Dua

1930 Words
Thea tak menyangka akan kedatangan mertuanya hari ini, pasca 3 hari menikah dengan Shane. Beruntungnya ternyata assisten rumah tangga yang dipekerjakan Shane sudah datang dari pagi sekali, hingga rumah terlihat sudah bersih. Pasalnya Shane benar-benar seperti tak pernah puas untuk mereguknya lagi dan lagi.Ayah mertuanya yang baru dua kali dilihat Thea kini duduk di meja makan, ya dia memang berniat makan malam dirumah anaknya. Wajahnya tampak  lebih ‘bule’ dibanding Shane. Tubuhnya tinggi berisi, diusia yang sudah setengah baya dia tampak masih bugar sekali, wajar karena dia memang pecinta olahraga, dia merupakan penyumbang tetap untuk beberapa cabang olahraga di Indonesia termasuk sepak bola tentunya. Sementara ibu Shane masih sangat terlihat cantik, dia mantan putri Indonesia. Tubuhnya tinggi dan masih terawat. Sejak muda ibunya Shane sudah menggeluti dunia fashion dan modelling. Makanan sudah tertata di meja, Shane tampak malas menyuap makanan entah kenapa? Padahal orangtuanya sudah menyempatkan diri datang setelah melakukan perjalanan bisnis singkat ke Thailand. “Kapan kamu mulai pegang perusahaan kita Shane?” suara berat dari Mario, ayah Shane memecahkan lamunan Thea. Dia baru tahu beberapa hari belakangan bahwa Shane merupakan anak dari konglomerat kaya di Indonesia. Ayahnya mempunyai banyak perusahaan di bidang Furniture dan perhotelan. Bahkan bisnisnya sudah menjelajah ke beberapa negara di Asia dan Eropa. “Nanti lah pah, kan masih ada Matthew yang pegang perusahaan papa.” Shane seperti tak mau membahas hal itu, terutama di depan Thea istrinya. “Ayolah Shane sampai kapan kamu mau jadi kacungnya Margo? Matthew! Kamu tahu sendiri kan dia sedang gila politik bahkan dia mencalonkan diri menjadi anggota DPR, dia pikir pemain naturalisasi akan bisa memenangkan kursi?!”Sungut Mario geram, dia ingin anak-anaknya meneruskan usahanya, tapi kenyataannya apa? Shane lebih senang dengan dunianya di prusahaan televisi swasta di Indonesia, come on Thea baru melihat seorang manajer di bilang kacung. Tapi dia sadar apa yang dikatakan Mario, bahkan perusahaan miliknya jauh lebih besar dan hebat dibanding industri pertelevisian sekarang. Dan pemain naturalisasi? Ayolah Pa, Matthew itu ingin menjadi anggota DPR bukan pemain bola! “Aku mencintai pekerjaanku pa, dan stop untuk mengatakan kacung!” bantah Shane. “Papa sudah menuruti keinginan kamu Shane, sekarang kamu yang harus menuruti keinginan papa!!” suara Mario sudah naik satu oktaf. Sementara Karlina, istrinya terlihat menenangkan dengan menepuk punggung Mario pelan. Thea tak mengerti apa yang harus dia lakukan dia sudah melihat kilatan marah di mata biru Shane. Shane menarik nafas kencang dan mendenguskannya dengan sebal kemudian melanjutkan, “oke pa, setelah urusanku kelar, aku akan lakukan itu.” Mario tersenyum miring. Dia memegang kartu Shane, dia tahu anaknya tak akan dapat membantahnya, setidaknya saat ini. Saat kartu AS dia yang pegang. *** Thea memutuskan untuk berangkat sendiri ke kantornya, dengan skuter matic tercinta. Ya dia dan Shane memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun rekan kerja di kantornya bahwa mereka sudah menikah, Thea tak ingin di cerca dan dihina. Dianggap perebut lelaki orang, dia tidak merebutnya. Tak ada usahanya sama sekali untuk merebut Shane. Justru semua itu adalah permintaan Linda. Istri pertamanya, karena hal yang dideritanya. Thea masih menjadi wanita baik-baik kan? Meskipun dia sangat menikmati peran menjadi istri Shane. Rekan kerja seruangannya berhasil memojokannya karena tidak mau jujur menikah dengan siapa? mereka bahkan berkilah bahwa Thea telah berbohong hanya agar mendapatkan cuti menikah dan liburan. Hello,, apakah tak ada alasan lain jika hanya ingin liburan? Ocehan mereka berhenti ketika melihat Thea menunjukan foto buku nikah dengan beberapa bagian yang telah di blurnya. Juga dengan sogokan makan siang gratis di kantin. Dan disinilah dia bersama tujuh orang teman-teman cerewetnya, dua pria dan 5 wanita. Di kantin perusahaan. Sebuah foodcourt besar yang dapat menampung ratusan karyawan, foodcourt itu terdiri dari dua lantai, di lantai satu khusus untuk memesan makanan sementara lantai dua tempat mereka menikmati makanan yang dibawakan oleh pelayannya. Thea memesan soto banjar, dia terkekeh geli melihat teman-temannya yang bertingkah gila, mereka memang terlewat kreatif. Hal yang menyenangkan bagi Thea ketika berkumpul dengan mereka, dia bisa tertawa bisa menangis, bisa semalaman tanpa tidur bersama jika terpentok deadline sebuah acara. Ya sebagai tim kreatif Thea tentu akan banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman gokilnya itu. “Damn!” rutuk Thea, rok putihnya tertumpah kuah soto karena salah satu teman lelaki yang berbadan gemuk itu merentangkan tangannya. “Monster!!” teriak mereka berbarengan, selanjutnya mereka tertawa terbahak-bahak melihat teman yang dikatai monster itu meringis meminta maaf. Thea tak bisa marah dengan sobat kentalnya itu. Dia hanya berjalan ke bawah untuk membersihkan. Ketika Thea mengangkat roknya dan mengusapnya dengan tissue, sebuah tangan menurunkan rok itu dan menyentuh paha Thea, hampir dia berteriak kesal jika saja wajah tampan Shane tidak nongol di hadapannya. “Mau pamer hah!”Shane mencubit paha Thea, membuatnya teringat bahwa disitu ada tanda merah yang Shane tinggalkan pagi tadi. Owh shitt!! “Harusnya aku gak pake rok hari ini,” Shane terkekeh dia berbisik di telinga Thea “wanna Quickie s*x?” Thea hanya menyenggol lengan Shane geli, dia pasti bercanda. Thea menggeleng dan berniat pergi dari situ, tak berapa lama lagi kantin akan penuh karena jam makan siang sudah akan tiba. “Crazy,” ledek Thea diapun bergegas meninggalkan Shane yang cemberut merajuk persis seperti anak kecil. Tapi Shane tak membiarkan miliknya pergi, dia menarik lengan Thea memojokkannya, masuk ke toilet. “Shanee ..” bisik Thea, sementara Shane sudah membuka kancing baju Thea dan melancarkan aksinya, dia sengaja membuat tanda merah di d**a Thea, agar istrinya itu menurup rapat kancing di atasannya. Shane sangat lihai memainkan pusat-pusat geli ditubuh Thea, seolah dia telah mengenalnya dari dahulu. Singkat! Namun Thea telah mendapatkan kepuasan tiada tara, begitupula Shane. Mereka b******u sebentar di akhir permainannya membiarkan benda miliknya kembali keukuran semula. Shane lalu melepaskannya, sempat mengancingi kemeja Thea. Dan mengecup kening Thea “Thanks,” dia berjalan dengan cara berjingkat keluar dari toilet kecil itu. Tangannya merapikan kemejanya yang agak kucel karena apa yang telah dilakukan tadi. Tak berapa lama Thea keluar, tak ayal seperti seorang pencuri dia mengendap-endap, dan kembali menuju teman-temannya. Tatapan curiga terlihat dari teman-temannya. Pasalnya dia telah pergi cukup lama, hanya untuk membasuh rok! “Bersihin roknya di laundry?” sindir Monster, padahal raut khawatir nampak jelas di wajahnya. Dia tentu masih merasa bersalah karena menumpahkan kuah soto ke rok sahabatnya itu. “Tadi kebelet jadi ke toilet..” “Kebelet ML?!” ledek teman satunya “Sialll...” rutuk Thea dia melancarkan tinjunya ke teman pria yang menyindirnya itu, mereka hanya tertawa lagi dengan lebih keras, padahal jantung Thea sudah berdegup sangat kencang. Bagaimana bisa ledekan temannya sangat tepat seperti itu? Merekapun segera menghabiskan sisa makanan dan bergegas ke lift untuk kembali keruangan, di depan lift, Thea melotot. Melihat Shane yang juga sedang menunggu lift bersama teman kerjanya. Shane mengangkat kedua alisnya. Mereka masih bertingkah seolah tidak kenal dekat. “Pak Shane, habis makan juga?” Sapa Monster membuat Shane agak salah tingkah, dia memang niat makan tadi, tapi menikmati tubuh istrinya terasa jauh lebih menggoda. Shane hanya tersenyum sambil mengangguk. Lift pun terbuka dia masuk lebih dahulu. Mengambil tempat di pojok, pun denga Thea, mereka di bagian lift paling belakang. Shane mengulurkan tangannya menarik pinggang Thea dan membelainya. Membuat Thea tersipu. Thea menatap Shane, tapi shane memberinya kode agar pura-pura tak terjadi apa-apa. Lift berhenti tepat dilantai ruangan Thea sehingga dia berjalan keluar lebih dahulu. Beberapa temannya menyapa Shane lagi untuk berbasa-basi. Ya tidak bisa dipungkiri, di perusahaan ini Shane memegang jabatan cukup tinggi sehingga para karyawan segan dengannya. Thea merutuki beberapa teman wanita yang bersamanya tadi. Mereka dengan terang-terangan memuji Shane karena tampan dan nampak baik. Kalian tidak tahu dia maniak seks. Pikir Thea. Shane tidak pulang kerumahnya, yah Thea sadar, sebagai istri kedua tentu dia tak bisa memiliki waktu Shane secara full. Ada yang mesti dibagi baik itu waktu, kehadiran, perhatian dan sebagainya. Kini waktunya dia bersama Linda, entah kenapa memikirkan itu sedikit banyak membuat lubang di hati Thea. Dia bukan malaikat, dan dia mulai ingin menguasai Shane seutuhnya. Sadar Thea sadar. Lift terbuka, Thea memasuki pintu lift dengan langkah gontai, ini sudah hari ke-empat dia tak bertemu Shane baik di kantor maupun dirumah. Shane nampaknya sangat sibuk, beberapa whats up dari Thea tak dibacanya. Ah siapa sih Thea? Dia mungkin hanya butiran debu di tengah lautan. Tak kelihatan. “bengong?” suara khas seseorang membuyarkan lamunan Thea, aroma maskulin dari tubuhnya membaui hidung Thea, Thea hapal wangi ini, pria yang sedang bergelayut di otaknya. Sekejap kemudian pria itu memeluk tubuh Thea. Dan menekan tombol lift ke lantai Thea. “Husss,, nanti keliatan orang.” Shane, mengecup leher Thea, menyingkirkan rambut yang tergerai menutupi leher jenjangnya. “Kangen gak sama aku?” Thea kegelian dia tersenyum , tentu pertanyaan itu tak butuh jawaban karena setiap lekuk tubuh Thea dengan jelas sangat menyambutnya. Dentingan suara lift membubarkan aktifitas mereka. Thea segera bergerak menjauhi Shane, membuat pria itu menggeram tidak suka. Beberapa orang masuk lift secara bersamaan. Thea melupakan sesuatu. Sial! Lampu CCTV dalam lift menyala. Itu berarti ada orang yang mengawasinya. Thea mengkode Shane sambil melirik CCTV. Shane memijit keningnya lalu mengangguk. Dia harus melakukan sesuatu. Sebelum operator CCTV tadi menyebarkan gosip yang tidak-tidak. Secara Shane merupakan manager dan semua orang mengenal Shane, reputasinya akan hancur. Tapi dibanding reputasinya, dia lebih memikirkan nasib Thea, dia sangat tahu bahwa Thea jauh mencintai pekerjaannya dibandingkan apapun. *** Thea sedikit lega ketika mengetahui bahwa selama beberapa hari terakhir Shane tak bisa memberinya kabar karena sinyal yang kurang bersahabat. Dia mencoba membawa Linda ke pengobatan alternatif di daerah pedalaman. Dan yang membuat Thea lebih lega, Shane berhasil menghapus rekaman CCTV di lift. Dia memanfaatkan jabatannya untuk itu. Tapi kelegaan itu tak berlansung lama, ketika Thea yang sudah berdandan cantik untuk menyambut suaminya yang seharusnya menetap di rumah selama beberapa hari, datang dengan Linda, istrinya. Senyum Thea berubah datar lalu dia sadar itu tak boleh terjadi, dia kembali tersenyum kali ini lebih lebar. Menyambut Linda yang baru turun dari mobil. Damn! Thea sudah menghabiskan waktu seharian di salon untuk membersihkan tubuhnya berharap dia bisa mendapatkan hal yang dirindukan dari Shane, tetapi lelaki itu malah membawa madunya. Parfum mahal yang Thea semprotkan nampak tak berguna. Ketika dengan raut serius Shane bertanya, “Kamu mau kemana sudah rapih dan wangi seperti itu?” Thea pun terpaksa berbohong kalau dia ingin bertemu dengan teman-temannya. Dan dia meminta maaf ke Linda kalau dia harus pergi keluar sebentar. “Jangan pakai gaun itu! Ganti dulu.” Ucap Shane yang lebih seperti geraman, yaa Thea memang memakai gaun yang sangat seksi, tapi itu dilakukan bukan untuk temannya seperti kilahnya tadi, please deh gaun itu untuk menggoda Shane! Setelah mengenakan jeans dan sweater putih, Thea bergegas mengambil kunci motor. Linda terlihat memandangi kolam renang di hadapannya. Entah, Thea merasa tubuh wanita di hadapannya itu semakin mengecil. Shane mengikuti Thea dan memaksanya agar diantar oleh asisten sekaligus supirnya, tidak tahu dengan tujuan apa? Thea tak ingin berdebat dia masuk ke dalam Alphard putih milik Shane, sebelum menutup pintu, Shane berhasil mencumbunya, dengan sangat intense, membuat lipstik Thea terlihat berantakan. Tangannya bergerak mengusap tonjolan di d**a Thea, seolah itu semua miliknya, kepunyaannya. Ada getar intimidasi di tiap sentuhan Shane. Dia baru menghentikan ciumannya ketika nafas Thea terengah karena posisinya yang tidak enak, Thea terpaksa mendongak karena tangan Shane yang satunya lagi mengangkat lehernya dengan remasan yang sangat lembut. Thea sudah merasa ada yang tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya. Tapi nampaknya dia harus berpuasa malam ini. Tak mungkin kan dia bermesraan sementara ada linda disitu. Padahal biasanya mereka bisa berhubungan dimana saja. Kolam renang, ruang makan, bahkan ruang parkir. Dimana saja. Kapan saja. Dada Thea sesak! Ya mungkin dia kini yang akan melihat Shane bermesraan dengan Linda, Tuhan... kuatkan aku. Doa Thea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD