resya. Levin khawatir jika mamanya akan menunjukkan reaksi yang sama saat melihat Resya pulang bersamanya.
Mendengar Levin mengatakan hal itu membuat Resya sedikit takut, gadis itu mengusap lehernya mengingat betapa sakitnya saat itu. Namun, rasa penasarannya akan mengalahkan rasa takutnya. Ia harus tahu kenapa mamanya Levin begitu histeris. Resya merasa semua itu pasti ada hubungannya, tetapi Resya sendiri pernah bertanya kepada maminya jika tidak mengenal keluarga Levin sama sekali. Lantas Resya merasa aneh jika mamanya Levin bersikap seperti hal itu.
Resya beranggapan mungkin saja mamanya Levin mengalami paranoid yang seolah dejavu dan Resya merupakan kunci dari rasa paranoid itu. Dan Resya menyimpulkan jika semua itu pasti berhubungan dengan masa lalu mamanya Levin.
“Aku tidak takut. Aku akan menyamar agar membuat Tante tidak mengenaliku. Jadi, tidak ada masalah dan sore nanti aku bisa langsung ikut Om pulang. Masalah Mami itu hal mudah. Setahu Mami aku tinggal sama Oma dan aku akan memberi kabar pada Oma kalau dua hari ini aku tidak bisa menemani Oma. Beres, kan?” Resya tersenyum seolah rencananya telah tersusun rapi tanpa sepengetahuan Nasya.
“Lantas bagaimana dengan Nyonya Nasya dan Nyonya Oma. Aku tidak bisa membawamu tanpa izin mereka.” Levin bersikukuh. Berharap jika rencana konyol Resya akan batal.
“Aku yang akan mengatasi mereka.”
Levin masih berpikir. Saat Resya ikut memang beban kerjanya berkurang karena tidak harus khawatir memikirkan keselamatan Resya. Namun, perasaannya mendadak tidak enak saat Resya memilih ikut dengannya dengan cara menyamar. Pikirannya terbayang dengan keadaan neneknya Resya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“Semua pilihan ada pada Om. Setuju atau tidak. Silakan dipikirkan. Aku mau ketemu sama Mami.” Resya melepas tangannya dan keluar ruangan. Ia sengaja keluar agar membuat Levin berpikir tanpa rasa gugup saat Resya berada di dekatnya.
Resya tersenyum sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Levin. Ia melirik sekilas ekspresi Levin yang bingung dan memastikan jika permintaannya untuk ikut Levin pulang pasti berhasil. Ia pun yakin jika rasa penasarannya sebentar lagi akan terbayar tunai. Dua hari waktu yang sangat cukup untuk mengorek informasi dan tahu lebih jauh siapa keluarga Levin sebenarnya. Tentunya gadis itu akan menyamar dengan caranya sendiri dan mendekati mamanya Levin dengan trik dan penyamaran yang telah Resya rencanakan.
***
Akhirnya mau tidak mau Levin mengabulkan permintaan Resya. Ia tidak bisa menolak dan lepas dari tanggung jawabnya sebagai bodyguard Resya. Ia harus tetap menjaga gadis itu 24 jam agar masih bisa membiayai pengobatan mamanya. Semua itu Levin lakukan hanya untuk kesembuhan mamanya.
Sebelum pulang pun, Levin telah memberi tahu Nasya soal kepulangannya dan soal Resya yang ikut bersamanya. Nasya tidak keberatan karena ia merasa aman Resya bersama Levin. Setidaknya ia tidak perlu khawatir Resya akan berbuat macam-macam karena masih ada Levin di dekatnya.
Mendengar persetujuan Nasya membuat Resya begitu senang. Ia langsung mengajak Levin pulang saat jam kerjanya telah selesai. Gadis itu harus berpamitan terlebih dahulu kepada neneknya sebelum menginap di rumah Levin.
Reni duduk di teras menyambut kedatangan Resya. Didampingi perawat yang menjaganya, Reni terlihat lebih segar dari sebelumnya. Nasya sengaja menyewa seorang perawat untuk menjaga ibu mertuanya. Ia merasa kondisi sang mertua belum juga membaik. Ia berinisiatif menyewa seorang tenaga profesional untuk selalu siap menjaga mertuanya.
“Oma ...!” Resya datang dengan senyum yang lebar dan memeluk erat sang oma seolah dia akan pergi jauh.
Reni terbatuk karena pelukan Resya dan membuat gadis itu khawatir. Ia merasa menjadi penyebab omanya kesulitan bernapas.
“Kamu senang sekali. Kenapa?”
Resya melirik ke arah Levin yang berdiri di sampingnya. Ia memberi kode pada Reni jika hal itu bersifat rahasia. Resya berbisik agar Levin tidak mengetahuinya. Gadis itu hanya tidak ingin Levin terlalu ge er mendengar alasan Resya terlihat begitu senang.
Mendengar perkataan Resya membuat Reni tersenyum. Ia hanya menyimpulkan jika cucunya memang telah tumbuh dewasa dan sudah seperti gadis normal lainnya yang mulai mengenal yang namanya cinta. Gadis tomboy itu memang tidak mengatakan suka. Namun, sebagai orang dewasa yang lebih tua, Reni sangat paham apa yang sedang terjadi. Pengalaman hidup membuatnya mengerti apa yang dirasakan Resya.
“Sya, pesan Oma. Jangan buat onar dan menurutlah pada Levin. Oma yakin dia adalah pemuda yang paling tepat untuk kamu.” Reni berpesan dan Resya langsung malu mendengarnya. Setidaknya Levin juga ikut mendengarnya.
Pemuda itu masih saja diam seolah tidak mendengar apa pun. Resya menoleh dan malah merasa aneh melihatnya. “Benar-benar seperti patung yang tidak punya ekspresi.” Resya hanya membatin dalam hati. Harusnya saat Levin mendengar ucapan Reni, Pemuda itu harusnya bereaksi seperti Resya, tetapi Levin tidak sama sekali.
“Sudah, tidak usah kamu terlalu lama melihatnya. Ingat kalau Oma tidak ada, jaga mamimu baik-baik.” Reni kembali mengatakan kalimat yang membuat Resya merasa sedih.
“Oma...! enggak boleh ngomong kayak gitu. Oma masih bisa sehat dan Resya sendiri yang akan merawat Oma setelah pulang nanti. Resya janji.”
Reni hanya tersenyum melihat cucu perempuannya. Mengingatkannya kepada sosok puteranya yang beberapa hari ini selalu hadir dalam mimpinya. Rendra terlihat tersenyum dan melambaikan tangannya. Setiap malam pun kehadiran anak lelaki di dalam mimpi membuat Reni begitu tenang dan bisa nyenyak saat tidur.