Ekspresi kesal Zidan terbayang dalam lamunan Resya. Gadis itu tersenyum mengingat raut wajah Zidan. Ia berharap pemuda itu benar-benar menaruh rasa kepadanya. Sosok seperti Zidan yang begitu Resya kagumi. Perhatian, macho dan jago dalam segala hal. Keluarga mereka pun dekat satu sama lain. Resya sudah mengenal ibunya Zidan sejak SD hingga lulus kuliah. Mereka selalu bermain bersama. Resya yang tomboy selalu mengikuti kemana pun Zidan pergi. Berkelahi, balap motor atau nge-drift bareng, hingga latihan mua thai bersama. Tak jarang hal itu selalu membuat maminya harus berteriak dan mengomel tidak jelas karena tingkah Resya yang tomboy.
Hidup berdua bersama sang Mami membuat Resya cenderung tomboy. Ia tidak segan memukul atau menendang teman lelaki yang berusaha menggoda atau mengejeknya dari kecil. Hidup tanpa sang papi seringkali membuat Resya kecil selalu diolok-olok temannya yang usil. Ia mengejek Resya tidak mempunyai ayah. Mereka akan kembali mengejek saat acara sekolah yang mengharuskan kedua orang tuanya hadir. Hal itu yang membuat Resya seringkali sedih dan marah jika ada yang mengejeknya.
Pada saat itu pula Nasya akan menghibur Resya pelan dan membuat gadis kecil itu perlahan paham dengan keadaan mereka. Resya kecil pun menurut dan tidak berbuat ulah untuk beberapa saat.
“Nona Bos sudah makan?” Levine datang membawa satu piring makanan dan satu cangkir s**u putih yang ia dapat dari pembantu. Sejak pulang dari rumah sakit. Levin belum melihat Resya makan sedikit pun.
“Enggak selera.” Resya tidak peduli dengan makanan yang diletakkan Levin.
Lelaki itu masih berdiri dan melihat Resya yang asik memainkan ponselnya. Tidak mau menjadi patung, Levin berbalik meninggalkan Resya.
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kok pulang, ini belum waktunya kamu pulang. Aku laporin Mami nanti kalau kamu pulang sebelum jamnya.”
“Lapor saja. Aku hanya ingin menemani Mama sebelum beliau terapi besok.” Levin tidak menghiraukan ancaman Resya. Keadaan mamanya lebih penting dari hal apa pun.
“Ikut!” Resya tertarik saat Levin menyinggung soal keadaan mamanya. Ia masih penasaran kenapa wanita itu begitu membencinya.
“Ngapain ikut? Rumahmu di sini. Lagian udah malam. Enggak bagus cewek keluar malam dengan lelaki.”
“Kata siapa?” Resya beranjak dari tempatnya.
“Kata guruku.”
“Itu kata gurumu, bukan Mami atau guruku. Aku juga sudah biasa keluar bareng zidan, jadi tidak ada masalah.” Resya tersenyum. Ia berjalan memutari Levin yang masih berdiri.
“Itu Zidan, bukan aku. Jadi, jangan samakan aku dengan dia.” Perkataan Levin cukup menyentak Resya. Gadis itu langsung berhenti. “Aku sudah izin pada Nyonya Bos, beliau bilang tidak masalah jika aku harus pulang lebih dahulu. Asal kamu sudah di rumah dengan keadaan aman. Jadilah anak yang baik sekarang.” Levin pergi meninggalkan Resya. Gadis itu tidak bisa berkutik untuk menahan kepergian Levin.
Apa lagi keinginannya untuk ikut serta Levin pulang. Itu hal yang sangat tidak mungkin. Levin memberi jarak dan seolah tidak ingin Resya tahu tentang keluarganya, terutama sang mama. Levin menutupnya rapat. Apa lagi semenjak kejadian mamanya begitu histeris saat melihat Resya mengunjunginya. Ada rasa trauma melihat mamanya kembali seperti itu lagi.
***
Nasya pulang begitu larut. Pekerjaannya yang menumpuk membuatnya harus lembur. Ia meminta beberapa stafnya untuk menemaninya dan memberinya laporan income beberapa bulan terakhir. Percetakan peninggalan sang suami adalah satu-satunya sumber penghasilan yang selama ini menjadi penopangnya. Tidak mudah bagi seorang Nasya untuk tetap eksis dalam dunia bisnis itu. Ia yang tidak tahu apa-apa harus belajar untuk memulai berbisnis dan tidak membiarkan usaha percetakan milik sang suami colaps begitu saja. Ia dibantu Vano dan beberapa karyawan lama untuk tetap mempertahankannya. Banyak para pekerja yang menggantungkan kehidupannya. Nasya tidak ingin mereka semua kehilangan pekerjaan karena kebodohannya dalam mengelola usaha yang sudah dirintis Rendra sejak dulu.
Apalagi ada Resya yang menjadi putrinya, Nasya harus bertahan dan berjuang agar anaknya itu bisa menjadi gadis yang sukses dan berhasil menamatkan pendidikannya hingga jenjang yang lebih tinggi darinya.
Menjadi wanita karir mengharuskan dirinya sibuk di luar rumah. Mengembangkan bisnis dan mencari relasi baru yang beberapa telah pergi karena pergantian pemilik. Hal itu tidak membuat Nasya putus asa. Ia sangat Yakin sang suami selalu mendukungnya dan memberi semangat meski tidak lagi bersama. Kenangan manis yang tercipta di antara mereka akan selalu menjadi kisah hidup terindah bagi seorang Nasya. Hingga usianya yang tidak lagi muda tidak membuat Nasya melupakan begitu saja kisah haru mereka berdua.
Bertemu dalam ketidak sengajaan serta kebersamaan yang tercipta karena sebuah perjanjian membuat Nasya dan sang suami bertemu dalam satu perasaan yang namanya ‘cinta’. Rasa itu berdiri kokoh dengan jalan yang tidak mulus. Nasya masih mengingat jelas kehadiran Sila sang mantan kekasih Rendra yang menjadi penyebab pertengkaran mereka. Wanita bersuami itu seolah tidak berhenti mengganggu sang suami. Hingga menikah Kehadiran Sila seolah menjadi momok yang amat Nasya benci. Hal yang membuatnya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
”Mami baru pulang?” Resya berdiri di depan pintu kamar. Ia tidak bisa tidur dan berniat mengambil minuman.
Nasya tampak lelah dan membuka mantel yang membalut tubuhnya. Wanita itu langsung meraih tubuh putrinya dan mencium kening Resya.
“Kamu belum tidur?”
Resya menggeleng. Ia masih memeluk tubuh maminya. Bersikap manja dan seolah ingin mengungkapkan keanehan hatinya. Ia rindu saat bersama mamanya. Sejak kecil waktu bersama sang mami begitu terbatas karena kesibukan Nasya. Resya terkadang merasa kasihan, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain tidak membuat maminya khawatir karena perilakunya.
“Tanganmu udah mendingan?” tanya Nasya.
“Kata dokter udah bisa buat aktivitas ringan. Hanya saja harus kembal lagi bulan depan untuk periksa lagi.”
“Oh, kamu udah makan?”
“Udah. Mami?”
“Udah, tadi makan malam bareng Om Vano setelah ketemu klien.”
“Om Vano lagi? Kenapa harus dia, sih, Mi?” Resya menunjukkan rasa tidak sukanya. Ia tidak suka hati Nasya berpindah ke lelaki lain.
“Sya-sya. Om Vano hanya membantu, tidak lebih.” Nasya tersenyum melihat putrinya yang begitu protektif. “Usia Mami tidak lagi muda. Mami hanya ingin segera melihat puteri Mami ini menikah.”
“Menikah? Punya pacar aja belum.” Resya mencebik kesal. Nasib asmaranya terbilang tidak beruntung. Tidak ada lelaki yang berani mendekatinya karena perilaku Resya yang tomboy.
“Gimana mau punya pacar, ada yang deketin aja udah disentil.”
“Aku tuh enggak suka cowok lebai, Mi. Mereka itu lembek, enggak keren, enggak macho. Pokoknya jauh dari standar Sya-sya.”
Nasya membuka pintu kamarnya. Resya mengikutinya. Wanita itu menaruh mantel dan tasya, sedangkan Resya langsung merebahkan tubuhnya pada tempat tidur. Ia masih berbicara tentang lelaki idaman yang belum ia temukan. Menjadi jomlo abadi tidak membuat Resya takut. Hanya saja bertambah usia membuat gadis itu mulai berpikir untuk merubah penampilannya menjadi lebih feminim.
“Lantas tipenya Sya-sya seperti apa? Levin? Zidan? Atau salah satu pegawai baru mami yang mirip artis korea itu?” Nasya tertawa. Ia sangat suka menggoda puterinya yang akan malu jika menyinggung soal Zidan.
“Mami! Kenapa nyebut nama Om Levin? Dia itu enggak banget, enggak masuk kategori keren dan macho.”
“Siapa bilang? Kamu belum tahu saja siapa dia.”
“Memangnya Mami tahu? Orang lugu kayak gitu dijadikan bodyguard Resya. Yanga ada Resya yang bakal bantuin dia kalau ada sesuatu.”
“Sayang, kamu tahu enggak, banyak hal yang belum kamu tahu tentang Levin. Dia anak baik, Mami bisa lihat itu.”
“Baik bukan berarti keren.”
“Resya, apa keren itu penting?”
“Sangat penting.
“Baiklah, sekarang Mami tanya. Kapan kamu kembali bekerja dengan Mami. Pekerjaan semakin banyak dan Mami butuh kamu untuk membantu usaha peninggalan papimu.”
“Kalau begitu, Aku sudah tidak butuh bodyguard lagi.”
“Siapa bilang?”
“Aku.”
“Levine tetap jadi bodyguard kamu. Tidak ada alasan lagi. Oke?” Nasya mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Mami!!!” Resya kesal karena Nasya masih memperkerjakan Levin meskipun kondisinya mulai membaik. Ia lebih suka hidup tanpa pengawasan agar bisa berbuat apa pun. Bermain lagi dan berlatih mua thai lagi bersama Zidan. Hanya saja jika mengingat sosok Levin rasa penasaran Resya kembali muncul dan berniat mencari tahu siapa Levin sebenarnya.